Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Persembahan menurut Perjanjian Baru

Jadi apakah yang dikatakan Perjanjian Baru dalam hal persembahan? Tentu, kita tidak berada lagi di bawah Perjanjian Lama. Saya tidak mau membahas di sini mengenai perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita semua di dalam jemaat Kristus seharusnya sudah diajar perbedaannya itu. Kalau pelajaran itu belum jelas, bisa menanyakan orang lain untuk menjelaskannya.

Gereja-gereja lain mengajar bahwa kita orang Kristen wajib memberikan perpuluhan oleh karena Perjanjian Lama mengajarkan begitu. Tetapi apakah itu betul, bahwa Perjanjian Lama mengajarkan perpuluhan? Kita sudah melihat bahwa seorang petani wajib memberikan dua persepuluh dari hasil panen mereka setiap tahun, sedangkan setiap tiga tahun mereka wajib memberikan tiga persepuluh. Mengenai peternak, mereka wajib memberikan sepersepuluh tambah anak sulung jantan dan korban-korban lain yang wajib bagi mereka. Sebenarnya orang Yahudi memberikan jauh lebih banyak dari sepersepuluh. Jadi pada dasarnya, gereja-gereja yang mengajarkan perpuluhan berdasarkan Perjanjian Lama adalah salah. Seharusnya mereka mengajarkan dua persepuluh, bahkan tiga persepuluh! Itulah yang sesuai dengan Perjanjian Lama yang sebenarnya.

Tetapi kita tahu bahwa kita tidak lagi berada di bawah Perjanjian Lama. Perjanjian Lama tidak lagi berlaku bagi kita orang Kristen. Kita harus melihat apa yang dikatakan Perjanjian Baru tentang hal persembahan. Jadi apa yang sebenarnya dikatakan Perjanjian Baru mengenai persembahan? Perjanjian Baru tidak mengatakan banyak tentang hal itu. Seperti kita sudah melihat di atas, Allah sudah menghapuskan korbankorban binatang di dalam Perjanjian Baru. Kita tidak lagi wajib mempersembahkan korban bakaran berupa binatang oleh karena Yesus menjadi korban sempurna yang kita punya. Kita juga tidak lagi wajib mempersembahkan hasil panen kita kepada Tuhan sebagaimana diuraikan di dalam hukum Taurat. Persembahan-persembahan lain yang diuraikan di dalam hukum Taurat tidak lagi terikat pada kita, termasuk persembahan perpuluhan.

Perjanjian Baru tidak mengajarkan atau mewajibkan orang Kristen untuk memberikan perpuluhan. Sebenarnya Perjanjian Baru tidak menentukan berapa yang seharusnya kita berikan kepada Tuhan. Apakah yang dikatakannya? Marilah kita melihat di dalam 1 Korintus 16:1, 2. Ayat 2 berkata bahwa kita harus memberikan sesuai dengan apa yang kita peroleh. Itulah kewajiban kita dalam hal persembahan di bawah Perjanjian Baru. Kita wajib memberikan sesuai dengan apa yang kita peroleh.

Kesimpulan banyak orang anggota jemaat Kristus tarik dari ajaran singkat ini bahwa kita tidak lagi wajib memberikan perpuluhan adalah bahwa kita bisa memberikan kurang dari perpuluhan itu. Banyak anggota jemaat Kristus baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, dan saya kira di seluruh dunia, memberikan hanya tiga atau empat persen dari penghasilan mereka kepada Tuhan. Ada yang mungkin hanya memberikan satu atau dua persen. Apakah itu kesimpulan yang benar? Apakah itu benar bahwa Allah berkenan dengan orang yang hanya memberi beberapa persen dari penghasilannya kepadaNya? Apakah kesimpulan itu bisa dibenarkan? Menurut saya, tidak bisa.

Pikirlah baik-baik, saudara-saudara! Pertama, orang Israel petani dan peternak di bawah hukum Taurat mengorbankan lebih dari seperempat (25%) dari penghasilan mereka kepada Allah, bahkan ada yang wajib mempersembahkan lebih dari sepertiga (33%). Kedua, Allah tidak lagi mewajibkan kita untuk mempersembahkan korban binatang dan korban-korban lain di dalam hukum Taurat. Itu semua sudah dihapuskan bagi kita. Ketiga, Allah sendiri telah mengorbankan AnakNya, Yesus Kristus, sebagai korban penghapus dosa bagi kita. Maksudnya, bukan kita yang mengorbankan sesuatu untuk dosa kita, tetapi itulah Allah yang mengorbankan sesuatu untuk pengampunan dosa kita. Apakah yang bisa kita berikan kepada Allah ganti AnakNya itu? Yang keempat, Allah menyuruh kita untuk memberi sesuai dengan penghasilan kita, tetapi tidak menentukan jumlahnya.

Apakah kesimpulan yang bisa kita tarik dari nomor satu sampai empat di atas? Jikalau Allah mewajibkan orang Yahudi untuk memberikan lebih dari dua puluh persen dari penghasilan mereka, dan mewajibkan mereka untuk menyediakan korban penghapus dosa sendiri, tetapi Allah menghapus kewajiban itu dari kita, dan Allah sendiri menyediakan korban penghapus dosa bagi kita, maka seharusnya, sebagai kesimpulan, kita seharusnya memberikan jauh lebih dari sepuluh persen dari penghasilan kita kepada Tuhan sebagai tanda pengucapan syukur. Itu yang masuk akal!

Mungkin orang bertanya, kenapa Allah tidak menentukan jumlahnya yang harus kita berikan kepadaNya? Jawabannya adalah, karena Allah mau menguji iman dan kesetiaan kita. Kalau Allah menentukan bahwa kita semua harus memberikan sepuluh persen saja, maka kita semua akan memberikan sepuluh persen dan menganggap bahwa kita telah memenuhi kewajiban kita. Mungkin kita akan menganggap bahwa kita orang baik yang telah memenuhi kewajiban kita. Pasti juga banyak orang tidak akan mau memberikan lebih dari pada itu oleh karena Allah hanya mewajibkan sepersepuluh.

Menurut saya, Allah tidak menentukan jumlahnya karena Dia berharap bahwa atas kesadaran dan pemahaman kita mengenai hal ini, bahwa kita akan memberikan jauh lebih dari sepuluh persen kepadaNya dengan sukarela dan sukacita. Selain dari itu, setiap orang mempunyai tingkat ekonomi yang berbeda. Ada orang kaya yang mampu memberikan lebih (mungkin dua puluh atau tiga puluh persen lebih), ada orang miskin yang mampu memberi sedikit (mungkin hanya sepuluh persen saja). Allah mau supaya kita memberi sesuai dengan kemampuan kita, bahkan melebihi kemampuan kita.

Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Tuntutan Allah kepada Kita

Jadi, kalau Allah mengorbankan AnakNya Yesus Kristus bagi kita, dan oleh karena Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka layak bagi Allah untuk menuntut dari orang yang mau mempunyai pengampunan dosa dan hidup yang kekal itu harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaNya. Kalau Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka kita juga wajib mengorbankan diri kita bagi Yesus. Itu layak dan adil.

Yesus berkata demikian di dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Maksud Yesus adalah bahwa orang yang mau menjadi muridNya harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Menyangkal diri berarti bahwa seseorang tidak lagi melakukan apa yang diinginkannya, melainkan apa yang diinginkan Allah. Orang yang memikul salib adalah orang yang rela menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Sama seperti Yesus menyerahkan diriNya sepenuhNya di atas kayu salib bagi kita umat manusia, kita juga harus rela menderita bahkan mati bagi Yesus. Kita harus rela menyerahkan segala sesuatu kepadaNya

Dalam Roma 12:1, 2, Paulus berkata bahwa kita harus mempersembahkan kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Ini menyinggung kembali kepada korban persembahan yang dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Taurat. Kita tidak lagi mempersembahkan korban binatang, tetapi kita mempersembahkan tubuh kita, kehidupan kita sepenuhnya kepada Allah, sebagai persembahan yang hidup. Maksudnya, bukan lagi kita yang hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita harus hidup bagi Allah pada segala saat di mana saja. Kehidupan kita dikorbankan dan dipersembahkan kepada Allah dan kerajaanNya.

Yesus juga berkata di dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” Kalau seseorang tidak mau melepaskan dirinya dari segala miliknya, dia tidak bisa menjadi murid Yesus. Kita harus rela mengorbankan segala milik kita bagi Yesus dan kerajaanNya kalau kita mau menjadi muridNya. Kalau kita tidak mau mengorbankan segala harta milik kita kepada Yesus, maka kita tidak bisa menjadi muridNya. Titik.

Lagi, ingat bahwa segala milik kita asalnya dari Tuhan dan sebenarnya adalah Tuhan punya. Allah hanya memberikannya kepada kita untuk sementara waktu sesuai dengan kehendakNya. Jadi kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang adalah milikNya, apa yang telah dipercayakanNya kepada kita. Kita harus merubah pikiran kita dari “ini milik saya” kepada “ini adalah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk sementara waktu saja,” atau “inilah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk dipergunakan untuk kemuliaan namaNya dan perkembangan kerajaanNya.” Tentu, Allah juga memberikan kepada kita segala sesuatu untuk kita nikmati (1 Tim. 6:17b). Tetapi kita harus selalu ingat bahwa itulah karunia dari Allah.

Apakah saudara sudah melepaskan dirimu dari segala milikmu untuk Yesus? Bagaimana tahu? Pikirkanlah barang milik saudara yang paling saudara sayangi. Mungkin itu suatu perhiasan atau peninggalan dari orang tua atau nenek moyang, atau sesuatu yang saudara beli setelah menyimpan uang lama-lama, mungkin sepeda motor atau komputer, atau sensor. Bagaimanakah kalau barang itu hilang atau dicuri? Apakah saudara nanti marah Allah? Bagaimanakah kalau jemaat memerlukan uang untuk pelayanan atau sesuatu yang tertentu, apakah rela menjual barang itu? Apakah mencintai barang itu lebih dari Tuhan? Apakah saudara lebih mengutamakan uang dan harta jasmani dari pada Allah dan hal-hal rohani? Inilah pertanyaan untuk menilai dirimu sendiri apakah sudah melepaskan dirimu dari segala milikmu untuk Yesus.

Dalam pelayananNya, Yesus menyuruh orang untuk meninggalkan segala miliknya dan ikut Yesus. Sebenarnya, perintah itu Yesus berikan kepada kita semua yang ingin menjadi pengikutNya. Marilah kita melihat.

Dalam Lukas 18:18-23 kita membaca mengenai seorang muda yang kaya. Dia ingin memperoleh hidup yang kekal tetapi ada satu hal yang menghalangi dia dari memperolehnya, yaitu harta miliknya. Yesus menyuruh dia untuk menjual segala harta miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Dia tidak mau karena dia lebih mencintai hartanya dari pada Allah, walaupun Yesus sudah berjanji kepada dia bahwa dia akan mempunyai harta banyak di sorga nanti.

Dalam ayat 28 Petrus berkata kepada Yesus bahwa mereka telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikut Yesus. Ingat waktu Yesus memanggil Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk mengikutNya, mereka meninggalkan penangkapan ikan yang besar serta perahu, jala dan keluarga mereka untuk mengikut Yesus (Lk. 5:1-11). Waktu Yesus memanggil Matius Lewi, dia juga meninggalkan tempat tugasnya untuk mengikut Yesus (Mt. 9:9). Kemungkinan besar waktu Yesus memanggil rasul-rasul yang lain untuk mengikutNya, mereka juga meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.

Yesus juga berkata dalam Lukas 12:32-34, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Yesus berkata kepada kita semua bahwa kita harus menjual segala milik kita dan memberikan sedekah (maksudnya, memberikannya kepada orang miskin). Kemudian kita akan memperoleh banyak harta di sorga. Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus benar-benar menjual segala milik kita, tetapi seperti dikatakanNya di dalam Lukas 14:33, kita harus melepaskan diri kita dari segala milik kita yang berarti bahwa kita harus rela menjual milik kita atau mempergunakan milik kita untuk Allah dan perkembangan kerajaanNya.

Satu-satunya hal dari pelajaran ini yang harus kita pahami adalah bahwa segala milik kita adalah milik Allah dan kalau Allah memerlukannya, kita wajib memberikannya kembali kepada Allah dengan senang hati dan sukarela. Apakah itulah sikap kita terhadap milik kita dan persembahan kita kepada Allah?

Marilah kita melihat perumpamaan di dalam Lukas 16:1-9. Perumpamaan agak susah dimengerti. Kita memperhatikan bahwa tuan itu memuji bendaharanya bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kecerdikannya. Yesus tidak mengajar di sini bahwa itu baik untuk bertindak dengan tidak jujur, melainkan bahwa kita harus cerdik dalam mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menjamin masa depan kita. Orang dunia cerdik untuk mempergunakan apa yang ada pada mereka untuk menjamin masa depan mereka di bumi ini. Apalagi kita orang Kristen. Kita harus mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menjamin keselamatan kita di sorga di masa depan.

