Pemimpin-pemimpin agama Yahudi sekarang mencari jalan untuk membunuh Yesus. Memang, Yesus harus dibunuh, maksudnya, disalibkan untuk mencurahkan darahNya supaya dosa dunia bisa diampuni. Itu semua di dalam rencana Allah. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib dan mencurahkan darahNya, maka manusia tetap tanpa harapan. Tetapi Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah di dalam kematianNya karena hal-hal aneh yang terjadi waktu Dia mati. Dan Dia juga dinyatakan sebagai Anak Allah di dalam kebangkitanNya, oleh karena kalau Dia bukan Anak Allah, tidak mungkin Dia dibangkitkan. Sebelum Dia naik ke sorga, Dia meninggalkan perintah agung kepada rasul-rasulNya agar mereka memberitakan kabar baik ke seluruh dunia, yaitu bahwa di dalam Yesus ada pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Seorang Perempuan Mengurapi Yesus (14:1-11)

Pemimpin agama Yahudi bersepakat menangkap dan membunuh Yesus.

Yesus ada di Betania di rumah Simon. Ada perempuan namanya Maria (Yoh. 12:3) yang mengurapi kepala Yesus dengan minyak yang sangat mahal. Minyak itu berharga 300 dinar atau gaji 10 bulan. Orang-orang bersungut-sungut karena minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin.

Yesus membela dia. Dia melakukan itu bagi Yesus untuk mempersiapkan tubuhNya untuk penguburan. Yesus tidak bermaksud bahwa Dia tidak memperhatikan orang miskin, hanya kalau Maria mau menghormatiNya dan menunjuk kemurahan hati kepadaNya, biarkanlah dia. Kita bisa berbuat baik kepada orang lain dan memberi hadiah yang mahal kepada orang lain juga.

Setelah ini, Yudas pergi ke imam-imam kepala dan setuju untuk menyerahkan Yesus kepada mereka untuk tiga puluh uang perak.

Perjamuan Tuhan (14:12-26)

Yesus menyuruh dua muridNya untuk pergi ke kota Yerusalem dan mempersiapkan tempat supaya mereka bisa makan Paskah.

Dalam perjamuan itu, Yesus menetapkan perjamuan Tuhan, suatu perjamuan yang Yesus ingini semua pengikutNya mengadakan untuk memperingati kematianNya di kayu salib.

Petrus Akan Menyangkal Yesus (14:27-31)

Petrus bersama-sama murid-murid lain yakin bahwa mereka tidak akan menyangkal Yesus, bahkan kalau mereka harus mati dengan Yesus. Mereka belum mengerti tujuan Yesus. Mereka masih berpikir bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam perang melawan orang Roma. Mereka sudah siap untuk mati dalam perang itu. Mereka tidak tahu bahwa Yesus akan ditangkap sebagai orang penjahat. Dan pada saat mereka melihat Yesus tidak mau melawan dan berjuang, mereka akan melarikan diri, karena mereka juga tidak mau ditangkap tanpa perjuangan.

Doa Yesus di Taman Getsemani (14:32-42)

Mereka tiba di taman Getsemani di mana Yesus sangat gentar, takut dan sedih hati. Dia mau berdoa kepada BapaNya, supaya dikuatkan. Dia tahu bahwa Dia akan sangat menderita dan memikul semua dosa dari semua orang dalam tubuhNya di kayu salib. Allah Bapa akan meninggalkan Dia, Yesus akan dicemarkan oleh dosa manusia. Sebenarnya, secara jasmani, Yesus tidak mau. Tetapi tidak ada jalan lain supaya umat manusia bisa diselamatkan. Yesus tidak akan melakukan kehendakNya sendiri, melainkan kehendak Allah. Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes sertaNya dan minta supaya mereka berjaga-jaga. Tetapi sudah tengah malam dan mereka capai sekali dan mengantuk.

Yesus Ditangkap (14:43-52)

Yudas muncul dengan serombongan orang yang diutus oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Yudas mencium Yesus sebagai tanda bahwa Dialah Yesus dan mereka menangkapNya. Mereka tidak menangkap Yesus dengan paksa. Kalau Yesus mau melawan, Dia bisa. Yesus menyerahkan diriNya kepada mereka. Waktu murid-muridNya melihat bahwa Yesus tidak mau melawan, mereka semua meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama (14:53-65)

Yesus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Pemimpin-pemimpin berusaha mendapat saksi terhadap Yesus tetapi tidak ada. Akhirnya Imam Besar langsung bertanya kepada Yesus jikalau Dia adalah Mesias, Anak Allah. Yesus menjawab bahwa memang Dialah Mesias, Anak Allah. Tetapi mereka sudah menolak Yesus. Mereka tidak percaya bahwa itu memang benar dan menjatuhkan hukuman mati atasNya karena hujat terhadap Allah. Terus mereka mengejek, memukul dan meludahi Yesus.

Petrus Menyangkal Yesus Tiga Kali (14:66-72)

Petrus mengikut dari jauh. Dia heran bahwa Yesus ditangkap. Dia takut tetapi juga ingin melihat apa yang akan terjadi. Ada orang yang bertanya, jikalau Petrus salah satu dari murid Yesus. Petrus takut. Petrus tidak berbuat salah. Dia tidak mau ditangkap seperti Yesus. Oleh karena itu, dia menyangkal. Dua orang lain bertanya hal yang sama dan Petrus dua kali lagi menyangkal, bahkan dengan sumpah, bahwa dia mengenal Yesus. Ayam berkokok dan Petrus mengingat perkataan Yesus dan keluar menangis.

Yesus di Hadapan Pilatus (15:1-15)

Orang Yahudi tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena itu, mereka membawa Yesus di hadapan Pilatus, wali negeri Yudea. Orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang pemberontak dan banyak hal lain.

Pilatus tahu bahwa Yesus tak bersalah dan ingin agar Yesus dilepaskan. Ada orang lain yang juga ditangkap dahulu namanya Barabas. Dia ditangkap karena pembunuhan dalam pemberontakan. Kebiasaan Pilatus itu adalah untuk melepaskan salah satu orang tawanan pada hari raya. Pemimpin agama Yahudi mendorong orang banyak supaya Barabas dilepaskan dan Yesus disalibkan. Pilatus menyerahkan Yesus kepada kemauan orang Yahudi dan menyuruh supaya Yesus disalibkan.

Yesus Disalibkan (15:16-32)

Tentara-tentara Roma membawa Yesus ke dalam istana untuk menyesahNya dan mengolok-olokkanNya.

Mereka memimpin Yesus ke luar untuk disalibkan. Banyak orang yang melewati dan mengolok Dia. Pemimpin agama Yahudi juga mengolok Dia. Memang Yesus menderita banyak supaya dosa kita bisa dihapuskan. Kita harus sangat bersyukur kepada Yesus karena apa yang dialamiNya untuk kepentingan kita.

Yesus Mati (15:33-41)

Yesus mati cepat sekali. Biasanya orang yang disalibkan berada di kayu salib beberapa hari sebelum mati. Pada hari siang, jam 12:00, hari menjadi gelap. Yesus memikul dosa seluruh dunia padaNya dan Dia terpisah dari Allah. Allah tidak bisa lagi melihat atau bersekutu dengan AnakNya karena Allah tidak bisa bersekutu dengan dosa dan kejahatan. Untuk pertama kali, Allah Bapa harus meninggalkan Yesus dan Yesus benar-benar sendirian. Yesus menderita semuanya ini untuk kita, oleh karena dosa dan kejahatan kita. Waktu Yesus mati ada banyak hal ajaib yang terjadi (Mt. 27:51-54). Waktu kepala pasukan melihat semuanya itu, dia mengaku bahwa Yesus ini sungguh-sungguh Anak Allah. Jadi Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah dalam kematianNya.

Yesus Dikuburkan (15:42-47)

Yusuf adalah salah satu orang dalam Mahkamah Agama yang percaya kepada Yesus dan menanti-nantikan Kerajaan Allah. Dia mengambil mayat Yesus, mengapaniNya dengan kain lenan dan menguburkanNya.

Yesus Bangkit (16)

Tiga perempuan pergi ke kubur pada hari pertama untuk meminyaki mayat Yesus. Mereka tidak mengingat atau tidak percaya bahwa Yesus akan dibangkitkan. Waktu mereka tiba di kubur, mereka melihat seorang malaikat yang memberitahukan kepada mereka bahwa Yesus sudah bangkit.

Yesus menampakkan diri kepada banyak muridNya. Mereka semua heran bahwa Yesus telah bangkit. Banyak masih tidak percaya. Lalu Dia menyuruh murid-muridNya supaya pergi ke seluruh dunia dan memberitakan injil kepada segala makhluk. Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Yesus mati dan menumpahkan darahNya supaya umat manusia bisa diselamatkan. Yesus meninggalkan tugas itu kepada kita, supaya kita mencari dan menyelamatkan orang yang hilang, agar mereka bisa percaya kepada Yesus, bertobat dari dosa, memberi diri dibaptis dan memperoleh hidup yang kekal. Kemudian Yesus terangkat ke sorga dan murid-muridNya pergi dan memberitakan injil dan Yesus meneguhkan beritanya dengan mujizat-mujizat.

Ebook ad Large

Yesus masuk ke dalam Yerusalem kali yang terakhir. Dia diterima sebagai Raja oleh masyarakat. Tetapi pemimpin-pemimpin agama Yahudi merasa terancam oleh Yesus. Mereka telah menolak Yesus sebagai Mesias dan sebagai Anak Allah. Mereka berusaha untuk menjerat Dia supaya Yesus bisa dihukum mati atau kalau tidak, agar pengaruh Yesus di atas masyarakat dihancurkan.

Yesus Disambut Sebagai Mesias ke dalam Yerusalem (11:1-11)

Yesus masuk Yerusalem sebagai raja, tetapi Dia masuk dengan mengendarai seekor keledai yang melambangkan damai, bukan seekor kuda yang melambangkan peperangan. Yesus masuk sebagai Mesias dan diterima demikian oleh orang banyak. Tetapi beberapa hari kemudian masyarakat akan menolak Dia dan menuntut agar Yesus ini disalibkan.

Yesus Mengutuk Pohon Ara dan Menyucikan Bait Allah (11:12-26)

Keesokan harinya, Yesus berangkat kembali ke Yerusalem. Dia lapar dan melihat pohon ara. Walaupun pohon itu sudah berdaun, belum berbuah. Yesus mengutuk pohon itu.

Terus Dia masuk Yerusalem dan menyucikan Bait Allah karena mereka menjadikannya sarang penyamun. Mereka menjualbelikan di Bait Allah di tempat doa bagi orang-orang bukan Yahudi. Dan mereka mencuri dari masyarakat oleh perdagangan yang tidak jujur.

