Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Sikap Bersungut-Sungut

Yang kedua adalah sikap bersungut-sungut.  Di belakang pertanyaan itu juga adalah sikap sungut-sungut, “Kenapa sampai Allah tidak memberkati saya seperti Dia memberkati orang itu?”  Kita pikir.  Kita juga harus menyadari bahwa sungut adalah dosa di hadapan Tuhan.  Allah tidak senang untuk mendengar kita bersungut-sungut. Itulah sebabnya Allah tidak senang dengan orang Israel yang keluar dari Mesir.  Mereka bersungut-sungut terus terhadap Allah.  Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:10, “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”  Bacalah konteksnya dari 1 Korintus 10:6.  Di antara sungut juga ada termasuk penyembah berhala dan percabulan.  Kitab Bilangan penuh dengan contoh-contoh orang Israel yang bersungut-sungut melawan Tuhan.  Bacalah Bilangan 14:27-29 dan 17:5, 10 untuk contoh.

Orang Israel bersungut-sungut karena banyak hal.  Mereka tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan.  Itulah sebabnya Tuhan marah mereka.  Kalau kita hanya bersungut-sungut dengan tidak mengucapkan syukur, Allah tidak senang dengan kita.  Perjanjian Baru penuh dengan tegoran supaya kita mengucap syukur dalam segala hal (Efesus 5:20; Kol. 3:16, 17; 1 Tes. 5:18).  Kalau kita mengucap syukur, maka kita tidak akan bersungut-sungut.  Sebaliknya, orang yang bersungut-sungut tidak mengucap syukur.

Kita bisa mengucapkan keluhan-keluhan kita dengan pengucapan syukur sehingga Allah memberkati kita.  Misalnya orang Israel bersungut-sungut karena tidak ada air (Bil. 20:2-13).  Mereka bisa berkata, “Kami mengucap syukur kepadaMu, ya Tuhan, karena Engkau telah membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir.  Kami mengucap syukur karena Engkau menuntun kami di dalam padang gurun ini.  Kami mengucap syukur atas penyertaanMu.  Namun kita sudah lama berjalan-jalan dan tidak ketemu sumber air. Kami haus.  Kami mau minta supaya Engkau memberikan kepada kami air untuk diminum.  Kami mengucap syukur karena Engkau mendengarkan doa kami.”  Pasti Allah akan senang dengan doa macam begitu.

Ya, kadang-kadang kita begitu kecewa, frustrasi, dan putus asa sehingga kita mengeluarkan banyak keluhan kepada Tuhan.

Allah sudah tahu apa yang ada di dalam hati kita dan kita tidak harus sembunyi-sembunyi perasaan kita.  Kitab Mazmur juga penuh dengan mazmur yang ditulis orang yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi kita harus menyadari bahwa walaupun kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan, bahwa kita harus mengaku dosa dan kelemahan kita dan kita harus tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan Tuhan akan mendengarkan dan memberkati kita.

Lagi sikap bersungut-sungut dan perasaan kecewa atau jengkel di dalam hati kita terhadap Tuhan oleh karena Dia tidak memberkati kita sebagaimana mestinya (menurut pikiran kita) adalah sifat kesombongan dan sungut yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dan seorang Kristen yang bersikap begitu tidak akan banyak diberkati oleh Tuhan.

Sifat Kepentingan Diri Sendiri dan Iri Hati

Hal lain di belakang pertanyaan tersebut adalah sifat kepentingan diri sendiri dan iri hati.  Kita iri hati terhadap orang lain yang lebih diberkati dari pada kita.  Selanjutnya, kita mempunyai pikiran bahwa saya mau diberkati.  “Di mana berkat untuk saya?”  Kita hanya memikirkan “saya sendiri” dan “keuntungan untuk saya sendiri” dan “apa yang penting bagi saya.”  Saya mau menerima berkat.  Saya mau Allah memberkati saya.  Saya mencari keuntungan untuk saya.  Saya menjaga apa yang penting bagi saya dan itu penting bagi saya agar saya menerima berkat dari Allah.  Saya, saya, saya.  Orang itu mempunyai penyakit “saya.”

Apakah kita pernah memikirkan apa yang diinginkan Allah?  Apakah kehendak Allah? Apa yang penting bagi Allah?  Ingat waktu “saya” dibaptis, “saya” sudah mati. Dengarkanlah apa yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 2:19, 20, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Paulus berkata bahwa dia sudah mati.  Dia sudah disalibkan dengan Kristus. Sekarang itulah Kristus yang hidup di dalamnya.  Ingat, kalau kita sudah dibaptis, kita sudah mati.  Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita hidup untuk Allah. Allah itu yang penting di dalam kehidupan kita ini.  Kita harus mencari apa yang penting bagi Allah.  Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi baiklah kita duduk dan merenungkan, “Apa yang dikehendaki oleh Allah?  Apa yang diinginkan oleh Allah?  Apakah yang penting bagi Allah?  Apa yang Allah mau dari saya?”  Dan baiklah kita melakukannya.  Kalau kita mencari kepentingan Allah, nanti Allah juga akan memperhatikan kepentingan kita dan memberkati kita dengan lebih banyak lagi.  Tetapi kalau kita hanya mencari kepentingan diri kita sendiri dan tidak mencari kepentingan dari Allah, janganlah kita mengharapkan banyak berkat dari Allah.

Memuaskan Hawa Nafsu

Alasan lain Allah tidak memberkati kita adalah karena apa yang Allah berikan kepada kita, kita pergunakan untuk memuaskan hawa nafsu saja (Yak. 4:3).  Apakah kita memakai uang kita untuk membeli minuman keras, rokok, pinang, main judi, atau melakukan dosa-dosa lain?  Atau, apakah kita memberi derma sedikit saja supaya kita bisa menyimpan uang banyak untuk membeli televisi, parabola, atau alat VCD, supaya kita bisa duduk-duduk nonton-nonton daripada berdoa, mempelajari firman, atau melakukan kegiatan rohani lain?

Nah, saya tidak bermaksud bahwa membeli televisi atau parabola adalah dosa.  Kalau kita memberi kepada Allah sebagaimana Dia memberkati kita, itu bukan dosa.  Tetapi kalau kita hanya memberi sedikit saja kepada Allah pada hari Minggu, karena kita tidak punya uang, sedangkan kita menyimpan uang untuk beli hal-hal duniawi yang mewah, itu berarti kita menganggap hal-hal duniawi lebih penting.  Kita hanya mau memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita dari pada keinginan Allah.(Bersambung)

Pelajaran 1

Dunia dan Segala Isinya Milik Allah

Allah yang Menciptakan Segala Sesuatu Kejadian 1:1 berkata bahwa Allah menciptakan langit dan bumi.  Jika tidak ada Allah maka tidak ada langit dan bumi juga.  Dalam enam hari Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.  Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah Allah punya.  Tiga nas di dalam Mazmur menyatakan demikian:  “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1); “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya” (Mzm. 50:12); “PunyaMulah langit, punyaMulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya” (Mzm. 89:12).

Allah Memiliki Segala Sesuatu Jadi sudah jelas bahwa Allah memiliki segala sesuatu.  Kita harus mengerti hal itu baik-baik.  Dari satu segi, segala sesuatu yang kita punya adalah Allah punya.  Allah memberikannya kepada kita.  Ayub sendiri mengakui hal itu.  Menurut Ayub 1:3, dia orang yang paling kaya di sebelah timur.  Ayub mempunyai ribuan ekor kambing domba, unta, lembu, dan keledai.  Dia mempunyai banyak budak laki-laki dan perempuan.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Dalam satu hari dia kehilangan semua harta miliknya dan semua anaknya meninggal.  Bisa membaca kecelakaan yang ditimpa Ayub di dalam Ayub 1.  Tetapi bagaimanakah tanggapan Ayub setelah semua peristiwa itu?  Dia berkata dalam Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  Ayub mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan kepada Ayub segala miliknya.  Dan oleh karena itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu, maka Tuhan juga mempunyai hak untuk mengambil segala sesuatu dari padanya.

