Markus memulai Injil dengan tujuannya, yaitu bahwa Yesus adalah Anak Allah. Markus membuat pernyataan itu pada permulaan Injil yang ditulisnya. Terus dia akan memberi bukti- bukti bahwa Yesus memang adalah Anak Allah.

Permulaan Pelayanan Yesus (Markus 1:1-13)

Injil Markus mulai dengan pelayanan Yesus, bukan seperti Injil Matius dan Lukas yang mulai dengan kelahiran Yesus (1:1).

Yang penting bagi Markus bukan kelahiran Yesus, melainkan kegiatan Yesus. Oleh karena itu, Markus menulis dengan singkat tentang Yohanes Pembaptis dan segera menceritakan tentang pelayanan Yesus (1:2-8).

Waktu Yesus dibaptis, ada suara dari sorga yang berkata, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.” Inilah bukti lain bahwa Yesus adalah Anak Allah (1:9-11).

Murid-Murid Yesus yang Pertama (Markus 1:14-20)

Yesus memberitakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (1:15). Inilah berita Yesus. Dia datang untuk memberitakan Kerajaan Allah dan mendorong orang untuk bertobat dari dosa dan kembali kepada Allah. Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah murid-murid yang pertama-tama dipanggil oleh Yesus (1:16-20).

Mujizat-Mujizat Memberi Bukti Tentang Yesus (Markus 1:21-2:12)

Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa karena Dialah Anak Allah (1:21-28). Yesus mempunyai kuasa untuk mengusir roh jahat. Yesus mempunyai kuasa atas Iblis. Roh jahat itu sudah mengenal Yesus dan takut terhadap Yesus. Roh-roh jahat mengaku Yesus sebagai Anak Allah, tetapi Yesus tidak mau pengakuan itu berterus terang di muka umum karena nanti akan mempersulit pelayananNya. Kalau kita sudah menjadi murid Yesus, tidak boleh kita takut terhadap roh jahat karena Allah lebih berkuasa.

Kemudian Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang-orang lain (1:29-45). Ini membuktikan bahwa Yesus juga mempunyai kuasa atas penyakit.

Selanjutnya, Yesus menyembuhkan seorang lumpuh, tetapi Yesus mengampuni dosanya dahulu (2:1-12). Ahli-ahli Taurat berpikir bahwa Yesus menghujat Allah karena hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Markus menunjuk di sini bahwa karena Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan orang lumpu, maka Dia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa karena Yesus adalah Allah.

Lewi Dipanggil (Markus 2:13-17)

Lewi adalah seorang pemungut cukai. Yesus bergaul dengan semua orang bahkan pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Farisi menghindari orang-orang semacam itu dan merendahkan Yesus karena Dia bergaul dengan orang-orang itu. Tetapi Yesus menjawab, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (2:17b). Itulah tujuan Yesus di bumi ini, untuk menyelamatkan orang berdosa. Kita juga harus bergaul dengan semua orang, bahkan orang yang terendah dalam masyarakat, orang-orang yang dengannya orang lain tidak mau atau biasa bergaul. Semua orang perlu keselamatan yang diberikan Yesus. Yesus mati bagi semua orang.

Pertanyaan Tentang Puasa (Markus 2:18-22)

Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa tetapi murid-murid Yesus tidak. Mereka ingin tahu kenapa. Yesus menjawab bahwa selama Dia ada di bumi, tidak usah berpuasa, karena ada sukacita. Akan datang waktunya apabila Yesus mati. Pada waktu itu murid-muridNya akan berpuasa. Yesus datang untuk membawa agama baru. Kita tidak boleh mencocokkan agama yang dibawa Yesus sesuai dengan pendapat dan keinginan kita sendiri. Kita harus mencocokkan diri kita dengan agama Yesus itu.

Yesus Adalah Tuhan atas Hari Sabat (Markus 2:23-3:6)

Orang Farisi menuduh murid-murid Yesus bahwa mereka melanggar hukum tentang hari Sabat karena mereka memetik gandum untuk memakannya (2:23-28). Menurut orang Farisi, mereka menuai atau bekerja dan memang itu dilarang oleh Hukum Taurat.

Yesus menjawab bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat (2:27). MaksudNya, Allah mengadakan hari Sabat untuk kebaikan manusia supaya manusia bisa istirahat, menyembah Allah, mengutamakan hal rohani. Allah tidak mengadakan hari Sabat untuk meletakkan beban berat atas manusia supaya manusia menderita.

Waktu Yesus berkata bahwa Dialah Tuhan atas hari Sabat (2:28), Dia tidak bermaksud bahwa Dia mempunyai hak untuk melanggar hari Sabat, melainkan, oleh karena Dialah Allah, Dia tahu maksud Allah tentang hari Sabat itu.

Kemudian, Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (3:1-6). Menurut orang Farisi, menyembuhkan termasuk pekerjaan dan tidak diperbolehkan oleh Hukum Taurat. Yesus menjawab bahwa orang bisa berbuat baik pada hari Sabat. Itu tidak menjadi persoalan juga. Itulah orang-orang Farisi yang salah mengerti.

Tetapi orang Farisi mau membuat persoalan. Mereka sangat tidak setuju dengan pendapat, ajaran dan perbuatan Yesus. Mereka merasa terancam oleh Yesus dan berpendapat bahwa Yesus menyesatkan rakyat. Oleh karena itu, mereka bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus (3:6). Ingatlah, bahwa orang Farisi dan orang Herodian saling bermusuhan.

Yesus Memanggil Kedua Belas Murid (Markus 3:7-19)

Ada banyak orang yang mengikut Yesus. Yesus memilih dua belas orang di antara mereka untuk menjadi rasulNya (3:13-19). Yesus menghendaki mengajar dan mendidik mereka lebih dari yang lain. Mereka yang akan melaksanakan pekerjaan Yesus di bumi ini setelah Dia naik ke sorga. Mereka akan mendirikan jemaatNya pada hari Pentakosta dan terus menyebarkan injil ke seluruh dunia.

Pengajaran Yesus (Markus 3:20-4:34)

Ada pertengkaran lagi antara Yesus dan ahli-ahli Taurat. Ahli-ahli Taurat berkata bahwa Yesus kerasukan setan dan oleh kuasa Beelzebul, Yesus mengusir setan (3:20-30). Yesus menunjuk bahwa pikiran itu bodoh sekali. Kalau setan mengusir setan, bagaimanakah dia bisa bertahan? Tidak bisa. Itulah hujat terhadap Roh Kudus, yaitu, orang menyamakan Roh Kudus dengan Beelzebul atau Iblis. Orang yang tidak mau mengaku kuasa Roh Kudus, tidak bisa diampuni karena hati mereka terlalu keras untuk bertobat.

Terus, kaum keluarga Yesus mau bertemu dengan Yesus (3:31-35). Yesus berkata bahwa orang yang melakukan kehendak Allah adalah kaum keluarga Yesus. Jika kita melakukan kehendak Allah, kita termasuk di dalam kaum keluarga Yesus, yaitu keluarga Allah. Keluarga Allah lebih penting dari pada keluarga jasmani.

Dalam fasal empat Yesus mulai mengajar dengan perumpamaan. Yang pertama adalah perumpamaan tentang seorang penabur (4:1-20). Pelajaran dasar adalah bagaimana orang menerima injil Kristus.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang pelita (4:21-23) adalah rahasia Kerajaan Sorga akan dinyatakan dan diberitakan ke seluruh dunia.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang ukuran itu (4:24-25) adalah orang akan dihakimi menurut nilai yang dia pakai untuk mempertimbangkan apa yang dia dengar. Orang yang menerima kebenaran dan melakukannya akan diberkati banyak. Orang yang menolak kebenaran itu akan dihukum.

Pelajaran dasar perumpamaan tentang benih yang tumbuh (4:26-29) adalah injil mempunyai kuasa sendiri.

Pelajaran dasar tentang biji sesawi (4:30-34) adalah Kerajaan Sorga akan disebarkan ke seluruh dunia.

Mujizat-Mujizat Lain (Markus 4:35-5:43)

Yesus dan murid-muridNya naik sebuah perahu untuk menyeberang danau Galilea (4:35-41). Ada taufan yang bahaya dan murid-muridNya menjadi takut. Yesus meredakan laut itu. Yesus mempunyai kuasa atas alam. Ini juga memberi bukti bahwa Yesus adalah Anak Allah, yang menciptakan langit dan bumi.

Yesus datang di seberang danau dan ketemu seorang yang kerasukan banyak roh jahat (5:1- 20). Yesus mengusir roh jahat itu dan membiarkan mereka masuk babi-babi yang dekat. Babi- babi itu jatuh dari tepi jurang ke dalam danau dan mati.

Terus, Yesus diminta untuk membantu seorang kepala rumah ibadat yang mempunyai anak perempuan yang sakit, hampir mati (5:21-43). Yesus pergi tetapi dalam perjalanan, seorang perempuan yang sakit pendarahan menjamah pakaian Yesus dan disembuhkan dengan segera. Anak Yairus sudah mati tetapi Yesus akan membantu dan menyembuhkan dia. Yesus juga mempunyai kuasa atas alam maut.

Markus menulis peristiwa-peristiwa ini untuk menunjuk bahwa Yesus mempunyai kuasa atas alam, penyakit, dan kematian. Yesus orang yang berkuasa, dan Dia senang mempergunakan kuasa itu untuk membantu dan melayani orang lain. Ini juga membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

*Pelajaran ini dari Survei Perjanjian Baru Jilid 1 oleh David G. Buskirk

Ebook Survei Perjanjian Baru Gratis

Kristus memperlihatkan kepada manusia segala sifat yang baik, termasuk kasih-Nya yang tidak terbandingkan.

“ ..sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan..” (Efesus 3:17-19).

Bagaimanakah kasih-Nya yang begitu hebat menjadi teladan bagi kita?

Kasih Yesus

Kasih Kristus Tidak Bersyarat-syarat

Janji-janji Kristus bersyarat-syarat,tetapi tidak demikian dengan kasih-Nya. Kristus tidak menetapkan prasyarat agar kita dikasihi oleh-Nya. Ia tidak berkata, “Berbuat baik terlebih dahulu, baru Aku tunjukkan kasih kepadamu.” Paulus menerangkan kasih Allah dan Kristus dalam Roma fasal 5 :

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati – akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ayat 6-8).

