Dengan memasuki Roma 8 seseorang dengan cepat menemukan pasal yang paling menghibur dalam buku Roma, barangkali dalam keseluruhan Alkitab!  Urutan berikutnya adalah Mazmur 23, Yohanes 14 dan 1 Korintus 15. Barangkali merupakan bagian kemuliaan yang sangat bertentangan dengan kepedihan dalam pasal tujuh.  “Wah, aku orang yang celaka ini!  Siapakah gerangan akan melepaskan aku keluar dari dalam tubuh maut ini?” (Roma 7:24).  Roma 7:14-25 nampaknya menggambarkan peperangan yang tidak berpengharapan seperti “tabiat duniawi berlawanan dengan Roh” (Galatia 5:17).  Tetapi dalam Galatia 5:16 Paulus baru berkata, “Berjalanlah kamu dengan Roh, niscaya kehendak tabiat duniawi tiada akan kamu genapkan.”  Roma 8:1-7 adalah penjelasan ilahi untuk ayat tersebut.

Kemerdekaan yang ditekankan dalam Roma adalah: Kemerdekaan dari murka Allah oleh kasih Allah (5:1-11); kemerdekaan dari dosa melalui baptisan (6:1-14); kemerdekaan dari Taurat melalui kematian Kristus (7:1-6); dan kemerdekaan dari maut melalui Roh (8:1-11).  Sungguh, “barang di mana ada roh Tuhan, di situlah kebebasan” (2 Korintus 3:17). Kita telah dipanggil kepada kebebasan (Galatia 5:13).

Perkataan “Roh” tidak terdapat di dalam Roma 7 tetapi dalam pasal 8 banyak terdapat. Demikian juga kalau kita mencoba berperang melawan daging tanpa Roh, kita akan kalah dalam peperangan.  Jika kita memperlengkapi diri kita dengan Roh sebagai “hukum kehidupan” kita akan menjadi “lebih dari penakluk.”  Berkat besar tersedia dan diberikan dalam Roma 8; saya menghitung 21 tetapi masih lebih dari itu.  Pertama kali dikatakan, “tidak ada hukuman,” dan selanjutnya dikatakan dengan hidup, damai, dihidupkan kembali, hak menjadi anak, saksi, pewaris, pengharapan kemuliaan yang akan datang, semuanya bekerja untuk kebaikan kita, dan Tuhan untuk kita.  Apa lagi yang dapat saudara temukan?

Hukum Lama dikutuk dengan menyatakan dosa dan penghakiman di dalam Kristus semuanya itu tidak ada lagi!  Kepada kita ditunjukkan bahwa sekarang kita di dalam “tubuh yang mati itu” (7:24).  Ingatlah bahwa Hukum membuat manusia melihat keberdosaannya dan ketidakberpengharapannya.  “Tidak ada lagi hukuman” tidak berarti bahwa kita sama sekali melarikan diri dari Hari Penghakiman tetapi tidak lagi mendapat hukuman pada Hari Penghakiman.

Di dalam Kristus kita harus hidup sebagai orang yang diampuni karena memang demikian!  Ingatlah, Roma 6:3 menyatakan bahwa kita “dibaptiskan ke dalam Kristus.”  Sekarang kita di dalam “kesatuan iman” dengan Kristus, mati bersama dia, dikuburkan bersama Dia dan dibangkitkan bersama Dia (6:4).

Sekarang kita banyak persamaan dengan Kristus.  Sama seperti Paulus dengan mudah dapat merobah pribadinya dengan menerima Kristus. dibandingkan lagi dengan Kristus yang berada di sebelah kanan Allah dan semua umatNya yang menerima kehidupan Kristus “tidak ada lagi hukuman.” “Di dalam Kristus” adalah menjadi anggota jemaat.  Itu bukan hanya pencatatan namanya dalam buku anggota, tetapi menjadi suatu alat tubuhNya.  Dengan demikian hidup kita bergantung kepadaNya dan Dia bergantung kepada saudara agar kehendaknya terlaksana di dunia ini.

“Tidak ada lagi hukuman” sering disalahartikan dengan “saya tidak akan dihukum; karena itu keselamatan saya tidak akan hilang lagi.”  Maksud sebenarnya bukanlah demikian. Paulus baru menunjukkan apa yang saudara miliki kalau saudara di dalam Kristus. Seseorang bisa berlari masuk ke gua untuk menyelamatkan diri sewaktu angin ribut datang, tetapi dia tidak ada jaminan tidak kena malapetaka pada hari yang akan datang. Dengan kebebasan yang kita miliki tidak berarti kita tidak bertanggung jawab atas tindakan kita pada waktu yang akan datang. Dengan berbuat dosa tetap mengancam apakah dia Kristen atau orang berdosa.  Tetapi di dalam Kristus hukuman selalu dapat dihindarkan.

Pernyataan dalam pasal 7 dirangkum dalam 8:2,3.  Banyak orang menginginkan sesuatu yang misterius dalam “roh” tetapi hal itu tidak diperlukan.  Roh itu memberi hidup, dan itu dilakukan melalui firman (Yohanes 6:63).  Yang memberi hidup adalah yang menyelamatkan; yaitu Injil (Roma 1:16).

Hanya “hukum Roh yang mengaruniakan hidup” yang membebaskan dari “hukuman dosa dan maut” (8:2).  Tetapi apakah “hukum dosa dan maut”?  Itu tidak mungkin hukum Musa.  Jika demikian, Paulus berkata, “Hukum Musa tidak bisa membebaskan aku dari hukum Musa.”  Malah itu adalah prinsip yang bekerja melalui daging seperti yang terdapat dalam 7:23,24 (hukum yang berbeda).  Hukum Musa tidak dapat membebaskan kita dari peperangan di dalam daging yang membuat kita mati secara rohani melalui dosa. Taurat tidak dapat bekerja karena itu lemah melalui daging kita (8:3).  Itu adalah kelemahan manusia yang merangsang dosa di dalam hidup saudara.  Hidup “menurut daging” (8:5) adalah hidup di bawah perintah keinginan sifat alami manusia.  Tetapi di dalam Kristus seseorang dapat hidup dengan suatu hidup di bawah perintah kasih Allah.  Adalah karena keinginan daging yang sering menimbulkan dosa sehingga “daging” dinamakan “penuh dosa”.  “Dosa keinginan daging” tidak hanya dos seks, di antaranya terdapat juga kemarahan, iri hati dan pembunuhan (Galatia 5:19-21).