Milik Kita Adalah Milik Allah

Bagaimana saudara?  Apakah saudara mengaku bahwa segala milikmu adalah milik Allah?  Apakah saudara mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu kepada saudara?  Ya, mungkin saudara bekerja keras untuk memperoleh uang untuk membeli sepeda motor.  Jadi mungkin saudara berpikir, “Itulah saya yang bekerja keras, saya yang memperoleh uang dari hasil kerja saya, itulah saya yang membeli sepeda motor ini, jadi inilah sepeda motor yang saya punya.”

Tetapi bagaimanakah saudara menghasilkan uang?  Dari hasil kebun? Bagaimanakah kalau tanaman kena hama, atau menjadi kering karena tidak ada hujan, atau hancur dalam banjir?  Itu semua dalam kekuasaan Allah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari hasil laut.  Tetapi siapa yang memberi penangkapan ikan?  Ingat Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tidak menangkap apa-apa walaupun memancing ikan sepanjang malam.  Yesus datang dan dalam waktu singkat mereka menangkap ikan dalam jumlah besar sekali (Lk. 5:1-11).  Itulah Allah yang memberi penangkapan ikan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan kayu.  Tetapi siapa yang membuat pohon-pohon itu bertumbuh?

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan tanah.  Tetapi itulah Allah yang menciptakan tanah itu, jadi tanah itu sebenarnya Allah punya.  Banyak orang di dunia ini tidak mempunyai tanah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari bekerja di perusahaan, toko, atau kantor. Tetapi siapa yang memberi saudara kepintaran atau kesempatan untuk bekerja di situ? Banyak orang tidak mempunyai pekerjaan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari berusaha.  Tetapi lagi, siapa yang memberi saudara kepintaran untuk berusaha, dan hasil usaha itu?  Banyak orang tidak bisa berusaha, dan banyak orang yang berusaha menjadi bangkrut

Pendeknya, bagaimanapun juga caranya kita menghasilkan uang, itu semua asalnya dari Tuhan, semuanya adalah berkat dari Tuhan.  Dan itulah yang harus kita akui, yaitu bahwa segala harta milik kita adalah milik Allah karena asalnya dari Allah.  Dalam 1 Timotius 6:17b dikatakan, “. . . Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”  Segala sesuatu yang kita nikmati asalnya dari Tuhan.

Salomo berkata dalam Pengkhotbah 5:19, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya — juga itupun karunia Allah.” Salomo adalah orang yang paling kaya di dunia yang pernah hidup.  Dan dia mengaku bahwa segala harta miliknya asalnya dari Tuhan.

Raja Daud juga mengaku hal yang sama.  Dalam 1 Tawarikh 29:12-16 setelah bangsa Israel selesai memberi persembahan untuk pembangunan Bait Allah, Daud berkata kepada Tuhan Allah, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. . . . Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini?  Sebab dari padaMulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu. . . . Ya Tuhan, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagiMu rumah bagi namaMu yang kudus adalah dari tanganMu sendiri dan punyaMulah segala-galanya.”  Daud mengaku bahwa mereka hanya memberikan kembali kepada Allah apa yang Allah sudah memberikan kepada mereka.(Bersambung)

Ditegakkan oleh Sejarah

Orang-orang Kristen yang mula-mula mengaku alat-alat musik Perjanjian Baru — orang yang ditebus dan hatinya yang mengucap syukur!  Mereka sering menulis tentang pertemuan-pertemuan mereka.  Mereka sering menyebut dan mendiskusikan bernyanyi.  Mereka tidak pernah menyebut alat-alat musik yang digunakan di dalam ibadah orang Kristen.  Waktu mereka menyebut alat-alat musik, mereka memakai alat-alat itu sebagai ilustrasi dan kiasan, atau mereka mencela alat-alat itu sebagai asing untuk agama Kristen.

Sangat membantu untuk undur sedikit dari zaman kita dan meninjau sejarah.  Kenyataan-kenyataan sejarah mengenai alat-alat musik dalam ibadah banyak terbukti kebenarannya.  Seorang pembaca siapapun bisa memeriksa kenyataan-kenyataan ini di dalam ensiklopedi-ensiklopedi, dan dalam karya-karya tulis oleh ahli-ahli sejarah baik gerejawi maupun sekuler.  Tinjauan-tinjauan sejarah menghasilkan kesimpulan berikut :

  1. Semua agama kafir, dari sejarah yang paling awal sampai sekarang, memakai alat-alat musik dalam ibadah.
  2.  Tidak ada agama yang mengaku asal usul Alkitabiah (Yudaisme sinagoge, Kristen, Islam) yang memakai alat-alat musik dalam ibadah gabungan dalam beberapa abad pertama dari awalnya.
  3. Tidak ada dari bapa-bapa Yunani yang awal dari jemaat yang memandang kepada alat-alat musik .
  4. Gereja-gereja Timur (Ortodoks Yunani, Ortodoks Rusia, Koptik, Nestorian, dan Armenian) tidak pernah memakai alat-alat musik.  Mereka berkata, bahwa dari kekristenan yang mula-mula, dan tetap dalam imitasi dari tradisitradisi yang awal, tidak pernah ada tempat untuk alat-alat musik .
  5. Waktu alat-alat musik akhirnya diperkenalkan ke dalam ibadah jemaat, itu mulai dalam agama Kristen cabang Barat.  Kenyataan sejarah pasti yang paling awal mengenai pemakaian alat musik dalam ibadah “Kristen” adalah sebuah orgel yang ditempatkan oleh Raja Pepin dalam jemaat St. Corneille (Compeigne, Perancis, 757 M.).
  6. Kekecualian ini membawa yang lain, tetapi peraturan umum disebutkan oleh Cowell di dalam Collier’s Encyclopedia (Ensiklopedi Collier):  “Musik gereja sebelum abad keenam belas hampir semua tanpa alat musik.” Istilah a capella (akapela) memberi bukti bahwa musik gereja adalah paduan suara saja.  A capella [adalah kata bahasa Latin yang berarti] secara harfiah “menurut kapel” [kapel=gedung ibadah kecil].  Menurut sejarah, kapelkapel hanya memakai paduan suara, jadi memberi istilah a kapela, arti sekarang adalah “bernyanyi tanpa diiringi alat musik” .
  7. Dalam abad-abad ini, sarjana-sarjana Barat menentang pemasukan alat-alat musik.  Akhirnya mereka ditolak waktu pada abad ketujuh belas, Paus mengizinkan pemakaian alat-alat musik pada umumnya. Namun demikian posisi resmi dari Gereja Katolik Roma tetap, bahwa alat-alat musik tidak pantas untuk ibadah, tetapi bisa “dibiarkan” untuk menyenangkan umat.  Bahkan posisi ini mempunyai banyak pengkritik Katolik .  Bahkan  sampai hari ini, kapel yang Paus punya sendiri tidak mempunyai alat-alat musik (Encyclopedia Brittanica; Catholic Encyclopedia [Ensiklopedi Britannica; Ensiklopedi Katolik] ).Kebenaran yang Merupakan Suatu Tantangan

    Banyak orang hari ini tidak sadar mengenai sejarah atau kecenderungannya.  Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa alat-alat musik baru saja ditambahkan kepada ibadah “Kristen.”  Tidak pernah masuk akal mereka, bahwa Kristus tidak mempunyai tempat dalam PerjanjianNya yang Baru untuk alat-alat musik.  Mereka sangat mencintai beribadah dengan orgel-orgel, piano-piano, gitar-gitar, tifa-tifa, gambus-gambus dan alat-alat musik lainnya.  Tradisi-tradisi yang dihargai mengenai musik dan kenikmatan musik sekarang membuat pokok ini sangat sulit.  Orang-orang berpikir, bahwa musik, yang begitu menyenangkan telinga kita, tidak mungkin dianggap hampa oleh Allah.  Tetapi marilah kita sekurang-kurangnya mengaku, bahwa lagu-lagu dan alat-alat musik bisa gagal dalam mengesankan Allah.Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka. . . . Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar (Amos 5:21-23; banding musik sekuler dalam Amos 6:1-5 dan Yes. 5:11-12).Allah yang menciptakan segala keindahan, termasuk lagu-lagu sorga yang paling tinggi, bisa saja tidak digerakkandengan nikmat oleh musik kita di bumi ini.  Dalam kasus bangsa Israel yang berontak, bahkan bentuk-bentuk “benar” menjijikkan Allah.  Dalam cara yang sama, jikalau bersifat berontak atau tanpa izin, musik kita yang paling hebat mungkin menjadi sejenis gemerencing dan dencing paling jelek dalam telinga Allah.