Allah telah mempercayakan harta milik kepada kita. Apakah yang akan kita lakukan dengannya? Apakah kita akan mempergunakannya untuk memuaskan hawa nafsu kita, kemauan kita, untuk kepentingan diri kita sendiri saja? Atau apakah kita akan mempergunakannya untuk kemuliaan Allah, untuk pemberitaan injil, untuk membantu orang dalam kesusahan, untuk keperluan jemaat dan saudara-saudara seiman yang lain? Kalau kita mempergunakan harta milik kita hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja, maka kita orang bodoh. Kita tidak akan masuk ke dalam sorga. Itu berarti kita lebih mencintai harta kita dari pada Allah. Harta milik jasmani tidak bisa menjamin keselamatan kita. Tetapi kalau kita mempergunakannya untuk kepentingan Allah, maka kita akan menjamin masa depan kita di sorga nanti.

Itulah maksud dari Lukas 16:9 yang adalah kesimpulan yang Yesus tarik dari perumpamaan ini. Mamon yang tidak jujur adalah harta jasmani oleh karena harta jasmani tidak bisa menjamin keselamatan seseorang. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Orang yang paling kaya tidak bisa menjual segala harta miliknya dengan harapan akan masuk ke dalam sorga. Kita harus mempergunakan Mamon yang tidak jujur itu (yaitu harta jasmani kita) dalam cara yang berkenan kepada Allah supaya setelah kita mati kita bisa diterima di dalam kemah abadi (yaitu sorga), karena setelah kita mati, Mamon itu tidak bisa membantu kita lagi. Tetapi kalau kita tidak memakai Mamon itu sesuai dengan kehendak Allah, maka kita tidak akan masuk ke dalam sorga. Baiklah kita memikirkan itu baik-baik. Banyak orang Kristen akan binasa oleh karena mereka tidak memakai harta milik mereka sesuai dengan kehendak Allah. Mereka memakainya hanya untuk kepentingan mereka sendiri saja.(Bersambung)

Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Korban yang Dipersembahkan Allah

Yang utama, menurut saya, yang harus kita renungkan dan pertimbangkan adalah apa yang dilakukan Allah bagi kita. Kita sudah melihat semua korban persembahan yang harus dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Musa. Memang sangat merepotkan. Tetapi kita juga belajar bahwa di dalam Perjanjian Baru, kita tidak wajib lagi memberikan persembahan-persembahan itu. Ibrani 10:1-9 mengajarkan kepada kita bahwa darah lembu dan domba jantan tidak bisa menghapus dosa, melainkan mengingatkan orang Israel mengenai adanya dosa. Darah binatang tidak sempurna. Oleh karena itu Allah menghapus korban persembahan binatang untuk menegakkan yang kedua, yaitu korban AnakNya sendiri, Yesus Kristus.

Baiklah kita mempertimbangkan dan merenungkan hal ini baik-baik, saudarasaudara. Itulah Allah yang mempersiapkan korban penghapus dosa bagi kita. Di bawah Perjanjian Lama, orang Israel sendiri yang harus mempersiapkan korban penghapus dosa. Tetapi di bawah Perjanjian Baru, itulah Allah sendiri yang sudah menyediakan korban penghapus dosa bagi kita sehingga tidak ada apa-apa yang harus kita persembahkan untuk menghapus dosa kita. Luar biasa baiknya Allah terhadap kita, bukan? Kenyataan itu seharusnya membuat kita mengucap syukur kepada Tuhan.

Seperti kita melihat dalam pelajaran kedua, “Kenapa Allah tidak memberkati saya?” adalah pertanyaan yang salah, dan memang begitu. Berpikirlah! Kalau Allah memberikan kepada kita satu trilyun rupiah, atau membuat kita presiden Republik Indonesia, atau memberi kesempatan kepada kita untuk berjalan keliling dunia, atau memberikan kepada kita anak-anak yang banyak, atau sesuatu hal yang lain yang kita inginkan secara jasmani, apakah gunanya semuanya itu? Apakah itu bisa menyelamatkan kita? Apakah itu bisa menghapuskan dosa kita?

Allah sudah mengorbankan AnakNya sendiri, AnakNya yang tunggal, bagi kita supaya kita bisa memperoleh hidup yang kekal. Yesus berkata dalam Matius 16:26, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Apakah yang bisa diberikan Allah kepada kita yang melebihi AnakNya sendiri? Apakah yang dapat diberikan Allah kepada kita yang melebihi hidup yang kekal dan satu tempat bersama dengan Dia di sorga untuk selama-lamanya yang dimungkinkan karena korban AnakNya? Tidak ada, saudarasaudara!!

Renungkanlah ini baik-baik. Allah sudah memberkati kita dengan luar biasa! Atas dasar apakah kita mempunyai hak untuk mengeluh dan bersungut-sungut bahwa Allah tidak memberkati kita? Allah mungkin berkata, “Saya sudah mengorbankan Anak Saya supaya kau bisa menerima pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Saya sudah menyediakan harta di sorga bagi kau. Kenapa kau mengeluh dan bersungut-sungut karena Saya tidak memberikan (_____________________ isi permintaanmu sendiri di sini) kepada kau?” Kita harus sungguh-sungguh mengucap syukur kepada Allah atas karuniaNya dalam mengorbankan AnakNya bagi kita. Kalau Allah tidak rela mengorbankan AnakNya bagi kita, tidak ada di antara kita manusia yang masuk ke dalam sorga.

Tuntutan Allah kepada Kita

Jadi, kalau Allah mengorbankan AnakNya Yesus Kristus bagi kita, dan oleh karena Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka layak bagi Allah untuk menuntut dari orang yang mau mempunyai pengampunan dosa dan hidup yang kekal itu harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaNya. Kalau Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka kita juga wajib mengorbankan diri kita bagi Yesus. Itu layak dan adil.

Yesus berkata demikian di dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Maksud Yesus adalah bahwa orang yang mau menjadi muridNya harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Menyangkal diri berarti bahwa seseorang tidak lagi melakukan apa yang diinginkannya, melainkan apa yang diinginkan Allah. Orang yang memikul salib adalah orang yang rela menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Sama seperti Yesus menyerahkan diriNya sepenuhNya di atas kayu salib bagi kita umat manusia, kita juga harus rela menderita bahkan mati bagi Yesus. Kita harus rela menyerahkan segala sesuatu kepadaNya.