Beberapa orang beranggapan Kristus memberi kita kekuatan untuk melakukan kebenaran dengan melakukan Hukum Taurat. Ini berarti sekarang kita mempunyai kekuatan yang luar biasa hidup di atas dosa.  Pengertian seperti itu sangat bertentangan dengan keterangan Paulus.  Keselamatan kita adalah karena perbuatan Yesus, dan bukan karena perbuatan kita sekarang.

Kekudusan orang Kristen artinya bahwa kita mempunyai roh yang baru (2 Kor. 5:17). Hukum Taurat tidak berkuasa memberi hidup baru karena ketidakcukupan diri manusia dihasilkan oleh kuasa pengampunan dari kematian Yesus.  Itu bukanlah karena kita dapat melakukan demikian tetapi karena Yesus melakukannya untuk kita.

Kita kudus bukanlah karena sekarang kita dapat melakukan 10.000 perintah.  Itu dapat terjadi dengan hati yang baru yang membuat “ciptaan baru” di dalam Kristus.  Dengan demikian, kita mempunyai kasih yang baru yang menghargai kasih Allah (1 Yohanes 4:19), dengan keadaan demikian akan menggenapi Taurat (Roma 13:9-10).

 

Pelajaran ini diambil dari Alkitab Mengajar Vol. 3 No. 1, Januari 1991, halaman 4-7.

MEMBUAT PERBEDAAN

Landung Darmo —  January 4, 2017 — Leave a comment

Orang-orang Kristen beda.  Orang-orang di antara kita yang berada di dalam jemaat dan adalah milik Allah, yang telah dibeli oleh darah Kristus (Kisah 20:28) adalah beda.  Kita tidak sama dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Allah , kita adalah “bangsa yang terpilih” (1 Petrus 2:9); kita beda. Allah dan AnakNya keduanya menuntut agar kita berbeda dari dunia.

Oleh karena kita beda, seharusnya kita juga membuat perbedaan.  Jika hal itu benar, maka sangat penting agar kita tahu sejenis perbedaan apakah Tuhan menuntut agar kita buat. Kita harus mempertimbangkan bagaimanakah caranya kita harus membuat perbedaan ini yang wajib kita buat.

Kita seharusnya membuat perbedaan dalam mutu kehidupan dunia di mana kita tinggal dengan caranya kita hidup.  Oleh karena kita, seharusnya ada lebih banyak kasih yang ditunjukkan.  1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa, “Allah adalah kasih.”  Sebagai anakNya, kita harus menjadi seperti Dia; oleh karena itu, kita juga harus menunjukkan kasih.

Kita harus serius dengan membuat perbedaan dalam kesusilaan dunia.  Alkitab adalah standar Kristen, itulah penuntun kita seumur hidup.  Standar kesusilaan yang ditemukan di dalam Alkitab akan membuat perbedaan besar sekali dalam dunia kita jika dilaksanakan oleh sebagian besar dari orang dunia.  Tetapi jika hal itu pernah akan terwujud, maka orang Kristen harus pertama hidup menurut standar itu dan mengajar orang lain untuk melakukannya juga.  Jemaat, sebagai umat terpilih oleh Allah, bisa dan harus menunjukkan bahwa kita beda oleh karena standar tinggi kita dari kejujuran dan integritas.  Dunia bisa terpengaruh oleh kita kalau kita dikenal sebagai orang yang selalu mengatakan kebenaran dan dapat dipercayai dalam segala transaksi, hubungan, dan kegiatan kita.  Kita akan membuat perbedaan untuk beberapa orang jika kita menunjukkan kepada mereka bahwa kemurnian dan kesucian kehidupan bukan hal yang mustahil, dan bahwa kehidupan semacam begitu mempunyai upah bahkan dalam kehidupan ini.

Saudara dan saya, sebagai orang Kristen, harus menjadi teladan bagi dunia dalam menunjukkan belas kasihan kepada sesama kita manusia.  Yesus mengajarkan kepada kita dan menunjukkan kepada kita keperluan untuk menunjukkan belas kasihan dan berkat yang dari padanya.  Sekarang Yesus menuntut agar kita melakukan yang sama untuk sesama kita manusia yang lain.

Kemudian ada soal pengharapan.  Orang Kristen adalah satu-satunya orang dalam seluruh dunia yang bisa menyatakan satusatunya pengharapan yang benar untuk kekekalan.  Dengan kemampuan itu datang pertanggungjawaban – pertanggungjawaban untuk membuat perbedaan di dalam dunia ini dengan memberitakan pengharapan kita, Yesus Kristus, kepada orang yang tersesat. Banyak orang yang sekeliling kita bergumul terus dengan sedikit pengharapan dalam dunia ini, dan tentu dengan tidak ada harapan dalam dunia yang akan datang.  Saudara dan saya bisa membuat perbedaan dengan memberikan kepada mereka alasan untuk berharap sekarang, tetapi lebih penting lagi, alasan untuk berharap dalam pemandangan kekekalan.

Kalau kita sungguh-sungguh ingin membuat perbedaan, kita orang Kristen harus menjadi orang yang kuat pendiriannya.  Kita harus mempelajari Alkitab dengan rajin supaya kita tahu dan mengerti apa itu kehendak Allah.  Setelah belajar kehendak Allah melalui firmanNya, kita harus berjanji untuk hidup menurut ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip itu. Mereka yang di luar jemaat, walaupun mereka tidak setuju dengan kita, seharusnya menghormati kita oleh karena siapa kita dan kenyataan bahwa kita berdiri teguh untuk apa yang baik dan benar menurut pengetahuan kita.