    Jikalau kita sama-sama bisa setuju dengan hal itu, maka ada lebih banyak untuk dipertimbangkan.

    Daud sudah menyadari kebenaran ini waktu dia memperbedakan korban-korban binatang dengan kehidupannya dan nyanyiannya sendiri. Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah (Mazmur 69:31-32).Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku — Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan (Ibr. 10:5-6 mengutip dari Mazmur 40). Jikalau Allah tidak begitu menyukai korban bakaran, kenapa Dia berkata, bahwa korban bakaran itu adalah bau harum yang menyenangkanNya?  (Lihat Kel. 29:18,25; Im. 1:9; 2:9).  Jawabannya adalah bahwa Allah mempergunakan korban-korban itu dan bahasa demikian, sebagai bagian dari gambaranNya atau “bayangan.”  Allah sedang memandang  atau mencium  ke masa depan kepada korban Kristus yang benar-benar akan menjadi berkenan kepada Allah dan menyenangkanNya!  “Kristus Yesus juga telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2).  Secara demikian, pakaian-pakaian imam dari sendirinya tidak memberikan kemuliaan kepada mereka (Kel. 28).  Banyak imam yang berpakaian bagus tidak mulia! Baju-baju mewah itu menggambarkan pakaian rohani pada masa depan dari Kristus yang benar-benar mulia , Amin! Batu-batu Bait Allah indah di mata manusia (Lk. 21:5).  Namun di mata Allah itulah hanya batu-batu biasa saja. Nilainya hanya sebagai gambaran sementara, yang secara suram melambangkan kemuliaan-kemuliaan yang jauh lebih besar di sorga.  Hidung rohani Allah tidak menikmati bau harum dari ukupan sendiri apalagi daging binatang yang bernyala.  Ukupan menggambarkan suatu gambar dan memberikan kepada manusia suatu perasaan (secara harfiah) betapa menyenangkan doa-doa dalam Kristus pada masa depan.  Secara demikian alat-alat musik sendiri lonceng-lonceng yang gemerencing pada pakaian imam dan pemetikan tali-tali musik  tidak membawa nikmat istimewa kepada telinga sorgawi.  Apakah nilainya?  Itu menunjuk kepada musik rohani yang sebenarnya yang dimungkinkan di dalam Kristus, yaitu hati-hati yang ditinggikan dalam pujian pengucapan syukur!  Semua barang ini , Bait Allah, korban-korban, pakaian-pakaian imam, ukupan dan alat-alat musik , dari sifat jasmani yang sama. Semuanya dari Perjanjian Lama yang sama.  Sebagai bayangan-bayangan saja, mereka sudah berlaku waktu Perjanjian itu sudah berlaku.(Bersambung)

Bait Allah yang Hidup, Alat yang Hidup

Yesus berbicara mengenai dua bait Allah:  TubuhNya sendiri yang akan dihancurkan dan dibangkitkan kembali (Yoh. 2:19-21); dan Bait Allah Herodes yang akan dibinasakan dengan sempurna (Mt. 24).  Mengenai tempat ibadah yang baru, Dia berkata,

Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. . . . Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:21,23).

Ibadah tidak berada “di dalam” Bait Allah yang dibuat manusia.  Ibadah dilaksanakan “di dalam” roh dan “di dalam” kebenaran.  Ingat mengenai cara dewasa untuk menyembah.  “Aku akan menyanyi dengan rohku . . . dengan akal budiku” (1 Kor. 14:15).  Paulus berkata, aku melayani “dengan segenap hatiku” (Rom. 1:9).  Secara harfiah kata-kata bahasa Yunani dibaca, “Aku melayani di dalam rohku.”  Di sini, di dalam, adalah tempat pelayanan dan ibadah. Mengenai struktur jasmani, itu bukan dibuat manusia, melainkan dibuat Allah:  Tubuh manusia.  “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (1 Kor. 6:19).

Apakah penyembah-penyembah Bait Allah di dalam Perjanjian Lama tidak pernah mempergunakan tubuh dan hati mereka?  Tentu mereka mempergunakannya.  Nabi-nabi sering menekankan ibadah rohani (Ul. 10; Yes. 1; Yer. 4).  Jadi, apakah mutu baru yang ditekankan Yesus di dalam Yohanes 4?  Kebaharuan itu berkaitan dengan menguliti Bait Allah jasmani dan barang-barangnya.  Wujud-wujud rohani tetap ada, memenuhi ibadah baru dengan mutu hidup.  Bait Allah yang lama dibuat dari batu-batu yang tidak hidup; yang baru dibuat dari “batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Pet. 2:5).  Korban-korban lama itu adalah binatang-binatang yang mati; korban-korban baru adalah “persembahan rohani” (1 Pet. 2:5).  Kamu harus “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati [bahasa Yunani: rohani]” (Rom. 12:1).  Imam-imam yang lama terus-menerus mempersembahkan binatang-binatang yang mati.  Imam-imam baru terus-menerus “mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya” (Ibr. 13:15).

Tempat manakah alat-alat musik ini — yang disebut “barang-barang yang tak berjiwa atau hidup” — mempunyai di dalam ibadah ini yang, secara harfiah, hidup?  Jika tubuh orang Kristen adalah Bait Allah yang baru, dan ibadah yang baru ada di dalam roh, apakah alat yang baru?  Lagi Kitab Suci tidak berdiam pada hal itu.  Kitab Suci sangat jelas:

Serta berkata-kata di antara sama sendirimu dengan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani sambil menyanyi dan bunyikan puji-pujian dengan hatimu kepada Tuhan” (Ef. 5:19, Terjemahan Lama; terjemahan bahasa Yunani, “dan membuat musik dengan hatimu kepada Tuhan

Tubuh hidup “berkata-kata” dan “menyanyi.”  Hati hidup “bunyikan puji-pujian” atau “membuat musik.”  Di sini adalah musik yang sebenarnya menyenangkan pendengaran rohani dari Allah yang hidup.  Konteks di dalam Efesus 5 adalah perbedaan antara pesta pora orang kafir dan ibadah orang Kristen.  Orang-orang kafir minum mabuk dengan anggur.  Sebaliknya, orang-orang Kristen dipenuhi dengan Roh Kudus dan perkataan Kristus (Ef. 5:18; Kol. 3:16).  Pesta pora itu kacau dan memuaskan hawa nafsu dan kehidupan tak bermoral.  Sebaliknya orang-orang Kristen bernyanyi dan mengajar perkataan Kristus yang membangun.  Dari pada alat-alat musik jasmani, alat-alat musik orang Kristen adalah hati yang ditinggikan kepada Allah dengan pengucapan syukur (Ef. 5:19-20; Kol. 3:16).(Bersambung)

Jalan Kristus

Waktu Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, alat-alat musik hampir-hampir tidak disebutkan.  Apakah itu suatu kebetulan?  “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh. 1:17).  Perjanjian Musa penuh dengan perintah-perintah dan perincian-perinciannya jasmani, yang mencapai titiknya yang tertinggi di bawah Daud dan Salomo.  Apa yang diperkenalkan Kristus baru sekali!  Di mana di dalam Perjanjian Baru ada daftar-daftar panjang yang sama untuk pokok-pokok jasmani untuk Bait Allah atau Kemah Suci baru dari Kristus?  Di manakah hari-hari raya istimewa dan korban-korban yang banyak-banyak?  Di manakah imam-imam orang Lewi?  Di manakah bermacam-macam alat-alat musik yang diperintahkan oleh Allah sendiri?  Bukan seperti barang-barang ini tidak ada sama sekali.  Mereka dipergunakan di dalam kehidupan sehari-hari (Mt. 9:23; 11:17; Lk. 7:32; 15:25; 1 Kor. 13:1; 14:7; Why 18:22).