Dalam Roma 12:1, 2, Paulus berkata bahwa kita harus mempersembahkan kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Ini menyinggung kembali kepada korban persembahan yang dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Taurat. Kita tidak lagi mempersembahkan korban binatang, tetapi kita mempersembahkan tubuh kita, kehidupan kita sepenuhnya kepada Allah, sebagai persembahan yang hidup. Maksudnya, bukan lagi kita yang hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita harus hidup bagi Allah pada segala saat di mana saja. Kehidupan kita dikorbankan dan dipersembahkan kepada Allah dan kerajaanNya.

Yesus juga berkata di dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” Kalau seseorang tidak mau melepaskan dirinya dari segala miliknya, dia tidak bisa menjadi murid Yesus. Kita harus rela mengorbankan segala milik kita bagi Yesus dan kerajaanNya kalau kita mau menjadi muridNya. Kalau kita tidak mau mengorbankan segala harta milik kita kepada Yesus, maka kita tidak bisa menjadi muridNya. Titik. Lagi, ingat bahwa segala milik kita asalnya dari Tuhan dan sebenarnya adalah Tuhan punya. Allah hanya memberikannya kepada kita untuk sementara waktu sesuai dengan kehendakNya.

Jadi kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang adalah milikNya, apa yang telah dipercayakanNya kepada kita. Kita harus merubah pikiran kita dari “ini milik saya” kepada “ini adalah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk sementara waktu saja,” atau “inilah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk dipergunakan untuk kemuliaan namaNya dan perkembangan kerajaanNya.” Tentu, Allah juga memberikan kepada kita segala sesuatu untuk kita nikmati (1 Tim. 6:17b). Tetapi kita harus selalu ingat bahwa itulah karunia dari Allah.(Bersambung)

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Mutu Korban yang Dipersembahkan:

Allah tidak akan menerima korban binatang atau korban sajian yang sembarangan. Allah selalu menuntut yang paling baik. Allah memberikan syarat-syarat kepada orang Israel mengenai mutu korban yang dipersembahkan sebagai berikut: Mengenai lembu, domba atau kambing harus:

1. Tidak bercela;

2. Tidak boleh bercacat badannya sedikitpun;

3. Tidak boleh buta;

4. Tidak boleh ada tulangnya yang patah;

5. Tidak boleh ada luka atau bisul;

6. Tidak boleh berkedal atau berkurap;

7. Tidak boleh buah pelirnya terjepit, ditumbuk, direnggut, atau dikerat;

8. Harus berumur delapan hari ke atas.

Nas: Imamat 22:17-27.

Mengenai hasil tanah harus:

1. Hasil tanah yang pertama;

2. Tepung yang terbaik.
Penjelasan: Kebanyakan persembahan-persembahan yang orang Israel persembahkan kepada Tuhan menjadi milik imam-imam sebagai imbalan pelayanan mereka di dalam Kemah Suci atau Bait Allah (Bilangan 18:8-32).

Renungkanlah Renungkanlah kalau saudara hidup di bawah hukum Taurat dan harus mengingat dan mempersembahkan semua persembahan ini. Membuat repot, bukan? Tentu, dari pembacaan saya, peraturan-peraturan ini hanya berkaitan dengan petani dan peternak, yaitu orang yang mempunyai ladang, kebun atau pohon buah-buahan yang mereka tanam, atau kumpulan ternak yang berkembang. Saya tidak mendapat informasi mengenai mereka yang menerima gaji karena kerja sebagai tukang kayu atau tukang batu dan lain sebagainya. Namun mereka tetap harus mempersembahkan korban yang wajib bagi mereka (seperti kalau mereka mempunyai anak yang baru lahir). Dan juga ada orang miskin yang tidak memberi persembahan banyak oleh karena mereka tidak mempunyai hasil tanah atau hasil ternak. Namun demikian saya mau supaya kita sungguh-sungguh merenungkan tanggung jawab kita dalam hal memberi kepada Tuhan dibandingkan dengan kewajiban orang Israel di bawah Hukum Taurat. Banyak juga di antara kita orang Papua adalah petani dan peternak. Mungkin kita kerja di kantor atau perusahaan, mungkin kita kerja di bangunan atau sebagai tukang ojek, tetapi banyak di antara kita juga mempunyai kebun dan ternak, yang di bawah hukum Musa, akan kena persembahan yang banyak.

Persembahan untuk Kemah Suci

Waktu orang Israel keluar dari Mesir, mereka merampas orang Mesir itu. Mereka tidak merampas dalam hal mencuri barang diam-diam. Mereka minta barang-barang emas dan perak dari orang-orang Mesir yang memberikan barang-barang itu kepada orang Israel dengan kerelaan hati. Allah sudah memberitahukan kepada Abraham bahwa keturunannya akan keluar dengan membawa harta banyak (Kej. 15:14). Hal itu memang terjadi (Kel. 3:21, 22; 11:2, 3; 12:35, 36). Jadi waktu orang Israel sudah siap untuk membangun Kemah Suci dengan segala perabotannya dan pakaian imam yang mewah dan luar biasa indahnya, maka mereka mempunyai harta benda yang banyak untuk bisa diberikan. Orang Israel memberi dengan kerelaan hatinya sampai Musa harus memerintahkan orang Israel untuk berhenti memberikan oleh karena apa yang sudah dipersembahkan lebih dari cukup (Kel. 35:4-9, 20-24, 29; 36:3-7). Kiranya kalau jemaat memerlukan dana untuk sesuatu, anggotaanggotanya bisa memberi dengan kerelaan hati sampai apa yang diberikan lebih dari cukup untuk keperluan tersebut.

Inilah semua korban persembahan yang harus diserahkan orang Israel di bawah hukum Taurat. Mungkin ada satu atau dua yang saya lupa, saya tidak tahu, tetapi saya berusaha untuk mencatat semuanya. Ada banyak nas lain di dalam Perjanjian Lama mengenai uang dan persembahan yang akan kita lihat nanti. Tetapi, lagi, renungkanlah semua persembahan yang harus mereka berikan. Sungguh, kita hidup di bawah perjanjian yang lebih baik yang tidak menuntut berbagai macam persembahan yang begini. Baiklah kita melihat apa yang dikatakan Perjanjian Baru mengenai persembahan.

Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Contoh Pemberian Seorang Yahudi

Jadi kita melihat bahwa orang Yahudi mempersembahkan jauh lebih dari sepuluh persen kepada Tuhan. Marilah kita melihat contoh seperti berikut:

Seorang Israel menanam ladangnya dengan gandum yang menghasilkan 6.000 kilogram seluruhnya. Dia harus mengorbankan yang berikut:

6.000/60* (tidak boleh sabit sampai ke tepinya) 100kg 6.000/40* (hasil pertama) 150kg 6.000/10 (perpuluhan yang pertama) 600kg 6.000/10 (perpuluhan yang kedua) 600kg 6.000/30 (perpuluhan yang ketiga, sekali tiga tahun) 200kg

Jumlah yang dikorbankan 1,650kg

*Ini dihitung menurut tulisan rabi-rabi (guru-guru perjanjian lama).

Jadi, ini merupakan 27,5% dari hasil tanahnya yang dikorbankan.
Kemudian, misalnya dia menambah ternaknya seratus anak kambing domba dan seratus anak lembu sapi, masing-masing 50 jantan dan 50 betina. Dari jantan itu 5 adalah anak sulung jantan.

 

Jadi ini merupakan 17% dari kambing domba dan 15% dari lembu sapi. Seandainya dia hanya menambah 50 ekor kambing domba dan 50 ekor lembu sapi pada tahun tersebut dan dua di antaranya adalah anak sulung, maka dia mengorbankan 18% dari kambing domba dan 14% dari lembu sapi.

Tetapi ini tidak termasuk korban-korban lain yang mungkin akan diberikan yang merupakan korban bakaran, korban keselamatan, korban penghapus dosa, dan lain sebagainya yang biasanya dipersembahkan orang Israel sebagai korban sukarela yang tidak termasuk antara korban wajib yang diuraikan di atas. Jadi seorang peternak biasanya mempersembahkan 20 persen dari ternaknya atau lebih kepada Tuhan.

Selain dari pada itu ada juga korban sajian dan korban curahan yang harus diberikan. Setiap tahun harus membayar enam gram perak pada waktu pendaftaran.

Korban lain yang mungkin harus diberikan adalah jikalau tahun itu dia mempunyai anak laki-laki sulung yang lahir, dia harus membayar 55 gram perak untuk menebus anak laki-lakinya. Kalau ada anak yang lahir, biar itu anaknya yang sulung atau anak kemudian, laki-laki atau perempuan, dia harus mempersembahkan korban. Kemudian, seandainya dia mempunyai penyakit kulit tertentu atau infeksi pada kemaluannya ada korban lain yang harus dipersembahkan. Kalau dia menazarkan sesuatu, maka akan menambah korban lagi.

Selain dari pada itu pada setiap tujuh tahun, kalau dia meminjamkan uang kepada seorangpun, dia harus menghapuskan hutang itu (dia tidak boleh lagi menagih hutang itu). Setiap tujuh tahun juga harus melepaskan budaknya dan memberikan budaknya itu bahan-bahan makanan, bekal, dan lain sebagainya. Setiap tujuh tahun juga dia tidak boleh menuai dan oleh karena itu tidak mendapat pendapatan apa-apa.

Jadi diperhitungkan bahwa orang Israel petani dan peternak biasanya memberikan lebih dari sepertiga dari penghasilan mereka kepada Tuhan. Mereka memberikan jauh lebih dari pada sepuluh persen saja. Sepuluh persen merupakan dasar pemberian mereka.

Mutu Korban yang Dipersembahkan:

Allah tidak akan menerima korban binatang atau korban sajian yang sembarangan. Allah selalu menuntut yang paling baik. Allah memberikan syarat-syarat kepada orang Israel mengenai mutu korban yang dipersembahkan sebagai berikut:

Mengenai lembu, domba atau kambing harus:

1. Tidak bercela;

2. Tidak boleh bercacat badannya sedikitpun;

3. Tidak boleh buta;

4. Tidak boleh ada tulangnya yang patah;

5. Tidak boleh ada luka atau bisul;

6. Tidak boleh berkedal atau berkurap;

7. Tidak boleh buah pelirnya terjepit, ditumbuk, direnggut, atau dikerat;

8. Harus berumur delapan hari ke atas.

Nas: Imamat 22:17-27.

Mengenai hasil tanah harus:

1. Hasil tanah yang pertama;

2. Tepung yang terbaik.

Penjelasan: Kebanyakan persembahan-persembahan yang orang Israel persembahkan kepada Tuhan menjadi milik imam-imam sebagai imbalan pelayanan mereka di dalam Kemah Suci atau Bait Allah (Bilangan 18:8-32).

(Bersambung)

Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Pinjaman

Siapa: Orang Israel yang memberi pinjaman uang kepada seorang Israel.

Korban:

1. Tidak ada korban tertentu.

2. Dilarang untuk menagih bunga. Jumlah yang dipinjamkan adalah jumlah yang dikembalikan, tidak boleh menagih lebih.

3. Tetapi pada tahun Sabat (setiap tujuh tahun) hutang itu harus diampuni atau dihapuskan, maksudnya, tidak boleh ditagih lagi.

Tujuan: Berbuat baik kepada sesamanya supaya dia bisa tetap hidup di antara mereka, dan supaya tidak ada orang miskin di antara mereka.

Nas: Imamat 25:35-38; Ulangan 15:1-11.

Pembebasan Budak

Siapa: Orang yang mempunyai budak.

Korban:

1. Tidak ada korban tertentu.

2. Budak harus dibebaskan setelah bekerja selama enam tahun.

3. Harus memberikan kepada dia bekal yang berlimpah-limpah pada saat membebaskan dia.

Tujuan: Supaya Tuhan “memberkati engkau dalam segala sesuatu yang kaukerjakan.”

Nas: Ulangan 15:12-18.

Perpuluhan dari Hasil Tanah dan Ternak untuk Tuhan

Siapa: Semua petani dan peternak.

Kapan: Setiap tahun.

Korban:

1. Sepersepuluh dari semua hasil tanaman, baik di ladang maupun pohon buah-buahan harus diberikan kepada Tuhan.

2. Sepersepuluh dari semua ternak yang baru lahir dalam tahun berjalan.

3. Kalau pemilik ingin menebusnya, dia harus menambah seperlima.

Tujuan: Supaya imam-imam mempunyai bahan makanan.

Nas: Imamat 27:30-33; Bilangan 18:21, 24.

Penjelasan: Orang peternak biasanya mengumpulkan semua anak lembu dan anak kambing domba dan menaruhnya ke dalam kurungan dengan pintu yang cukup sempit sehingga hanya satu ekor bisa keluar melaluinya. Dia menempatkan induk-induk mereka di luar. Dia menghitung masing-masing yang keluar dan setiap kesepuluh yang keluar di bawah tongkatnya, dia menandai dengan noda merah sebagai milik Tuhan. Kalau dia mau menebusnya, dia harus membayar harganya dan menambah seperlima kepadanya. Misalnya kalau anak lembu bernilai satu juta rupiah, berarti dia harus membayar kepada imam satu juta dua ratus ribu rupiah dan anak lembu itu tetap miliknya.