Sebagai seorang Kristen, saya bisa membuat perbedaan, bukan saja dalam dunia, tetapi juga di dalam jemaat.  Saya bisa mendorong saudara seiman untuk hidup lebih setia dan semangat untuk Kristus.  Saya bisa mendorong mereka secara perinci dengan perkataan saya dari peringatan, tegoran, dan pujian.  Saya juga bisa menguatkan komitmen mereka kepada Tuhan dengan cara kehidupan saya.  Tetapi saya harus konsisten dalam cara saya hidup: Mereka tidak selalu memberitahukan saya apabila mereka mengamati saya.

Sangat benar bahwa kita orang Kristen tidak mempunyai karunia dan kemampuan yang sama.  Kita tidak bisa melayani Tuhan dalam cara yang sama.  Tetapi kalau kita akan merubah dunia atau jemaat supaya lebih baik, kita tidak akan berhasil dengan santai-santai saja.  Kita bisa dan akan membuat perbedaan hanya dengan rajin melayani Tuhan dengan kemampuan apa yang kita punya, dan bukan dengan filsafat, “Hidup dan biarkan hidup.” Tentu kita tidak bisa memaksa orang merubah cara kehidupan mereka atau keyakinan mereka, tetapi itu tidak berarti kita tidak boleh aktif, bahkan agresip sewaktu-waktu.  Jemaat bisa membuat perbedaan dengan bergiat, beragresip, dan dengan militan mempromosikan apa yang benar dan melawan apa yang salah.  Hanya tolong ingat bahwa semua perkataan kita dan kegiatan kita harus dihasilkan dari hati yang penuh kasih dan belas kasihan.

Jika kehidupan saya berakhir dengan tidak mempengaruhi orang lain untuk kebaikan, dengan tidak merobah dunia ini sehingga lebih baik, dengan tidak membantu jemaat menjadi lebih kuat, maka sebenarnya saya tidak membuat perbedaan.  Jika saya tidak membuat perbedaan, maka kehidupan saya menjadi sia-sia saja.

Kiranya Allah menolong baik saudara maupun saya untuk sungguh-sungguh membuat perbedaan.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], Volume 3, dengan judul asli “Making a Difference,” halaman 4-5.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, Dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, Dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, Yang menghasilkan buahnya pada musimnya, Dan yang tidak layu daunnya; menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,

Apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, Begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, Tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1)

Dosa Mempunyai Jalan Menurun (ay. 1)

Perjalanan yang diuraikan di dalam mazmur ini termasuk kelanjutan dari kepercayaan, tingkah laku, dan keanggotaan. Ayat ini adalah suatu kesejajaran memang, tetapi itu adalah kesejajaran yang berkelanjutan dari pada kesejajaran yang searti.  Perhatikanlah baik-baik perjalanan yang diuraikan. Kita memandang dosa.  “Apakah salahnya untuk melihat saja?” seorang berkata. Sebentar lagi “melihat” itu menjadi mendengar karena dia memperhatikan kedayatarikan dari dosa.  “Saya perlu tahu kedua belah sisi dari kehidupan,” adalah argumen yang kadang-kadang dikemukakan. “Ini hanya latihan akademik,” orang lain mungkin katakan. Mendengar akhirnya membawa kepada belajar jalan-jalan dosa.  Orang menjadi berpengalaman.  Dengan cepat dia menjadi seorang ahli dalam kejahatan, berpengetahuan mengenai bermacammacam dosa, kedayatarikannya, dan pengalamannya. Kemudian, kecelakaan dari segala kecelakaan, dia bertumbuh untuk mencintainya.  Dia tidak bisa hidup tanpanya.  Dengan kekuatan seperti kabelkabel besi, dosa melilitkan alat penangkapnya keliling hatinya. Akhirnya, dalam pegangan maut, dia duduk dalam perkumpulan orang jahat dan hidup kehidupan dosa.

Hidup dalam Firman Allah (ay. 2)

Seorang pernah berkata bahwa seorang benar lahir dari Firman, dipimpin oleh Firman dan diberi makan oleh Firman. Kita lahir dalam Kristus oleh Firman. Kita mulai dengan Firman, karena itu membawa kelahiran baru bagi kita (2 Ptr. 1:23).  Kita diperanakkan oleh Firman kepada pengharapan baru. Kita dipimpin oleh Firman dalam kehidupan kita bagi Kristus.  Kita tidak bisa

mengetahui kehendak Allah kecuali melalui FirmanNya.  Dia tidak menuntun kita melalui campur tangan gaib, melainkan melalui pendidikan Alkitabiah. Kita dibesarkan dalam Kristus dengan memakan Firman.  Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang bertumbuh di dalam firman (2 Ptr. 3:18).  Sama seperti seorang bayi tanpa susu akan mati, seorang Kristen tanpa Firman makin memburuk. Oleh karena itu, seorang yang tidak “hidup di dalam Firman” tidak bisa mengenal kehidupan Allah.

“Seperti Pohon” (ay. 3)

Satu cara yang paling baik untuk menkomunikasikan kebenaran dan keindahan adalah memakai perbandingan. Bagaimana seorang benar seperti sebuah pohon? Untuk mulai, dia mempunyai stabilitas. Dia telah ditanam di tepi aliran air.  Angin, ombak, dan situasi keras dalam kehidupan tidak bisa mencabut akarnya atau menggoyangkannya dari kehidupannya di dalam Allah. Lagi pula, dia mempunyai makanan. Semua sumber daya yang akan diperlukannya sudah tersedia baginya. Dalam Kristus dia lengkap, memiliki semua berkat rohani.  Dia tidak memerlukan lebih banyak berkat; dia cuma memerlukan hikmat untuk mempergunakan berkat-berkat yang telah dimilikinya. Akhirnya, dia mempunyai sukses (keberhasilan).  Dia menghasilkan buah pada musimnya.  Daunnya tidak layu.  Dia akan berhasil dalam apa saja yang dilakukannya. Apakah lebihnya bisa seorang inginkan? Siapa ingin menjadi lain dari pada “sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air?”