Kristus tidak pernah menyebut satu alat musik pun di dalam ibadah umatNya.  Ibadah Kristus sendiri dalam namun sederhana.

  1. Walaupun Yesus hidup di bawah Hukum Taurat, Yesus merayakan hari raya Paskah dan memilih untuk mengakhirinya dengan “menyanyikan nyanyian pujian” (Mt. 26:30; Mk. 14:26). (Dalam perjamuan Paskah itu, Yesus memberikan dua pokok jasmani sebagai peringatan resmi tentang kematianNya:  Roti dan hasil pokok anggur, Mt. 26:26-29.)
  2. Paulus dan Silas bernyanyi di dalam penjara (Kis. 16:25).
  3. Yakobus mendorong anggota-anggota yang bergembira untuk bernyanyi (Yak. 5:13).
  4. Paulus, dalam diskusi ibadah jemaat, berkata, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. . . . Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu:  yang seorang mazmur” (1 Kor. 14:15,26).

Di dalam konteks 1 Korintus 14, Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus yang belum dewasa sifat dasar ibadah dewasa.  Anggota-anggota lemah ingin mempergunakan bahasa-bahasa lidah yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang hadir.  Paulus berkata, bahwa walaupun ibadah itu dipersembahkan kepada Allah, kasih mewajibkan, bahwa ibadah itu harus mendorong dan menguatkan mereka yang hadir.  Jadi peraturan dasar dari ibadah jemaat adalah, “Hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat. . . . Semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (1 Kor. 14:12,26).  Bagaimanakah seseorang menguatkan yang lain?  Dengan berbicara dalam cara-cara yang bisa dimengerti mereka!

Paulus menceritakan mengenai alat-alat musik untukmenjelaskan maksudnya:

Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?  Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (1 Kor. 14:7-8).

Alat-alat musik juga bisa mengilustrasikan maksud Paulus oleh karena mereka juga membunyikan bunyi-bunyian dan tanda-tanda.  Namun perhatikanlah uraiannya mengenai alat-alat musik itu.  Mereka adalah “alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi.”  Sifat dasar hampa dari alat-alat musik memberikan suatu ilustrasi lain di dalam 1 Korintus 13:1.  Perkataan yang tidak mempunyai kasih begitu hampa, bahwa itu sama seperti “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”  Ini bukan suatu pujian:  Gong dan cenang melambangkan bunyi keras dengan sedikit arti atau arti yang hampa.  Jikalau alat-alat musik “tidak berjiwa,” dan bisa mengilustrasikan kehampaan, kenapa mereka termasuk di dalam ibadah Perjanjian Lama?  Mengetahui betapa jasmaniah adalah alatalat musik itu, bisa membantu kita untuk mengerti, bahwa mereka adalah “bayangan” jasmani yang menunjuk kepada kewujudan rohani yang lebih tinggi.  Sebelum kita meninggalkan 1 Korintus 14, perhatikanlah, bagaimana Paulus keluar dari ibadah jemaat untuk memperoleh ilustrasinya — nafiri perang.  Yang lebih penting, perhatikanlah, bahwa Paulus begitu tegas untuk melarang suara-suara yang hidup yang tidak memberi berita yang dapat dimengerti untuk mereka yang hadir.  Apakah mungkin dia katakan mengenai pergunaan kecapi yang tak berjiwa dan tambur atau tifa yang tak hidup, yang juga bisa membuat bunyi-bunyian tetapi tidak bisa mengucapkan berita yang dapat dimengerti?(Bersambung)

Apakah Ukupan Tidak Mempunyai Arti Hari Ini?

Ukupan mempunyai arti penting.  Bahkan Daud tahu, bahwa asap harum sama seperti doa yang naik untuk menyenangkan Allah (Mzm. 141:2).  Betapa benar hal ini di dalam Kristus!  Doa-doa kita, secara kiasan, berbau harum sangat baik kepada Bapa kita!  Kitab Wahyu membantu kita untuk melihat bagaimana gambaran lama itu digenapi.

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus (Why. 5:8).

Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.  Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah (Why. 8:3-4).

Yohanes memakai banyak simbol, kebanyakan dipinjamkan dari gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama. Pembaca-pembacanya diharapkan untuk mengerti artinya, jadi Yohanes jarang menafsirkan simbol-simbolnya.  Akan tetapi di sini, Yohanes menunjukkan kepada kita artinya.  Ukupan atau kemenyan adalah kiasan untuk doa orangorang kudus, atau, di dalam fasal delapan, yang membuat doa-doa berkenan kepada Allah.  Apakah yang membuat kita layak di dalam hadirat Allah?  Tidak ada hal lain selain korban Tuhan kita (Ibr. 10:19).  Jadi, bayangan lama itu, ukupan, memperoleh penggenapannya di dalam orang-orang yang dibuat berkenan oleh Kristus.

Allah . . . dengan perantaraan kami menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia [Kristus] di mana-mana.  Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa (2 Kor. 2:14-15 banding Flp. 4:18; Ef. 5:1-2).

Perhatikanlah, bahwa di dalam 2 Korintus, sama seperti di dalam Wahyu, bau harum itu bukan jasmani melainkan rohani.  Ukupan jasmani hanyalah bayangan saja.  Itu menggambarkan secara suram ukupan yang lebih baik — doadoa dan kehidupan-kehidupan di dalam Kristus — yang sebenarnya masuk ke dalam sorga.  Tulisan-tulisan dari ketiga abad setelah Kristus menegaskan, bahwa orang-orang Kristen tidak pernah membakar ukupan.  Pada kemudian hari waktu kaisar-kaisar Romawi berpaling kepada Kristus, mereka membuat undang-undang yang melarang pembakaran ukupan.  Mereka menganggap itu sebagai perbuatan kafir.  Jadi mereka menunjukkan bahwa ukupan itu jauh berbeda dari pada ibadah orang Kristen.  Kasus pertama yang jelas tentang pembakaran ukupan yang resmi di dalam ibadah “Kristen” adalah oleh Gregory Agung dalam akhir abad keenam sesudah Kristus.  Gereja Katolik Romawi dan Gereja Ortodoks Timur nanti menyebarluaskan pemakaian ukupan “Kristen” ke seluruh dunia.

Pertanyaan-Pertanyaan yang Akan Anda Hadapi

Kebetulan, bahwa kebanyakan gereja Protestan tidak mengangkat perbuatan itu.  Tetapi coba membayangkan jikalau pembakaran ukupan menjadi populer dan suatu kebiasaan di antara gereja-gereja Protestan juga.  Dalam situasi begitu, gereja-gereja yang tidak membakar ukupan akan dianggap sebagai gereja-gereja yang aneh.  Kebanyakan orang yang menyebut dirinya orang Kristen akan memakai ukupan di dalam ibadah.  Di dalam situasi begitu, kita akan menghadapi beberapa pertanyaan seperti berikut:

  1. Apakah kepopuleran ukupan membenarkan pemakaiannya di dalam ibadah kita? Apakah sitkon-sitkon moderen membuat ukupan diterima di dalam ibadah Perjanjian Baru?
  2. Andaikan, bahwa kebanyakan orang beragama mencintai ukupannya begitu besar, sehingga mereka menolak persekutuan-persekutuan yang tidak memakai ukupan. Apakah itu bisa menjadi alasan yang cukup baik bagi persekutuan-persekutuan Kristus untuk kembali kepada ukupan?
  3. Anggota-anggota baru yang masuk ke dalam jemaat sudah biasa memakai ukupan. Beberapa di antara mereka mungkin menganggap dirinya pintar di dalam ilmu membuat dan membakar ukupan. Kalau mereka dikecewakan di dalam hal ini, kemungkinan besar, mereka keluar dan bergabung dengan gereja lain.  Di dalam situasi itu, apakah anggota-anggota baru bisa diizinkan — mungkin didorong — untuk memakai kepintarannya untuk Tuhan?
  4. Pemakaian ukupan mungkin dipercepat dengan menganggap ukupan sebagai pembantu saja untuk membuat suasana baik untuk ibadah. Tetapi apakah itu jujur?
  5. Apakah itu benar sesuai dengan tujuan yang Allah tempatkan ukupan di dalam Alkitab?
  6. Pemakaian ukupan mungkin bisa dibantu dengan berkata, “Ukupan juga ada di sorga (Why. 5:8). Jikalau Allah menyetujui ukupan di dalam ibadah di dalam sorga, pasti kita tidak boleh menolaknya di bumi sini.” Apakah ukupan jasmani sungguh-sungguh di dalam sorga bersama dengan Allah yang adalah Roh?  Apakah Wahyu 5 juga membuktikan, bahwa ada “tunas” dari kayu, seekor “domba” jasmani, dan seekor “singa” yang wujud yang tinggal di sorga?  Bukankah Kitab Wahyu sendiri menunjukkan, bahwa itu memakai simbol-simbol (Why 1:1,20; 4:5)?  Bukankah Yohanes menjelaskan arti ukupan sebagai suatu simbol (Why. 5:8)?  Bukankah kejujuran kepada nas ini mewajibkan kita memakai singa-singa, tunas-tunas, kecapi-kecapi, domba-domba dan mahkota-mahkota emas di dalam ibadah kudus?
  7. Pemakaian ukupan mungkin dibantu dengan berkata, “Semua kehidupan adalah ibadah, jadi apa yang dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari juga bisa dilakukan di dalam ibadah jemaat.” Apakah itu benar? Bisakah anggota-anggota jemaat memakai apa saja yang menyenangkan mereka dan membuat itu sebagai bagian dari ibadah jemaat?  Apakah itu adil kepada perlakuan Alkitab terhadap ibadah Kristen?
  8. Andaikan ada beberapa orang yang berkata, bahwa hal ukupan adalah perkara kelenturan oleh karena ukupan tidak jatuh di dalam “inti Injil”. Apakah argumentasi itu benar? Jikalau “inti” bisadisimpulkan sebagai kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus (1 Kor. 15:1-4), apakah kitabebas untuk merubah segala sesuatu di luar inti itu?  Apakah ketuhanan Yesus tidakdiperluaskanuntuk menguasai daerah-daerah lain dari ajaran atau tingkah laku Kristen?(Bersambung)

© 1998 World Bible School, P.O. Box 9346, Austin, TX 78766 USA Diterjemahkan  oleh David Buskirk dengan izin

 

 

Jadilah Seperti Barnabas

Landung Darmo —  April 10, 2017

Injil Lukas

Dalam kitab Kisah Para Rasul kita membaca banyak mengenai Paulus dan Petrus, tetapi tidak begitu banyak mengenai Barnabas.  Namanya sebenarnya adalah Yusuf, tetapi rasul-rasul menyebutnya Barnabas yang berarti, “Anak Penghiburan” (Kis. 4:36).  Waktu jemaat baru di Yerusalem dalam kesulitan uang, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada rasul-rasul (Kis. 4:37).

Waktu murid-murid di Yerusalem menolak Paulus oleh karena semua yang telah mereka dengar mengenai masa lalunya, itulah Barnabas yang memberitahukan mereka mengenai bagaimana Paulus menjadi seorang Kristen dan bagaimana dia menaruhkan nyawanya untuk memberitakan Injil di Damsyik (Kis. 9:26-30).

Waktu orang-orang Kristen di Antiokhia memerlukan pertolongan dengan pelayanan, jemaat di Yerusalem mengutus Barnabas (Kis. 11:22).  Itulah Barnabas yang tidak takut untuk meminta Paulus untuk membantu dengan pelayanan pada saat orang-orang lain tidak mau bantuannya oleh karena dia dahulu menganiaya orang Kristen (Kis. 11:25,26).

Itulah Barnabas yang berjalan dengan Paulus dalam perjalanan misi yang pertama (Kis. 13:2).  Waktu mereka berbicara mengenai perjalanan misi yang kedua, Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, tetapi Paulus tidak mau oleh karena Yohanes Markus meninggalkan mereka pada perjalanan yang pertama.  Jadi Paulus dan Silas mengambil satu jalan dan Barnabas dan Yohanes Markus mengambil jalan yang lain, tetapi Paulus dan Barnabas tetap bersahabat (Kis. 15:35-41).

Itulah Barnabas yang mendorong Yohanes Markus walaupun dia pernah gagal. Di kemudian hari, Paulus meminta Timotius untuk membawa Markus oleh karena “pelayanannya penting bagiku” (Kol. 4:11). Kemudian Yohanes Markus menulis Injil Markus.

Pelajaran ini diambil dari The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Vol. 30, dengan judul asli “Be a Barnabas,” halaman 97. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

PENDAHULUAN

 

Kalau anda membaca Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan, maka anda akan memperhatikan bahwa Allah sering bermohon kepada pancaindera manusia:  barang-barang untuk diraba dan dilihat, barang-barang untuk didengar, dicium dan dikecap.  Barang-barang yang diwajibkan dibuat dari mutu yang tertinggi, dibuat dengan ketrampilan yang paling baik.  Semua barang ini dibuat sangat tepat sesuai dengan rancangan Allah.  Keluaran 25:9 memulai banyak petunjuk yang rinci dengan perintah Allah, “menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.”

 

Mengapa Allah Menuntut Kemegahan Demikian

Kita tahu bahwa pada dasarnya Allah tidak melihat pada kemegahan, atau apa yang dilihat manusia dengan matanya.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati  (1 Sam. 16:7).

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18).

Apakah Allah memerlukan barang-barang mewah dari bumi ini?  Apakah Dia mempunyai sejenis kelaparan yang dipuaskan oleh korban binatang?  Apakah Dia bisa dimuat ke dalam Bait Allah yang dibuat oleh batu?  Bahkan penulis-penulis Perjanjian Lama menyinggung jawaban.  Sementara meresmikan Bait Allah yang megah itu, Raja Salomo mengaku,Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini (1 Raj. 8:27; lihat juga Yes. 66:1-2; Kis. 7:48-50).

Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya.  Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? (Mzm. 50:12-13).Paulus memberitahukan orang-orang Atena hal yang sama:

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis. 17:24-25).

 

Sudah nyata, bahwa Allah tidak mempunyai keinginan atau keperluan yang khusus untuk barang-barang jasmani yang Dia wajibkan di dalam Perjanjian Lama.  Kalau begitu, mengapakah Dia mewajibkan barang-barang begitu? Oleh karena manusia memerlukan barang-barang itu untuk mempersiapkan mereka untuk Mesias yang akan datang.

Manusia duniawi memerlukan gambaran-gambaran duniawi untuk belajar kebenaran-kebenaran rohani dari Allah. Alkitab menyebut gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama “gambaran” atau “bayangan” atau “lambang” [atau “tipe” bahasa Inggris] (Kol. 2:17; Ibr. 8:5; 9:23; 10:1).  Peraturan-peraturan Perjanjian Lama sama seperti sejenis Sekolah Dasar, pendidikan dasar (Kol. 2:16-23).  Umat Allah sekarang telah meninggalkan penuntunnya dari masa mudanya dan telah bertumbuh besar menjadi dewasa di dalam Kristus (Gal. 3:23-25).

 

PAKAIAN IMAM

 

Kemajuan kepada kedewasaan bisa dilihat dalam hal pakaian.  Harun dan keturunannya wajib memakai pakaian istimewa apabila melayani di dalam Bait Allah.

Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli . . . membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku (Kel. 28:2-3 lihat juga Kel. 28:40-43; 39:1-43). Lagi, ada petunjuk-petunjuk yang rinci dan lengkap.  Pakaian-pakaian itu termasuk tutup dada, baju efod (pakaian rompi luar), gamis, kemeja, serban, ikat pinggang, dan celana dalam.  Bahkan giring-giring (seperti lonceng kecil) yang dipakai oleh imam besar diwajibkan.  Kalau tidak memakai giring-giring itu nanti imam besar mati (Kel. 28:33-35). Sama seperti bahan-bahan mewah lain dari Bait Allah, bahan-bahan ini menunjukkan, bahwa Allah berhak menerima yang paling baik.  Tentu seperti gambaran, mereka hanya memberikan pandangan sekilas dari kemuliaanNya.  Yesus mengingatkan kita bagaimana pakaian-pakaian mewah dari Salomo kelihatannya miskin dibanding sebuah bunga sederhana dari ciptaan Allah (Mt. 6:29).  Kemuliaan Yesus sendiri tidak berkaitan dengan pakaian istimewa apalagi pakaian imam resmi.  KemuliaanNya adalah kasih karunia, kebenaran dan kuasa (Yoh. 1:14-18; 2:11)

 

Berdiam dalam Pokok Itu?