Ia telah berusaha menarik orang berdosa kepada-Nya oleh kasih yang begitu besar. Ia tidak mengancam bahwa kasih-Nya akan ditarik kecuali kita berjalan hati-hati, atau atas pelanggaran apa saja kasih-Nya mogok. Manusia tidak diwajibkan terlebih dahulu mengasihi Allah supaya Ia rela membuktikan kasih-Nya kepada kita.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”(1 Yohanes 4:19), dan “ Inilah kasih itu : bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10).

Allah mengambil inisiatif untuk memanggil manusia kepada-Nya dengan rencana penebusan. Oleh karena pelanggaran akan firman-Nya, manusia tersesat dalam dosanya tanpa jalan keluar.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Syukurlah bahwa Allah membuat suatu rencana demi keselamatan isi dunia! Yang menggerakkan hati-Nya adalah kasih sayang yang abadi.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Kasih Kristus akan semua manusia tidak dapat disangkal.

“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya “(Yohanes 13:1).

Tercatat lagi dalam Efesus 5:2, “ ..dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

Kasih Kristus Tidak Terbatas

Kasih-Nya tidak terbatas oleh kesukaan diri atau tingkat status sosial seseorang. Dia tidak membatasi kasih-Nya hanya kepada orang yang dekat kepada famili, atau orang dengan minat dan kemauan yang sama, ataupun yang ikut bersama-sama dengan Dia. Sebaliknya Ia mengajarkan dan mempraktikkan kasih kepada musuh-musuh-Nya.

“Kamu telah mendengar firman : Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43,44).

Oleh karena Yesus sungguh-sungguh mengasihi semua orang, Ia tidak  membalas dendam kepada orang yang mengejek, mencaci-maki, dan menganiaya Dia. Bahkan _Ia berdoa demi  mereka yang menyalikbkan-Nya,

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).

Kita perlu mencontoh kasih Kristus itu sambil menjadi anak Bapa sorgawi dalam sifat dan praktik.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi oang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga  berbuat demikian” (Matius 5:45,46).

Kasih Kristus tetap kepada kita kemana saja jalan yang kita menempuh. Kasih-Nya tidak digoyahkan oleh waktu, jarak, jaman, keadaan, ataupun emosi. Kasih-Nya tidak berkurang apabila kasih orang lain berkurang terhadap Dia, melainkan terus berjalan dan dinyatakan dimana-mana dalam dunia ini. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis:

“Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:35-37).

Kasih Kristus Tidak Berobah-obah

Ketika Ia mengalami kesusahan atau penganiayaan, kasih-Nya tetap. Dalam hal menghadapi siksaan dan maut di kayu salib, kasih-Nya tetap dan tidak berobah. Murid-murid-Nya lari meninggalkan Yesus sewaktu Ia ditangkap dan diadili dihadapan Pilatus, tetapi kasih-Nya tidak bergoyang-goyang. Jikalau kasih-Nya tidak tetap Ia tentu saja tidak rela disalibkan, bahkan menolaknya, dan penebusan manusia gagal. Pada waktu yang lain, banyak murid-Nya berpaling dan tidak terus mengikut karena ajaran-Nya dianggap terlampau berat.

“Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “ Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”… Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yohanes 6:60,66).

Tercatat bahwa jemaat Tuhan di Efesus memiliki kasih yang hangat pada mulanya tetapi tidak lama kemudian menjadi dingin karena mereka meninggalkan kasih semula. Yesus menegor mereka:

“Namum demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasih yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Wahyu 2:4,5).

Hal itu merupakan bahaya bagi kita semua. Kita harus berjaga-jaga supaya kasih kita kepada Tuhan dan kepada manusia tetap bernyala. Yesus berkata,

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan ; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41).

Paulus mengingatkan kita tentang tujuan yang semestinya dikejar orang Kristen.

“Tujuan nasehat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas” (1 Timotius 1:5).

Seseorang boleh secara pura-pura menyatakan kasih, sedangkan hatinya tidak sungguh-sungguh. Dia berbicara dan mengakui kasihnya yang besar tetapi buktinya tidak terlihat. Rasul Yohanes berkata,

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Kasih kepada Allah dan kepada manusia terbukti dalam perbuatan dan pelayanan. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya,

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15),

dan,

“Dengan demikian semua orang tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

Menurut nas ini kasih yang benar diperlihatkan apabila kita berbuat sesuatu, yaitu mentaati perintah Kristus dan mempraktikkan kasih kepada saudara-saudara seiman. Sekiranya kita tidak melakukan dua hal ini, sudah jelas kasih kita tidak tulus ikhlas dan kita hanya menipu diri. Apakah Anda taat kepada perintah Tuhan? Jikalau tidak, jangan  mengaku diri mengasihi Tuhan karena perbuatan Anda menghambarkan pengakuan itu. Apakah Anda memperlakukan orang lain dengan kasih yang sungguh-sungguh yang dibuktikan dalam perbuatan?

Kasih Kristus Tidak Mementingkan Diri, Melainkan Mementingkan Orang Lain, Dan Bersedia Memberi

Paulus berkata bahwa Kristus begitu mengasihi dia, dan termasuk semua orang, sehingga Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita.

“Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

Hanyalah kasih yang tidak ternilai boleh menggerakkan seseorang untuk menyerahkan dirinya bagi oang lain, terlebih lagi kalau mereka tidak berminat membalas kasihnya. Itulah kasih Kristus menurut rasul Paulus.

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Roma 5:6).

Tertulis pula dalam Efesus 5:25,

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Kepada murid-murid-Nya Kristus berkata,

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34).

Tercatat dalam 1 Korintus 13 suatu penguraian kasih dalam ciri-cirinya. Termasuk dalam sifat kasih yang benar adalah,

“..Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri” (ayat 4,5).

Orang yang tidak mau memberi, ternyata tidak memiliki kasih yang abadi. Orang yang memegahkan diri sambil menganggap yang lain rendah, ternyata tidak memiliki kasih sejati. Jemaat di Makedonia meminta Paulus menerima dana mereka untuk orang miskin di Yerusalem walaupun mereka sendiri dalam keadaan sangat minus. Perbuatan mereka adalah tanda kasih yang sungguh-sungguh dan sangat luas.(1 Kor.8:1-5). Karena mereka melupakan keperluan diri dan benar-benar mempedulikan keadaan saudara-saudara seiman, mereka memberi supaya keperluan orang miskin di Yerusalem dicukupi.

Jikalau kita tidak mengerti kasih yang benar menurut Alkitab dan tidak mengikuti kasih Kristus dalam hidup sehari-hari, banyak persoalan akan timbul yang sulit kita hadapi. Kita perlu mempraktikkan kasih dalam rumah tangga supaya semua anggota keluarga mengenal kasih abadi dan mengalami berkatnya. Kasih akan memperlancar hubungan anggota rumah tangga dan membereskan banyak persoalan yang muncul dari waktu ke waktu. Kasih akan menyelesaikan persoalan-persoalan yang melanda jemaat dan sering menghancurkan hubungan saudara-saudara seiman. Hampir semua persoalan itu dapat dipecahkan dan diatasi dengan mempraktikkan kasih persaudaraan.

Apakah Anda sedang mencontoh kasih Kristus? Apakah Anda mengasihi Allah dan kebenaran-Nya? Apakah Anda mengasihi jiwa diri dan ingin diselamatkan? Marilah kita mengikuti jejak Kristus dalam kasih yang abadi dan sempurna.

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.

Kristus tetap dalam doa. Hubungan dengan Bapa-Nya dijaga dengan baik-baik dan dipelihara dan diteruskan dalam doa. Ia banyak mengajar tentang doa, tetapi lebih dari itu, Ia senantiasa mempraktikkan doa. Sekalipun Ia adalah oknum ilahi, didunia ini kehidupan-Nya bersandar kepada doa. Ia dikuatkan dan hati-Nya ditenangkan melalui doa. Dalam khotbah di bukit, Yesus memberikan syarat-syarat dan ciri-ciri doa yang berkenan kepada Allah (Matius 6:5-15). Apakah petunjuk-petunjuk yang diuraikan tentang doa?

Pray Like Jesus

Ciri-Ciri Doa

Janganlah munafik.

“Dan apabila kamu berdoa,janganlah berdoa seperti orang munafik” ( Matius 6:5).

Orang itu menyerupai orang yang saleh. Mereka mau dilihat manusia sebagai orang yang sangat saleh supaya dikagumi dan dipuji. Tujuan dan kelakuan mereka menghambarkan doa yang mereka panjatkan. Kesenangan diri dan tanggapan orang lain harus disingkirkan apabila kita berdoa. Doa seharusnya tertuju kepada Allah bukannya manusia. Tak mungkin manusia mengabulkan doa kita atau memberi berkat rohani. Apabila kita mencari perhatian manusia dalam doa, doa itu sudah batal. Paulus berkata, “Jadi, bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” ( Galatia 1:10).

Doa yang panjang dan penuh dengan kata-kata muluk untuk melagak kepada orang ditolak oleh Allah. (Matius 6:7). Orang yang berdoa tetapi tidak berjalan sesuai dengan prinsip dan petunjuk dalam firman Tuhan tidak akan didengar oleh Allah. Allah pernah melarang nabi Yeremia berdoa demi bangsa-Nya karena mereka bersikeras dalam dosa.

“Adapun engkau, janganlah naikkan permohonan dan doa untuk mereka, sebab Aku tidak akan mendengarkan pada waktu mereka berseru kepada-Ku karena malapetaka mereka“ (Yeremia 11:14).

Janganlah kita mengharapkan berkat Tuhan dicurahkan dalam hidup kita seraya kita berjalan bertentangan dengan kebenaran-Nya.

Berdoa Secara Pribadi (Matius 6:6)

Doa umum didepan perhimpunan jemaat boleh dipimpin oleh orang lelaki, tetapi tekanan Yesus dalam ayat ini adalah tentang doa pribadi. Kita wajib meluangkan waktu untuk berdoa dengan keluarga dan untuk berdoa sendirian. Banyak orang terlampau sibuk untuk berdoa, maka mereka mengabaikannya dan lupa akan Tuhan. Jikalau kita terlampau sibut untuk berdoa sekarang, jangan heran nanti jika Kristus terlampau sibuk untuk mendengar dan menerima kita!

Yesus tetap dalam doa dan sering memisahkan diri dari murid-murid-Nya untuk doa khusus. Sebelum Ia memilih kedua belas rasul itu, Ia berdoa sepanjang malam. (Lukas 6:12). Ia menyuruh kita masuk dalam kamar dan berdoa di tempat tersembunyi. Allah akan  mengabulkan dan membalas doa seperti itu yang berkenan kepada-Nya.