Perpuluhan yang Kedua

Siapa: Semua petani.

Kapan: Setiap tahun.

Korban:

1. Sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladang. Untuk: 1. Dimakan dalam sukaria di Yerusalem pada hari raya oleh pemiliknya dan oleh imam-imam.

Tujuan: Supaya mereka takut akan Tuhan.

Nas: Ulangan 14:22-27; Ulangan 12:5-7.

Penjelasan: Inilah perpuluhan yang kedua, rupanya dari hasil tanah saja yang harus dimakan di Yerusalem oleh pemiliknya dan imam-imam. Kalau dia tidak bisa membawanya ke Yerusalem, dia boleh menguangkannya dan membawa uang ke Yerusalem untuk belanja di sana. Mengenai anak sulung hewan di dalam Ulangan 14:23, rupanya berkaitan dengan korban anak sulung hewan yang disebut dahulu (tetapi saya tidak bisa pastikan karena semua sumber referensi yang saya punya tidak jelas mengenai hal itu) yang hanya dimakan oleh imam (Bil. 18:18).

Perpuluhan yang Ketiga

Siapa: Semua petani.

Kapan: Tahun ketiga dan keenam setelah tahun Sabat. Korban: Sepersepuluh dari hasil tanah. Untuk: Orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda.

Tujuan: Supaya Allah memberkati orang Israel dalam segala usaha yang dikerjakan tangannya.

Nas: Ulangan 14:28-29.

Penjelasan: Perpuluhan ini diberikan sekali tiga tahun, khusus untuk bahan makanan untuk orang lemah (miskin) di dalam masyarakat dan orang Lewi. Jadi pada tahun ketiga dan keenam, orang Israel memberikan tiga perpuluhan.

(Bersambung)

Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Nas: Imamat 27:1-27.

Penjelasan: Semua ukuran diperkirakan saja dalam gram dan liter. Satu syikal perak kurang lebih 11,5 gram. Semua nilai dalam perak harus diberikan kepada imam untuk kepentingan Kemah Suci (atau Bait Allah) dan ibadah di dalamnya (lihat 2 Raja-Raja 12:4, 5).

Kalau pemilik ingin menebus korbannya, harus menambah 20 persen dari nilai yang ditentukan imam. Misalnya rumah orang yang mau menazarkannya dinilai imam dengan 100 syikal perak, maka kalau pemiliknya ingin menebusnya, maka dia harus membayar 120 syikal perak dan rumahnya menjadi miliknya lagi. Kalau dia tidak mau menebusnya, maka rumah itu harus dijual kepada orang lain untuk 100 syikal perak.

Tahun Yobel jatuh pada setiap 50 tahun (lihat Imamat 25:8-17 untuk penjelasan mengenai tahun Yobel). Jadi misalnya jika ditaksir memerlukan dua homer benih jelai untuk menaburkan tanah yang mau dinazarkannya dan masih ada 20 tahun lagi sampai tahun Yobel berikut, maka nilai tanah dihitung sebagai berikut: 2 homer benih jelai dikalikan 50 syikal perak (Im. 27:16) sama dengan 100 syikal perak. 50 tahun Yobel dibagi 20 tahun sisa sama dengan 2,5. Jadi 100 dibagi 2,5 sama dengan 40 syikal perak yang harus dibayar.

Orang mengucapkan nazar biasanya karena Allah mengabulkan doanya, karena sukacita, semangat, pengucapan syukur, kerelaan hatinya, atau alasan-alasan lain.

Waktu Pendaftaran

Siapa: Semua orang laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas pada waktu pendaftaran.

Korban: Setengah syikal perak (kurang lebih 6 gram).

Tujuan:

1. Untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa orang.

2. Supaya tidak ada tulah yang timbul pada waktu pendaftaran.

3. Digunakan dalam ibadah Kemah Suci.

4. Menjadi peringatan di hadapan Tuhan untuk mengingat kepada orang Israel.

Nas: Keluaran 30:11-16.

Penjelasan: Rupanya dari Hukum Taurat bahwa korban ini dikumpulkan hanya satu kali saja pada waktu pendaftaran di dalam kitab Bilangan 1:2, 3, 45, 46 (lihat Kel. 38:25, 26) dan tidak bermaksud sebagai peraturan yang diteruskan setiap tahun. Namun demikian pada zaman Kristus korban ini sudah menjadi suatu pajak tahunan biasa yang harus dibayar semua orang Israel untuk kepentingan Bait Allah (lihat Matius 17:24).

Nazir

Siapa: Orang yang mengucapkan nazar orang nazir.

Korban:

1. Jikalau ada orang yang mati dekatnya dengan sangat tiba-tiba:

a. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati satu untuk korban penghapus dosa dan satu untuk korban bakaran.

b. Seekor domba jantan berumur setahun untuk korban penebus salah.

c. Harus mulai lagi waktu kenazirannya.

2. Pada saat waktu kenazirannya sudah genap:

a. Seekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela untuk korban bakaran.

b. Seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela untuk korban penghapus dosa.

c. seekor domba jantan yang tidak bercela untuk korban keselamatan.

d. Sebakul roti yang tidak beragi, yakni roti bundar dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak.

e. Roti tipis yang tidak beragi diolesi dengan minyak, serta dengan korban sajian dan korban curahan.

Tujuan: Untuk mengkhususkan dirinya bagi Tuhan.

Nas: Bilangan 6:1-21.

Selain korban persembahan untuk hal-hal yang diuraikan di atas ada peraturanperaturan lain juga sebagai berikut:

Tahun Sabat

Siapa: Semua orang Israel.

Kapan: Setiap tahun yang ketujuh.

Korban:

1. Tidak ada korban persembahan tertentu, tetapi dilarang untuk menanam dan menuai ladang atau mengusahakan/menuai pohon-pohon buahbuahan.

2. Semua yang bertumbuh dari tanah adalah umum, baik untuk pemilik tanah tersebut maupun untuk orang miskin dan pendatang.

Tujuan: Supaya tanah bisa istirahat.

Nas: Imamat 25:1-7.

Tahun Yobel

Siapa: Semua orang Israel.

Kapan: Setiap tahun kelima puluh.

Korban:

1. Tidak ada korban persembahan tertentu, tetapi dilarang untuk menanam dan menuai ladang atau mengusahakan/menuai pohon-pohon buahbuahan.