 

Tidak ada ayat Alkitab yang memberitahukan kepada kita secara persis, bahwa pakaian imam tidak termasuk pada Perjanjian Kristus yang Baru.  Ada orang yang mungkin memakai kenyataan ini untuk mendukung kemauannya untuk memakai pakaian imam (atau sebuah seragam sejenisnya).  Tentu Allah tidak harus membuat daftar panjang dari segala perubahan.  Dari pada itu, Dia menjelaskan secara terus terang, bahwa Perjanjian Kristus yang Baru telah mengganti Perjanjian Lama (Ibr. 8; Gal. 4).  Ini berarti semua peraturan-peraturan itu telah berakhir, karena Musa berkata, bahwa semuanya termasuk di dalam Perjanjian itu (“Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini” lihat Kel. 24:8).  Lagi pula imamat Kristus telah mengganti imamat yang lama (Ibr. 7, 10).  Jikalau tidak ada lagi imam-imam atau orang-orang Lewi dari peraturan lama itu, maka peraturanperaturan dan ketetapan-ketetapan istimewa dari imamat itu juga tidak ada lagi, termasuk pakaian mereka yang istimewa.

Bolehkah kita mengambil kesimpulan, bahwa uraian-uraian para imam di dalam Perjanjian Lama tidak mempunyai arti bagi kita hari ini?  Segala firman dari Alkitab berguna.  Bahkan gambaran-gambaran ini yang suram mempunyai arti penting:  Hanya imam-imam yang benar yang berpakaian dengan pantas boleh menghadap Allah.  Setiap anggota keluarga Allah hari ini adalah seorang imam (1 Petrus 2:5,9).  Apakah yang seharusnya kita pakai?  Memang, ada petunjuk-petunjuk mengenai pakaian yang pantas (pada umumnya mengenai tidak berpandanan terlalu kaya! 1 Tim. 2:9,10; 1 Pet. 3:3-5).  Ada peringatan yang keras mengenai menarik perhatian dengan memakai pakaian-pakaian rohani yang istimewa dan gelar-gelar (Mt. 23:5-10).  Namun demikian kita seharusnya mempertimbangkan lebih dari pada barang-barang jasmani, karena “bayangan-bayangan” Hukum Taurat biasanya menunjuk lebih tinggi kepada sesuatu penggenapan rohani.  Mencari pakaian Perjanjian Baru yang demikian, kita dengan cepat belajar, bahwa kita hanya boleh menghadap Allah jikalau kita ditutupi dengan pantas.

Kita ingat perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mt. 22:1-14) di mana ada seorang laki-laki yang dilemparkan keluar karena pakaiannya tidak pantas.  Mencari lebih lanjut, kita melihat, bahwa pakaian yang diperlukan bersifat rohani.  “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal. 3:27).  Karena kita telah menjadi umatNya secara imam, kita terus-menerus “menanggalkan” dosa dan “mengenakan” Kristus (Kol. 3:5-14).

Ya, ada sejenis kediaman:  tidak ada perintah tertentu yang melarang pakaian-pakaian imam.  Lagi pula tidak ada perintah bagi kita untuk memakai pakaian kuno itu.  Tetapi ini bukan kediaman yang kosong.  Mereka bersuara keras karena konteksnya.  Pakaian yang lama itu berkaitan dengan perjanjian yang lama dan imamat yang lama.  Tulisan para rasul menjelaskan dengan terus terang, bahwa kita hidup di dalam konteks perubahan dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru.  Jadi “kediaman-kediaman” ini mengatakan banyak sekali, teristimewa kalau Perjanjian Baru tidak berdiam tentang pakaian kita yang baru.  Kita diperintahkan dengan jelas untuk mengenakan pakaian yang paling kudus dari semua pakaian:  “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus!” (Rom. 13:14).  Oleh karena yang baru jauh lebih baik, maka tidak ada lagi perlu untuk sejenis seragam imam yang jasmani.

 

UKUPAN

 

Pada saat Allah memberikan perjanjian yang pertama, Dia bisa saja menolak pembakaran ukupan sebagai kegiatan penyembahan berhala oleh orang-orang kafir.  Tulisan-tulisan kuno menunjukkan, bahwa pembakaran ukupan itu mempunyai pergunaan yang lama oleh orang Arab, orang Asiria, orang Babilon, orang Kanaan, dan orang Mesir (banding Kej. 37:25; 1 Raj. 11:8 dan 2 Taw. 30:14).  Akan tetapi Allah mempunyai maksudNya sendiri, jadi Allah membawa ukupan istimewa ke dalam perjanjian yang diberikanNya kepada Musa.  Kenyataan-kenyataan Perjanjian Baru membuktikan, bahwa pembakaran ukupan adalah sebagian dari penyembahan kepada Allah di dalam Bait Allahitu.  (Itu tidak pernah diuraikan sebagai sebuah pembantu untuk membuat suasana lebih baik untuk menyembah atau membuat tempat itu berwangi.)

Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.  Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun (Kel. 30:7-8).

Bahkan kalau ukupan dicampurkan dengan persembahan-persembahan lain, itu tetap, “bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 2:2).  Dalam hal ini pembakaran ukupan mempunyai maksud yang seimbang dengan korban binatang yang adalah “korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 1:9).

Tetapi, pada saat Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, ukupan hampir-hampir tidak disebutkan.  Yesus tidak melakukan sesuatu secara kebetulan.  SistemNya rohani yang baru tidak mempunyai tempat untuk sejenis sembahyang jasmani begitu.  Ukupan itu hanya boleh dipersembahkan oleh para imam Lewi (Bil. 16:1-40; 2 Taw. 26:16-21).  Orang-orang lain dilarang keras meniru atau menggunakan resepnya yang khusus (Kel. 30:34-38). Tempat benar untuk mempersembahkannya adalah di Kemah Suci atau Bait Allah di atas mezbahnya sendiri (Kel. 30:1-10; Lk. 1:9-10).  Juga ukupan itu digunakan sekali setahun di dalam tempat maha kudus (Im. 16:12-13). Tempat-tempat lain dikutuk (1 Raj. 22:43 banding Ul. 12:1-11).  Jadi pada saat Bait Allah yang lama, mezbah, dan imamat berakhir, maka ukupan yang berkaitan dengan mereka berakhir juga.(Bersambung)

 

© 1998 World Bible School, P.O. Box 9346, Austin, TX 78766 USA Diterjemahkan  oleh David Buskirk dengan izin

 

Baptisan Kembali

Landung Darmo —  March 21, 2017

Hampir semua gereja mempraktekkan baptisan dalam salah satu macam.  Hampir semua orang yang menyebut dirinya orang Kristen pernah dibaptis.  Jadi dari orang di luar jemaat Kristus timbul pertanyaan, “Kenapa saya harus dibaptis kembali?”  Ada beberapa jawaban tergantung latar belakang orang tersebut.

Kalau dia dibaptis waktu masih bayi atau anak kecil, maka dia harus menyadari bahwa baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab. Yesus berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” dan Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis” dan Paulus berkata, “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Mk. 16:16; Kis. 2:38; Rom. 10:10 bd. Kis. 8:36,37).  Bisakah seorang bayi (yang belum tahu berbicara) percaya, mengaku dan bertobat?  Apakah bayi itu meminta untuk dibaptis, atau apakah itulah keputusan orang tuanya saja?

Alkitab menunjukkan bahwa baptisan adalah untuk orang remaja atau dewasa yang sudah mengerti Injil dan bisa mengambil keputusan sendiri untuk menjadi murid Kristus melalui baptisan.  Jadi baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab dan tidak diterima oleh Allah.  Orang yang pernah dibaptis sebagai bayi atau anak kecil harus dibaptis kembali sesuai dengan kebenaran firman Allah untuk diselamatkan.