Nilai Orang Jahat (ay. 4-6)

Bagaimanakah keadaan kehidupan orang jahat?  Bagaimanakah kehidupannya dinilai oleh mazmur ini? Dia dianggap tidak bernilai sedikitpun. Dia seperti sekam (kulit padi).  Dia tanpa hidup, tanpa nilai, dan tanpa tujuan.  Dia akan dibakar atau ditiupkan angin kondisi dan penghakiman — dalam waktu dan kekekalan.  Dia tidak mempunyai arti sedikitpun untuk Allah dan pada akhirnya tidak mempunyai arti sedikitpun untuk manusia. Secara jelas dia tidak berguna.  Dia menyadari bahwa dia tidak bisa berdiri di bawah tuntutan-tuntutan hidup; dan setelah kehidupan habis dihidupi, dia akan jatuh dibawah penghakiman Allah.  Dia merupakan kulit kosong yang dipamerkan sebagai seorang manusia.  Kehidupannya adalah kehidupan yang disia-siakan. Dia ditakdirkan untuk kebinasaan.  Dia tidak mempunyai masa depan.  Satu kepastian kehidupan ini adalah bahwa orang jahat akan binasa.  Pelanggar hidup di Jalan Malapetaka di kota “Ditakdirkan untuk Kebinasaan” entah nasibnya nyata kepadanya atau tidak.

 

Pelajaran ini diambil dari Truth for Today [Kebenaran untuk Hari Ini], surat dari Eddie Cloer tertanggal June 1, 2003 dengan judul asli, “The Righteous & the Wicked.” Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Mazmur 1:1-3

Jikalau kita merenungkan atas firman Allah dan ingat semua kebaikanNya, maka sukacita adalah hasilnya. Merenungkan atas FirmanNya siang malam seperti diajarkan Firman akan membawa kesenangan yang sejati dan pemecahan masalah-masalah.

Allah memberi petunjuk dalam Ulangan 6 mengenai bagaimana TauratNya harus diajarkan, dipelajari dan ditaati. Dia tidak mau agar orang-orang Israel lupa perbuatanperbuatanNya. Mereka telah minum dari sumur-sumur yang tidak digali mereka dan makan dari kebun-kebun anggur dan pohonpohon zaitun yang tidak ditanam mereka.

Allah menghendaki agar orang-orang Israel merenungkan dan memikirkan kebaikanNya. Dia berkata, “Kalau kamu sudah makan sampai kenyang, awas agar jangan kamu melupakan Tuhan yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir dari rumah perbudakan (Ul. 6:11,12).

Tuhan memperingati Yosua, “Janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yos. 1:8).

Betapa cepat kita lupa berkat-berkat kita yang dahulu. Betapa cepatnya masalahmasalah membuat kita melupakan kebaikan Allah. Betapa cepatnya kita melupakan bagaimana Kristus menderita dan mati bagi kita dan sangat memberkati kita denganpengharapan hidup kekal.

Dalam merenungkan firman Allah dan kebaikanNya, kita teringat. Daud berkata, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan…Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaanMu dan merenungkan perbuatanperbuatanMu” (Mzm. 77:12,13)

Paulus menulis dalam Filipi 4:8 untuk memikirkan hal-hal yang baik. Setelah memberi petunjuk kepada pemuda Timotius untuk menjadi teladan seorang Kristen dalam Firman Allah, Paulus memperingatinya, “Renungkanlah semua ini, menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada mereka supaya kemajuanmu nyata untuk semua” (1 Tim. 4:15).

Mazmur 1 menguraikan orang saleh sebagai orang yang menggemari Taurat Tuhan dan merenungkannya siang malam.  Orang saleh ini adalah orang yang diberkati dan bersenang — seperti pohon yang ditanam di tepi sungai, yang menghasilkan buah untuk kehidupan yang berkelimpahan.

Waktu pagi adalah waktu yang baik untuk merenungkan atas Firman Allah. Dalam Mazmur 63:2, Daud mencurahkan isi hatinya dan jiwanya kepada Allah.  Memberitakan imannya yang besar dalam Allah dia menulis, “Ya, Allah, Engkau Allahku, aku mencari Engkau.”

Daud juga memuliakan Allah dengan bibir yang bersukacita pada waktu malam. Waktu dia merenungkan pada waktu penjagaan malam dia bersukacita dalam pertolongan Tuhan.  Kiranya kita bisa berkata denganDaud, “Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepadaMu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam — sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku dan dalam naungan sayapMuaku bersorak-sorai” (Mzm. 63:6-8).

 

Pelajaran ini diambil dari Christian Woman [Wanita Kristen], Sep/Oct 1989 dengan judul asli, “The Joy of Meditating on God’s Word,” halaman 30.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

MALAPETAKA YANG PALING NGERI

Landung Darmo —  December 21, 2016

Seandainya saudara murtad (yaitu meninggalkan jemaat dan kembali kepada kehidupanmu yang lama dan/atau agamamu yang lama — kembali kepada dosa dan ketidaktaatan), bagaimanakah keadaanmu? Sebagai pembelaan melawan tekanan dan pencobaan, saudara perlu mengetahui akibat ngeri dari kemurtadan. Ada banyak nas yang menguraikan akhirnya dari mereka yang murtad, tetapi nas-nas yang berikut cukup untuk menunjukkan kepada kita betapa ngerinya untuk meninggalkan Allah. Tolong membaca setiap nas dengan berhati-hati.

Yohanes 15:4-6. Inilah bagian dari satu ilustrasi yang dipergunakan Yesus. Sebagaimana carang harus tetap pada pokok anggur, demikianlah setiap orang Kristen harus tetap tinggal di dalam Kristus. Menghasilkan buah adalah bukti bahwa “carang” tersebut masih tetap tinggal di dalam “Pokok Anggur.”  Perhatikanlah akibat di dalam ayat 6.