2. Semua yang bertumbuh dari tanah adalah umum, baik untuk pemilik tanah tersebut maupun untuk orang miskin dan pendatang.

3. Semua hamba atau budak harus dibebaskan.

4. Semua tanah harus kembali kepada pemiliknya yang asli.

Tujuan: Tahun kebebasan; supaya tidak ada orang yang miskin terus.

Nas: Imamat 25:8-55.

(Bersambung)

 

Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Pohon Buah-Buahan

Siapa: Siapa yang menanam pohon buah-buahan.

Korban:

1. Tiga tahun pertama pohon berbuah, tidak boleh memetik buahbuahannya atau memakannya.

2. Tahun yang keempat semua buah-buahan harus dipersembahkan kepada Tuhan (untuk diberikan kepada imam-imam atau orang miskin).

3. Tahun kelima dan selanjutnya pemilik pohon itu boleh memakan buahbuahan.

Tujuan: Supaya hasil pohon itu bertambah banyak.

Nas: Imamat 19:23-25.

Penuaian Tanah

: Bagian Pertama:

Siapa: Petani yang menuai hasil tanahnya.

Korban:

1. Seberkas hasil pertama dari penuaian (kurang lebih dua liter).

2. Seekor domba berumur setahun yang tidak bercela sebagai korban bakaran.

3. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian.

4. Seperempat hin (kurang lebih satu liter) anggur sebagai korban curahan.

Tujuan:

1. Supaya Tuhan berkenan kepada orang itu.

2. Sebagai korban api-apian bagi Tuhan yakni bau yang menyenangkan.

Nas: Imamat 23:9-14; Ulangan 26:1-11.

Bagian Kedua:

Siapa: Orang yang menuai hasil tanah.

Korban:

1. Tidak boleh menyabit ladang habis-habisan sampai ke tepinya (menurut tradisi orang Yahudi jumlah kurang lebih satu perenam puluh [1/60]).

2. Tidak boleh memungut apa yang ketinggalan dari penuaian.

Tujuan: Sisanya yang tinggal itu untuk orang miskin dan orang asing.

Nas: Imamat 19:9, 10; 23:22; Ul. 24:19-21.

Anak Sulung

Siapa: Semua perempuan yang pertama-tama melahirkan dan itulah anak laki-laki dan semua peternak yang mempunyai hewan yang pertama-tama melahirkan dan itu seekor anak jantan.

Korban:

1. Untuk anak laki-laki sulung manusia, dia harus ditebus dengan membayar lima syikal perak (55 gram) pada saat dia berumur satu bulan.

2. Untuk anak jantan dari hewan yang tahir, harus dipersembahkan kepada Tuhan.

3. Untuk anak jantan keledai harus ditebus dengan seekor domba atau mematahkan lehernya.

4. Untuk anak jantan dari hewan yang haram harus menebusnya dengan membayar lima syikal perak (55 gram) atau mematahkan lehernya.

Tujuan: Karena Allah membunuh semua anak laki-laki sulung di Mesir pada malam orang Israel keluar dari Mesir jadi semua anak laki-laki sulung adalah kepunyaan Allah.

Nas: Keluaran 13:11-16; Bilangan 18:16; Ulangan 15:19-23.

Penjelasan: Kalau seorang perempuan untuk kali pertama melahirkan seorang perempuan, kemudian anaknya yang kedua seorang laki-laki, maka anak laki-laki itu tidak harus ditebus. Juga dengan hewan, kalau anak pertama yang dilahirkan adalah betina kemudian anak yang kedua adalah jantan, tidak harus dikorbankan atau ditebus. Hanya anak sulung laki-laki.

Nazar

Siapa: Orang yang dengan rela hati ingin menazarkan sesuatu atau seseorang kepada Allah.

Korban: Ada bermacam-macam korban sesuai dengan apa yang ingin dinazarkan orang:

1. Dirinya sendiri:

a. Laki-laki yang berumur 20 s/d 60 tahun: 50 syikal perak (575 gram).

b. Perempuan yang berumur 20 s/d 60 tahun: 30 syikal perak (345 gram).

c. Laki-laki yang berumur 60 tahun ke atas: 15 syikal perak (173 gram). d. Perempuan yang berumur 60 tahun ke atas: 10 syikal perak (115 gram).

2. Anaknya:

a. Laki-laki yang berumur 5 s/d 20 tahun: 20 syikal perak (230 gram).

b. Perempuan yang berumur 5 s/d 20 tahun: 10 syikal perak (115 gram).

c. Laki-laki yang berumur 1 bulan s/d 5 tahun: 5 syikal perak (58 gram).

d. Perempuan yang berumur 1 bulan s/d 5 tahun: 3 syikal perak (35 gram).

Tambahan: Kalau dia tidak mampu membayar nilai yang ditentukan di atas karena miskin:

a. Dia harus menghadapkan orang yang ingin dinazarkan kepada imam.

b. Imam yang akan menentukan nilai orang itu sesuai dengan kemampuannya.

3. Hewan yang boleh dipersembahkan sebagai persembahan:

a. Harus diserahkan kepada Allah.

4. Hewan yang haram yang tidak boleh dipersembahkan:

a. Imam harus menentukan nilainya.

b. Harus dijual kepada orang lain dan uangnya diserahkan kepada Allah.

c. Kalau pemiliknya ingin menebusnya, dia harus menambah 20 persen.

5. Rumahnya:

a. Imam harus menentukan nilainya.

b. Harus dijual kepada orang lain dan uangnya diserahkan kepada Allah.

c. Kalau pemiliknya ingin menebusnya, dia harus menambah 20 persen.

6. Sebagian dari ladang miliknya (yang termasuk warisan dari nenek moyang):

a. Nilainya diperhitungkan sebagai berikut:

1. Menentukan jumlah benih jelai yang diperlukan untuk menaburkan seluruh tanah tersebut.

2. Satu homer benih jelai (220 liter) dihitung 50 syikal perak (575 gram) kalau dinazarkan pada tahun Yobel.

3. Menentukan jumlah tahun yang tinggal sampai tahun Yobel berikut.

4. Harga nilai tanah tersebut dikurangkan menurut jumlah tahun yang tinggal sampai tahun Yobel berikut.

b. Pemiliknya yang mau menebus ladangnya itu harus menambah 20 persen dan tanah itu tetap miliknya, bahkan setelah tahun Yobel.

c. Jikalau orang lain yang membelinya, maka setelah tahun Yobel ladang itu menjadi milik imam.