Kalau orang pernah dipercik sebagai baptisan, maka dia harus menyadari bahwa percikan sebenarnya bukan baptisan.  Baptisan berasal dari kata bahasa Yunani baptizo yang berarti, “membenamkan, mencelupkan, menenggelamkan.”  Rhantizo adalah kata bahasa Yunani yang berarti “memerciki,” jadi kalau Allah mau agar kita dipercik, pasti dalam Alkitab kita akan diperintahkan untuk dirhantis dan bukan di-baptis.  Bahwa baptisan berarti membenamkan jelas dari Roma 6:4 dan Kolose 2:12 di mana Paulus menguraikan baptisan sebagai suatu kuburan, “kamu dikuburkan dalam baptisan.”

Itulah kejahatan di mata Allah untuk merubah bentuk baptisan yang telah ditetapkanNya.  Siapakah gerangan kita sehingga kita bisa meniadakan firman Allah yang Mahakuasa untuk menegakkan peraturan kita sendiri dan kemudian menyuruh Allah untuk menerima peraturan kita sendiri dengan mengatakan, “Semuanya sama saja”?

Rektor Universitas mewajibkan semua mahasiswa untuk menulis skripsi untuk wisuda.  Ada satu mahasiswa yang menyerahkan satu halaman tulisan kepada Rektor sebagai “skripsinya.”  Rektor berkata, “Apa ini?  Ini bukan skripsi.”  Mahasiswa menjawab, “Waktu saya di SMA, kepala sekolah berkata untuk menulis skripsi cukup untuk membaca satu buku dan menulis satu halaman mengenai buku itu.  Kepala sekolah berkata bahwa itu juga skripsi dan harus diterima oleh Rektor, dan sebenarnya semuanya sama saja asal ada tulisan.”  Apakah Rektor akan menerimanya?  Apakah mahasiswa itu akan wisuda dan menerima ijazah?  Tentu tidak!

Jadi kita harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan.  Jadi semua orang yang pernah dipercik, sebenarnya belum dibaptis, mereka hanya di-rhantis.  Mereka harus dibenamkan di dalam air sebagai baptisan untuk diterima oleh Allah dan memperoleh keselamatan.

Bagaimanakah dengan orang yang sudah dibenamkan ke dalam air sebagai baptisan dalam nama Tuhan Yesus Kristus?  Kalau dia dibaptis untuk menjadi anggota jemaat Kristus yang asli dan tidak bergabung dengan gerejagereja denominasi yang didirikan oleh manusia, maka dia sudah diselamatkan. Tetapi kalau dia dibaptis untuk bergabung dengan gereja-gereja lain, maka sebenarnya dia telah menerima Injil yang palsu dan belum diselamatkan melainkan terkutuk (Gal. 1:6-9). Karena bagian dari Injil yang benar itu adalah bahwa orang yang bertobat dan dibaptis ditambahkan Tuhan kepada jemaatNya (Kis2:47).

Orang itu harus menyadari bahwa Yesus hanya mendirikan satu jemaat saja (Mt. 16:18). Lagi pula Alkitab mengaku adanya hanya satu jemaat (atau tubuh) saja (Ef. 1:23; 4:4; Rom. 12:4,5; 1 Kor. 12:12; Kol. 3:15).  Tambah pula, Alkitab mengutuk orang yang mengadakan perpecahan dan perselisihan dengan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 6:19-21). Lagi pula mereka yang mengadakan perpecahan dan mengikut manusia dari pada Kristus dan memakai nama-nama manusia juga dikutuk (1 Kor. 1:10-13).  Yesus berdoa supaya semua orang yang percaya kepadaNya menjadi satu sama seperti Dia dan BapaNya adalah satu (Yoh. 17:20-23)

Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga” dan “Mengapa kamu berseru kepadaKu: ‘Tuhan, Tuhan,’ padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Mt. 7:21; Lk. 6:46).  Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan bertobat dari segala dosanya akan melakukan kehendak Allah Bapa dan melakukan apa yang dikatakan Yesus.  Mereka akan mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaatNya yang asli.

Apakah pemerintah Indonesia akan menerima pengangkatan seorang anggota gerakan pengacau keamanan sebagai gubernur, sekalipun dia memenuhi semua syarat dan bersumpah untuk menegakkan seluruh undang-undang dasar negara, sedangkan dia masih terlibat di dalam gerakan tersebut?  Tentu tidak!

Jadi mereka yang “bertobat” dan dibaptis, sekalipun dalam nama Yesus, untuk bergabung dengan gereja-gereja lain tidak diselamatkan.  Sebenarnya mereka bergabung dengan kelompok pemberontak yang melawan Allah dengan mempertahankan nama dan ajaran gereja mereka sendiri yang tidak sesuai dengan firman Allah, dan mempertahankan perpecahan dan perselisihan antara umat Kristen yang tidak sesuai dengan perkataan Yesus Kristus ataupun kehendak Allah. Mereka itu menolak untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaat Kristus yang satu itu.  Tentu Allah tidak akan menerima pertobatan atau baptisan mereka itu.

Lagi pula dalam 1 Korintus 12:13, Paulus berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua…telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Walaupun mungkin gereja Pentakosta, Advent, Baptis, GIDI, dan gereja-gereja lain mempraktekkan baptisan selam, namun kami di dalam jemaat Kristus menolak bahwa gereja itu semua merupakan satu tubuh.   Kalau orang yang sudah dibaptis di dalam gereja Pentakosta, misalnya, kami terima sebagai anggota jemaat Kristus tanpa dibaptis lagi, maka itu sama dengan kami menyetujui bahwa gereja Pentakosta sama dengan jemaat Kristus.  Dan itu tidak benar.  Keduanya gereja yang lain dan sangat beda dalam ajaran.  Jadi walaupun seorang sudah dibaptis selam di dalam gereja lain, maka dia harus dibaptis lagi menjadi anggota satu tubuh yang benar itu, yaitu jemaat Kristus yang asli.

Ada banyak orang yang mempunyai bermacam-macam keberatan.  Ada yang berkata bahwa baptisan hanya merupakan lambang saja, jadi tidaklah terlalu penting. Memang baptisan adalah lambang tetapi sangat penting.  Itu melambangkan kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus yang hanya bisa dilambangkan oleh pertobatan dan pembenaman di dalam air.  Percikan tidak melambangkan apa-apa.  Sang Merah Putih adalah lambang Republik Indonesia.  Seorang tidak bisa merubahnya menjadi Sang Kuning Hijau dan berkata bahwa sebenarnya sama saja, tidaklah begitu penting.

Ada yang berkata bahwa baptisan adalah meterai keselamatan jadi kalau orang dibaptis ulang maka itu merusakkan meterai itu. Tetapi kalau orang memasang meterai palsu atas surat berharga, maka surat itu tidak sah karena meterainya tidak benar.  Surat itu harus dibuat lagi dengan meterai yang asli barulah surat itu bisa dinyatakan sah. Demikian juga orang yang menerima baptisan palsu, yang tidak sesuai dengan firman Allah, maka baptisan itu tidak sah dan tidak merupakan jaminan keselamatan.  Orang itu harus menerima baptisan yang benar yang sesuai dengan firman Allah baru bisa dinyatakan sah dan merupakan jaminan keselamatan.

Ada yang berkata bahwa orang berbuat dosa kalau dibaptis ulang.  Dosa adalah pelanggaran firman Allah (1 Yoh. 3:4).  Jadi sebenarnya itulah dosa untuk menerima baptisan yang tidak sesuai dengan firman Allah.  Orang itu harus bertobat dari semua dosanya, termasuk baptisan yang tidak benar itu, dan dibaptis dengan baptisan yang benar.

Yang terakhir ada satu contoh di dalam Alkitab di mana orang dibaptis ulang.  Bacalah Kisah 19:1-7.  Orang-orang ini di Efesus menerima baptisan Yohanes.  Nah, baptisan Yohanes adalah baptisan yang ditetapkan Allah pada saat Yohanes Pembaptis muncul di padang gurun.  Tetapi setelah Yesus mati di kayu salib, maka baptisan Yohanes itu bukanlah baptisan yang sah lagi.  Orang sekarang harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa.  Jadi waktu mereka ini mendengar hal itu maka mereka dibaptis ulang.