Yakobus menguraikan bahwa doa kita jangan dipusatkan kepada kemauan memuaskan diri. Tidak salah bahwa kita menyampaikan permintaan diri kepada Allah, tetapi janganlah tujuan doa hanya untuk memuaskan diri sendiri.

“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:2b, 3).

Kristus mengajarkan lagi bahwa doa kita terhalang jika kita tidak rela memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu..” (Markus 11:25).

Kita wajib memeriksa diri sebelum kita berdoa. Apakah ada perasaan dendam, benci, iri hati, atau pertengkaran yang terpendam dalam hati? Semua perkara itu harus dibereskan terlebih dahulu supaya kita layak menaikkan permintaan kita dalam doa. Dosa yang tersimpan dalam hati ataupun yang berjalan dalam hidup kita akan mencegah doa kita sampai kepada Bapa sorgawi.

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:1,2).

Tentu seorangpun tidak mungkin hidup sempurna tanpa dosa, tetapi janganlah kita dengan sengaja berbuat dosa, atau dengan sadar akan dosa belum mau bertobat atau minta ampun. Isi hati yang tidak senonoh dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Allah merupakan penghalang doa. Solusinya bukanlah melupakan doa, melainkan bertobat dan membenahi prilaku yang bertentangan dengan kebenaran.

“Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku memalingkan muka-Ku,bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah” (Yesaya 1:15).

Beberapa ciri doa ditunjukkan dalam perumpamaan Yesus tentang seorang janda ( Lukas 18:1-8). Dalam nas ini kita melihat bahwa kita perlu tetap dalam doa.“ ..mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” ( ayat 1).

Bukan bahwa kita setiap detik terus-menerus berdoa, melainkan bahwa kita harus tetap secara rutin dalam doa, bahwa kita sering meluangkan waktu untuk berdoa. Meskipun nabi Daniel seorang pejabat dalam pemerintah Babil, ia selalu mengambil waktu untuk berdoa.

“Demi didengar Daniel,bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalam; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” ( Daniel 6:11).

Daniel yakin dan percaya akan kepentingan doa dan sekalipun  diancam oleh orang lain ia tidak melalaikannya. Begitupun si pemazmur menyatakan praktiknya dalam doa, “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku” ( Mazmur 55:17).

Lagi, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” ( Mazmur 119:164).

Kita tidak perlu menunggu seorang penginjil atau pelayan jemaat untuk berdoa. Kita tidak perlu seorang manusia sebagai pengantara – kita boleh langsung mendekati Allah melalui Yesus Kristus.

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim.2:5).

Orang janda itu dalam perumpamaan Yesus berketetapan mambawa kasusnya kepada hakim yang tidak adil. Ia tidak jemu-jemu mendekati si hakim itu karena kasusnya dianggap sangat genting. Pada mulanya hakim itu tidak perduli akan permintaan orang janda yang datang kepadanya, tetapi karena si janda terus-terusan datang membuka kasusnya, ia akhirnya mengabulkan permintaannya. Andaikata janda itu datang sekali, atu sekali sebulan, ataupun dua kali setahun, tentu ia tidak berhasil. Kalau ia kurang bersemangat karena tidak ada pengantar atau seorang teman yang menyertai dia, ia tidak berhasil. Kalau ia berpikir bahwa si hakim tidak akan memperhatikan seorang miskin atau seorang biasa, ia tidak berani membawa kasusnya kepadanya. Tidak ada orang yang mendorong atau menolong dia, tetapi ia terus datang dan minta. Bagaimanapun halangan dan rintangan yang muncul tiap hari, orang janda itu tetap dalam usahanya menyampaikan permintaan kepada si hakim. Allah mengharapkan bahwa anak-anak-Nya bersifat demikian sehingga mereka rajin dan tetap dalam doa. Soalnya, apakah kita cukup beriman untuk melaksanakan yang diharapkan Allah?

“Akan tetapi, jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapat iman di bumi?” (Lukas 18:8).

Yesus Mengajar Tentang Kuasa dan Berkat Yang Tercantum Dalam Doa.

Doa adalah satu-satunya kuasa manusia yang dapat mempengaruhi Allah. Allah membuka telinga-Nya kepada mereka yang berjalan dalam kebenaran dan mencurahkan isi hati mereka kepada-Nya dalam doa.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan  mendapat ; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:7-11).

Petrus menambah,“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat” (1 Petrus 3:12).

Orang Kristen menetapkan hubungan dengan Allah melalui doa supaya saluran berkat-Nya terus terbuka baginya. Allah menghendaki anak-anak-Nya senantiasa mendekati Dia dengan permohonan dan ucapan syukur. Kalau kita tidak mau berkomunikasi dengan Bapa kita di sorga, bagaimanakah tanggapan-Nya terhadap kita? Jika seorang anak di dunia ini tidak mau berkomunikasi dengan orang tuanya, bagaimanakah perasaan mereka?

Tuhan berjanji bahwa pertolongan akan diberikan kepada anak-anak-Nya yang meminta.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia akan memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Ketika pencobaan menimpa kita, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk berdoa.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan : roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Lagi, “..dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus” (Efesus 6:18).

Sekali lagi kita kembali menelaah Lukas 18, dimana Yesus berkata, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum  menolong mereka? Aku berkata kepadamu : Ia akan segera membenarkan mereka” (Lukas 18:7,8a).

Kuasa dan kesempatan doa tetap terbuka bagi setiap anak Allah. Meskipun demikian, kita tidak boleh berdoa sembarangan saja, melainkan harus menuruti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan Tuhan dalam firman-Nya. Yakobus berkata, “Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Yesus telah memberikan kepada pengikut-pengikut-Nya suatu teladan sempurna dalam hal berdoa, yang layak kita mencontoh. Janganlah kita melewati doa. Janganlah kita melewati berkat-berkat Tuhan yang Ia curahkan dalam doa. Marilah kita senantiasa berdoa! “Tetaplah  Berdoa” ( 1 Tess. 5:17).

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.

Gospel of Mark

Penulis

Penulis Injil ini adalah Yohanes Markus. Dia disebut sepuluh kali di dalam Perjanjian Baru. Kita membaca tentang dia pertama-tama dalam Kisah 12:12. Dalam ayat itu, kita melihat bahwa jemaat di Yerusalem bertemu di dalam rumah ibunya. Bahwa mereka mempunyai rumah yang cukup besar untuk perkumpulan jemaat, dan bahwa mereka mempunyai seorang hamba, berarti bahwa Yohanes Markus berasal dari keluarga yang kaya atau yang mempunyai uang yang cukup banyak.

Di dalam Kisah 12:25 dan 13:5, kita melihat bahwa waktu Paulus dan Barnabas hendak berangkat dalam perjalanan misi yang pertama, mereka membawa Yohanes Markus juga untuk membantu mereka. Tetapi Yohanes Markus tidak bertahan begitu lama dalam perjalanan misi itu karena dia meninggalkan Paulus dan Barnabas di Perga dan kembali ke Yerusalem (Kis. 13:13). Kita tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Yohanes Markus meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem, tetapi itu sudah jelas bahwa Paulus tidak senang dengan kelakuan Yohanes Markus itu. Sebab, waktu Paulus dan Barnabas ingin berangkat dalam perjalanan misi yang kedua, Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, tetapi Paulus sama sekali tidak mau. Paulus dan Barnabas masing-masing begitu keras tentang kemauan mereka sehingga terjadi perpisahan antara mereka dua. Barnabas, yang membela Yohanes terus, membawa dia dan mereka bersama-sama pergi ke pulau Siprus sedangkan Paulus membawa Silas dan mereka pergi ke Siria dan Kilikia (Kis. 15:36-41).

Kelihatannya, bahwa Paulus dan Yohanes Markus berdamai karena apa yang ditulis Paulus dalam surat-suratnya nanti. Dalam Kolose 4:10, Paulus mendorong jemaat di Kolose untuk menyambut dia. Juga dalam Filemon 1:24, Markus ada bersama dengan Paulus di Roma dan Paulus menyampaikan salam kepada Filemon dari Markus. Juga pada akhir kehidupan Paulus, waktu dia berada di Roma kali yang terakhir sebelum dia dihukum mati, Paulus menulis kepada Timotius dengan pesan, “Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku” (2 Tim. 4:11). Dulu Paulus tidak menganggap Markus layak untuk mengikut mereka memberitakan injil. Tetapi dalam jangka waktu dua puluh tahun, Markus menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab dan rajin dalam pelayanan injil sehingga Paulus memuji Markus karena pelayanannya. Orang bisa berubah.

Markus juga bersama dengan Petrus di Roma (1 Ptr. 5:13). Ada tulisan dari Papias, seorang Kristen yang terkenal pada pertengahan abad kedua, yang berkata bahwa Markus adalah teman sekerja Petrus dan bahwa Markus mengumpulkan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Petrus tentang Yesus dan menuliskannya dalam satu buku. Kalau begitu, mungkin Injil Markus lebih baik disebut Injil Petrus.

Tahun Ditulis

Lagi, kita tidak tahu dengan pasti tahun berapa Injil Markus ditulis. Tetapi menurut pendapat banyak orang, Injil Markus ditulis sekitar tahun 55 atau 60.

Penerima dan Tujuan

Dari ciri-ciri Injil Markus sendiri, sudah nyata bahwa Injil ini ditulis kepada orang-orang Roma. Bahwa Injil ini tidak ditulis kepada orang-orang Yahudi sudah nyata dari beberapa hal. Pertama, Markus menjelaskan beberapa adat-istiadat orang Yahudi (7:2-4; 15:42). Orang Roma, yang tidak tahu tentang adat-istiadat orang Yahudi memerlukan penjelasan. Yang kedua, Markus menterjemahkan kata-kata bahasa Aram (3:17; 5:41; 7:11,34; 15:22). Bahasa Aram adalah bahasa umum yang dipakai di tanah Israel. Hanya orang-orang Roma yang tinggal di tanah Israel yang mungkin tahu bahasa Aram. Orang-orang di kota Roma memakai bahasa Latin dan bahasa Yunani. Yang ketiga, tidak ada banyak kutipan dari Perjanjian Lama. Orang-orang Roma tidak tahu apa-apa tentang Kitab Suci orang Yahudi, dan tidak perlu menunjukkan bahwa Yesus ini yang menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Kalau melihat Injil Matius, yang ditulis kepada orang-orang Yahudi, ada banyak sekali kutipan dari Perjanjian Lama. Yang keempat, Markus berusaha menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Orang-orang Yahudi ingin tahu apakah Yesus Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci. Orang-orang Roma tidak mempedulikan hal itu. Apa yang mereka ingin tahu, apakah Yesus ini memang Anak Allah atau tidak. Jadi, kelihatannya Injil Markus ini ditulis khusus untuk orang-orang Roma.