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi takut terhadap Yesus dan mencari jalan untuk membunuh Dia. Mereka merasa terancam oleh Yesus dan tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias atau Anak Allah.

Waktu mereka kembali keesokan harinya, murid-muridNya memperhatikan bahwa pohon ara itu sudah kering. Markus mengajarkan hal penghakiman. Sama seperti pohon ara yang berdaun seharusnya mempunyai buah, pemimpin-pemimpin agama Yahudi, yang berupa benar dan saleh, seharusnya berbuah banyak hal yang baik bagi Allah. Tetapi mereka penuh dengan dosa dan kejahatan dan tidak mau menerima Yesus. Mereka menolak Yesus dan ingin membinasakannya. Jadi mereka juga terkutuk seperti pohon ara itu dan mereka sendiri yang akan dibinasakan.

Pertanyaan Tentang Asal Kuasa Yesus (11:27-33)

Pemimpin agama Yahudi datang ke Yesus dan bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Mereka yang mempunyai kuasa atas masyarakat Yahudi dan agama Yahudi dan mereka tidak mengizinkan Yesus menyucikan Bait Allah secara demikian. Malah pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang mengizinkan perjualan itu. Bagaimanakah Yesus bisa melawan mereka? Mereka marah Yesus.

Memang Yesus dapat kuasaNya dan izin dari Allah. Itu cukup. Tetapi pemimpin agama Yahudi tidak mau mengakuinya. Mereka tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis. Mereka juga tidak percaya kepada Yesus. Jadi nanti hukuman atas mereka berat sekali.

Perumpamaan Tentang Penggarap-Penggarap Kebun Anggur (12:1-12) 55

Pelajaran dasar adalah pemimpin-pemimpin agama Yahudi akan menolak dan membunuh Yesus sama seperti semua nabi-nabi dahulu dan mereka akan menerima hukuman yang berat karena kelakuan mereka.

Yesus dan Pemimpin Agama Yahudi Saling Menanyai (12:13-40)

Pemimpin agama Yahudi marah. Mereka merasa terancam oleh Yesus. Yesus harus dibunuh. Sekarang mereka berusaha lagi mencobai Yesus supaya mereka bisa menuduhNya.

Mereka mengajukan tiga pertanyaan. Yesus menjawab semuanya dengan baik. Yesus tahu maksud mereka dan Dia tidak jatuh ke dalam jerat mereka.

Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan kepada mereka. Mereka tidak bisa menjawab dan sesudah itu mereka diam. Yesus lebih berhikmat dari pada kelicikan mereka. Pasti mereka sial sekali.

Persembahan Seorang Janda Miskin (12:41-44)

Allah lebih senang kalau kita memberikan dari kekurangan kita. Kita harus memberikan sesuai dengan kemampuan kita dan lebih dari itu. Kita harus percaya bahwa Allah akan memberkati kita karena kemurahan hati kita.

Nubuat Yesus Tentang Kebinasaan Yerusalem dan Akhir Zaman (13)

Murid-murid Yesus melihat kekokohan dan kemegahan Bait Allah dan menunjuk itu kepada Yesus. Yesus menjawab bahwa Bait Allah akan dibinasakan. Terus Yesus bernubuat tentang peristiwa itu dan memberitahukan kepada murid-muridNya tanda-tanda yang mendahului kebinasaan Yerusalem. Itu terjadi pada tahun 70 M.

Yesus juga memberitahukan tentang akhir zaman. Kita harus selalu siap sedia karena kita tidak tahu kapan Yesus akan datang kembali. Orang yang menolak Yesus dan orang yang tidak siap akan dibinasakan. Tetapi orang yang menerima Yesus dan orang yang membuat persiapan akan diselamatkan.

Ebook ad Large

Orang-orang mulai menantang Yesus. Yesus melakukan banyak mujizat dan perbuatan yang baik. Orang banyak mengaku bahwa Yesus adalah seorang nabi, tetapi mereka belum yakin bahwa Dialah Mesias atau Anak Allah. Yesus melawan pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Ajaran Yesus lain dari pada ajaran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus menuntut pertobatan, kepercayaan, kesetiaan, pengudusan, dan penyerahan diri. Yesus memanggil pengikut-pengikutNya untuk menderita bagi injil. Banyak orang senang datang untuk mendengarkan pelajaran Yesus dan melihat mujizat-mujizat yang dilakukanNya. Tetapi mereka belum siap untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Mereka tidak rela menerima panggilanNya. Mereka belum yakin bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah Anak Allah.

Yesus Ditolak di Nazaret (6:1-6)

Yesus kembali ke Nazaret, desa asalNya, dan mengajar di rumah ibadat. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sejak Dia anak kecil dan mengenal Dia dengan baik. Bagaimanakah Dia lebih baik dari pada mereka? Dari manakah Dia dapat kuasa itu untuk melakukan mujizat? Dari manakah Dia memperoleh hikmat yang besar itu? Mereka menjadi kecewa dan menolak Dia. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Yesus Mengutus Kedua Belas Murid (6:7-13)

Kedua belas rasul itu diutus untuk memberitakan injil dan melayani orang. Mereka diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Mereka dilarang untuk membawa bekal di dalam perjalanan. Mereka harus bersandar kepada Allah untuk segala keperluan. Itulah orang-orang yang mereka layani yang memberikan makanan, penginapan dan keperluan mereka yang lain. Mereka juga harus membiarkan pendengar menerima atau menolak mereka. Mereka tidak boleh memaksa seorangpun.

Kalau kita pergi memberitakan injil, kita harus siap untuk menderita kekurangan dan bersandar kepada Allah untuk memenuhi semua keperluan kita. Kita harus setia melayani Allah dengan memberitakan injil dan kebenaran kepada orang lain. Dan Allah akan memberkati kita.

Yohanes Pembaptis Dibunuh (6:14-29)

Raja Herodes Antipas mendengar tentang Yesus. Orang-orang berkata bahwa Yesus adalah Elia, atau salah satu dari para nabi, atau Yohanes Pembaptis yang bangkit. Itulah Herodes Antipas yang membunuh Yohanes dan dia berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit. Raja Herodes membunuh Yohanes Pembaptis, oleh karena Yohanes menegor Raja Herodes terus tentang dosanya. Yohanes tidak takut, bahkan untuk menegor pemimpin- pemimpin pemerintah. Kita juga harus berani dan menegor semua orang yang berbuat dosa, bahkan pemimpin-pemimpin dalam pemerintah. Memang kita akan kena kesulitan dengan berbuat begitu. Tetapi ingat, Yohanes Pembaptis dibunuh oleh karenanya.

Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang (6:30-44)

Yesus baru mendengar tentang kematian Yohanes Pembaptis. Dia sedih hati. Murid- muridNya baru datang kembali dari perjalanan memberitakan injil (6:30-32). Yesus mau makan waktu dengan murid-muridNya sendirian supaya bisa makan dan istirahat, tetapi ada banyak sekali orang. Mereka menyeberang laut untuk mencari tempat sunyi, tetapi orang banyak mengetahui tempat tujuan mereka dan mendahului mereka ke tempat itu.

Waktu Yesus turun dari perahu dan melihat banyak sekali orang (6:33-44), Dia tidak marah, melainkan Dia tergerak oleh belas kasihan. Dia mengajar mereka dan memberi makan kepada mereka. Yesus selalu mempunyai waktu untuk orang lain. Dia senang mengajar mereka tentang Kerajaan Allah dan melayani mereka. Kita juga harus mempunyai sikap demikian.

Yesus Berjalan di atas Air (6:45-56)

Sudah malam dan murid Yesus sendirian di laut. Yesus berada di darat berdoa kepada BapaNya. Tiba-tiba murid-murid Yesus melihat hantu, dan menjadi takut. Tetapi itu bukan hantu, melainkan Yesus yang berjalan di atas air untuk menjemput mereka. Yesus naik ke dalam perahu dan angin reda. Markus berkata bahwa mereka juga tidak mengerti dan mempunyai hati yang keras. Mereka belum tahu bahwa Yesus juga adalah Anak Allah. Tidak ada yang mustahil bagi Yesus. Yesus mempunyai segala kuasa oleh karena Dialah Anak Allah.

Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi (7:1-23)

Orang Farisi mempersalahkan Yesus karena murid-muridNya makan dengan tangan najis dan tidak mengikut adat-istiadat nenek moyang (7:1-3). Tetapi Yesus mempersalahkan orang-orang Farisi, oleh karena mereka meniadakan perintah Allah demi adat istiadat mereka sendiri. Itu lebih jahat lagi. Adat istiadat manusia tidak penting. Tetapi perintah Allah sangat penting. Namun orang-orang Farisi mengutamakan perintah dan tradisi manusia di atas perintah dan firman Allah. Itu tidak boleh.

Yesus berkata bahwa mereka beribadah kepada Allah dengan percuma oleh karena hati mereka jauh dari Allah (7:6-7). Hati mereka penuh dengan kejahatan. Mereka mengajarkan ajaran manusia sebagai perintah Allah. Kalau kita mengajar perintah dan tradisi manusia yang bertentangan dengan firman Allah, maka kita juga beribadah kepada Allah dengan percuma.

Terus Yesus mengajar kita di sini bahwa tidak ada apa-apa di luar yang bisa menajiskan kita, hanya apa yang ada dalam hati kita, yaitu dosa (7:14-23). Kita harus menyucikan hati kita dari segala dosa supaya berkenan kepada Allah.

Yesus Melakukan Mujizat-Mujizat Lain (7:24-8:13)

Yang pertama, Yesus menyembuhkan anak perempuan dari seorang ibu Siro-Fenisia (7:24- 30). Yesus pertama-tama menolak permintaannya. Yesus diutus kepada orang Israel. Perempuan ini adalah orang asing. Seharusnya Yesus melayani orang Yahudi saja. Tetapi karena perempuan ini mempunyai iman besar dan memohon terus, maka Yesus membantu dia. Yesus mencobai imannya. Yesus selalu rela melayani semua orang.

Yang kedua, Yesus menyembuhkan seorang tuli (7:31-37). Efata adalah kata bahasa Aram. Markus menterjemahkannya bagi kita. Sebenarnya, Yesus berbicara dalam bahasa Aram karena itulah bahasa umum yang dipakai di tanah Israel pada zaman itu. Orang-orang takjub atas penyembuhan Yesus dan memuliakan Yesus karena perbuatan-perbuatanNya yang ajaib.

