Persembahan di dalam Hukum Taurat

Nas: Imamat 27:1-27.

Penjelasan: Semua ukuran diperkirakan saja dalam gram dan liter. Satu syikal perak kurang lebih 11,5 gram. Semua nilai dalam perak harus diberikan kepada imam untuk kepentingan Kemah Suci (atau Bait Allah) dan ibadah di dalamnya (lihat 2 Raja-Raja 12:4, 5).

Kalau pemilik ingin menebus korbannya, harus menambah 20 persen dari nilai yang ditentukan imam. Misalnya rumah orang yang mau menazarkannya dinilai imam dengan 100 syikal perak, maka kalau pemiliknya ingin menebusnya, maka dia harus membayar 120 syikal perak dan rumahnya menjadi miliknya lagi. Kalau dia tidak mau menebusnya, maka rumah itu harus dijual kepada orang lain untuk 100 syikal perak.

Tahun Yobel jatuh pada setiap 50 tahun (lihat Imamat 25:8-17 untuk penjelasan mengenai tahun Yobel). Jadi misalnya jika ditaksir memerlukan dua homer benih jelai untuk menaburkan tanah yang mau dinazarkannya dan masih ada 20 tahun lagi sampai tahun Yobel berikut, maka nilai tanah dihitung sebagai berikut: 2 homer benih jelai dikalikan 50 syikal perak (Im. 27:16) sama dengan 100 syikal perak. 50 tahun Yobel dibagi 20 tahun sisa sama dengan 2,5. Jadi 100 dibagi 2,5 sama dengan 40 syikal perak yang harus dibayar.

Orang mengucapkan nazar biasanya karena Allah mengabulkan doanya, karena sukacita, semangat, pengucapan syukur, kerelaan hatinya, atau alasan-alasan lain.

Waktu Pendaftaran

Siapa: Semua orang laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas pada waktu pendaftaran.

Korban: Setengah syikal perak (kurang lebih 6 gram).

Tujuan:

1. Untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa orang.

2. Supaya tidak ada tulah yang timbul pada waktu pendaftaran.

3. Digunakan dalam ibadah Kemah Suci.

4. Menjadi peringatan di hadapan Tuhan untuk mengingat kepada orang Israel.

Nas: Keluaran 30:11-16.

Penjelasan: Rupanya dari Hukum Taurat bahwa korban ini dikumpulkan hanya satu kali saja pada waktu pendaftaran di dalam kitab Bilangan 1:2, 3, 45, 46 (lihat Kel. 38:25, 26) dan tidak bermaksud sebagai peraturan yang diteruskan setiap tahun. Namun demikian pada zaman Kristus korban ini sudah menjadi suatu pajak tahunan biasa yang harus dibayar semua orang Israel untuk kepentingan Bait Allah (lihat Matius 17:24).

Nazir

Siapa: Orang yang mengucapkan nazar orang nazir.

Korban:

1. Jikalau ada orang yang mati dekatnya dengan sangat tiba-tiba:

a. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati satu untuk korban penghapus dosa dan satu untuk korban bakaran.

b. Seekor domba jantan berumur setahun untuk korban penebus salah.

c. Harus mulai lagi waktu kenazirannya.

2. Pada saat waktu kenazirannya sudah genap:

a. Seekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela untuk korban bakaran.

b. Seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela untuk korban penghapus dosa.

c. seekor domba jantan yang tidak bercela untuk korban keselamatan.

d. Sebakul roti yang tidak beragi, yakni roti bundar dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak.

e. Roti tipis yang tidak beragi diolesi dengan minyak, serta dengan korban sajian dan korban curahan.

Tujuan: Untuk mengkhususkan dirinya bagi Tuhan.

Nas: Bilangan 6:1-21.

Selain korban persembahan untuk hal-hal yang diuraikan di atas ada peraturanperaturan lain juga sebagai berikut:

Tahun Sabat

Siapa: Semua orang Israel.

Kapan: Setiap tahun yang ketujuh.