Lagi, seperti dikatakan di atas, Markus menulis Injil ini untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah, bahwa Dia mempunyai kuasa atas alam, penyakit, roh-roh jahat, dosa, dan maut. Yesus mempunyai kuasa, Dia mengasihi orang, dan datang untuk menebus orang dari dosanya. Orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi orang yang tidak percaya akan dihukum (Mk. 16:15,16).

Garis Besar

  1. Bukti-Bukti bahwa Yesus Adalah Anak Allah (1-5)
  2. Ketidaktentuan bahwa Yesus Adalah Anak Allah (6-10)
  3. Yesus Ditolak Sebagai Anak Allah (11-13)
  4. Yesus Dinyatakan Sebagai Anak Allah dalam KematianNya dan KebangkitanNya (14-16)

Yesus sudah menyatakan kejahatan hati orang-orang Farisi di muka umum. Dengan berbuat demikian, Yesus memalukan dan menghina mereka. Yesus bernubuat bahwa Yerusalem akan dibinasakan satu hari kelak oleh karena kejahatan orang-orang Yahudi. Kita harus siap sedia. Orang-orang Farisi sekarang berunding bagaimana mereka bisa menangkap Yesus dan membunuh Dia. Mereka sungguh-sungguh merasa terancam oleh Yesus. Mereka tidak mau bertobat dari dosa mereka. Mereka hanya mencari kepentingan sendiri. Yesus akan disalibkan, dan oleh kematianNya di kayu salib Dia akan menebus manusia dari dosanya dan memberikan hidup yang kekal kepada umat manusia yang percaya kepadaNya.

Crucifixion of Jesus Christ

Rencana untuk Membunuh Yesus (Mt. 26:1-5)
Yesus memberitahukan kepada murid-muridNya lagi bahwa Dia akan disalibkan. Pemimpin- pemimpin agama Yahudi sangat marah dan sepakat untuk menangkap Yesus dan membunuhNya.

Yesus Diurapi (Mt. 26:6-13)
Ada perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal. Dia melakukannya untuk mempersiapkan Yesus untuk penguburanNya. Kita tidak boleh mengeritik atau merendahkan orang yang berbuat baik.

Yudas Setuju untuk Mengkhianati Yesus (Mt. 26:14-16)
Kita tidak tahu kenapa Yudas ingin menyerahkan Yesus kepada pemimpin-pemimpin Yahudi. Mungkin dia marah terhadap Yesus dan mau membalas? Mungkin dia meminta kuasa atau sesuatu hal lain dari Yesus dan Dia tidak memberikannya? Mungkin Yudas hanya mau mencari uang dan melihat bahwa ini kesempatan yang baik? Kita tidak tahu kenapa Yudas berbuat begitu tetapi itulah sudah di dalam rencana Allah.

Perjamuan Paskah (Mt. 26:17-29)
Perjamuan Paskah itu adalah suatu perjamuan untuk memperingatkan keluaran bangsa Israel dari Mesir. Dalam perjamuan ini Yesus menunjuk Yudas sebagai orang yang akan mengkhianati Dia. Yesus juga menetapkan Perjamuan Tuhan agar pengikut-pengikutNya memperingatkan korbanNya di kayu salib (Mt. 26:26-28). Dia berkata bahwa roti itu adalah tubuhNya dan anggur itu adalah darahNya yang ditumpahkan untuk pengampunan dosa. Oleh darah Yesus kita dapat diampuni dari dosa kita.

Petrus Akan Menyangkal Yesus (Mt. 26:31-35)
Mungkin murid-murid Yesus belum mengerti atau belum menerima pemberitahuan bahwa Yesus akan mati. Mereka siap untuk berperang bersama dengan Yesus, bahkan sampai mati untuk mendirikan kerajaan Israel kembali. Yesus berkata bahwa mereka semua akan melarikan diri. Mereka belum mengerti.

Di Taman Getsemani (Mt. 26:36-46)
Yesus sangat susah dan sedih. Yesus juga manusia dan Dia tidak mau menderita atau mati di kayu salib. Dia belum pernah berbuat dosa, dan Dia tahu bahwa di atas kayu salib, Dia akan memikul dosa seluruh dunia padaNya. Dia akan dicemarkan oleh dosa dan kejahatan kita. Itu yang membuat Dia paling susah dan gentar karena Dialah suci dan kudus dan tidak pernah dijamah oleh dosa. Dosa adalah kejijikan bagi Yesus dan Allah. Dia tahu bahwa Allah akan meninggalkan Dia untuk pertama kali sejak kekekalan. Karena Yesus memikul dosa kita, maka Dia tidak bisa kembali kepada kedudukanNya yang asli di sorga. Yesus tahu bahwa Dia akan harus tunduk kepada Allah untuk selama-lamanya. Yesus susah sekali dan dari saat ini sampai Dia mati, kesusahanNya akan makin besar. Dia mau dan minta dari Allah supaya Dia tidak harus mati. Tetapi tidak ada cara lain untuk manusia diselamatkan. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib dan menjadi korban penghapus dosa bagi kita, maka tidak ada seorangpun yang dapat masuk ke dalam sorga. Yesus tidak akan melakukan kehendakNya, melainkan kehendak Allah. Yesus selalu melakukan kehendak Allah.

Yesus Ditangkap (Mt. 26:47-56)
Yudas datang untuk menyerahkan Yesus kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi (26:47- 50). Petrus sudah siap bertengkar dan memutus telinga hamba Imam Besar (26:51-54). Petrus tidak mau agar Yesus ditangkap dan mau mulai perang untuk mendirikan kembali kerajaan Israel. Yesus menegor Petrus. Jikalau Yesus mau melawan, maka Dia bisa memanggil 72.000 malaikat dari sorga untuk membantu Dia, tetapi itu bukan tujuanNya. Yesus menyerahkan diriNya sendiri ke dalam tangan mereka. Yesus tidak ditangkap dengan paksa. Yesus rela mati bagi umat manusia.

Waktu murid-muridNya melihat bahwa Yesus tidak mau berjuang, dan bahwa Dia ditangkap sebagai orang jahat, mereka menjadi takut dan melarikan diri. Mereka juga tidak mau ditangkap (26:55-56).

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama (Mt. 26:57-68)
Pemeriksaan ini diadakan pada waktu malam. Itu tidak sesuai dengan undang-undang Yahudi. Ada saksi-saksi palsu yang tidak setuju. Tidak ada saksi bagi Yesus! Pemeriksaan ini dijalankan dengan ketidakadilan.

Yesus memberi saksi tentang diriNya dan mengaku bahwa Dialah Mesias, Anak Allah (26:63- 64). Saksi itu benar dan Yesus mengatakan kebenaran dan tidak berdusta, walaupun Dia tahu bahwa oleh saksi itu, Dia akan dihukum mati. Tetapi semuanya di dalam rencana Allah untuk keselamatan kita. Yesus, seorang yang adil, jujur, baik, tanpa dosa, yang tidak pernah melakukan kejahatan, dihukum mati sebagai orang jahat. Dia kena hukuman kita supaya jangan kita dihukum ke dalam neraka, melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Petrus Menyangkal Yesus (Mt. 26:69-75)
Petrus, walaupun takut, masih ingin tahu apakah yang akan terjadi. Oleh karena itu, dia mengikut Yesus, tetapi dari jauh. Ada orang yang bertanya jikalau dia adalah pengikut Yesus. Petrus menjadi takut, dia tidak mau ditangkap seperti Yesus. Petrus tidak melanggar hukum. Petrus tidak bersalah. Petrus tidak mau menderita. Oleh karena itu, lebih baik menyangkal saja dan menyelamatkan nyawanya. Jadi Petrus menyangkal Yesus tiga kali, baru ayam berkokok.

Petrus ingat perkataan Yesus dan menyesal, keluar, dan menangis terus dengan sedih-sedihnya.

Yudas Membunuh Diri (Mt. 27:1-10)
Yesus diserahkan kepada Pilatus, wali negeri Roma, karena orang Yahudi tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman mati atas seorangpun (27:1-2).

Mungkin Yudas tidak tahu bahwa Yesus akan dihukum mati waktu dia menyerahkanNya (27:3-5). Mungkin dia berpikir bahwa Yesus, yang mempunyai kuasa, akan menyelamatkan diriNya. Yudas menyesal tetapi dia tidak bertobat. Terus dia keluar dan membunuh dirinya setelah mengembalikan uang itu kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi.

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang menuruti hukum dengan “teliti” tidak mau mengembalikan uang itu dalam peti persembahan walaupun mereka memeriksa, menghakimi dan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus dalam cara yang tidak sesuai dengan hukum mereka (27:6-10).

Yesus di Hadapan Pilatus (Mt. 27:11-26)
Yesus mengaku benar bahwa Dialah raja orang Yahudi, tetapi Pilatus tidak menyangka bahwa Yesus merupakan suatu ancaman bagi pemerintah Roma dan mau melepaskan Yesus. Orang Yahudi ingin agar Barabas dilepaskan dan mendesak agar Yesus disalibkan. Walaupun Pilatus ingin melepaskan Yesus, namun oleh karena kekacauan yang mulai timbul antara orang Yahudi, maka Pilatus menyerahkan Yesus kepada kemauan mereka untuk disalibkan.

Yesus Disalibkan (Mt. 27:27-61)
Yesus diolok-olokkan oleh pasukan Roma sambil disesah menurut kebiasaan untuk semua orang yang akan disalibkan. Terus, Yesus dibawa untuk disalibkan. Dia terus diejek oleh orang- orang yang lewat dan oleh orang-orang yang berdiri di kayu salib untuk melihat apa yang akan terjadi. Yesus Kristus, yang hanya berbuat baik, menyembuhkan orang, membangkitkan orang mati, mengusir setan, dan lain-lain, sekarang disalibkan sebagai orang penjahat. Bahkan Allah meninggalkan Yesus sehingga Dia betul-betul sendiri. Pada saat Yesus meninggal, banyak hal ajaib terjadi sehingga kepala pasukan dan prajurit-prajurit lain mengaku bahwa memang Yesus adalah Anak Allah.