Yang ketiga, Yesus berada lagi di daerah sepi dan ada ribuan orang yang mengikutNya (8:1- 10). Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap mereka, oleh karena mereka lapar dan tidak mempunyai makanan, sedangkan desa-desa cukup jauh. Jadi Yesus memperbanyakkan makanan lagi untuk memberi makan kepada mereka semua.

Semua mujizat ini lagi menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, namun kebanyakan orang masih belum mengerti dan belum percaya. Orang-orang Farisi datang lagi untuk meminta satu tanda dari sorga (8:11-13). Mereka juga belum percaya.

Yesus Memperingatkan Murid-MuridNya Tentang Ragi (8:14-21)

Murid-murid Yesus masih berpikir seperti orang duniawi. Mereka belum mengerti tentang tujuan dan maksud Yesus. Yesus memperingatkan mereka supaya waspada terhadap ragi atau ajaran orang Farisi dan Herodes dan mereka berpikir-pikir tentang roti. Mereka belum mengerti. Hati mereka masih keras juga. Ajaran orang Farisi dan Herodes tidak selalu benar atau sesuai dengan hukum Taurat. Jangan-jangan sampai mereka disesatkan. Kita harus selalu mewaspadai ajaran sesat.

Penyembuhan yang Aneh (8:22-26)

Penyembuhan ini agak aneh. Yesus meletakkan tanganNya di atas seorang buta itu dua kali. Yang pertama kali, orang itu tidak bisa melihat dengan jelas. Yang kedua kali, dia bisa melihat dengan sempurna. Markus menunjukkan kepada kita bahwa murid-muridNya dan banyak orang lain kurang mengerti dan kurang percaya kepada Yesus. Hati mereka masih keras sekarang tetapi nanti mereka akan mengerti dengan jelas, percaya dan menyerahkan semua kepada Yesus.

Pengakuan Petrus (8:27-30)

Banyak orang mempunyai banyak pendapat tentang Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus adalah seorang nabi yang besar oleh karena mujizat yang dilakukanNya. Tetapi mereka belum yakin bahwa Yesus adalah Mesias atau Anak Allah. Waktu Yesus menanyakan Petrus, dia mengaku bahwa Yesus adalah Mesias.

Yesus Memberitahukan KematianNya kepada Murid-MuridNya (8:31-33)

Mulai sekarang Yesus memberitahukan kepada murid-muridNya bahwa Dia harus menderita, ditolak dan dibunuh. Petrus dan murid-murid lain berharap bahwa Yesus akan memerdekakan Israel dari Roma. Oleh karena itu Petrus menegor Yesus. Bagaimanakah Yesus bisa mendirikan kerajaanNya di bumi ini kalau Dia mati? Lagi mereka belum mengerti.

Persyaratan untuk Mengikut Yesus (8:34-9:1)

Orang yang mau menjadi pengikut Yesus harus menyangkal dirinya, yaitu dia tidak boleh hidup sesuai dengan kemauannya atau kehendaknya, dia harus hidup melakukan apa yang dikehendaki Yesus. Dia juga harus memikul salibnya. Salib melambangkan penderitaan, penyerahan diri dan kematian. Pengikut Yesus juga harus rela menderita dan mati bagi Yesus dan menyerahkan semua kepada Yesus. Hanya orang yang rela melakukan dan hidup begitu yang bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kita harus sadar bahwa bumi ini akan dibinasakan. Hanya hal-hal yang kekal yang penting. Kita harus hidup untuk Kerajaan Sorga, supaya kita bisa memasukinya dan menetap di dalamnya dan mempunyai keselamatan kekal. Perkara-perkara dunia sama sekali tidak penting atau berguna. Namun kebanyakan orang tidak mau. Mereka lebih ingin hidup untuk dunia ini saja.

Yesus Dimuliakan di atas Gunung (9:2-13)

Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes sertaNya ke atas gunung. Rupa Yesus dirubah di depan mata mereka. Elia dan Musa menampakkan diri di situ bersama dengan Yesus. Petrus hendak mendirikan tiga kemah supaya Elia dan Musa tinggal sedikit lama. Tetapi ada awan yang datang menutupi mereka dan Allah berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

Inilah bukti lain bahwa Yesus adalah Anak Allah. Mungkin ini terjadi supaya murid- muridNya yakin bahwa memang Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya mereka bisa mulai mengerti sedikit.

Masalah dengan Seorang Anak yang Bisu (9:14-32)

Mereka turun dari gunung dan ada banyak orang mempersoalkan sesuatu. Ada seorang ayah yang mempunyai seorang anak yang dikuasai roh jahat. Murid-muridNya tidak bisa mengusir roh itu karena mereka kurang percaya dan tidak bertekun dalam doa. Yesus mengusir roh jahat itu. Kita harus percaya, berdoa terus dan bersandar pada Allah, maka Yesus akan menguatkan dan membantu kita dan melakukan perkara-perkara besar dalam kehidupan kita.

Siapa yang Terbesar (9:33-37)

Murid-murid Yesus masih belum mengerti. Mereka bertengkar terus tentang siapa yang di antara mereka yang paling besar. Orang-orang dunia yang mempertengkarkan hal itu. Tetapi orang Kristen tidak boleh. Dalam Kerajaan Allah orang yang terbesar adalah yang merendahkan dirinya dan melayani orang lain.

Masalah dengan Seorang Pekerja Lain (9:38-41)

Kita tidak boleh melarang orang yang melakukan baik demi nama Yesus.

Tentang Hal yang Menyesatkan (9:42-50)

Kita harus hati-hati supaya kita tidak menyesatkan orang atau menjadikan orang berbuat dosa. Kita harus hati-hati supaya kita sendiri tidak berbuat dosa. Kita harus menjauhkan diri kita dari segala sesuatu yang menjadikan kita berbuat dosa. Orang yang hidup di dalam dosa akan pergi ke neraka. Neraka itu tempat yang jelek sekali.

Setiap orang akan digarami dengan api (9:49), yaitu semua orang yang masuk neraka akan menderita dan kena api.

Yesus lagi mendorong orang untuk bertobat dan percaya kepadaNya untuk diselamatkan. Tetapi kebanyakan orang belum mau. Ada yang masih mencobai Yesus tentang banyak hal. Mereka belum percaya.

Pelajaran Tentang Perceraian (10:1-12)

Orang Farisi mencobai Yesus lagi. Ada perdebatan antara orang Yahudi tentang hal perceraian. Ada yang berpendapat bahwa orang laki-laki hanya bisa menceraikan isterinya jikalau dia berbuat zinah. Ada yang berpendapat bahwa orang laki-laki bisa menceraikan isterinya untuk alasan apa saja.

Yesus mengembalikan mereka kepada maksud Allah yang asli, yaitu suami dan isteri tidak boleh bercerai atas alasan apapun. Mereka harus hidup sebagai suami-isteri sampai mati. Perceraian itu adalah dosa. Kalau ada perceraian, maka ada yang berbuat dosa. Kalau perceraian disebabkan karena perzinahan, maka pihak yang berbuat zinah berbuat dosa. Kalau perceraian itu disebabkan alasan lain, maka itulah pihak yang bercerai yang berbuat dosa.

Kita harus mengajar anggota-anggota jemaat untuk hidup setia kepada pasangan mereka masing-masing. Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16).

Yesus Menerima Anak-Anak (10:13-16)

Biasanya orang pembesar tidak mau diganggu oleh anak-anak kecil. Oleh karena itu, murid- murid Yesus menghalangi anak-anak datang ke Yesus. Waktu Yesus mengetahuinya, Dia menegor murid-muridNya. Yesus mengasihi semua orang dan bergaul dengan semua orang, bahkan anak kecil. Anak-anak kecil penting di mata Yesus karena itulah anak kecil yang empunya Kerajaan Allah.

54 Survei Perjanjian Baru Orang Kaya yang Muda (10:17-31)

Orang Yahudi menganggap orang kaya sebagai orang yang paling berkenan kepada Allah. Itulah sebabnya Allah sangat memberkati mereka dengan kekayaan. Jadi, kalau sukar bagi orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah, siapa yang bisa? Yesus menunjuk bahwa bukan orang yang berbuat baik saja maupun orang kaya yang akan masuk Kerajaan Allah, melainkan orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Dan orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah dan melayani Dia, maka dia akan diberkati di dalam dunia ini dan akan menerima hidup yang kekal.

Yesus Lagi Memberitahukan KematianNya (10:32-34)

Yesus lagi memberitahukan murid-muridNya bahwa Dia harus menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga. Murid-muridNya belum mengerti tujuan Yesus.

Permintaan Yakobus dan Yohanes (10:35-45)

Murid-murid Yesus masih berpikir bahwa Yesus akan mendirikan kerajaan duniawi. Yakobus dan Yohanes ingin memerintah bersama dengan Yesus. Mereka ingin mempunyai kuasa yang tertinggi di bawah Yesus dalam kerajaanNya. Mereka mencari kuasa. Mereka berpikir seperti orang duniawi. Mereka masih belum mengerti.

Itulah orang duniawi yang mencari kuasa; pengikut Yesus tidak boleh. Mereka harus mencari pelayanan dan kerendahan hati. Mereka harus berusaha melayani orang lain bukan menguasai atas orang lain. Orang yang mau menjadi yang paling besar dalam Kerajaan Sorga harus menjadi orang yang paling rendah dan pelayan semua.

Bartimeus Disembuhkan (10:46-52)

Bartimeus adalah seorang buta. Dia ingin disembuhkan supaya bisa melihat. Walaupun orang banyak menegor dia berdiam, dia makin berseru supaya Yesus bisa mendengarnya. Yesus, yang mempunyai waktu untuk membantu semua orang dan yang senang membantu orang, berhenti, memanggil Bartimeus dan menyembuhkannya.

Yesus Adalah Anak Allah

Markus memulai Injil dengan tujuannya, yaitu bahwa Yesus adalah Anak Allah. Markus membuat pernyataan itu pada permulaan Injil yang ditulisnya. Terus dia akan memberi bukti- bukti bahwa Yesus memang adalah Anak Allah.

Permulaan Pelayanan Yesus (Markus 1:1-13)

Injil Markus mulai dengan pelayanan Yesus, bukan seperti Injil Matius dan Lukas yang mulai dengan kelahiran Yesus (1:1).

Yang penting bagi Markus bukan kelahiran Yesus, melainkan kegiatan Yesus. Oleh karena itu, Markus menulis dengan singkat tentang Yohanes Pembaptis dan segera menceritakan tentang pelayanan Yesus (1:2-8).

Waktu Yesus dibaptis, ada suara dari sorga yang berkata, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.” Inilah bukti lain bahwa Yesus adalah Anak Allah (1:9-11).