Korban:

1. Tidak ada korban persembahan tertentu, tetapi dilarang untuk menanam dan menuai ladang atau mengusahakan/menuai pohon-pohon buahbuahan.

2. Semua yang bertumbuh dari tanah adalah umum, baik untuk pemilik tanah tersebut maupun untuk orang miskin dan pendatang.

Tujuan: Supaya tanah bisa istirahat.

Nas: Imamat 25:1-7.

Tahun Yobel

Siapa: Semua orang Israel.

Kapan: Setiap tahun kelima puluh.

Korban:

1. Tidak ada korban persembahan tertentu, tetapi dilarang untuk menanam dan menuai ladang atau mengusahakan/menuai pohon-pohon buahbuahan.

2. Semua yang bertumbuh dari tanah adalah umum, baik untuk pemilik tanah tersebut maupun untuk orang miskin dan pendatang.

3. Semua hamba atau budak harus dibebaskan.

4. Semua tanah harus kembali kepada pemiliknya yang asli.

Tujuan: Tahun kebebasan; supaya tidak ada orang yang miskin terus.

Nas: Imamat 25:8-55.

(Bersambung)

 

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Pohon Buah-Buahan

Siapa: Siapa yang menanam pohon buah-buahan.

Korban:

1. Tiga tahun pertama pohon berbuah, tidak boleh memetik buahbuahannya atau memakannya.

2. Tahun yang keempat semua buah-buahan harus dipersembahkan kepada Tuhan (untuk diberikan kepada imam-imam atau orang miskin).

3. Tahun kelima dan selanjutnya pemilik pohon itu boleh memakan buahbuahan.

Tujuan: Supaya hasil pohon itu bertambah banyak.

Nas: Imamat 19:23-25.

Penuaian Tanah

: Bagian Pertama:

Siapa: Petani yang menuai hasil tanahnya.

Korban:

1. Seberkas hasil pertama dari penuaian (kurang lebih dua liter).

2. Seekor domba berumur setahun yang tidak bercela sebagai korban bakaran.

3. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian.

4. Seperempat hin (kurang lebih satu liter) anggur sebagai korban curahan.

Tujuan:

1. Supaya Tuhan berkenan kepada orang itu.

2. Sebagai korban api-apian bagi Tuhan yakni bau yang menyenangkan.

Nas: Imamat 23:9-14; Ulangan 26:1-11.

Bagian Kedua:

Siapa: Orang yang menuai hasil tanah.

Korban:

1. Tidak boleh menyabit ladang habis-habisan sampai ke tepinya (menurut tradisi orang Yahudi jumlah kurang lebih satu perenam puluh [1/60]).

2. Tidak boleh memungut apa yang ketinggalan dari penuaian.

Tujuan: Sisanya yang tinggal itu untuk orang miskin dan orang asing.

Nas: Imamat 19:9, 10; 23:22; Ul. 24:19-21.

Anak Sulung

Siapa: Semua perempuan yang pertama-tama melahirkan dan itulah anak laki-laki dan semua peternak yang mempunyai hewan yang pertama-tama melahirkan dan itu seekor anak jantan.

Korban:

1. Untuk anak laki-laki sulung manusia, dia harus ditebus dengan membayar lima syikal perak (55 gram) pada saat dia berumur satu bulan.

2. Untuk anak jantan dari hewan yang tahir, harus dipersembahkan kepada Tuhan.

3. Untuk anak jantan keledai harus ditebus dengan seekor domba atau mematahkan lehernya.

4. Untuk anak jantan dari hewan yang haram harus menebusnya dengan membayar lima syikal perak (55 gram) atau mematahkan lehernya.

Tujuan: Karena Allah membunuh semua anak laki-laki sulung di Mesir pada malam orang Israel keluar dari Mesir jadi semua anak laki-laki sulung adalah kepunyaan Allah.

Nas: Keluaran 13:11-16; Bilangan 18:16; Ulangan 15:19-23.