Kubur Yesus Dijaga (Mt. 27:62-66)
Pemimpin-pemimpin agama Yahudi senang bahwa Yesus sudah mati dan dikuburkan. Mereka tidak mau agar murid-muridNya datang dan mencuri mayatNya dan terus menipu masyarakat bahwa Yesus telah dibangkitkan. Rupanya, hanya mereka yang ingat bahwa Yesus berkata bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Oleh karena itu, mereka meminta agar Pilatus mengirim penjaga-penjaga untuk menjaga kubur Yesus.

Yesus Dibangkitkan (Mt. 28:1-10)
Pada hari pertama minggu itu Maria dan Maria pergi mengunjungi kuburan Yesus dan menemukan malaikat. Kubur itu kosong. Yesus sudah bangkit. Mereka pergi untuk memberitahukan murid-muridNya dan Yesus bertemu dengan mereka di jalan. Yesus pertama- tama menampakkan diriNya kepada seorang perempuan setelah Dia bangkit.

Dusta Mahkamah Agama (Mt. 28:11-15)
Mahkamah Agama tergoncang atas laporan penjaga-penjaga. Mereka tidak mau percaya bahwa mungkin Yesus memang adalah Anak Allah bahwa Dia memang dibangkitkan. Mereka sepakat untuk berdusta dan menipu dengan berkata bahwa murid-muridNya datang malam- malam dan mencuri mayatNya ketika penjaga-penjaga sedang tidur. Setelah membayar penjaga- penjaga banyak uang agar mereka berdusta demikian, penjaga-penjaga itu setuju.

Dusta ini agak susah dipercayai sedangkan ada sekitar 60 penjaga dan hukuman yang dikena oleh seorang penjaga yang tidur, adalah hukuman mati. Bagaimanakah semua penjaga tidur sekaligus dan bagaimanakah murid-murid Yesus mengguling batu karang yang besar itu yang menutupi kubur tanpa seorang penjaga mendengar dan terjaga dari tidurnya? Ternyata bahwa Yesus betul-betul bangkit pada hari itu.

Perintah Agung (Mt. 28:16-20)
Yesus sudah bangkit pada hari ketiga dan sebelum Dia naik ke sorga, Dia memberikan perintah agung ini kepada murid-muridNya. Inilah tujuan Yesus ke bumi agar dunia mendengar injil itu dan mentaatinya dan diselamatkan. Perintah ini diberikan kepada murid-muridNya, dan juga kepada kita. Kita semua sebagai orang Kristen mempunyai tanggung jawaban untuk memberitakan injil dan mengajar orang tentang Firman Allah. Dan Yesus berjanji untuk selalu menyertai kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan firmanNya.

Photo Credit: http://chissmiss.files.wordpress.com/2011/10/308935_10150396995611803_781561802_10082403_169575497_n.jpg

Setelah Yesus mengecam pemimpin-pemimpin agama Yahudi, Dia berkata, “Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi” (Mt. 23:38). Yesus bernubuat tentang kebinasaan Yerusalem. Oleh karena orang-orang Yahudi akan menolak dan membunuh Yesus, Anak Allah, maka Yerusalem akan dibinasakan sebagai hukuman atas mereka. Dalam fasal 24 dan 25, Yesus bernubuat terutama tentang kebinasaan Yerusalem, yang terjadi pada tahun 70 M. Tetapi Yesus juga menyinggung tentang kedatanganNya yang kedua pada saat dunia kiamat dan Dia akan menghakimi dunia menurut perbuatannya.

Herod's Temple

Nubuat Yesus (24:1-44)
Murid-murid Yesus melihat betapa besarnya dan indahnya Bait Allah dan menunjukkan itu kepada Yesus. Yesus memberitahukan mereka bahwa Bait Allah itu akan diruntuhkan.

Murid-muridNya kaget dan menanyakan tiga hal kepada Yesus, “Bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (24:3).

Yesus menjawab dalam nubuat. Penting sekali agar kita mengerti bahwa nubuat biasanya memakai bahasa kiasan. Matius 24:4-35 terutama tentang kebinasaan Yerusalem dan Bait Allah. Lihatlah 24:34, “Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” Maksudnya, semuanya itu akan terjadi dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Ada orang yang mendengar nubuat Yesus yang masih akan hidup pada saat nubuat itu digenapi. Yesus bernubuat ini pada tahun 30 M. dan kebinasaan Yerusalem terjadi pada tahun 70 M.

Ada banyak hal yang susah untuk dimengerti dalam nubuat ini, tetapi sebenarnya semua nubuat mempunyai ciri begitu. Kita harus ingat bahwa nubuat-nubuat memakai bahasa kiasan dan bukan semuanya yang diucapkan akan benar-benar terjadi demikian. Misalnya, kalau membaca Kisah 2:16-21, Petrus berkata bahwa apa yang terjadi pada hari Pentakosta adalah kegenapan dari nubuat Yoel. Kita memperhatikan beberapa hal: 1) Roh Allah tidak dicurahkan ke atas semua manusia (2:17) hanya di atas murid-murid Yesus yang hadir pada waktu itu. 2) Matahari tidak menjadi gelap dan bulan tidak menjadi darah. Itulah bahasa kiasan bahwa mujizat besar dan dahsyat yang akan terjadi. Itu digenapi waktu Roh Kudus turun ke atas rasul- rasul sehingga mereka bisa berbicara dalam bahasa-bahasa lain tentang injil Kristus kepada orang banyak yang hadir di situ.

Dalam nubuat Yesus dalam Matius ada hal-hal yang susah untuk dipahami. Kalau membaca karya tulisan Yosepus, seorang ahli sejarah Yahudi yang adalah saksi mata tentang kebinasaan Yerusalem pada tahun 70 M., maka apa yang ditulisnya tentang kebinasaan Yerusalem sangat cocok dengan nubuat Yesus dan memberi bukti bahwa apa yang Yesus nubuat sungguh-sungguh digenapi.

Marilah kita meringkaskan beberapa bagian ini yang sulit dimengerti.

Ayat 29 adalah kutipan dari Yesaya 13:10. Yesaya 13 adalah nubuat tentang kebinasaan Babel yang termasuk hal bahwa matahari akan menjadi gelap dan sebagainya. Ini bahasa kiasan bahwa kebinasaan itu akan hebat sekali dan sempurna seperti kelihatannya dunia semua hancur betul.

Bagaimanakah ayat 27 dan 30? Kedatangan Yesus ini sama dengan istilah “Hari Tuhan” dalam Perjanjian Lama yaitu pada waktu Allah atau Yesus akan datang dalam penghakiman untuk menghakimi dan menghukum bangsa-bangsa di dunia ini. Karena Israel menolak Yesus sebagai Raja, maka kota Yerusalem akan dibinasakan, dan itulah Yesus yang akan mengadakannya sebagai hukuman.

Dan bagaimanakah ayat 31? Orang-orang Kristen yang berada di Yerusalem pada saat ini melarikan diri ke pegunungan dan berkumpul dalam gua-gua di situ dan tidak mati dalam kebinasaan Yerusalem oleh karena mereka sudah tahu nubuat Yesus ini.

Walaupun nubuat ini pertama-tama tentang kebinasaan Yerusalem, juga bagian bisa dimengerti sebagai kedatangan Yesus yang kedua. Matius 24:36-44 juga tentang kebinasaan Yerusalem dan juga kedatangan Yesus yang kedua. Mereka tidak tahu hari apa Yerusalem akan dibinasakan, dan kita juga tidak tahu kapan Yesus akan kembali. Jadi kita harus selalu siap sedia untuk kedatangan Yesus, supaya apabila Dia datang, kita siap untuk bertemu dengan Dia.

Perumpamaan-Perumpamaan tentang Kesediaan (Mt. 24:45-25:46)
Yesus sekarang menceritakan beberapa perumpamaan untuk menunjuk bahwa kita harus selalu siap sedia dan hidup baik sesuai dengan kehendak Allah oleh karena kita tidak tahu kapan Yesus akan datang kembali.

Tentang Hamba yang Setia dan Hamba yang Jahat (Mt. 24:45-51)
Pelajaran dasar adalah kita tidak tahu kapan Yesus akan kembali, oleh karena itu kita harus siap sedia supaya kita pasti pergi ke sorga.

Tentang Gadis-Gadis yang Bijaksana dan Gadis-Gadis yang Bodoh (Mt. 25:1-13)
Pelajaran dasar adalah kita harus siap sedia karena kita tidak tahu hari atau jam Yesus akan kembali dan setiap orang masing-masing bertanggung jawab atas kesediaan dan keselamatannya sendiri.

Tentang Talenta (Mt. 25:14-30)
Pelajaran dasar adalah kita akan dihakimi oleh apa yang kita lakukan dengan apa yang telah kita terima dari Allah.

Tentang Penghakiman Terakhir (Mt. 25:31-46)
Pelajaran dasar adalah kita akan dihakimi oleh bagaimana kita bertingkah laku terhadap orang lain dan melayani mereka.