Murid-Murid Yesus yang Pertama (Markus 1:14-20)

Yesus memberitakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (1:15). Inilah berita Yesus. Dia datang untuk memberitakan Kerajaan Allah dan mendorong orang untuk bertobat dari dosa dan kembali kepada Allah. Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah murid-murid yang pertama-tama dipanggil oleh Yesus (1:16-20).

Mujizat-Mujizat Memberi Bukti Tentang Yesus (Markus 1:21-2:12)

Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa karena Dialah Anak Allah (1:21-28). Yesus mempunyai kuasa untuk mengusir roh jahat. Yesus mempunyai kuasa atas Iblis. Roh jahat itu sudah mengenal Yesus dan takut terhadap Yesus. Roh-roh jahat mengaku Yesus sebagai Anak Allah, tetapi Yesus tidak mau pengakuan itu berterus terang di muka umum karena nanti akan mempersulit pelayananNya. Kalau kita sudah menjadi murid Yesus, tidak boleh kita takut terhadap roh jahat karena Allah lebih berkuasa.

Kemudian Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang-orang lain (1:29-45). Ini membuktikan bahwa Yesus juga mempunyai kuasa atas penyakit.

Selanjutnya, Yesus menyembuhkan seorang lumpuh, tetapi Yesus mengampuni dosanya dahulu (2:1-12). Ahli-ahli Taurat berpikir bahwa Yesus menghujat Allah karena hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Markus menunjuk di sini bahwa karena Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan orang lumpu, maka Dia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa karena Yesus adalah Allah.

Lewi Dipanggil (Markus 2:13-17)

Lewi adalah seorang pemungut cukai. Yesus bergaul dengan semua orang bahkan pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Farisi menghindari orang-orang semacam itu dan merendahkan Yesus karena Dia bergaul dengan orang-orang itu. Tetapi Yesus menjawab, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (2:17b). Itulah tujuan Yesus di bumi ini, untuk menyelamatkan orang berdosa. Kita juga harus bergaul dengan semua orang, bahkan orang yang terendah dalam masyarakat, orang-orang yang dengannya orang lain tidak mau atau biasa bergaul. Semua orang perlu keselamatan yang diberikan Yesus. Yesus mati bagi semua orang.

Pertanyaan Tentang Puasa (Markus 2:18-22)

Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa tetapi murid-murid Yesus tidak. Mereka ingin tahu kenapa. Yesus menjawab bahwa selama Dia ada di bumi, tidak usah berpuasa, karena ada sukacita. Akan datang waktunya apabila Yesus mati. Pada waktu itu murid-muridNya akan berpuasa. Yesus datang untuk membawa agama baru. Kita tidak boleh mencocokkan agama yang dibawa Yesus sesuai dengan pendapat dan keinginan kita sendiri. Kita harus mencocokkan diri kita dengan agama Yesus itu.

Yesus Adalah Tuhan atas Hari Sabat (Markus 2:23-3:6)

Orang Farisi menuduh murid-murid Yesus bahwa mereka melanggar hukum tentang hari Sabat karena mereka memetik gandum untuk memakannya (2:23-28). Menurut orang Farisi, mereka menuai atau bekerja dan memang itu dilarang oleh Hukum Taurat.

Yesus menjawab bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (2:27). MaksudNya, Allah mengadakan hari Sabat untuk kebaikan manusia supaya manusia bisa istirahat, menyembah Allah, mengutamakan hal rohani. Allah tidak mengadakan hari Sabat untuk meletakkan beban berat atas manusia supaya manusia menderita.

Waktu Yesus berkata bahwa Dialah Tuhan atas hari Sabat (2:28), Dia tidak bermaksud bahwa Dia mempunyai hak untuk melanggar hari Sabat, melainkan, oleh karena Dialah Allah, Dia tahu maksud Allah tentang hari Sabat itu.

Kemudian, Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (3:1-6). Menurut orang Farisi, menyembuhkan termasuk pekerjaan dan tidak diperbolehkan oleh Hukum Taurat. Yesus menjawab bahwa orang bisa berbuat baik pada hari Sabat. Itu tidak menjadi persoalan juga. Itulah orang-orang Farisi yang salah mengerti.

Tetapi orang Farisi mau membuat persoalan. Mereka sangat tidak setuju dengan pendapat, ajaran dan perbuatan Yesus. Mereka merasa terancam oleh Yesus dan berpendapat bahwa Yesus menyesatkan rakyat. Oleh karena itu, mereka bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus (3:6). Ingatlah, bahwa orang Farisi dan orang Herodian saling bermusuhan.

Yesus Memanggil Kedua Belas Murid (Markus 3:7-19)

Ada banyak orang yang mengikut Yesus. Yesus memilih dua belas orang di antara mereka untuk menjadi rasulNya (3:13-19). Yesus menghendaki mengajar dan mendidik mereka lebih dari yang lain. Mereka yang akan melaksanakan pekerjaan Yesus di bumi ini setelah Dia naik ke sorga. Mereka akan mendirikan jemaatNya pada hari Pentakosta dan terus menyebarkan injil ke seluruh dunia.

Pengajaran Yesus (Markus 3:20-4:34)

Ada pertengkaran lagi antara Yesus dan ahli-ahli Taurat. Ahli-ahli Taurat berkata bahwa Yesus kerasukan setan dan oleh kuasa Beelzebul, Yesus mengusir setan (3:20-30). Yesus menunjuk bahwa pikiran itu bodoh sekali. Kalau setan mengusir setan, bagaimanakah dia bisa bertahan? Tidak bisa. Itulah hujat terhadap Roh Kudus, yaitu, orang menyamakan Roh Kudus dengan Beelzebul atau Iblis. Orang yang tidak mau mengaku kuasa Roh Kudus, tidak bisa diampuni karena hati mereka terlalu keras untuk bertobat.

Terus, kaum keluarga Yesus mau bertemu dengan Yesus (3:31-35). Yesus berkata bahwa orang yang melakukan kehendak Allah adalah kaum keluarga Yesus. Jika kita melakukan kehendak Allah, kita termasuk di dalam kaum keluarga Yesus, yaitu keluarga Allah. Keluarga Allah lebih penting dari pada keluarga jasmani.

Dalam fasal empat Yesus mulai mengajar dengan perumpamaan. Yang pertama adalah perumpamaan tentang seorang penabur (4:1-20). Pelajaran dasar adalah bagaimana orang menerima injil Kristus.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang pelita (4:21-23) adalah rahasia Kerajaan Sorga akan dinyatakan dan diberitakan ke seluruh dunia.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang ukuran itu (4:24-25) adalah orang akan dihakimi menurut nilai yang dia pakai untuk mempertimbangkan apa yang dia dengar. Orang yang menerima kebenaran dan melakukannya akan diberkati banyak. Orang yang menolak kebenaran itu akan dihukum.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang benih yang tumbuh (4:26-29) adalah injil mempunyai kuasa sendiri.

Pelajaran dasar tentang biji sesawi (4:30-34) adalah Kerajaan Sorga akan disebarkan ke seluruh dunia.

Mujizat-Mujizat Lain (Markus 4:35-5:43)

Yesus dan murid-muridNya naik sebuah perahu untuk menyeberang danau Galilea (4:35-41). Ada taufan yang bahaya dan murid-muridNya menjadi takut. Yesus meredakan laut itu. Yesus mempunyai kuasa atas alam. Ini juga memberi bukti bahwa Yesus adalah Anak Allah, yang menciptakan langit dan bumi.

Yesus datang di seberang danau dan ketemu seorang yang kerasukan banyak roh jahat (5:1- 20). Yesus mengusir roh jahat itu dan membiarkan mereka masuk babi-babi yang dekat. Babi- babi itu jatuh dari tepi jurang ke dalam danau dan mati.

Terus, Yesus diminta untuk membantu seorang kepala rumah ibadat yang mempunyai anak perempuan yang sakit, hampir mati (5:21-43). Yesus pergi tetapi dalam perjalanan, seorang perempuan yang sakit pendarahan menjamah pakaian Yesus dan disembuhkan dengan segera. Anak Yairus sudah mati tetapi Yesus akan membantu dan menyembuhkan dia. Yesus juga mempunyai kuasa atas alam maut.

Markus menulis peristiwa-peristiwa ini untuk menunjuk bahwa Yesus mempunyai kuasa atas alam, penyakit, dan kematian. Yesus orang yang berkuasa, dan Dia senang mempergunakan kuasa itu untuk membantu dan melayani orang lain. Ini juga membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

*Pelajaran ini dari Survei Perjanjian Baru Jilid 1 oleh David G. Buskirk

Ebook Survei Perjanjian Baru Gratis

Kristus memperlihatkan kepada manusia segala sifat yang baik, termasuk kasih-Nya yang tidak terbandingkan.

“ ..sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan..” (Efesus 3:17-19).

Bagaimanakah kasih-Nya yang begitu hebat menjadi teladan bagi kita?

Kasih Yesus

Kasih Kristus Tidak Bersyarat-syarat

Janji-janji Kristus bersyarat-syarat,tetapi tidak demikian dengan kasih-Nya. Kristus tidak menetapkan prasyarat agar kita dikasihi oleh-Nya. Ia tidak berkata, “Berbuat baik terlebih dahulu, baru Aku tunjukkan kasih kepadamu.” Paulus menerangkan kasih Allah dan Kristus dalam Roma fasal 5 :

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati – akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ayat 6-8).

Ia telah berusaha menarik orang berdosa kepada-Nya oleh kasih yang begitu besar. Ia tidak mengancam bahwa kasih-Nya akan ditarik kecuali kita berjalan hati-hati, atau atas pelanggaran apa saja kasih-Nya mogok. Manusia tidak diwajibkan terlebih dahulu mengasihi Allah supaya Ia rela membuktikan kasih-Nya kepada kita.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”(1 Yohanes 4:19), dan “ Inilah kasih itu : bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10).

Allah mengambil inisiatif untuk memanggil manusia kepada-Nya dengan rencana penebusan. Oleh karena pelanggaran akan firman-Nya, manusia tersesat dalam dosanya tanpa jalan keluar.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Syukurlah bahwa Allah membuat suatu rencana demi keselamatan isi dunia! Yang menggerakkan hati-Nya adalah kasih sayang yang abadi.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Kasih Kristus akan semua manusia tidak dapat disangkal.

“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya “(Yohanes 13:1).

Tercatat lagi dalam Efesus 5:2, “ ..dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

Kasih Kristus Tidak Terbatas

Kasih-Nya tidak terbatas oleh kesukaan diri atau tingkat status sosial seseorang. Dia tidak membatasi kasih-Nya hanya kepada orang yang dekat kepada famili, atau orang dengan minat dan kemauan yang sama, ataupun yang ikut bersama-sama dengan Dia. Sebaliknya Ia mengajarkan dan mempraktikkan kasih kepada musuh-musuh-Nya.