Penjelasan: Kalau seorang perempuan untuk kali pertama melahirkan seorang perempuan, kemudian anaknya yang kedua seorang laki-laki, maka anak laki-laki itu tidak harus ditebus. Juga dengan hewan, kalau anak pertama yang dilahirkan adalah betina kemudian anak yang kedua adalah jantan, tidak harus dikorbankan atau ditebus. Hanya anak sulung laki-laki.

Nazar

Siapa: Orang yang dengan rela hati ingin menazarkan sesuatu atau seseorang kepada Allah.

Korban: Ada bermacam-macam korban sesuai dengan apa yang ingin dinazarkan orang:

1. Dirinya sendiri:

a. Laki-laki yang berumur 20 s/d 60 tahun: 50 syikal perak (575 gram).

b. Perempuan yang berumur 20 s/d 60 tahun: 30 syikal perak (345 gram).

c. Laki-laki yang berumur 60 tahun ke atas: 15 syikal perak (173 gram). d. Perempuan yang berumur 60 tahun ke atas: 10 syikal perak (115 gram).

2. Anaknya:

a. Laki-laki yang berumur 5 s/d 20 tahun: 20 syikal perak (230 gram).

b. Perempuan yang berumur 5 s/d 20 tahun: 10 syikal perak (115 gram).

c. Laki-laki yang berumur 1 bulan s/d 5 tahun: 5 syikal perak (58 gram).

d. Perempuan yang berumur 1 bulan s/d 5 tahun: 3 syikal perak (35 gram).

Tambahan: Kalau dia tidak mampu membayar nilai yang ditentukan di atas karena miskin:

a. Dia harus menghadapkan orang yang ingin dinazarkan kepada imam.

b. Imam yang akan menentukan nilai orang itu sesuai dengan kemampuannya.

3. Hewan yang boleh dipersembahkan sebagai persembahan:

a. Harus diserahkan kepada Allah.

4. Hewan yang haram yang tidak boleh dipersembahkan:

a. Imam harus menentukan nilainya.

b. Harus dijual kepada orang lain dan uangnya diserahkan kepada Allah.

c. Kalau pemiliknya ingin menebusnya, dia harus menambah 20 persen.

5. Rumahnya:

a. Imam harus menentukan nilainya.

b. Harus dijual kepada orang lain dan uangnya diserahkan kepada Allah.

c. Kalau pemiliknya ingin menebusnya, dia harus menambah 20 persen.

6. Sebagian dari ladang miliknya (yang termasuk warisan dari nenek moyang):

a. Nilainya diperhitungkan sebagai berikut:

1. Menentukan jumlah benih jelai yang diperlukan untuk menaburkan seluruh tanah tersebut.

2. Satu homer benih jelai (220 liter) dihitung 50 syikal perak (575 gram) kalau dinazarkan pada tahun Yobel.

3. Menentukan jumlah tahun yang tinggal sampai tahun Yobel berikut.

4. Harga nilai tanah tersebut dikurangkan menurut jumlah tahun yang tinggal sampai tahun Yobel berikut.

b. Pemiliknya yang mau menebus ladangnya itu harus menambah 20 persen dan tanah itu tetap miliknya, bahkan setelah tahun Yobel.

c. Jikalau orang lain yang membelinya, maka setelah tahun Yobel ladang itu menjadi milik imam.

7. Ladang yang dibelinya dari orang lain (yang tidak termasuk warisan nenek moyang):

a. Imam yang menentukan nilai ladang tersebut sampai kepada tahun Yobel.

b. Harus membayar nilai tersebut pada hari itu juga.

c. Dalam tahun Yobel ladang kembali kepada pemiliknya yang asli.

Nas: Imamat 27:1-27.

(Bersambung)

 

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Korban Penebus Salah

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Jenis: 1. Seekor kambing domba jantan dinilai menurut syikal perak.

2. Harus membayar sebagai gantinya untuk hal kudus yang menyebabkan dia berdosa dengan menambah seperlima.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:14-16; 7:1-10.