Ibrani 10:26-31. Dosa yang sengaja dalam ayat 26 menunjuk kepada keputusan sengaja untuk meninggalkan Kristus dan jemaatNya. Apabila seorang melakukan hal ini, dia telah menolak satu-satunya korban untuk dosa dan dia tidak bisa lagi mempunyai pengharapan untuk diselamatkan (kecuali dia bertobat). Ayat 28-31 menunjukkan bahwa untuk hilang selama-lamanya lebih buruk (“lebih berat hukuman”) adanya dari pada dibunuh tanpa belas kasihan.

2 Petrus 2:20-22.  Kenyataan yang jelas adalah apabila seorang yang pernah menjadi seorang Kristen kemudian dia menolak Kristus, menolak jemaat Kristus, dan menolak kebenaran, dia menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih buruk dari pada seorang kafir yang tidak pernah mengenal Tuhan.  Ilustrasi tentang anjing dan babi itu dalam ayat 22 menekankan kejahatan dan keburukan dalam kembali kepada dosa.

Ada saudara yang pernah ditanya, “Seandainya saudara meninggalkan jemaat Kristus, ke manakah saudara akan pergi?”  Dia menjawab, “Ke neraka!”  Entah Alkitab benar, entah salah, Allah tidak berdusta.  Apa yang dikatakan Alkitab mengenai keperluan dari kesetiaan dalam jemaat Kristus, kesetiaan kepada kebenaran, dan kemurnian dari hati dan kehidupan adalah benar tanpa kekecualian.  Alasan-alasan, pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pertimbangan-pertimbangan yang membenarkan diri tidak bisa merubah kenyataan itu.  Kehendak Allah tidak berubah.  Apabila orang berbalik dari Allah, mereka akan dihadapkan dengan akibat yang sangat ngeri.

Apabila seorang anggota dari jemaat kembali kepada dosa yang disengaja dan berhenti setia, sisa dari jemaat harus mengucilkan dia dari jemaat.  Perhatikanlah petunjuk Paulus tentang hal ini di dalam 2 Tesalonika 3:6,14,15.  Baca juga 1 Korintus 5:113, di mana Paulus menghadapi seorang saudara yang hidup di dalam percabulan.

Apabila seorang tidak lagi bisa mempunyai persekutuan dengan umat Allah, dia tidak lagi mempunyai persekutuan dengan Allah.  Orang demikian tidak mempunyai pengharapan lagi sampai dia bertobat dan kembali kepada jalan yang benar.  Untuk mati sementara dalam keadaan murtad berarti hilang untuk selama-lamanya.

Mungkin saudara berpikir bahwa saudara tidak bisa sama sekali berbalik dari Kristus dan jemaatNya.  Tentu ini harus menjadi doa saudara dan tujuan saudara.  Tetapi ingatlah bahwa 1 Korintus 10:12 berkata, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Selalu menyadari bahwa kemungkinan itu ada. Oleh karena itu berjaga-jagalah terhadap pencobaan, terhadap kekecewaan, dan terhadap apa saja yang mungkin membuat kasihmu dan kesetiaanmu menjadi lemah. Jikalau ada pencobaan yang paling kecil untuk murtad, menghadapinya dengan segera. Sementara saudara berbicara dengan Allah, Iblis tidak akan “berbicara” kepadamu.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], Volume 13, dengan judul asli “The Ultimate Tragedy.” Halaman 60-61.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

 

MENJADI PELAKU FIRMAN

Landung Darmo —  December 8, 2016

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”  (Yakobus 1:22).

Kita orang Kristen yang percaya kepada Yesus dan telah bertobat dari dosa harus menjadi pelaku firman.  Pada saat kita bertobat dari dosa, kita berjanji kepada Allah bahwa kita tidak akan hidup di dalam dosa lagi melainkan kita akan hidup menurut firmanNya.  Bagaimanakah kehidupan kita? Apakah kita sudah menjadi pelaku firman atau apakah kita pendengar saja?

Kalau kita mempunyai anak, kita tahu bahwa anak-anak yang tidak melakukan apa yang kita minta memang membuat kita kecewa dan menyesal, bahkan marah.  Anak-anak itu mendengar permintaan kita tetapi mereka tidak melakukannya.  Kita frustrasi, kita kecewa, dan kalau mereka membuat begitu terus, kita menjadi marah!

Apa lagi Allah!  Kita adalah anak-anak Allah dan Allah sudah memberikan kepada kita banyak pesan,  apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Apakah kita mendengar dan taat?  Atau apakah kita mendengar dan tidak memperhatikannya seperti anak-anak kecil yang tidak kedengaran?  Kalau kita tidak mentaati Allah dalam apa yang Dia pesankan kepada kita, maka itu juga membuat Allah marah.  Kita juga akan menerima hukuman karena kelalaian dan keacuh-tak-acuhan kita.

Seringkali kita mengikut ibadah dan mendengar khotbah.  Tetapi khotbah masuk satu telinga dan keluar telinga sebelah.  Firman Allah itu tidak menetap di dalam otak kita sehingga kita merenungkannya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan kita. Kalau kita membaca firman atau mendengar firman disampaikan, kita harus merenungkan atas firman itu dan bagaimana firman itu berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, bagaimana kita bisa mempraktekkan firman itu dalam kehidupan kita.

Ingat bahwa firman itu bukan untuk orang lain.  Seringkali kita cepat menghakimi orang lain dan berpikir, itu bagus kalau Anu hadir dalam kebaktian hari ini, dia yang perlu mendengar khotbah ini.  Kita harus menyelidiki hati kita dahulu.  Mungkin kita juga memerlukan khotbah itu sama dengan dia.

Kalau kita bisa belajar untuk mempraktekkan firman itu di dalam kehidupan kita sehari-hari maka kita akan berbahagia di dalam kehidupan kita dan dalam apa saja yang kita laksanakan.  Marilah kita menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja.

(David Buskirk)

Allah ingin agar semua orang bertobat, oleh karena semua orang telah berbuat dosa (Roma 3:23), dan semua orang yang telah berbuat dosa akan binasa jika mereka tidak bertobat.  Firman Allah mengatakan hal ini kepada kita dalam 2 Petrus 3:9: “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya,tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”  Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui apa maksudnya untuk bertobat.