“Kamu telah mendengar firman : Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43,44).

Oleh karena Yesus sungguh-sungguh mengasihi semua orang, Ia tidak  membalas dendam kepada orang yang mengejek, mencaci-maki, dan menganiaya Dia. Bahkan _Ia berdoa demi  mereka yang menyalikbkan-Nya,

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).

Kita perlu mencontoh kasih Kristus itu sambil menjadi anak Bapa sorgawi dalam sifat dan praktik.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi oang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga  berbuat demikian” (Matius 5:45,46).

Kasih Kristus tetap kepada kita kemana saja jalan yang kita menempuh. Kasih-Nya tidak digoyahkan oleh waktu, jarak, jaman, keadaan, ataupun emosi. Kasih-Nya tidak berkurang apabila kasih orang lain berkurang terhadap Dia, melainkan terus berjalan dan dinyatakan dimana-mana dalam dunia ini. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis:

“Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:35-37).

Kasih Kristus Tidak Berobah-obah

Ketika Ia mengalami kesusahan atau penganiayaan, kasih-Nya tetap. Dalam hal menghadapi siksaan dan maut di kayu salib, kasih-Nya tetap dan tidak berobah. Murid-murid-Nya lari meninggalkan Yesus sewaktu Ia ditangkap dan diadili dihadapan Pilatus, tetapi kasih-Nya tidak bergoyang-goyang. Jikalau kasih-Nya tidak tetap Ia tentu saja tidak rela disalibkan, bahkan menolaknya, dan penebusan manusia gagal. Pada waktu yang lain, banyak murid-Nya berpaling dan tidak terus mengikut karena ajaran-Nya dianggap terlampau berat.

“Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “ Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”… Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yohanes 6:60,66).

Tercatat bahwa jemaat Tuhan di Efesus memiliki kasih yang hangat pada mulanya tetapi tidak lama kemudian menjadi dingin karena mereka meninggalkan kasih semula. Yesus menegor mereka:

“Namum demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasih yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Wahyu 2:4,5).

Hal itu merupakan bahaya bagi kita semua. Kita harus berjaga-jaga supaya kasih kita kepada Tuhan dan kepada manusia tetap bernyala. Yesus berkata,

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan ; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41).

Paulus mengingatkan kita tentang tujuan yang semestinya dikejar orang Kristen.

“Tujuan nasehat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas” (1 Timotius 1:5).

Seseorang boleh secara pura-pura menyatakan kasih, sedangkan hatinya tidak sungguh-sungguh. Dia berbicara dan mengakui kasihnya yang besar tetapi buktinya tidak terlihat. Rasul Yohanes berkata,

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Kasih kepada Allah dan kepada manusia terbukti dalam perbuatan dan pelayanan. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya,

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15),

dan,

“Dengan demikian semua orang tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

Menurut nas ini kasih yang benar diperlihatkan apabila kita berbuat sesuatu, yaitu mentaati perintah Kristus dan mempraktikkan kasih kepada saudara-saudara seiman. Sekiranya kita tidak melakukan dua hal ini, sudah jelas kasih kita tidak tulus ikhlas dan kita hanya menipu diri. Apakah Anda taat kepada perintah Tuhan? Jikalau tidak, jangan  mengaku diri mengasihi Tuhan karena perbuatan Anda menghambarkan pengakuan itu. Apakah Anda memperlakukan orang lain dengan kasih yang sungguh-sungguh yang dibuktikan dalam perbuatan?

Kasih Kristus Tidak Mementingkan Diri, Melainkan Mementingkan Orang Lain, Dan Bersedia Memberi

Paulus berkata bahwa Kristus begitu mengasihi dia, dan termasuk semua orang, sehingga Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita.

“Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

Hanyalah kasih yang tidak ternilai boleh menggerakkan seseorang untuk menyerahkan dirinya bagi oang lain, terlebih lagi kalau mereka tidak berminat membalas kasihnya. Itulah kasih Kristus menurut rasul Paulus.

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Roma 5:6).

Tertulis pula dalam Efesus 5:25,

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Kepada murid-murid-Nya Kristus berkata,

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34).

Tercatat dalam 1 Korintus 13 suatu penguraian kasih dalam ciri-cirinya. Termasuk dalam sifat kasih yang benar adalah,

“..Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri” (ayat 4,5).

Orang yang tidak mau memberi, ternyata tidak memiliki kasih yang abadi. Orang yang memegahkan diri sambil menganggap yang lain rendah, ternyata tidak memiliki kasih sejati. Jemaat di Makedonia meminta Paulus menerima dana mereka untuk orang miskin di Yerusalem walaupun mereka sendiri dalam keadaan sangat minus. Perbuatan mereka adalah tanda kasih yang sungguh-sungguh dan sangat luas.(1 Kor.8:1-5). Karena mereka melupakan keperluan diri dan benar-benar mempedulikan keadaan saudara-saudara seiman, mereka memberi supaya keperluan orang miskin di Yerusalem dicukupi.

Jikalau kita tidak mengerti kasih yang benar menurut Alkitab dan tidak mengikuti kasih Kristus dalam hidup sehari-hari, banyak persoalan akan timbul yang sulit kita hadapi. Kita perlu mempraktikkan kasih dalam rumah tangga supaya semua anggota keluarga mengenal kasih abadi dan mengalami berkatnya. Kasih akan memperlancar hubungan anggota rumah tangga dan membereskan banyak persoalan yang muncul dari waktu ke waktu. Kasih akan menyelesaikan persoalan-persoalan yang melanda jemaat dan sering menghancurkan hubungan saudara-saudara seiman. Hampir semua persoalan itu dapat dipecahkan dan diatasi dengan mempraktikkan kasih persaudaraan.

Apakah Anda sedang mencontoh kasih Kristus? Apakah Anda mengasihi Allah dan kebenaran-Nya? Apakah Anda mengasihi jiwa diri dan ingin diselamatkan? Marilah kita mengikuti jejak Kristus dalam kasih yang abadi dan sempurna.

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.

Kristus tetap dalam doa. Hubungan dengan Bapa-Nya dijaga dengan baik-baik dan dipelihara dan diteruskan dalam doa. Ia banyak mengajar tentang doa, tetapi lebih dari itu, Ia senantiasa mempraktikkan doa. Sekalipun Ia adalah oknum ilahi, didunia ini kehidupan-Nya bersandar kepada doa. Ia dikuatkan dan hati-Nya ditenangkan melalui doa. Dalam khotbah di bukit, Yesus memberikan syarat-syarat dan ciri-ciri doa yang berkenan kepada Allah (Matius 6:5-15). Apakah petunjuk-petunjuk yang diuraikan tentang doa?

Pray Like Jesus

Ciri-Ciri Doa

Janganlah munafik.

“Dan apabila kamu berdoa,janganlah berdoa seperti orang munafik” ( Matius 6:5).

Orang itu menyerupai orang yang saleh. Mereka mau dilihat manusia sebagai orang yang sangat saleh supaya dikagumi dan dipuji. Tujuan dan kelakuan mereka menghambarkan doa yang mereka panjatkan. Kesenangan diri dan tanggapan orang lain harus disingkirkan apabila kita berdoa. Doa seharusnya tertuju kepada Allah bukannya manusia. Tak mungkin manusia mengabulkan doa kita atau memberi berkat rohani. Apabila kita mencari perhatian manusia dalam doa, doa itu sudah batal. Paulus berkata, “Jadi, bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” ( Galatia 1:10).

Doa yang panjang dan penuh dengan kata-kata muluk untuk melagak kepada orang ditolak oleh Allah. (Matius 6:7). Orang yang berdoa tetapi tidak berjalan sesuai dengan prinsip dan petunjuk dalam firman Tuhan tidak akan didengar oleh Allah. Allah pernah melarang nabi Yeremia berdoa demi bangsa-Nya karena mereka bersikeras dalam dosa.

“Adapun engkau, janganlah naikkan permohonan dan doa untuk mereka, sebab Aku tidak akan mendengarkan pada waktu mereka berseru kepada-Ku karena malapetaka mereka“ (Yeremia 11:14).

Janganlah kita mengharapkan berkat Tuhan dicurahkan dalam hidup kita seraya kita berjalan bertentangan dengan kebenaran-Nya.

Berdoa Secara Pribadi (Matius 6:6)

Doa umum didepan perhimpunan jemaat boleh dipimpin oleh orang lelaki, tetapi tekanan Yesus dalam ayat ini adalah tentang doa pribadi. Kita wajib meluangkan waktu untuk berdoa dengan keluarga dan untuk berdoa sendirian. Banyak orang terlampau sibuk untuk berdoa, maka mereka mengabaikannya dan lupa akan Tuhan. Jikalau kita terlampau sibut untuk berdoa sekarang, jangan heran nanti jika Kristus terlampau sibuk untuk mendengar dan menerima kita!

Yesus tetap dalam doa dan sering memisahkan diri dari murid-murid-Nya untuk doa khusus. Sebelum Ia memilih kedua belas rasul itu, Ia berdoa sepanjang malam. (Lukas 6:12). Ia menyuruh kita masuk dalam kamar dan berdoa di tempat tersembunyi. Allah akan  mengabulkan dan membalas doa seperti itu yang berkenan kepada-Nya.

Yakobus menguraikan bahwa doa kita jangan dipusatkan kepada kemauan memuaskan diri. Tidak salah bahwa kita menyampaikan permintaan diri kepada Allah, tetapi janganlah tujuan doa hanya untuk memuaskan diri sendiri.

“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:2b, 3).

Kristus mengajarkan lagi bahwa doa kita terhalang jika kita tidak rela memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu..” (Markus 11:25).

Kita wajib memeriksa diri sebelum kita berdoa. Apakah ada perasaan dendam, benci, iri hati, atau pertengkaran yang terpendam dalam hati? Semua perkara itu harus dibereskan terlebih dahulu supaya kita layak menaikkan permintaan kita dalam doa. Dosa yang tersimpan dalam hati ataupun yang berjalan dalam hidup kita akan mencegah doa kita sampai kepada Bapa sorgawi.

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:1,2).

Tentu seorangpun tidak mungkin hidup sempurna tanpa dosa, tetapi janganlah kita dengan sengaja berbuat dosa, atau dengan sadar akan dosa belum mau bertobat atau minta ampun. Isi hati yang tidak senonoh dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Allah merupakan penghalang doa. Solusinya bukanlah melupakan doa, melainkan bertobat dan membenahi prilaku yang bertentangan dengan kebenaran.

“Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku memalingkan muka-Ku,bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah” (Yesaya 1:15).