Bagian kedua:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang Tuhan tanpa mengetahuinya.

Jenis: Seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:17-19; 7:1-10.

Bagian Ketiga:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dan berubah setia dengan:

a. Memungkiri terhadap sesamanya barang yang dipercayakan kepadanya, barang yang diserahkan kepadanya, barang yang dirampasnya;

b. Melakukan pemerasan atas sesamanya;

c. Menemui barang hilang dan memungkirinya;

d. Bersumpah dusta.

Jenis:

1. Harus memulangkan barang tersebut.

2. Harus membayar gantinya dengan menambah seperlima dan memberikannya kepada pemiliknya.

3. Mempersembahkan seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian untuk menerima pengampunan.

Nas: Imamat 6:1-7; 7:1-10 (juga lihat Bil. 5:5-9).

Nas-nas ini di dalam Imamat 1-7 adalah peraturan-peraturan caranya untuk mempersembahkan korban-korban tersebut. Siapa yang mempersembahkan korban tersebut, jenis korban dan tujuan mempersembahkan korban tersebut yang dicatat di atas semuanya dari Imamat 1-7. Namun demikian ada banyak hal lain yang untuknya harus mempersembahkan korban-korban tersebut yang sebagiannya saya mau uraikan di bawah ini secara umum saja. Pada umumnya yang saya mau uraikan di bawah ini mengenai korban-korban yang wajib dipersembahkan setiap orang Israel secara pribadi dan bukan korban-korban yang harus dipersembahkan para imam untuk bangsa Israel pada umumnya. Apa yang kita berusaha menunjukkan adalah tanggung jawab seorang Israel pribadi dalam memberi persembahan kepada Tuhan.

Setelah Melahirkan Anak

Siapa: Seorang perempuan yang melahirkan anak.

Korban:

1. Seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran.

2. Seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa. Kalau dia tidak mampu menyediakan seekor domba maka harus menyediakan: 1. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Tujuan: Mengadakan pendamaian bagi perempuan itu supaya ditahirkan dari leleran darahnya.

Nas: Imamat 12:1-8.

Penyakit Kulit yang Mudah Menular

Siapa: Orang yang disembuhkan dari penyakit kusta. Kata kusta di sini dalam bahasa Ibrani dipakai untuk beberapa penyakit kulit yang mudah menular, bukan penyakit kusta saja.

Korban:

1. Dua ekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela.

2. Seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela.

3. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak.

4. Satu log (kurang lebih seperempat liter) minyak. Seekor domba jantan dan satu log minyak sebagai korban penebus salah yang lain sebagai korban bakaran. Seekor domba betina sebagai korban penghapus dosa. Tepung sebagai korban sajian.

Korban bagi dia yang tidak mampu menyediakan yang di atas maka boleh menyediakan:

1. Seekor domba jantan untuk korban penebusan salah.

2. Sepersepuluh efa (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan minyak sebagai korban sajian.

3. Satu log (kurang lebih seperempat liter) minyak.

4. Dua ekor burung tekukur atau dua ekor burung merpati, satu sebagai korban penghapus dosa dan yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga dia menjadi tahir.

Nas: Imamat 13-14.

Infeksi pada Kemaluan Laki-Laki

Siapa: Orang laki-laki yang disembuhkan dari suatu infeksi pada kemaluannya.

Korban: Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, seekor sebagai korban penghapus dosa, yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian. Nas: Imamat 15:1-15.

Infeksi pada Kemaluan Perempuan

Siapa: Orang perempuan yang sudah disembuhkan dari pengeluaran lelehan atau darah dari kemaluannya yang bukan pada saat haid. Korban: Dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, seekor sebagai korban penghapus dosa, yang lain sebagai korban bakaran.

Tujuan: Mengadakan pendamaian.

Nas: Imamat 15:25-30

.

Persembahan Mula-Mula

Korban Sajian

Siapa: Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Tepung yang terbaik dengan minyak dan kemenyan, atau roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, atau hulu hasil bulir gandum yang dipanggang dengan minyak dan kemenyan — semuanya harus dibubuhi dengan garam.