Kalau Allah tidak lagi menerima baptisan Yohanes, baptisan yang ditetapkan oleh Allah sendiri, melainkan menyuruh mereka untuk dibaptis lagi, apakah Allah akan menerima baptisan yang ditetapkan oleh manusia lain? Semua orang di zaman Kristen ini yang tidak dibaptis menurut kebenaran firman Allah, wajib dibaptis lagi sesuai dengan firman Allah untuk memperoleh keselamatan

NAMA JEMAAT

Landung Darmo —  February 20, 2017

Kita dalam jemaat Kristus mengatakan bahwa kita berpendirian pada Alkitab saja termasuk nama untuk jemaat yang didirikan Yesus.  Memang itulah Yesus yang mendirikan jemaat itu, Dia yang punya, dan oleh karena itu Dia juga mempunyai hak untuk memberi nama kepada jemaatNya tersebut.

Sebenarnya Yesus tidak memberikan satu nama tertentu bagi jemaatNya.  Kalau kita melihat di dalam Alkitab ada banyak sebutan yang berbeda-beda untuk jemaat pada abad pertama.  Misalnya:  “JemaatKu” (Mt. 16:18); atau “jemaat” saja (Kis. 8:1); “Jalan Tuhan” (Kis. 9:2); “jemaat Allah” (1 Kor. 1:2); “jemaat Kristus” (Rom. 16:16); “tubuh Kristus” (Ef. 4:12); “jemaat dari Allah yang hidup” (1 Tim. 3:15); dan “jemaat anakanak sulung” (Ibr. 12:23).  Semua sebutan ini menguraikan jemaat yang didirikan oleh Yesus Kristus itu.

Semua nama ini Alkitabiah dan bisa digunakan.  Misalnya kalau kita mau memasang papan nama yang tertulis, “Tubuh Kristus di Urei Faisei” atau “Jemaat dari Allah yang Hidup di Kota Raja” atau “Jalan Tuhan di Serui” tidak ada masalah.  Itu semua bisa dibenarkan oleh Alkitab.

Tetapi pada umumnya hampir kita semua dalam jemaat yang didirikan oleh Yesus memakai nama “Jemaat Kristus” dari Roma 16:16 supaya konsisten, untuk menunjukkan persatuan dan kesatuan, untuk membedakan kita dari gereja-gereja lain, dan supaya kalau ada saudara seiman yang bepergian ke tempat lain dia mudah menemukan jemaat Kristus setempat. Tetapi kita tidak boleh memakai nama lain yang tidak ada di dalam Alkitab. Misalnya kita tidak boleh memakai nama seperti “Jemaat Kristus Internasional” atau “Jemaat Kristus Raja” oleh karena namanama itu tidak ada di dalam Alkitab dan merupakan nama yang dibuat manusia. Kalau iman kita memang berdasarkan firman Tuhan maka kita akan memakai nama untuk jemaat yang berdasarkan firman juga.

Di belakang nama “jemaat Kristus” kita bisa menambah nama tempatnya entah itu nama kota, lurah, desa, atau nama jalan. Misalnya kita bisa memakai nama “Jemaat Kristus di Santosa” atau “Jemaat Kristus di Sorong” atau “Jemaat Kristus di Jalan Sumatera” oleh karena “di Santosa,” “di Sorong” dan “di Jalan Sumatera” merupakan nama tempat dan itu juga sesuai dengan Alkitab.  Misalnya “Jemaat Allah di Korintus” (1 Kor. 1:2), “jemaat-jemaat di Galatia” (Gal. 1:2) atau “jemaat-jemaat di Makedonia” (2 Kor. 8:1).  Tetapi kita tidak boleh memakai nama yang bukan nama untuk tempat itu. Misalnya kita tidak boleh memakai “Jemaat Betania” atau “Jemaat Betel” atau “Jemaat Smirna” kecuali daerah atau jalan di mana jemaat itu berada memang mempunyai nama demikian.

Jadi timbul pertanyaan: “Kenapa kita memakai ‘Sidang Jemaat Kristus’?”  Nama “Sidang Jemaat Kristus” tidak ada di dalam Alkitab.  Jadi kalau kita tidak boleh memakai nama yang tidak terdapat di dalam Alkitab, kenapa sampai kita memakai nama itu?

Yang kebanyakan orang tidak tahu adalah bahwa nama “Sidang Jemaat Kristus” adalah sebutan di dalam Alkitab Terjemahan Lama.  Dalam Terjemahan Lama, Roma 16:16b berkata, “Salam sekalian sidang jemaat Kristus kepada kamu.”  Jadi waktu jemaat Kristus baru masuk ke Indonesia pada awal 60-an, maka mereka memakai nama untuk jemaat yang ada di dalam Roma 16:16 seperti di semua daerah lain di dunia.  Pada waktu itu Terjemahan Baru tidak ada.

Rupanya bahwa pada saat Terjemahan Lama diterjemahkan salah satu arti untuk kata “sidang” adalah “jemaat.”  Misalnya dalam Terjemahan Lama Matius 16:18 berkata, “Aku akan membangunkansidangKu.”  Di sini “sidang” saja yang dipakai dari pada “jemaat.”  Efesus 5:26, “supaya Ia menguduskan sidang itu,” dan 1 Timotius 3:15, “sidang Allah yang hidup.”

Seringkali juga “sidang jemaat” dipakai seperti dalam Filipi 3:6, “tentang hal usaha, aku menganiayakan sidang jemaat” atau 1 Korintus 11:22, “Atau kamu hinakankah sidang jemaat Allah?”

Di dalam Terjemahan Baru kata “jemaat” dipakai 124 di dalam Perjanjian Baru.  Di setiap ayat dalam Terjemahan Baru di mana ada kata “jemaat,” Terjemahan Lama memakai kata “sidang” saja atau “sidang jemaat” tetapi tidak ada tempat di dalam Terjemahan Lama yang memakai hanya “jemaat” saja.  Jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa pada zaman Terjemahan Lama diterbitkan maka sudah lazim memakai istilah “sidang jemaat” atau “sidang” saja untuk jemaat.  Itulah sebabnya saudara-saudara seiman yang pertama di Indonesia memakai nama “Sidang Jemaat Kristus.” Tetapi di kemudian hari oleh karena bahasa berubah sedikit demi sedikit, maka istilah “sidang jemaat” dipersingkatkan ke “jemaat” saja dan “sidang” tidak lagi dipakai dalam arti “jemaat.” “Jemaat Kristus” dalam bahasa Yunani adalah ekklesia Khristou.

Namun demikiankata ekklesia bukan istilah gerejawi dalam bahasa Yunani melainkan merupakan kata umum saja yang bisa diterjemahkan sebagai “kumpulan,” “sidang,” atau “jemaat.” Misalnya di dalam Kisah 19:32 (Terjemahan Baru) kata “kumpulan” dalam ayat itu adalah ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Juga dalam ayat 39, kata “sidang rakyat” adalah kata ekklesia, dan juga ayat 40, “kumpulan rakyat” adalah kata ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Kalau membaca fasal 19 itu sudah jelas bahwa ekklesia itu bukan jemaat orangorang kudus melainkan suatu kumpulan umum dari masyarakat.  Jadi untuk kata ekklesia diterjemahkan sebagai “sidang” atau “sidang jemaat” bisa dibenarkan. Namun demikian oleh karena di dalam Terjemahan Baru hanya memakai kata “jemaat” saja misalnya dalam Roma 16:16 diterjemahkan sebagai “jemaat Kristus” mungkin lebih baik kalau kita mengusulkan kepada para pengurus agar nama “Gereja Sidang Jemaat Kristus di Indonesia” dirubah dalam catatan pemerintah RI menjadi “Gereja Jemaat Kristus di Indonesia” supaya lebih sesuai dengan Terjemahan Baru yang kita memakai hari ini pada umumnya dan tidak ada lagi kebingungan yang terjadi antara kita atau antara orang di luar