Beberapa ciri doa ditunjukkan dalam perumpamaan Yesus tentang seorang janda ( Lukas 18:1-8). Dalam nas ini kita melihat bahwa kita perlu tetap dalam doa.“ ..mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” ( ayat 1).

Bukan bahwa kita setiap detik terus-menerus berdoa, melainkan bahwa kita harus tetap secara rutin dalam doa, bahwa kita sering meluangkan waktu untuk berdoa. Meskipun nabi Daniel seorang pejabat dalam pemerintah Babil, ia selalu mengambil waktu untuk berdoa.

“Demi didengar Daniel,bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalam; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” ( Daniel 6:11).

Daniel yakin dan percaya akan kepentingan doa dan sekalipun  diancam oleh orang lain ia tidak melalaikannya. Begitupun si pemazmur menyatakan praktiknya dalam doa, “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku” ( Mazmur 55:17).

Lagi, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” ( Mazmur 119:164).

Kita tidak perlu menunggu seorang penginjil atau pelayan jemaat untuk berdoa. Kita tidak perlu seorang manusia sebagai pengantara – kita boleh langsung mendekati Allah melalui Yesus Kristus.

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim.2:5).

Orang janda itu dalam perumpamaan Yesus berketetapan mambawa kasusnya kepada hakim yang tidak adil. Ia tidak jemu-jemu mendekati si hakim itu karena kasusnya dianggap sangat genting. Pada mulanya hakim itu tidak perduli akan permintaan orang janda yang datang kepadanya, tetapi karena si janda terus-terusan datang membuka kasusnya, ia akhirnya mengabulkan permintaannya. Andaikata janda itu datang sekali, atu sekali sebulan, ataupun dua kali setahun, tentu ia tidak berhasil. Kalau ia kurang bersemangat karena tidak ada pengantar atau seorang teman yang menyertai dia, ia tidak berhasil. Kalau ia berpikir bahwa si hakim tidak akan memperhatikan seorang miskin atau seorang biasa, ia tidak berani membawa kasusnya kepadanya. Tidak ada orang yang mendorong atau menolong dia, tetapi ia terus datang dan minta. Bagaimanapun halangan dan rintangan yang muncul tiap hari, orang janda itu tetap dalam usahanya menyampaikan permintaan kepada si hakim. Allah mengharapkan bahwa anak-anak-Nya bersifat demikian sehingga mereka rajin dan tetap dalam doa. Soalnya, apakah kita cukup beriman untuk melaksanakan yang diharapkan Allah?

“Akan tetapi, jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapat iman di bumi?” (Lukas 18:8).

Yesus Mengajar Tentang Kuasa dan Berkat Yang Tercantum Dalam Doa.

Doa adalah satu-satunya kuasa manusia yang dapat mempengaruhi Allah. Allah membuka telinga-Nya kepada mereka yang berjalan dalam kebenaran dan mencurahkan isi hati mereka kepada-Nya dalam doa.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan  mendapat ; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:7-11).

Petrus menambah,“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat” (1 Petrus 3:12).

Orang Kristen menetapkan hubungan dengan Allah melalui doa supaya saluran berkat-Nya terus terbuka baginya. Allah menghendaki anak-anak-Nya senantiasa mendekati Dia dengan permohonan dan ucapan syukur. Kalau kita tidak mau berkomunikasi dengan Bapa kita di sorga, bagaimanakah tanggapan-Nya terhadap kita? Jika seorang anak di dunia ini tidak mau berkomunikasi dengan orang tuanya, bagaimanakah perasaan mereka?

Tuhan berjanji bahwa pertolongan akan diberikan kepada anak-anak-Nya yang meminta.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia akan memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Ketika pencobaan menimpa kita, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk berdoa.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan : roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Lagi, “..dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus” (Efesus 6:18).

Sekali lagi kita kembali menelaah Lukas 18, dimana Yesus berkata, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum  menolong mereka? Aku berkata kepadamu : Ia akan segera membenarkan mereka” (Lukas 18:7,8a).

Kuasa dan kesempatan doa tetap terbuka bagi setiap anak Allah. Meskipun demikian, kita tidak boleh berdoa sembarangan saja, melainkan harus menuruti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan Tuhan dalam firman-Nya. Yakobus berkata, “Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Yesus telah memberikan kepada pengikut-pengikut-Nya suatu teladan sempurna dalam hal berdoa, yang layak kita mencontoh. Janganlah kita melewati doa. Janganlah kita melewati berkat-berkat Tuhan yang Ia curahkan dalam doa. Marilah kita senantiasa berdoa! “Tetaplah  Berdoa” ( 1 Tess. 5:17).

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.

Gospel of Mark

Penulis

Penulis Injil ini adalah Yohanes Markus. Dia disebut sepuluh kali di dalam Perjanjian Baru. Kita membaca tentang dia pertama-tama dalam Kisah 12:12. Dalam ayat itu, kita melihat bahwa jemaat di Yerusalem bertemu di dalam rumah ibunya. Bahwa mereka mempunyai rumah yang cukup besar untuk perkumpulan jemaat, dan bahwa mereka mempunyai seorang hamba, berarti bahwa Yohanes Markus berasal dari keluarga yang kaya atau yang mempunyai uang yang cukup banyak.

Di dalam Kisah 12:25 dan 13:5, kita melihat bahwa waktu Paulus dan Barnabas hendak berangkat dalam perjalanan misi yang pertama, mereka membawa Yohanes Markus juga untuk membantu mereka. Tetapi Yohanes Markus tidak bertahan begitu lama dalam perjalanan misi itu karena dia meninggalkan Paulus dan Barnabas di Perga dan kembali ke Yerusalem (Kis. 13:13). Kita tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Yohanes Markus meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem, tetapi itu sudah jelas bahwa Paulus tidak senang dengan kelakuan Yohanes Markus itu. Sebab, waktu Paulus dan Barnabas ingin berangkat dalam perjalanan misi yang kedua, Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, tetapi Paulus sama sekali tidak mau. Paulus dan Barnabas masing-masing begitu keras tentang kemauan mereka sehingga terjadi perpisahan antara mereka dua. Barnabas, yang membela Yohanes terus, membawa dia dan mereka bersama-sama pergi ke pulau Siprus sedangkan Paulus membawa Silas dan mereka pergi ke Siria dan Kilikia (Kis. 15:36-41).

Kelihatannya, bahwa Paulus dan Yohanes Markus berdamai karena apa yang ditulis Paulus dalam surat-suratnya nanti. Dalam Kolose 4:10, Paulus mendorong jemaat di Kolose untuk menyambut dia. Juga dalam Filemon 1:24, Markus ada bersama dengan Paulus di Roma dan Paulus menyampaikan salam kepada Filemon dari Markus. Juga pada akhir kehidupan Paulus, waktu dia berada di Roma kali yang terakhir sebelum dia dihukum mati, Paulus menulis kepada Timotius dengan pesan, “Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku” (2 Tim. 4:11). Dulu Paulus tidak menganggap Markus layak untuk mengikut mereka memberitakan injil. Tetapi dalam jangka waktu dua puluh tahun, Markus menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab dan rajin dalam pelayanan injil sehingga Paulus memuji Markus karena pelayanannya. Orang bisa berubah.

Markus juga bersama dengan Petrus di Roma (1 Ptr. 5:13). Ada tulisan dari Papias, seorang Kristen yang terkenal pada pertengahan abad kedua, yang berkata bahwa Markus adalah teman sekerja Petrus dan bahwa Markus mengumpulkan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Petrus tentang Yesus dan menuliskannya dalam satu buku. Kalau begitu, mungkin Injil Markus lebih baik disebut Injil Petrus.

Tahun Ditulis

Lagi, kita tidak tahu dengan pasti tahun berapa Injil Markus ditulis. Tetapi menurut pendapat banyak orang, Injil Markus ditulis sekitar tahun 55 atau 60.

Penerima dan Tujuan

Dari ciri-ciri Injil Markus sendiri, sudah nyata bahwa Injil ini ditulis kepada orang-orang Roma. Bahwa Injil ini tidak ditulis kepada orang-orang Yahudi sudah nyata dari beberapa hal. Pertama, Markus menjelaskan beberapa adat-istiadat orang Yahudi (7:2-4; 15:42). Orang Roma, yang tidak tahu tentang adat-istiadat orang Yahudi memerlukan penjelasan. Yang kedua, Markus menterjemahkan kata-kata bahasa Aram (3:17; 5:41; 7:11,34; 15:22). Bahasa Aram adalah bahasa umum yang dipakai di tanah Israel. Hanya orang-orang Roma yang tinggal di tanah Israel yang mungkin tahu bahasa Aram. Orang-orang di kota Roma memakai bahasa Latin dan bahasa Yunani. Yang ketiga, tidak ada banyak kutipan dari Perjanjian Lama. Orang-orang Roma tidak tahu apa-apa tentang Kitab Suci orang Yahudi, dan tidak perlu menunjukkan bahwa Yesus ini yang menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Kalau melihat Injil Matius, yang ditulis kepada orang-orang Yahudi, ada banyak sekali kutipan dari Perjanjian Lama. Yang keempat, Markus berusaha menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Orang-orang Yahudi ingin tahu apakah Yesus Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci. Orang-orang Roma tidak mempedulikan hal itu. Apa yang mereka ingin tahu, apakah Yesus ini memang Anak Allah atau tidak. Jadi, kelihatannya Injil Markus ini ditulis khusus untuk orang-orang Roma.

Lagi, seperti dikatakan di atas, Markus menulis Injil ini untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, bahwa Dia mempunyai kuasa atas alam, penyakit, roh-roh jahat, dosa, dan maut. Yesus mempunyai kuasa, Dia mengasihi orang, dan datang untuk menebus orang dari dosanya. Orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi orang yang tidak percaya akan dihukum (Mk. 16:15,16).

Garis Besar

  1. Bukti-Bukti bahwa Yesus Adalah Anak Allah (1-5)
  2. Ketidaktentuan bahwa Yesus Adalah Anak Allah (6-10)
  3. Yesus Ditolak Sebagai Anak Allah (11-13)
  4. Yesus Dinyatakan Sebagai Anak Allah dalam KematianNya dan KebangkitanNya (14-16)

Yesus sudah menyatakan kejahatan hati orang-orang Farisi di muka umum. Dengan berbuat demikian, Yesus memalukan dan menghina mereka. Yesus bernubuat bahwa Yerusalem akan dibinasakan satu hari kelak oleh karena kejahatan orang-orang Yahudi. Kita harus siap sedia. Orang-orang Farisi sekarang berunding bagaimana mereka bisa menangkap Yesus dan membunuh Dia. Mereka sungguh-sungguh merasa terancam oleh Yesus. Mereka tidak mau bertobat dari dosa mereka. Mereka hanya mencari kepentingan sendiri. Yesus akan disalibkan, dan oleh kematianNya di kayu salib Dia akan menebus manusia dari dosanya dan memberikan hidup yang kekal kepada umat manusia yang percaya kepadaNya.