Photo Credit: http://www.ebibleteacher.com/taxonomy/term/238

Benar bahwa Allah telah memerintahkan anak-anak untuk “menghormati” orang tuanya. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengajar anak-anakmu untuk menghormatimu! Itulah tanggung jawab dari orang tua! Tidak ada orang tua yang sempurna, tetapi orang tua bisa menjadi terhormat. Situasi yang ideal adalah orang tua terhormat dan menghormati anak-anak.

adult-and-child-holding-hands

Bagaimanakah bisa orang tua memperoleh hormat dari anak-anaknya? Biarkanlah saya menyarankan lima cara:

  1. Mengasihi anak-anakmu. Kasih memberi apa yang mereka perlu, bukan apa yang mereka inginkan. Berikanlah kasih sayangmu kepada mereka. Anak-anak memerlukan pelukan! Sentuhan yang lembut dari orang tua yang terkasih memberikankeyakinan dan rasa aman. Mengasihi mereka dengan mempercayai mereka, bermimpi, berharap, dan memuji mereka. Mengasihi mereka dengan mendengarkan mereka dan dengan mendoakan mereka.
  2. Mengangkat mereka. Meneguhkan mereka! “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kolose 3:21). Sama seperti tanaman memerlukan dan harus mempunyai air, anak-anak memerlukan dorongan.
  3. Membatasi mereka. Orang memerlukan batas-batas yang teguh untuk membebaskan anak-anak. Jadi saudara membebaskan mereka dengan membatasi mereka. Eli gagal untuk melakukan hal ini dan dia dihukum keras untuk kelalaiannya (1 Samuel 3:13; lihat juga 1 Samuel 2:1-17,29-30). Anak-anak selalu akan mendorong untuk melihat apakah orang tuanya bergerak. Setiap anak memerlukan disiplin untuk mempunyai rasa aman. Tetapi selalu ingat bahwa batas- batas harus digarisi dengan kasih. Sayang karena masyarakat kita ditipu untuk berpikir bahwa tidak ada batas. Orang tua, jangan takut untuk berkata dengan tegas — “Ada beberapa program televisi tertentu yang tidak akan kaunonton; ada beberapa film-film tertentu yang tidak akan kaunonton; ada tempat-tempat tertentu yang tidak akan kaukunjungi; dan ada hal-hal tertentu yang tidak akan kaulakukan tanpa persetujuan saya!”
  4. Tertawa dengan mereka. Santai-santailah! Belajar untuk tertawa! Berbahagialah keluarga di mana sukacita dan ketawa didengar. Manusia adalah satu- satunya makhluk dalam ciptaan Allah yang bisa tertawa, menangis dan menjadi merah! Ketertawaan sama seperti cahaya matahari dalam rumah.
  5. Memimpin mereka. Janganhanya mengatakan kepada mereka apa yang benar, tunjukkannyalah kepada mereka! Tunjukkanlah kepada mereka apa maksudnya watak yang baik dengan mempertunjukkannya kepada mereka. Latihan mereka dengan melakukannya sebelumnya! Mempertunjukkan kepuasan, keberanian, kesopanan, keadilan, kejujuran, keramahan, penguasaan diri, kemurahan, kebersyukuran, dan penghematan. Dan yang paling penting, memimpin mereka kepada Tuhan.

Kesimpulannya adalah: menjadi orang tua terhormat dengan mempercayai, mentaati dan menghormati Allah di dalam kehidupanmu!

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 21, dengan judul asli: “Honorable Parents.” Halaman 86-87. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Photo Credit: http://3.bp.blogspot.com/_fx_54l56v38/TJ08SnQzH0I/AAAAAAAAAIY/lLwZZS_epaI/s1600/adult-and-child-holding-hands.jpg

Inilah minggu yang terakhir di dalam kehidupan Yesus di bumi ini. Sekarang Dia berhadapan langsung dengan orang-orang yang menentangNya. Musuh-musuhNya berusaha untuk menjerat Dia dalam perkataanNya. Yesus menyatakan kebodohan dan kejahatan hati mereka. Oleh karena perhadapan yang tajam ini, Yesus memeteraikan nasibNya. Musuh- musuhNya sepakat untuk membunuhNya.

Triumphal Entry into Jerusalem

Yesus Diterima ke dalam Yerusalem Sebagai Raja (Mt. 21:1-11)
Yesus adalah Raja walaupun pemimpin-pemimpin Yahudi tidak mau menerima Dia sebagai Raja. Namun, waktu Yesus masuk Yerusalem kali yang terakhir ini, Dia diterima sebagai Raja dan Mesias oleh orang banyak. Pemimpin-pemimpin agama Yahudi berkeberatan atas puji- pujian yang diterima Yesus. Mereka iri hati dan menegor Yesus.

Yesus Menyucikan Bait Allah (Mt. 21:12-17)
Sesudah Yesus masuk Yerusalem, Dia pergi ke Bait Allah. Di halaman Bait Allah ada banyak penjual yang menjual binatang-binatang untuk dipersembahkan kepada Allah. Juga ada penukar uang. Orang tidak bisa membeli binatang-binatang itu dengan uang Roma. Mereka harus menukar uangnya dan nilai penukaran uang itu mahal, tidak adil. Penukar uang beruntung banyak.

Sebenarnya Bait Allah adalah tempat doa dan orang Yahudi membuatnya menjadi pasar. Selain dari itu mereka mencuri dari masyarakat dengan memaksa orang untuk membeli korban dengan harga yang mahal. Itulah sebabnya Yesus mengusir semua keluar. Mereka tidak menghormati Allah atau tempat sembahyangNya.

Yesus Mengutuk Pohon Ara (Mt. 21:18-22)
Pohon ara itu mempunyai daun tetapi tidak ada buah. Ternyata bahwa harus ada buah, tetapi tidak ada. Yesus mengutuk pohon itu dan pohon itu menjadi kering.

Yesus mengajarkan kepada kita di sini bahwa kita harus mempunyai iman. Orang yang mempunyai iman, bahkan iman yang kecil, bisa melakukan perkara besar dalam Yesus yang memberikan kekuatan kepadanya (Flp. 4:13).

Mungkin Yesus melakukan ini dengan maksud lain. Mungkin Yesus bermaksud untuk menunjukkan atau mengajar juga bahwa orang Yahudi adalah umat Allah. Seharusnya mereka bergiat dan berbuah bagi Allah, tetapi mereka tidak berbuah. Mereka tidak menerima Yesus sebagai Mesias. Mereka mau dan akan membunuh Yesus. Oleh karena itu, orang Yahudi juga akan dihukum dan dibinasakan.

Yesus dan Pemimpin Agama Yahudi Bertengkar (Mt. 21:23-22:46)

Soal Asal Kuasa Yesus (Mt. 21:23-27)
Yesus sudah menyucikan Bait Allah, pemimpin agama Yahudi sangat marah. Yesus menyembuhkan. Orang Farisi tidak senang. Yesus mengajar banyak hal tetapi Dia tidak mendapat izin dari pemimpin-pemimpin agama Yahudi untuk melakukan semuanya ini. Dari manakah Yesus mendapat kuasa untuk bertindak begitu? Untuk melakukan dan mengajarkan semuanya itu? Mereka datang dan bertanya. Mereka ingin mencobai Yesus dan menjeratNya. Kalau Yesus menjawab bahwa Dia mendapat kuasa itu dari Allah, pemimpin agama itu bisa memfitnah Yesus sebagai orang yang kerasukan setan, sebagai orang pendusta dan penipu karena kalau Yesus menerima kuasa dari Allah, tentu Dia memelihara hari Sabat dan adat-istiadat nenek moyang dan menghormati pemimpin-pemimpin agama Yahudi.

Yesus tidak akan menjawab kecuali mereka menjawab satu pertanyaan dahulu. Dia menanyakan mereka tentang baptisan Yohanes. Mereka juga tidak mau menjawab karena mereka takut terhadap masyarakat dan mereka sendiri tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, Yesus juga tidak akan menjawab pertanyaan mereka.

Perumpamaan Tentang Dua Orang Anak (Mt. 21:28-32)
Anak yang pertama adalah pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang beromong-kosong. Yang kedua adalah orang berdosa yang bertobat.

Perumpamaan Tentang Penggarap-Penggarap Kebun Anggur (Mt. 21:33-46)
Allah mempercayai pemimpin-pemimpin agama Yahudi untuk memelihara dan memimpin orang-orang Yahudi, umatNya, dalam jalan yang benar. Tetapi mereka tidak bertanggung jawab. Mereka bukan pemimpin yang baik. Mereka tidak menghormati utusan dan nabi Allah. Bahkan Allah mengutus AnakNya dan pemimpin-pemimpin orang Yahudi membunuh AnakNya itu. Mereka hanya mencari kuasa saja dan memperhatikan kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak mempedulikan kawanan domba. Oleh karena itu mereka akan dihukum keras.

Perumpamaan Tentang Perjamuan Kawin (Mt. 22:1-14)
Pemimpin agama Yahudi tidak menerima Yesus. Oleh karena itu, Allah mengundang orang lain, baik yang jahat, maupun yang baik. Orang yang datang ke perjamuan kawin diberikan pakaian pesta oleh raja. Orang yang tidak mau menerima pakaian itu adalah orang yang berusaha masuk atas kehendaknya sendiri. Tidak boleh! Kita harus masuk melalui jalan yang sudah dibuat oleh Allah. Kita harus menerima kasih karunia yang Allah anugerahkan kepada kita untuk pergi ke sorga.

Soal Membayar Pajak kepada Kaisar (Mt. 22:15-22)
Orang Farisi sangat marah, dan merasa sangat terhina karena apa yang dikatakan Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus mengucapkan perumpamaan-perumpamaan tentang mereka. Mereka merasa bahwa mereka harus merendahkan Yesus di mata masyarakat supaya pengaruhNya kurang. Kalau tidak, mereka merasa bahwa nanti negara kacau. Mereka berusaha untuk menjerat Dia supaya Dia bisa ditangkap dan dihukum mati. Mereka sekarang berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus.

Mereka sekarang bekerjasama dengan musuhnya, orang Herodian. “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” mereka bertanya. Pertanyaan itu bagus sekali, cerdik. Kalau Yesus menjawab, “Ya,” maka Dia akan direndahkan di mata masyarakat yang tidak mau membayar pajak kepada Roma. Bagaimanakah Yesus bisa mendukung pemerintah Roma? Pasti banyak pengikutNya mengundurkan diri dari padaNya.

Kalau Yesus menjawab, “Tidak,” maka Dia bisa ditangkap oleh pemerintah Roma sebagai pemberontak yang mendorong orang Yahudi untuk melawan pemerintah.

 Tetapi Yesus tahu hati mereka, dan jawabanNya itu lebih cerdik lagi. Mereka tidak dapat menjerat Yesus. Mereka heran dan meninggalkan Dia.

Soal Kebangkitan (Mt. 22:23-33)
Pasti orang Saduki, yang tidak percaya bahwa ada kebangkitan, mengajukan soal ini kepada orang Farisi, yang percaya bahwa ada kebangkitan. Mereka memalukan orang Farisi dengan pertanyaan ini karena orang Farisi tidak bisa menjawab. Bagaimana Yesus? Bisakah Dia menjawab atau tidak?

Yesus sudah mengajar bahwa ada kebangkitan dan orang Saduki berpikir mereka bisa memalukan Yesus juga dengan pertanyaan ini. Tetapi sebaliknya, Yesus memalukan mereka! Itulah orang-orang Saduki yang tidak tahu Kitab Suci atau mengerti kuasa Allah.