Pertobatan bukan dukacita karena dosa, tetapi dukacita yang betul menyebabkan seorang untuk bertobat, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” (2 Korintus 7:10).  Jika seorang menyesal karena dia berbuat dosa hanya karena dia menderita karenanya, itulah dukacita yangdari dunia.  Tetapi kalau dia mempunyai dukacita menurut kehendak Allah, dia menyesal karena dia membenci dosa dan mengasihi Allah.

Pertobatan bukan perubahan dalam tingkah laku, tetapi pertobatan menyebabkan perubahan dalam tingkah laku.  Yesus berkata, “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini? Seorang mempunyai dua anak laki-laki.  Ia pergi kepada anak yang kedua dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.  Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau.

Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (Matius 21:28-29).  Dia bertobat dahulu, kemudian pergi.

Jadi kita melihat bahwa pertobatan adalah perubahan dalam hati yang disebabkan dukacita menurut kehendak Allah.  Hati menguasai tingkah laku, jadi perubahan di dalam hati mengakibatkan perubahan di dalam tingkah laku.

BEBERAPA UJIAN PERTOBATAN

Mengetahui maksud Alkitabiah tentang pertobatan, kita bisa mengaplikasikan beberapa ujian untuk melihat jika kita sudah bertobat di hadapan Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita membenci dosa — semua dosa.  Kita membencinya karena itu jahat di mata Allah.  Kita membenci apa yang dibenci Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita mengasihi kebenaran karena itu berkenan kepada Allah.  Kita mengasihi apa yang dikasihi Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita akan berdukacita dengan segera pada saat kita menyadari bahwa kita telah melanggar kehendak Allah dalam sesuatu apapun.

< JIKA kita sudah bertobat, semua yang perlu untuk menyebabkan kita untuk menolak melakukan sesuatu adalah tahu bahwa hal itu tidak berkenan kepada Allah yang mengasihi kita.

< JIKA kita sudah bertobat, semua yang perlu untuk menyebabkan kita melakukan sesuatu adalah untuk mengetahui bahwa itulah kehendak Allah agar kita melakukannya

. < JIKA kita sudah bertobat, kita “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6).  Kita mengasihi kebenaran Allah.  Firman Allah adalah kebenaran.  Yesus berdoa untuk murid-muridNya, “Kuduskanlah mereka di dalam kebenaran: Firmanmu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17).  Itulah satusatunya tempat di mana kita menemukan kebenaran Allah — di dalam FirmanNya, dan kita mempunyai FirmanNya di dalam Alkitab.  Selidikilah di situ untuk kebenaranNya, dan mengikutinya.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], volume 3 dengan judul asli “How Can We Know We Have Repented?” halaman 32-33.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Mengapa Orang Jahat Berhasil?

Landung Darmo —  November 28, 2016

Seringkali di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen kita mengalami banyak tantangan dan kesusahan.  Seringkali kita kecewa dan iman kita menjadi lemah. Walaupun kita berusaha hidup sesuai dengan firman Allah sebaik mungkin, kita tidak minum mabuk, tidak berbuat zinah, tidak mencuri, rajin ikut ibadah, berbuat baik kepada orang lain, dan sebagainya  namun rupanya kita tidak mendapat berkat apa-apa dari Tuhan.  Sedangkan kita melihat orang lain yang sering menipu, minum mabuk, berbuat zinah, jarang ikut ibadah, namun rupanya dia sering berhasil di dalam kehidupannya dan memperoleh banyak berkat.

Mungkin ada orang yang pernah berkata kepada saudara, “Saya bukan anggota jemaat Kristus, saya jarang ikut ibadah, namun Allah banyak memberkati saya.”  Dan saudara melihat bahwa memang mereka memperoleh banyak berkat dari Allah.  Kehidupan mereka berjalan dengan baik.  Dan saudara melihat kehidupanmu sendiri yang penuh dengan kesusahan, penderitaan, dan kekurangan. Mungkin saudara mengalami banyak musibah penyakit dan kerugian walaupun saudara rajin berbuat baik, rajin ikut sembahyang dan rajin hidup sesuai dengan firman Allah.  Terus saudara berpikir, “Apa gunanya saya rajin melayani Tuhan kalau tidak pernah ada berkat dari Tuhan.  Kalau orang lain di luar Kristus memperoleh banyak berkat, untuk apakah saya setia kepada Allah kalau Allah tidak pernah memberkati saya?”  Dan imanmu mulai goyang.

Terus terang, ini suatu soal yang cukup rumit dan saya mengaku bahwa saya tidak mempunyai semua jawaban.  Pada saat-saat itu imanmu sedang dicobai, apakah saudara sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu atau apakah saudara mengasihi dunia ini saja?  Kita harus percaya kepada Allah bahwa pada akhirnya, Allah akan memberkati kita dengan luar biasa asal kita tetap setia.

Marilah kita membaca kitab Ayub fasal 1 dan 2.  Kita melihat bahwa Ayub orang yang paling kaya di sebelah Timur.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Tetapi di dalam satu hari dia kehilangan semua kekayaannya dan anak-anaknya semua mati pada hari itu juga.  Betapa hebat kecelakaannya!  Namun Ayub tidak mau mengutuk Allah.  Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21).

Terus sedikit waktu lagi dia ditimpa dengan bisul yang menutupi seluruh badannya dari telapak kakinya sampai batu kepalanya. Itulah penyakit yang sangat mengerikan. Akhirnya isteri Ayub membujuk dia untuk mengutuk Allah dan mati, tetapi apakah jawaban Ayub?  “Engkau berbicara seperti perempuan gila!  Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).

Ayub fasal 1 dan 2 menunjukkan bahwa ini semua merupakan pencobaan dari Iblis untuk mencobai iman Ayub apakah dia melayani Allah dengan hati nurani sejati atau hanya karena Allah memberkati dia.  Ayub akhirnya lulus pencobaan itu dan Allah memberkati dia dengan jauh lebih banyak (Ayub 42:10-17).