Crucifixion of Jesus Christ

Rencana untuk Membunuh Yesus (Mt. 26:1-5)
Yesus memberitahukan kepada murid-muridNya lagi bahwa Dia akan disalibkan. Pemimpin- pemimpin agama Yahudi sangat marah dan sepakat untuk menangkap Yesus dan membunuhNya.

Yesus Diurapi (Mt. 26:6-13)
Ada perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal. Dia melakukannya untuk mempersiapkan Yesus untuk penguburanNya. Kita tidak boleh mengeritik atau merendahkan orang yang berbuat baik.

Yudas Setuju untuk Mengkhianati Yesus (Mt. 26:14-16)
Kita tidak tahu kenapa Yudas ingin menyerahkan Yesus kepada pemimpin-pemimpin Yahudi. Mungkin dia marah terhadap Yesus dan mau membalas? Mungkin dia meminta kuasa atau sesuatu hal lain dari Yesus dan Dia tidak memberikannya? Mungkin Yudas hanya mau mencari uang dan melihat bahwa ini kesempatan yang baik? Kita tidak tahu kenapa Yudas berbuat begitu tetapi itulah sudah di dalam rencana Allah.

Perjamuan Paskah (Mt. 26:17-29)
Perjamuan Paskah itu adalah suatu perjamuan untuk memperingatkan keluaran bangsa Israel dari Mesir. Dalam perjamuan ini Yesus menunjuk Yudas sebagai orang yang akan mengkhianati Dia. Yesus juga menetapkan Perjamuan Tuhan agar pengikut-pengikutNya memperingatkan korbanNya di kayu salib (Mt. 26:26-28). Dia berkata bahwa roti itu adalah tubuhNya dan anggur itu adalah darahNya yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa. Oleh darah Yesus kita dapat diampuni dari dosa kita.

Petrus Akan Menyangkal Yesus (Mt. 26:31-35)
Mungkin murid-murid Yesus belum mengerti atau belum menerima pemberitahuan bahwa Yesus akan mati. Mereka siap untuk berperang bersama dengan Yesus, bahkan sampai mati untuk mendirikan kerajaan Israel kembali. Yesus berkata bahwa mereka semua akan melarikan diri. Mereka belum mengerti.

Di Taman Getsemani (Mt. 26:36-46)
Yesus sangat susah dan sedih. Yesus juga manusia dan Dia tidak mau menderita atau mati di kayu salib. Dia belum pernah berbuat dosa, dan Dia tahu bahwa di atas kayu salib, Dia akan memikul dosa seluruh dunia padaNya. Dia akan dicemarkan oleh dosa dan kejahatan kita. Itu yang membuat Dia paling susah dan gentar karena Dialah suci dan kudus dan tidak pernah dijamah oleh dosa. Dosa adalah kejijikan bagi Yesus dan Allah. Dia tahu bahwa Allah akan meninggalkan Dia untuk pertama kali sejak kekekalan. Karena Yesus memikul dosa kita, maka Dia tidak bisa kembali kepada kedudukanNya yang asli di sorga. Yesus tahu bahwa Dia akan harus tunduk kepada Allah untuk selama-lamanya. Yesus susah sekali dan dari saat ini sampai Dia mati, kesusahanNya akan makin besar. Dia mau dan minta dari Allah supaya Dia tidak harus mati. Tetapi tidak ada cara lain untuk manusia diselamatkan. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib dan menjadi korban penghapus dosa bagi kita, maka tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalam sorga. Yesus tidak akan melakukan kehendakNya, melainkan kehendak Allah. Yesus selalu melakukan kehendak Allah.

Yesus Ditangkap (Mt. 26:47-56)
Yudas datang untuk menyerahkan Yesus kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi (26:47- 50). Petrus sudah siap bertengkar dan memutus telinga hamba Imam Besar (26:51-54). Petrus tidak mau agar Yesus ditangkap dan mau mulai perang untuk mendirikan kembali kerajaan Israel. Yesus menegor Petrus. Jikalau Yesus mau melawan, maka Dia bisa memanggil 72.000 malaikat dari sorga untuk membantu Dia, tetapi itu bukan tujuanNya. Yesus menyerahkan diriNya sendiri ke dalam tangan mereka. Yesus tidak ditangkap dengan paksa. Yesus rela mati bagi umat manusia.

Waktu murid-muridNya melihat bahwa Yesus tidak mau berjuang, dan bahwa Dia ditangkap sebagai orang jahat, mereka menjadi takut dan melarikan diri. Mereka juga tidak mau ditangkap (26:55-56).

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama (Mt. 26:57-68)
Pemeriksaan ini diadakan pada waktu malam. Itu tidak sesuai dengan undang-undang Yahudi. Ada saksi-saksi palsu yang tidak setuju. Tidak ada saksi bagi Yesus! Pemeriksaan ini dijalankan dengan ketidakadilan.

Yesus memberi saksi tentang diriNya dan mengaku bahwa Dialah Mesias, Anak Allah (26:63- 64). Saksi itu benar dan Yesus mengatakan kebenaran dan tidak berdusta, walaupun Dia tahu bahwa oleh saksi itu, Dia akan dihukum mati. Tetapi semuanya di dalam rencana Allah untuk keselamatan kita. Yesus, seorang yang adil, jujur, baik, tanpa dosa, yang tidak pernah melakukan kejahatan, dihukum mati sebagai orang jahat. Dia kena hukuman kita supaya jangan kita dihukum ke dalam neraka, melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Petrus Menyangkal Yesus (Mt. 26:69-75)
Petrus, walaupun takut, masih ingin tahu apakah yang akan terjadi. Oleh karena itu, dia mengikut Yesus, tetapi dari jauh. Ada orang yang bertanya jikalau dia adalah pengikut Yesus. Petrus menjadi takut, dia tidak mau ditangkap seperti Yesus. Petrus tidak melanggar hukum. Petrus tidak bersalah. Petrus tidak mau menderita. Oleh karena itu, lebih baik menyangkal saja dan menyelamatkan nyawanya. Jadi Petrus menyangkal Yesus tiga kali, baru ayam berkokok.

Petrus ingat perkataan Yesus dan menyesal, keluar, dan menangis terus dengan sedih-sedihnya.

Yudas Membunuh Diri (Mt. 27:1-10)
Yesus diserahkan kepada Pilatus, wali negeri Roma, karena orang Yahudi tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman mati atas seorangpun (27:1-2).

Mungkin Yudas tidak tahu bahwa Yesus akan dihukum mati waktu dia menyerahkanNya (27:3-5). Mungkin dia berpikir bahwa Yesus, yang mempunyai kuasa, akan menyelamatkan diriNya. Yudas menyesal tetapi dia tidak bertobat. Terus dia keluar dan membunuh dirinya setelah mengembalikan uang itu kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi.

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang menuruti hukum dengan “teliti” tidak mau mengembalikan uang itu dalam peti persembahan walaupun mereka memeriksa, menghakimi dan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus dalam cara yang tidak sesuai dengan hukum mereka (27:6-10).

Yesus di Hadapan Pilatus (Mt. 27:11-26)
Yesus mengaku benar bahwa Dialah raja orang Yahudi, tetapi Pilatus tidak menyangka bahwa Yesus merupakan suatu ancaman bagi pemerintah Roma dan mau melepaskan Yesus. Orang Yahudi ingin agar Barabas dilepaskan dan mendesak agar Yesus disalibkan. Walaupun Pilatus ingin melepaskan Yesus, namun oleh karena kekacauan yang mulai timbul antara orang Yahudi, maka Pilatus menyerahkan Yesus kepada kemauan mereka untuk disalibkan.

Yesus Disalibkan (Mt. 27:27-61)
Yesus diolok-olokkan oleh pasukan Roma sambil disesah menurut kebiasaan untuk semua orang yang akan disalibkan. Terus, Yesus dibawa untuk disalibkan. Dia terus diejek oleh orang- orang yang lewat dan oleh orang-orang yang berdiri di kayu salib untuk melihat apa yang akan terjadi. Yesus Kristus, yang hanya berbuat baik, menyembuhkan orang, membangkitkan orang mati, mengusir setan, dan lain-lain, sekarang disalibkan sebagai orang penjahat. Bahkan Allah meninggalkan Yesus sehingga Dia betul-betul sendiri. Pada saat Yesus meninggal, banyak hal ajaib terjadi sehingga kepala pasukan dan prajurit-prajurit lain mengaku bahwa memang Yesus adalah Anak Allah.

Kubur Yesus Dijaga (Mt. 27:62-66)
Pemimpin-pemimpin agama Yahudi senang bahwa Yesus sudah mati dan dikuburkan. Mereka tidak mau agar murid-muridNya datang dan mencuri mayatNya dan terus menipu masyarakat bahwa Yesus telah dibangkitkan. Rupanya, hanya mereka yang ingat bahwa Yesus berkata bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Oleh karena itu, mereka meminta agar Pilatus mengirim penjaga-penjaga untuk menjaga kubur Yesus.

Yesus Dibangkitkan (Mt. 28:1-10)
Pada hari pertama minggu itu Maria dan Maria pergi mengunjungi kuburan Yesus dan menemukan malaikat. Kubur itu kosong. Yesus sudah bangkit. Mereka pergi untuk memberitahukan murid-muridNya dan Yesus bertemu dengan mereka di jalan. Yesus pertama- tama menampakkan diriNya kepada seorang perempuan setelah Dia bangkit.

Dusta Mahkamah Agama (Mt. 28:11-15)
Mahkamah Agama tergoncang atas laporan penjaga-penjaga. Mereka tidak mau percaya bahwa mungkin Yesus memang adalah Anak Allah bahwa Dia memang dibangkitkan. Mereka sepakat untuk berdusta dan menipu dengan berkata bahwa murid-muridNya datang malam- malam dan mencuri mayatNya ketika penjaga-penjaga sedang tidur. Setelah membayar penjaga- penjaga banyak uang agar mereka berdusta demikian, penjaga-penjaga itu setuju.

Dusta ini agak susah dipercayai sedangkan ada sekitar 60 penjaga dan hukuman yang dikena oleh seorang penjaga yang tidur, adalah hukuman mati. Bagaimanakah semua penjaga tidur sekaligus dan bagaimanakah murid-murid Yesus mengguling batu karang yang besar itu yang menutupi kubur tanpa seorang penjaga mendengar dan terjaga dari tidurnya? Ternyata bahwa Yesus betul-betul bangkit pada hari itu.