Soal Hukum yang Terutama (Mt. 22:34-40)
Mungkin mereka berpikir Yesus akan menjawab dengan jawaban yang tidak menurut ajaran mereka. Tetapi kali ini, ajaran dan kepercayaan mereka benar. Yesus menjawab bahwa kasih kepada Allah dan manusia adalah hukum yang terutama. Yesus hanya melawan ajaran-ajaran yang tidak benar. Tetapi walaupun orang mempunyai sebagian kebenaran, itu tidak berarti mereka berkenan kepada Allah kecuali mereka mempunyai seluruh kebenaran.

Soal Mesias dan Daud (22:41-46)
Banyak orang sudah mengajukan banyak soal kepada Yesus. Sekarang Yesus mau mengajukan satu soal kepada mereka, “Anak siapakah Mesias itu?” Tidak ada yang bisa menjawab. Biasanya seorang ayah tidak menyebut anaknya “Tuan.” Itu tidak wajar oleh karena ayah lebih tinggi dari pada anaknya. Tetapi kalau tuan itu adalah Anak Allah, boleh. Pasti Maria, ibu Yesus juga menyebut Dia “Tuhan,” karena, walaupun Yesus adalah anaknya, Dia juga adalah Juruselamatnya. Yesus mau menunjukkan bahwa Mesias itu lebih tinggi dari pada Daud, bahkan Anak Allah sendiri. Tetapi orang Farisi tidak mau mengaku bahwa Mesias itu adalah Anak Allah. Mereka tidak mempunyai kepercayaan begitu.

Yesus Mengecam Ahli-Ahli Taurat dan Orang-Orang Farisi (Mt. 23:1-39)
Sudahlah! Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sangat tegar hati, sehingga mereka tidak mau bertobat dan tidak mau menerima Yesus. Mereka terus berusaha mencobai Yesus, menjeratNya, dan merendahkanNya. Mereka orang munafik. Sekarang Yesus menyatakan dengan jelas, hati mereka yang jahat.

  • Mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan (23:2-4).
  • Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang, bukan Allah (23:5-7).
  • Mereka mencari gelar dan kedudukan untuk menerima hormat dari manusia dan menguasai atas orang lain (23:8-12).
  • Mereka tidak mau menerima Yesus dan melarang dan menghalangi orang yang mau (23:13).
  • Mereka berbuat jahat sambil berupa saleh (23:14).
  • Mereka tidak mau mentobatkan orang kepada Allah, hanya membuat dia orang fanatik dua kali lebih untuk agama mereka sendiri (23:15).
  • Mereka main-main dengan kata dan sumpah dan tidak mengerti hal-hal yang lebih penting (23:16-22).
  • Mereka sibuk-sibuk dalam hal-hal yang terkecil sambil mengabaikan hal-hal yang terbesar (23:23-24).
  • Mereka berupa saleh di hadapan orang tetapi hatinya jahat sekali (23:25-28).
  • Mereka semua seperti nenek moyang mereka yang menolak dan membunuh nabi-nabi yang diutus Allah (23:29-36).

Yesus mengasihi orang Yahudi dan Dia rindu memelihara dan melindungi mereka seperti ayam melindungi anaknya, tetapi mereka tidak mau. Oleh karena itu, kota itu akan dibinasakan.

Photo Credit: http://gardenofmary.com/wp-content/uploads/2013/03/Christs-Entry-into-Jerusalem.jpg

Bisakah kita mempunyai iman sama dengan rasul-rasul dan orang-orang Kristen pada abad pertama? Bisakah kita mempunyai persatuan antara orang-orang percaya hari ini seperti mereka mempunyainya dalam jemaat awal sebelum perkembangan doktrin-doktrin manusia dan denominasisme? Bisakah kita menjadi orang Kristen saja dan anggota jemaat sama yang didirikan oleh Kristus 2.000 tahun lalu? Apakah Allah telah mengambil tindakan untuk memelihara jemaatNya melalui abad-abad yang lalu? Kalau ya, bagaimana?

mustard_seed

Allah, dalam ciptaanNya yang luar biasa, telah menentukan prinsip benih sebagai alat perkembangan segala sesuatu yang hidup. Menurut Kejadian 1:11, “Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Dan jadilah demikian” Makhluk dan tanaman yang hidup bergantung pada hukum benih ini dari Sang Pencipta. Di mana benih itu ditanam, hidup baru akan muncul “menurut jenisnya.”

Hukum benih benar juga dalam dunia rohani. Firman Allah digambarkan dalam Alkitab sebagai benih yang bertumbuh.

“Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya” (Yakobus 1:18). Firman Allah perlu sekali dalam proses kelahiran rohani.

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Petrus 1:22,23). Firman Allah dengan jelas diuraikan sebagai “benih” yang melaluinya kita dilahirkan kembali secara rohani.

Yesus, dalam menjelaskan perumpamaan tentang seorang penabur, berkata, “Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah” (Lukas 8:11). Sudah jelas bahwa Firman Allah adalah alat perkembangan kerajaan atau jemaat (Matius 16:18,19).

Kadang-kadang orang bertanya, “Bisakah Anda mengusut jemaat Kristus, melalui garis yang tak putus, hingga abad pertama?” Dalam arti garis yang tak putus, tidak bisa, tidak ada catatan yang disimpan. Tetapi dalam arti bahwa selalu ada orang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan melakukannya yang mewakili Allah di dalam dunia, ya, jemaat Kristus terus berada melalui abad-abad ini.

Bagaimanakah kita tahu? Karena Kristus sendiri berjanji bahwa kerajaanNya tidak akan binasa, bahkan pintu-pintu alam maut tidak bisa menguasainya (Matius 16:18). Terus- menerus dalam pernyataan-pernyataan nabi dalam Perjanjian Lama, jemaat atau kerajaan telah dijanjikan dengan catatan bahwa “kerajaan itu akan tetap untuk selama- lamanya” (Daniel 2:44; Yoel 2:28; Yesaya 2:2,3).

Di lain pihak, oleh karena Allah telah memelihara Benih — FirmanNya — kita bisa yakin bahwa di mana saja dan kapan saja Firman itu ditanam dalam hati yang jujur, ia akan menumbuhkan buah yang sama yang dihasilkannya pada abad pertama. Selama dua elemen itu terus berada di dalam dunia — Benih Firman Allah dan hati-hati manusia yang jujur — jemaat selalu akan tetap ada.

Bisakah kita mempunyai iman sama hari ini seperti dipunyai rasul-rasul dan orang- orang Kristen yang pertama? Bisakah kita menjadi orang-orang Kristen saja dan anggota- anggota jemaat sama yang didirikan oleh Kristus 2.000 tahu lalu?

Tentu bisa! Dengan Firman Allah sebagai benih yang sama, kita bisa mempunyai jemaat sama dan rencana keselamatan yang sama, ibadah yang sama, dan pengharapan yang sama dari sorga sama seperti mereka punya pada abad pertama.

Pelajaran ini diambil dari majalah The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 21, dengan judul asli: “God’s Word — The Seed of the Kingdom.” Halaman 90-91. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Photo Credit: http://3.bp.blogspot.com/_s6kC4VjaQL4/TJAppXBjPnI/AAAAAAAABi8/NXYELdR4pW0/s1600/mustard_seed1.jpg

Kerajaan Yesus belum didirikan di bumi ini. Kerajaan Yesus baru nampak di dalam jemaatNya. Yesus baru berkata bahwa Dia akan mendirikan jemaatNya pada satu hari kelak. Di dalam Khotbah di Bukit (Mt. 5-7) Yesus sudah memberi beberapa petunjuk bagaimana orang harus hidup di dalam Kerajaan Sorga. Sekarang Dia memberi beberapa petunjuk lagi. Ini tidak merupakan saran saja, melainkan perintah dan kehendak Yesus yang harus diikuti orang yang mau hidup di dalam kerajaanNya.

Lost sheep

Orang yang Terbesar dalam Kerajaan Sorga (Mt. 18:1-5)
Yesus sudah mengajar banyak tentang Kerajaan Sorga. Yesus juga berkata, “Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini, ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam KerajaanNya” (16:28). Yesus memberitakan kebangkitanNya dan permulaan jemaatNya. Tetapi murid-muridNya tahu bahwa mereka akan mendapat bagian dalam kerajaan Yesus dan mempunyai kedudukan yang tinggi dan memerintah bersama dengan Yesus. Mereka berpikir bahwa kerajaan Yesus adalah kerajaan duniawi dan mereka ingin tahu siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga itu.

Kemungkinan mereka kaget akan jawaban Yesus. Orang yang “merendahkan dirinya dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Allah” (18:4). Kita harus menjadi seperti anak kecil, percaya dengan segenap hati, tidak menghakimi, tidak memihak, suci, kudus, tak berdosa, rendah hati, dan lain-lain. Orang yang terbesar dalam Kerajaan Sorga adalah orang yang merendahkan dirinya dan menjadi hamba dan pelayan semua orang.

Orang yang Menyesatkan (Mt. 18:6-14)
Celakalah orang yang menyesatkan orang yang percaya kepada Yesus (18:6-7). Dunia ini jahat sekali. Banyak orang duniawi hidup dalam dosa terus dan tidak mengganggu orang Kristen. Tetapi ada orang yang aktif melawan orang Kristen, dan menghalangi orang yang mau menjadi orang Kristen. Mereka berusaha menyesatkan, membinasakan iman, menghalangi, menganiaya, menjadikan orang Kristen berbuat dosa, dan lain-lain. Celakalah orang itu! Hukuman mereka berat sekali.

Orang Kristen harus menjauhkan diri dari kejahatan dan dosa (18:8-9). Kalau dia harus memotong tangan atau kaki, mencungkil mata, menjadi orang lumpuh dan buta supaya jangan berbuat dosa, itu lebih baik dari pada dihukum neraka. Orang Kristen harus melakukan segala sesuatu untuk mencabut dosa dari hatinya. Kalau ada orang Kristen yang disesatkan, kita harus mencari dia dan memulihkan dia kepada jemaat tanpa menghakimi dan tanpa menghukum, melainkan dengan gembira dan pengampunan (18:12-14). Kita semua dalam pihak sama dan kita semua harus saling mendorong untuk hidup sesuai dengan firman Allah.