Tetapi di dalam Alkitab banyak orang benar bergumul dengan masalah ini: Kenapa kelihatannya orang jahat berhasil dalam kehidupannya sedangkan orang benar tidak? Raja Salomo juga memperhatikan “Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini:  ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya….Ada suatu kesiasiaan yang terjadi di atas bumi: ada orangorang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.  Aku berkata: ‘Inipun sia-sia!’” (Pengkhotbah 7:15; 8:14).

Asaf juga bergumul dengan masalah ini. Boleh membaca seluruh Mazmur 73 untuk mengerti lebih baik pergumulannya yang mungkin mirip pergumulan saudara mengenai masalah ini.  Misalnya Asaf berkata, “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain” (Mzm. 73:3-5); “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka bertambah harta benda dan senang selamanya!” (ay. 12).  Jadi Asaf juga bergumul dengan masalah ini.  Ini bukan masalah yang baru tetapi masalah yang ada sejak dahulu.  Asaf begitu kecewa melihat keberhasilan orang fasik sehingga dia berkata, “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi” (Mzm. 73:13-14).  Asaf rajin melayani Allah dan hidup sesuai dengan firmanNya namun dia mengalami banyak kesulitan dan penderitaan. Dia menganggap itu semua sia-sia saja. Tetapi apakah jawaban Asaf untuk masalah ini?  Asaf berkata, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka… Kaujatuhkan mereka sehingga hancur, betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan” (Mzm. 73:1619).  Jawabannya adalah di situ.  Walaupun orang jahat berhasil dalam kehidupan ini, pada akhirnya mereka akan dibinasakan di dalam api neraka kalau mereka tidak bertobat, sedangkan orang benar akan masuk ke dalam sorga.  Itulah yang harus menjadi pegangan kita.

Nabi Yeremia juga bergumul dengan soal ini.  Bisa membaca Yeremia 12:1-13.  Yeremia bertanya dalam ayat 1, “Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia?  Engkau membuat mereka tumbuh dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga.”  Yeremia bertanya mengapa Allah memberkati orang jahat itu dan membuat mereka berhasil?  Allah menjawab dalam ayat 7-13 bahwa Dia akan menjatuhkan hukuman atas semua orang jahat itu.

Raja Daud juga mempunyai solusi untuk masalah ini dalam Mazmur 37:1-40.  Daud berkata, “Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.  Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.  Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Mzm. 37:7,8).  Daud juga berkata, “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik” (ay. 16).

Yesus juga mengajar agar kita mengumpulkan harta di sorga (Mt. 6:19-21). Mungkin orang jahat bertambah kaya, tetapi kekayaannya hanya sementara saja.  Kekayaan duniawi akan hancur lenyap satu hari kelak. Tetapi kalau kita mengumpulkan harta di sorga dengan rajin melayani Allah, maka harta itu tetap ada untuk selama-lamanya.

Kenapa orang jahat diberkati?  KarenaAllah itu murah hati yang memberkati semua orang termasuk orang jahat juga.  Yesus berkata dalam Matius 5:45, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”  Yesus juga berkata dalam Lukas 6:35b, “dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orangorang jahat.”

Mungkin kita bisa memandang masalah ini dari pandangan berikut: Orang jahat menikmati kesenangan dalam kekayaan untuk sementara waktu tetapi akan disiksa selamalamanya di dalam api neraka.  Orang benar mengalami banyak kekurangan dan kesulitan sementara di bumi ini tetapi akan menikmati kesenangan kekal di sorga kelak.  Jadi kita mempunyai pilihan: Apakah kita mau bersenang-senang sementara di bumi dan disiksa selama-lamanya dalam neraka?  Atau apakah kita mau menderita sementara di bumi saja dan bersenang-senang selama-lamanya di sorga?

(Ditulis oleh David Buskirk)

 

JEMAAT KRISTUS ITU OTONOM

Landung Darmo —  November 24, 2016

Jemaat yang dibangun Kristus itu satu di dalam jenis, sekalipun terdiri dari banyak jemaat.  Kristus satu-satunya kepala (Efesus 1:22-23), setiap jemaat itu “merdeka dalam pemerintahan; memerintah dirinya sendiri; juga tanpa kontrol dari luar.”  Inilah definisi Webster mengenai “Otonomi.”  Dalam Perjanjian Baru, satu-satunya organisasi yang melalui itu orang Kristen melayani adalah jemaat lokal atau setempat.  Tidak ada organisasi yang mengikat satu jemaat kepada jemaat lain.  Tidak ada konferensi, sinode, atau persekutuan jemaat-jemaat dalam struktur organisasi.

Kecuali “jemaat umum,” keanggotaan orang kudus dalam abad pertama itu tidak ada yang lebih besar dari jemaat lokal.  Sesuatu yang lebih kecil dari semua keluarga Allah, dan sesuatu yang lebih besar dari jemaat lokal, bukanlah “jemaat” seperti yang terdapat dalam Alkitab!  Dalam hal universal, jemaat tidak mempunyai organisasi duniawi, tidak ada “kepala” duniawi.  Hanya Kristuslah “kepalanya” maka pusat satu-satunya adalah di sorga.  Dalam kedudukan “jemaat” dalam Alkitab ada di bawah Kristus, diperintah oleh “penatua” yang dinamakan juga “bishop” (penyelidik), dan pastor (atau gembala) dan itu dilayani “diaken.”  Setiap penatua itu tunduk kepada kepenatuaan, sama seperti setiap diaken, pengkhotbah, guru, dan setiap anggota tunduk kepada kepenatuaan.