Perintah Agung (Mt. 28:16-20)
Yesus sudah bangkit pada hari ketiga dan sebelum Dia naik ke sorga, Dia memberikan perintah agung ini kepada murid-muridNya. Inilah tujuan Yesus ke bumi agar dunia mendengar injil itu dan mentaatinya dan diselamatkan. Perintah ini diberikan kepada murid-muridNya, dan juga kepada kita. Kita semua sebagai orang Kristen mempunyai tanggung jawaban untuk memberitakan injil dan mengajar orang tentang Firman Allah. Dan Yesus berjanji untuk selalu menyertai kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan firmanNya.

Photo Credit: http://chissmiss.files.wordpress.com/2011/10/308935_10150396995611803_781561802_10082403_169575497_n.jpg

Setelah Yesus mengecam pemimpin-pemimpin agama Yahudi, Dia berkata, “Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi” (Mt. 23:38). Yesus bernubuat tentang kebinasaan Yerusalem. Oleh karena orang-orang Yahudi akan menolak dan membunuh Yesus, Anak Allah, maka Yerusalem akan dibinasakan sebagai hukuman atas mereka. Dalam fasal 24 dan 25, Yesus bernubuat terutama tentang kebinasaan Yerusalem, yang terjadi pada tahun 70 M. Tetapi Yesus juga menyinggung tentang kedatanganNya yang kedua pada saat dunia kiamat dan Dia akan menghakimi dunia menurut perbuatannya.

Herod's Temple

Nubuat Yesus (24:1-44)
Murid-murid Yesus melihat betapa besarnya dan indahnya Bait Allah dan menunjukkan itu kepada Yesus. Yesus memberitahukan mereka bahwa Bait Allah itu akan diruntuhkan.

Murid-muridNya kaget dan menanyakan tiga hal kepada Yesus, “Bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (24:3).

Yesus menjawab dalam nubuat. Penting sekali agar kita mengerti bahwa nubuat biasanya memakai bahasa kiasan. Matius 24:4-35 terutama tentang kebinasaan Yerusalem dan Bait Allah. Lihatlah 24:34, “Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Maksudnya, semuanya itu akan terjadi dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Ada orang yang mendengar nubuat Yesus yang masih akan hidup pada saat nubuat itu digenapi. Yesus bernubuat ini pada tahun 30 M. dan kebinasaan Yerusalem terjadi pada tahun 70 M.

Ada banyak hal yang susah untuk dimengerti dalam nubuat ini, tetapi sebenarnya semua nubuat mempunyai ciri begitu. Kita harus ingat bahwa nubuat-nubuat memakai bahasa kiasan dan bukan semuanya yang diucapkan akan benar-benar terjadi demikian. Misalnya, kalau membaca Kisah 2:16-21, Petrus berkata bahwa apa yang terjadi pada hari Pentakosta adalah kegenapan dari nubuat Yoel. Kita memperhatikan beberapa hal: 1) Roh Allah tidak dicurahkan ke atas semua manusia (2:17) hanya di atas murid-murid Yesus yang hadir pada waktu itu. 2) Matahari tidak menjadi gelap dan bulan tidak menjadi darah. Itulah bahasa kiasan bahwa mujizat besar dan dahsyat yang akan terjadi. Itu digenapi waktu Roh Kudus turun ke atas rasul- rasul sehingga mereka bisa berbicara dalam bahasa-bahasa lain tentang injil Kristus kepada orang banyak yang hadir di situ.

Dalam nubuat Yesus dalam Matius ada hal-hal yang susah untuk dipahami. Kalau membaca karya tulisan Yosepus, seorang ahli sejarah Yahudi yang adalah saksi mata tentang kebinasaan Yerusalem pada tahun 70 M., maka apa yang ditulisnya tentang kebinasaan Yerusalem sangat cocok dengan nubuat Yesus dan memberi bukti bahwa apa yang Yesus nubuat sungguh-sungguh digenapi.

Marilah kita meringkaskan beberapa bagian ini yang sulit dimengerti.

Ayat 29 adalah kutipan dari Yesaya 13:10. Yesaya 13 adalah nubuat tentang kebinasaan Babel yang termasuk hal bahwa matahari akan menjadi gelap dan sebagainya. Ini bahasa kiasan bahwa kebinasaan itu akan hebat sekali dan sempurna seperti kelihatannya dunia semua hancur betul.

Bagaimanakah ayat 27 dan 30? Kedatangan Yesus ini sama dengan istilah “Hari Tuhan” dalam Perjanjian Lama yaitu pada waktu Allah atau Yesus akan datang dalam penghakiman untuk menghakimi dan menghukum bangsa-bangsa di dunia ini. Karena Israel menolak Yesus sebagai Raja, maka kota Yerusalem akan dibinasakan, dan itulah Yesus yang akan mengadakannya sebagai hukuman.

Dan bagaimanakah ayat 31? Orang-orang Kristen yang berada di Yerusalem pada saat ini melarikan diri ke pegunungan dan berkumpul dalam gua-gua di situ dan tidak mati dalam kebinasaan Yerusalem oleh karena mereka sudah tahu nubuat Yesus ini.

Walaupun nubuat ini pertama-tama tentang kebinasaan Yerusalem, juga bagian bisa dimengerti sebagai kedatangan Yesus yang kedua. Matius 24:36-44 juga tentang kebinasaan Yerusalem dan juga kedatangan Yesus yang kedua. Mereka tidak tahu hari apa Yerusalem akan dibinasakan, dan kita juga tidak tahu kapan Yesus akan kembali. Jadi kita harus selalu siap sedia untuk kedatangan Yesus, supaya apabila Dia datang, kita siap untuk bertemu dengan Dia.

Perumpamaan-Perumpamaan tentang Kesediaan (Mt. 24:45-25:46)
Yesus sekarang menceritakan beberapa perumpamaan untuk menunjuk bahwa kita harus selalu siap sedia dan hidup baik sesuai dengan kehendak Allah oleh karena kita tidak tahu kapan Yesus akan datang kembali.

Tentang Hamba yang Setia dan Hamba yang Jahat (Mt. 24:45-51)
Pelajaran dasar adalah kita tidak tahu kapan Yesus akan kembali, oleh karena itu kita harus siap sedia supaya kita pasti pergi ke sorga.

Tentang Gadis-Gadis yang Bijaksana dan Gadis-Gadis yang Bodoh (Mt. 25:1-13)
Pelajaran dasar adalah kita harus siap sedia karena kita tidak tahu hari atau jam Yesus akan kembali dan setiap orang masing-masing bertanggung jawab atas kesediaan dan keselamatannya sendiri.

Tentang Talenta (Mt. 25:14-30)
Pelajaran dasar adalah kita akan dihakimi oleh apa yang kita lakukan dengan apa yang telah kita terima dari Allah.

Tentang Penghakiman Terakhir (Mt. 25:31-46)
Pelajaran dasar adalah kita akan dihakimi oleh bagaimana kita bertingkah laku terhadap orang lain dan melayani mereka.

Photo Credit: http://www.ebibleteacher.com/taxonomy/term/238

Benar bahwa Allah telah memerintahkan anak-anak untuk “menghormati” orang tuanya. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengajar anak-anakmu untuk menghormatimu! Itulah tanggung jawab dari orang tua! Tidak ada orang tua yang sempurna, tetapi orang tua bisa menjadi terhormat. Situasi yang ideal adalah orang tua terhormat dan menghormati anak-anak.

adult-and-child-holding-hands

Bagaimanakah bisa orang tua memperoleh hormat dari anak-anaknya? Biarkanlah saya menyarankan lima cara:

  1. Mengasihi anak-anakmu. Kasih memberi apa yang mereka perlu, bukan apa yang mereka inginkan. Berikanlah kasih sayangmu kepada mereka. Anak-anak memerlukan pelukan! Sentuhan yang lembut dari orang tua yang terkasih memberikankeyakinan dan rasa aman. Mengasihi mereka dengan mempercayai mereka, bermimpi, berharap, dan memuji mereka. Mengasihi mereka dengan mendengarkan mereka dan dengan mendoakan mereka.
  2. Mengangkat mereka. Meneguhkan mereka! “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21). Sama seperti tanaman memerlukan dan harus mempunyai air, anak-anak memerlukan dorongan.
  3. Membatasi mereka. Orang memerlukan batas-batas yang teguh untuk membebaskan anak-anak. Jadi saudara membebaskan mereka dengan membatasi mereka. Eli gagal untuk melakukan hal ini dan dia dihukum keras untuk kelalaiannya (1 Samuel 3:13; lihat juga 1 Samuel 2:1-17,29-30). Anak-anak selalu akan mendorong untuk melihat apakah orang tuanya bergerak. Setiap anak memerlukan disiplin untuk mempunyai rasa aman. Tetapi selalu ingat bahwa batas- batas harus digarisi dengan kasih. Sayang karena masyarakat kita ditipu untuk berpikir bahwa tidak ada batas. Orang tua, jangan takut untuk berkata dengan tegas — “Ada beberapa program televisi tertentu yang tidak akan kaunonton; ada beberapa film-film tertentu yang tidak akan kaunonton; ada tempat-tempat tertentu yang tidak akan kaukunjungi; dan ada hal-hal tertentu yang tidak akan kaulakukan tanpa persetujuan saya!”
  4. Tertawa dengan mereka. Santai-santailah! Belajar untuk tertawa! Berbahagialah keluarga di mana sukacita dan ketawa didengar. Manusia adalah satu- satunya makhluk dalam ciptaan Allah yang bisa tertawa, menangis dan menjadi merah! Ketertawaan sama seperti cahaya matahari dalam rumah.
  5. Memimpin mereka. Janganhanya mengatakan kepada mereka apa yang benar, tunjukkannyalah kepada mereka! Tunjukkanlah kepada mereka apa maksudnya watak yang baik dengan mempertunjukkannya kepada mereka. Latihan mereka dengan melakukannya sebelumnya! Mempertunjukkan kepuasan, keberanian, kesopanan, keadilan, kejujuran, keramahan, penguasaan diri, kemurahan, kebersyukuran, dan penghematan. Dan yang paling penting, memimpin mereka kepada Tuhan.

Kesimpulannya adalah: menjadi orang tua terhormat dengan mempercayai, mentaati dan menghormati Allah di dalam kehidupanmu!

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 21, dengan judul asli: “Honorable Parents.” Halaman 86-87. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Photo Credit: http://3.bp.blogspot.com/_fx_54l56v38/TJ08SnQzH0I/AAAAAAAAAIY/lLwZZS_epaI/s1600/adult-and-child-holding-hands.jpg