7. Ladang yang dibelinya dari orang lain (yang tidak termasuk warisan nenek moyang):

a. Imam yang menentukan nilai ladang tersebut sampai kepada tahun Yobel.

b. Harus membayar nilai tersebut pada hari itu juga.

c. Dalam tahun Yobel ladang kembali kepada pemiliknya yang asli.

Nas: Imamat 27:1-27.

(Bersambung)

 

Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Korban Penebus Salah

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Jenis: 1. Seekor kambing domba jantan dinilai menurut syikal perak.

2. Harus membayar sebagai gantinya untuk hal kudus yang menyebabkan dia berdosa dengan menambah seperlima.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:14-16; 7:1-10.

Bagian kedua:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang Tuhan tanpa mengetahuinya.

Jenis: Seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:17-19; 7:1-10.

Bagian Ketiga:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dan berubah setia dengan:

a. Memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, barang yang diserahkan kepadanya, barang yang dirampasnya;

b. Melakukan pemerasan atas sesamanya;

c. Menemui barang hilang dan memungkirinya;

d. Bersumpah dusta.

Jenis:

1. Harus memulangkan barang tersebut.

2. Harus membayar gantinya dengan menambah seperlima dan memberikannya kepada pemiliknya.

3. Mempersembahkan seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian untuk menerima pengampunan.

Nas: Imamat 6:1-7; 7:1-10 (juga lihat Bil. 5:5-9).

Nas-nas ini di dalam Imamat 1-7 adalah peraturan-peraturan caranya untuk mempersembahkan korban-korban tersebut. Siapa yang mempersembahkan korban tersebut, jenis korban dan tujuan mempersembahkan korban tersebut yang dicatat di atas semuanya dari Imamat 1-7. Namun demikian ada banyak hal lain yang untuknya harus mempersembahkan korban-korban tersebut yang sebagiannya saya mau uraikan di bawah ini secara umum saja. Pada umumnya yang saya mau uraikan di bawah ini mengenai korban-korban yang wajib dipersembahkan setiap orang Israel secara pribadi dan bukan korban-korban yang harus dipersembahkan para imam untuk bangsa Israel pada umumnya. Apa yang kita berusaha menunjukkan adalah tanggung jawab seorang Israel pribadi dalam memberi persembahan kepada Tuhan.

Setelah Melahirkan Anak

Siapa: Seorang perempuan yang melahirkan anak.

Korban:

1. Seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran.

2. Seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa. Kalau dia tidak mampu menyediakan seekor domba maka harus menyediakan: 1. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Tujuan: Mengadakan pendamaian bagi perempuan itu supaya ditahirkan dari leleran darahnya.

Nas: Imamat 12:1-8.

Penyakit Kulit yang Mudah Menular

Siapa: Orang yang disembuhkan dari penyakit kusta. Kata kusta di sini dalam bahasa Ibrani dipakai untuk beberapa penyakit kulit yang mudah menular, bukan penyakit kusta saja.

Korban:

1. Dua ekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela.

2. Seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela.

3. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak.

4. Satu log (kurang lebih seperempat liter) minyak. Seekor domba jantan dan satu log minyak sebagai korban penebus salah yang lain sebagai korban bakaran. Seekor domba betina sebagai korban penghapus dosa. Tepung sebagai korban sajian.

Korban bagi dia yang tidak mampu menyediakan yang di atas maka boleh menyediakan:

1. Seekor domba jantan untuk korban penebusan salah.

2. Sepersepuluh efa (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian.

3. Satu log (kurang lebih seperempat liter) minyak.

4. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor burung merpati, satu sebagai korban penghapus dosa dan yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga dia menjadi tahir.

Nas: Imamat 13-14.

Infeksi pada Kemaluan Laki-Laki

Siapa: Orang laki-laki yang disembuhkan dari suatu infeksi pada kemaluannya.

Korban: Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, seekor sebagai korban penghapus dosa, yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian. Nas: Imamat 15:1-15.

Infeksi pada Kemaluan Perempuan

Siapa: Orang perempuan yang sudah disembuhkan dari pengeluaran lelehan atau darah dari kemaluannya yang bukan pada saat haid. Korban: Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, seekor sebagai korban penghapus dosa, yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian.

Nas: Imamat 15:25-30

.

Pelajaran 3 Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan Mula-Mula

Korban Sajian

Siapa: Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Tepung yang terbaik dengan minyak dan kemenyan, atau roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, atau hulu hasil bulir gandum yang dipanggang dengan minyak dan kemenyan — semuanya harus dibubuhi dengan garam.

Tujuan: Bagian ingat-ingatan sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan.

Nas: Imamat 2:1-16; 6:14-23.

Korban Keselamatan

Siapa: Siapa saja yang rela dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan atau betina, atau seekor kambing atau domba jantan atau betina yang tidak bercela.

Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur.

Tujuan: Sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan atau sebagai pengucapan syukur, karena bernazar atau sebagai persembahan sukarela.

Nas: Imamat 3:1-17; 7:11-21; 7:28-38; Bilangan 15:1-12.

Korban Penghapus Dosa

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang Tuhan.

Jenis:

a. Imam yang diurapi atau segenap umat Israel: Seekor lembu jantan muda yang tidak bercela.

b. Pemuka: Seekor kambing jantan yang tidak bercela.

c. Rakyat jelata yaitu orang Israel biasa: Seekor kambing atau domba betina yang tidak bercela.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian untuk menerima pengampunan.

Nas: Imamat 4:1-35; 6:24-30.

Bagian Kedua

Siapa: Orang yang berbuat dosa misalnya:

a. Ia tidak mau memberi saksi tentang sesuatu yang didengarnya atau dilihatnya;

b. Ia kena sesuatu yang najis seperti bangkai binatang atau kenajisan yang berasal dari manusia atau sesuatu hal lain yang najis;

c. Ia bersumpah teledor, yaitu bersumpah sembarangan.

Jenis: Seekor kambing atau domba betina; kalau tidak mampu, maka dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati; kalau tidak mampu, maka harus membawa sepersepuluh efa (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik tanpa minyak atau kemenyan.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:1-13; 6:24-30.

Korban Penebus Salah

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Jenis:

1. Seekor kambing domba jantan dinilai menurut syikal perak.

2. Harus membayar sebagai gantinya untuk hal kudus yang menyebabkan dia berdosa dengan menambah seperlima.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:14-16; 7:1-10.
Bagian kedua:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang Tuhan tanpa mengetahuinya.

Jenis: Seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:17-19; 7:1-10.(Bersambung)