Jemaat yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru mempunyai kejamakan “penatua pada setiap jemaat” (Kis. 14:23).  Tiga kata Yunani perlu dicatat dalam hubungan ini: PRESBUTEROS, EPISKOPOS, dan POIMEN. Ketiga kata ini ditujukan kepada orang yang sama di dalam jemaat Tuhan.  “Penatua” (PRESBUTEROS) dari Efesus (Kis. 20:17) dinamakan “pengawas” [atau “penilik” (TB)]. (EPISKOPOS) dalam ayat 28 dikatakan “bishops” dan pekerjaan yang ditugaskan kepada orang ini adalah “memelihara” atau “menjamu” [atau “menggembalakan” (TB)]. (POIMEN) domba Allah atau sebagai “pastor” atau “gembala” domba Allah.  Di dalam Perjanjian Baru ketiga istilah ini (penatua, pastor [gembala], dan bishop [penilik]) adalah nama yang berbeda yang ditujukan kepada orang yang sama.  Rasul Petrus juga menunjukkan ketiga istilah itu kepada orang yang sama.  Dia menulis, “PENATUA (PRESBUTEROS) yang ada di antara kamu saya mendorong . . . GEMBALAKAN . . .” (POIMEN: menjadi pastor atau “gembala” untuk): “MENGGEMBALAKAN umat Allah yang ada di tengah-tengahmu, adakan PENGAWASAN

(EPISKOPOS) (1 Petrus 5:1-2).  Lagi adalah jelas bahwa pada abad pertama itu orang yang sama juga dinamakan “penatua,” “bishop,” dan “pastor.”

Hanya “penatua dan diaken” (Filipi 1:1) sebagai jabatan dalam Jemaat Perjanjian Baru. Untuk setiap jemaat selalu lebih dari satu, yang syaratnya terdapat dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1.  Tidak ada bishop (penatua) yang mempunyai kuasa untuk jemaat jemaat lain kecuali untuk jemaat yang dia dipilih dan diangkat.  Pengkhotbah dan semua Kristen juga, perlu mencatat bahwa pemilihan itu satu proses, dan pengangkatan prosedur lain. JEMAAT Yerusalem dikatakan memilih orang, “pilihlah di antara kamu tujuh orang . . .” tetapi pengangkatan itu oleh rasul atau pengkhotbah (Kis. 6:1-6; catat juga Titus 1:5).

 

DENOMINASI

 

Hal yang sama juga benar dengan gereja denominasi moderen di sekitar kita.  Tidak ada ciri-ciri jemaat seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Baru.  Dalam beberapa hal ada kesamaan tetapi tidak mempunyai CIRI KHAS. Dalam banyak pokok identitasnya sangat kabur.  Nyatanya gereja denominasi berbeda satu sama lain dalam hal iman, nama, ajaran, dan praktek, membuktikan semuanya tidak identik dengan jemaat Perjanjian Baru, karena adalah hal yang dasar dan penting “satu tubuh,” sedangkan denominasi ada banyak tubuh atau badan.

Sidang Jemaat Kristus sekarang ini SERUPA dengan jemaat Perjanjian Baru dalam organisasi, nama, ajaran, dan ibadah.  Jemaat sekarang (seperti pada abad pertama) merdeka, dan otonom, mempunyai “bishop dan diaken” dalam setiap jemaat yang sudah diorganiser.

 

( Diterjemahkan David Buskirk, Pelajaran ini diambil dari Alkitab Mengajar, Vol. IV No. 3, Maret 1992, halaman 12-15.)

Di antara contoh-contoh Alkitabiah dari kesetiaan, Daud berdiri dekat permulaan daftar.  Begitu demikian bahwa Daud diuraikan sebagai, “seorang yang berkenan di hati Allah” (1 Sam. 13:14).  Bagaimanakah Daud menerima pujian sedemikian dari Tuhan?  Selanjutnya, apakah yang bisa kita belajar dari Daud yang akan menyebabkan kita masing-masing untuk menghidupi kehidupan yang lebih setia dan berkenan di hadapan Tuhan?

Suasana umum dari kehidupan Daud menunjukkan alasan Allah mengatakan hal ini mengenai Daud.  Daud tidak sempurna sebagaimana nyata dalam peristiwa dengan Batsyeba, tetapi dia selalu mencari nasehat Allah dalam kerendahan hati dan iman.  Contoh yang unggul dari hal ini adalah waktu Daud melarikan diri dari Saul.  Saul bermaksud untuk membunuh Daud dengan alasan hampa dan sebagai akibatnya Daud terpaksa menghidupi kehidupan sebagai pelarian, berdiam di dalam gua-gua dan gunung-gunung dan hutan-hutan dan padang gurun (1 Sam. 23:1415).  Daud juga terpaksa hidup di dalam negeri-negeri musuhnya orang Moab dan orang Filistin.  Pada waktu-waktu kesusahan inilah Daud menulis kebanyakan mazmurnya. Sepanjang waktu ini, Daud tidak putus asa atau kehilangan imannya dalam Allah. Sebaliknya, sepanjang waktu pencobaan ini, iman Daud dikuatkan.  Tambah pula, walaupun dia mempunyai dua kesempatan, Daud tidak membunuh Saul, yang diurapi Allah (1 Sam. 24 dan 26).

Jadi, sepanjang masa ini, apa yang membuat Daud sebagai seorang yang berkenan di hati Allah?  Pertimbangkanlah daftar yang berikut dan pertimbangkanlah jugabagaimanakah kita bisa mempraktekkan sikap-sikap di dalam kehidupan kita sendiri.  Daud:

  1. Mempercayai Allah sepenuhnya.
  2. Menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Allah.
  3. Melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.
  4. Menantikan Allah dalam masa pencobaan.
  5. Menghargai yang diurapi oleh Allah.
  6. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
  7. Hidup benar di tengah-tengah musuh-
  8. Adalah orang yang murah hati.
  9. Tidak bangga atas kejatuhan Saul.

Semua sikap ini dan lebih banyak lagi membuat Daud “seorang yang berkenan di hati Allah.”  Marilah kita berusaha untuk membuat sikap-sikap Kristus ini sebagian lebih besar dari kehidupan kita juga.

 

Pelajaran ini diambil dari Newsletter Hazel Park Church of Christ, Vol. 37 No. 35, Sunday August 31, 2003, dengan judul asli “A Man After God’s Own Heart.”  Diterjemahkan oleh David Buskirk.