Orang yang Berdosa (Mt. 18:15-20)
Pertama Korintus 5:13 berkata bahwa kita harus mengusir orang yang melakukan kejahatan dari jemaat tetapi kita harus melakukannya dalam sifat kasih persaudaraan (2 Tes. 3:14,15) dan

Cara Orang Harus Hidup dalam Kerajaan Sorga

  • Harus merendahkan diri (18:1-5)
  • Harus menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan (18:6-11) g Harus mencari saudara yang tersesat (18:12-14)
  • Harus menegor saudara yang berbuat dosa (18:15-20)
  • Harus mengampuni orang lain (18:21-35)
  • Tidak boleh menceraikan suami atau isteri (19:1-12)
  • Harus memperhatikan anak-anak kecil (19:13-15)
  • Harus mengutamakan Yesus atas segala sesuatu termasuk harta jasmani (19:16-30)
  • Tidak boleh iri hati karena Allah lebih memberkati orang lain (20:1-16)
  • Harus menjadi pelayan dan hamba dari semua (20:20-28)

“lemah lembut sambil menjaga dirimu sendiri supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Gal. 6:1).

Kita semua orang berdosa dan kalau kita sungguh-sungguh berusaha hidup seperti Kristus, kita akan bertobat dari segala dosa. Kita juga harus saling menasihati setiap hari supaya kita jangan jatuh ke dalam dosa (Ibr. 3:12,13).

Kalau kita tahu bahwa saudara kita berbuat dosa, kita harus menegor dia di bawah empat mata. Tidak boleh bercerita-cerita dosanya di mana-mana atau mengumumkan dosa itu. Kalau dia adalah orang Kristen benar yang sungguh-sungguh berusaha hidup sesuai dengan kehendak Allah, pasti dia akan bertobat. Tetapi seandainya dia tidak mau bertobat, maka kita harus membawa satu atau dua orang lain untuk menegor dia. Kalau dia tidak mau bertobat baru sesudah itu, maka kita harus mengumumkan perkara itu kepada jemaat. Jemaat harus menegor dia untuk bertobat, dan kalau dia tidak mau mendengarkan jemaat dan bertobat, dia harus dikucilkan atau diusir dari jemaat.

Kerajaan Sorga terdiri dari orang yang sudah bertobat dari dosa dengan segenap hati. Kerajaan Sorga terdiri dari orang yang suci dan kudus dan yang menjauhkan dirinya dari segala dosa dan kejahatan. Kerajaan Sorga terdiri dari orang yang bertobat terus dari dosanya. Orang yang belum bertobat atau yang tidak mau bertobat tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Jadi kalau ada orang di dalam jemaat yang jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dosa dan dia tidak mau lagi bertobat dari dosanya, maka dia harus diusir dari jemaat oleh karena dia tidak lagi mau hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dia tidak mempunyai bagian lagi di dalam Kerajaan Sorga yaitu dia tidak bisa kembali kepada jemaat sampai saat dia bertobat dengan segenap hati.

Perumpamaan Tentang Pengampunan (Mt. 18:21-35)
Petrus ingin tahu sampai berapa kali dia harus mengampuni saudaranya. Yesus menjawab bahwa dalam Kerajaan Sorga tidak ada batas (18:21-22). Kita diwajibkan mengampuni saudara kita terus-menerus bahkan jikalau dia berbuat dosa terhadap kita tujuh kali sehari (Lk. 17:4). Yesus mengucapkan suatu perumpamaan untuk menunjukkan kepada kita ajaran itu lebih baik.

Pelajaran dasar perumpamaan itu ialah, kita diwajibkan untuk selalu mengampuni saudara kita terus-menerus. Kalau kita tidak mau mengampuni, Allah juga tidak akan mengampuni kita. Dan kalau Allah tidak mengampuni dosa kita lagi, maka tidak mungkin kita pergi ke sorga.

Perceraian (Mt. 19:1-12)
Orang Farisi datang lagi untuk mencobai Yesus. Mereka bertanya tentang perceraian. Yesus berkata bahwa maksud Allah sejak semula adalah supaya suami isteri bersatu dan jangan diceraikan (19:1-6).

Kalau begitu mereka ingin tahu kenapa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya (19:7-9). Yesus menjawab bahwa Musa mengizinkannya karena ketegaran hati mereka walaupun itu bukan kehendak Allah dari semula. Yesus berkata bahwa sebenarnya perceraian itu dosa. Orang yang menceraikan isterinya kecuali karena perzinahan berbuat dosa. Orang yang sudah masuk ke dalam Kerajaan Sorga harus setia kepada suaminya atau isterinya dan tidak boleh bercerai.

Yesus Memberkati Anak-Anak (Mt. 19:13-15)
Biasanya orang besar tidak mau diganggu oleh anak-anak. Misalnya, kalau bupati atau gubernur datang ke desa, tidak boleh semua anak-anak lari kepadanya untuk pegang tangan dan ketemu dia. Menurut pendapat dunia, itu tidak wajar atau sopan. Dia mempunyai urusan yang lebih penting. Bukan demikian dengan Yesus. Yesus menegor murid-muridNya supaya jangan menghalang-halangi anak-anak kecil itu datang kepadaNya. Yesus ingin memberkati anak-anak itu.

Orang Kristen tidak terlalu sibuk, terlalu penting, atau terlalu besar supaya tidak bisa menerima dan membantu orang, bahkan anak kecil. Di dalam Kerajaan Sorga anak-anak kecil itu juga penting dan kita harus selalu memperhatikan mereka.

Orang Muda yang Kaya (Mt. 19:16-30)
Orang muda yang kaya datang kepada Yesus dan ingin tahu, “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (19:16).

Kita tidak diselamatkan karena perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Kita diselamatkan oleh karena kita menuruti segala perintah Allah (19:17). Kita harus mengutamakan Allah atas segala sesuatu. Orang muda ini yang kaya mengutamakan kekayaannya atas Allah. Oleh karena itu Yesus menyuruh dia untuk menjual segala miliknya. Dia tidak mau karena dia mencintai kekayaannya lebih dari pada Allah.

Yesus tidak menyuruh kita untuk menjual segala milik kita, hanya jangan mencintai harta lebih dari Kristus. Memang, Yesus mengajar bahwa untuk menjadi muridNya kita harus melepaskan segala milik kita (Lk. 14:33). Itu berarti, kita harus rela menjual harta kita kalau ada keperluan. Kita harus rela memberikan milik kita kepada orang lain yang memerlukannya. Yesus harus lebih penting dan utama dari pada milik kita.

Itu tidak mustahil untuk orang kaya pergi ke sorga, tetapi sukar sekali karena biasanya orang kaya tidak mau menyerahkan kekayaannya kepada Yesus (19:23-26).

Petrus memegahkan dirinya dan berkata bahwa semua muridNya sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus (19:27-29). Apakah yang akan mereka peroleh? Ya, murid- muridNya akan memerintah dengan Yesus. Dan semua pengikut Yesus yang meninggalkan segala sesuatu akan diberkati oleh Allah seratus kali lipat. Tetapi Allah harus terutama dalam kehidupan kita, lebih utama dari pada kekayaan. Kita harus mengabdi kepada Allah dari pada kepada harta jasmani (Mt. 6:24).

Perumpamaan Tentang Orang-Orang Upahan di Kebun Anggur (Mt. 20:1-16)
Yesus mengucapkan perumpamaan ini untuk menunjukkan “tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (19:30; 20:16).

Orang-orang berpikir bahwa orang yang bekerja lebih keras atau lebih lama dari pada orang lain akan diberkati atau menerima upah yang lebih banyak. Kita semua dipanggil ke dalam Kerajaan Sorga dan ada janji hidup yang kekal bagi semua orang yang setia. Kalau Allah ingin menghormati atau memberkati seorang lebih dari kita, itu bukan urusan kita. Allah adil dan juga murah hati dan kita harus bersukacita atas kemurahan Allah dan jangan iri hati.

Pelajaran dasar adalah Allah adil dan akan memenuhi janjiNya. Dia juga murah hati dan memberkati orang menurut kehendakNya.

Pemberitahuan Yesus Tentang KematianNya (Mt. 20:17-19)
Yesus lagi memberitahukan kematianNya untuk mempersiapkan murid-muridNya untuk peristiwa itu.

Permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes (Mt. 20:20-28)
Murid-murid Yesus masih berpikir seperti orang duniawi. Mereka belum mengerti tujuan dan sifat Yesus. Mereka mengikuti Yesus untuk menjadi pembesar dalam kerajaanNya. Mereka mau memerintah.

Mungkin Yakobus dan Yohanes malu minta ini dari Yesus dan minta agar ibu memintakannya bagi mereka. Mereka mau duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kerajaanNya (20:20-21). Yesus adalah Raja. Tempat kananNya adalah orang kedua dan tempat kiriNya adalah orang ketiga. Mereka ingin mempunyai kedudukan yang paling tinggi di bawah Yesus dalam kerajaanNya.

Mereka tidak tahu apa yang mereka minta (20:22-23). Bisakah mereka minum cawan yang harus diminum Yesus? Yaitu apakah mereka mau menderita seperti Yesus akan menderita? Mereka mau dan mereka akan menderita tetapi Yesus tidak mempunyai hak untuk memberikan kedudukan itu dalam kerajaanNya.

Murid-murid lain marah terhadap keduanya itu (20:24), kemungkinan karena mereka juga ingin meminta hal itu dari Yesus dan kedua murid itu memintanya lebih dahulu.

Terus Yesus berkata bagaimana pembesar duniawi memerintah (20:25). Mereka memerintah dengan keras dan dengan tangan besi. Mereka menguasai rakyat dan berkuasa untuk memaksa orang. Mereka mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak memperhatikan rakyat.

Tetapi untuk orang Kristen, tidak boleh demikian (20:26-28). Pembesar dalam Kerajaan Sorga harus menjadi pelayan dan hamba. Dari pada menguasai, memerintah dan memaksa orang, dia harus melayani orang menjadi teladan dan memberikan nyawanya bagi orang lain sama seperti Yesus, Raja kita, memberikan nyawaNya bagi kita.

Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta (Mt. 20:29-34)
Yesus mempraktekkan ajaranNya dalam kehidupanNya sendiri. Dia sedang berjalan ke Yerusalem dan dua orang buta berseru kepadaNya. Orang banyak menyuruh mereka diam. Tetapi mereka makin keras berseru. Yesus berhenti untuk melayani dan membantu mereka. Yesus datang untuk melayani dan orang yang mau hidup di dalam Kerajaan Sorga harus siap untuk melayani semua orang pada segala saat.