Tujuan: Bagian ingat-ingatan sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan.

Nas: Imamat 2:1-16; 6:14-23.

Korban Keselamatan

Siapa: Siapa saja yang rela dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan atau betina, atau seekor kambing atau domba jantan atau betina yang tidak bercela.

Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur.

Tujuan: Sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan atau sebagai pengucapan syukur, karena bernazar atau sebagai persembahan sukarela.

Nas: Imamat 3:1-17; 7:11-21; 7:28-38; Bilangan 15:1-12.

Korban Penghapus Dosa

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang Tuhan.

Jenis:

a. Imam yang diurapi atau segenap umat Israel: Seekor lembu jantan muda yang tidak bercela.

b. Pemuka: Seekor kambing jantan yang tidak bercela.

c. Rakyat jelata yaitu orang Israel biasa: Seekor kambing atau domba betina yang tidak bercela.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian untuk menerima pengampunan.

Nas: Imamat 4:1-35; 6:24-30.

Bagian Kedua

Siapa: Orang yang berbuat dosa misalnya:

a. Ia tidak mau memberi saksi tentang sesuatu yang didengarnya atau dilihatnya;

b. Ia kena sesuatu yang najis seperti bangkai binatang atau kenajisan yang berasal dari manusia atau sesuatu hal lain yang najis;

c. Ia bersumpah teledor, yaitu bersumpah sembarangan.

Jenis: Seekor kambing atau domba betina; kalau tidak mampu, maka dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati; kalau tidak mampu, maka harus membawa sepersepuluh efa (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik tanpa minyak atau kemenyan.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:1-13; 6:24-30.

Korban Penebus Salah

Bagian Pertama:

Siapa: Orang yang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Jenis:

1. Seekor kambing domba jantan dinilai menurut syikal perak.

2. Harus membayar sebagai gantinya untuk hal kudus yang menyebabkan dia berdosa dengan menambah seperlima.

Tujuan: Sebagai tebusan salah untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:14-16; 7:1-10.
Bagian kedua:

Siapa: Orang yang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang Tuhan tanpa mengetahuinya.

Jenis: Seekor kambing domba jantan yang sudah dinilai.

Tujuan: Untuk mengadakan pendamaian dan menerima pengampunan.

Nas: Imamat 5:17-19; 7:1-10.(Bersambung)

 

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Pendahuluan

Banyak orang berpikir bahwa Hukum Taurat hanya mewajibkan orang Israel untuk memberikan sepersepuluh kepada Tuhan. Pikiran itu salah. Memang semua orang Israel wajib memberikan sepersepuluh dari pendapatan mereka kepada Tuhan, tetapi mereka memberikan jauh lebih banyak dari itu. Mereka mempunyai banyak persembahan lain yang harus mereka persembahkan. Jadi sepersepuluh adalah dasar atau minim persembahan mereka. Marilah kita meninjau bermacam-macam persembahan yang wajib mereka persembahkan. Uraian korban-korban berikut adalah peninjauan saja untuk memberikan kepada saudara pandangan umum mengenai macam-macam korban yang harus dipersembahkan. Keterangan di bawah ini tidak dalam atau lengkap. Untuk keterangan yang lebih dalam dan lengkap bisa membaca nas-nas di dalam Alkitab atau buku-buku lain mengenai korban-korban dalam Hukum Taurat. Jangan cepat-cepat membaca bagian ini. Membaca dengan penuh perhatian dan renungkanlah betapa banyak orang Israel persembahkan.

Korban Bakaran

Siapa:Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan, atau seekor kambing jantan, atau seekor domba jantan yang tidak bercela, atau burung tekukur atau anak burung merpati. Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu jantan, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur. Tujuan: Mengadakan pendamaian dengan Allah atau sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan Tuhan. Nas: Imamat 1:1-17; 6:8-13; Bilangan 15:1-12.

Korban Sajian

Siapa: Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Tepung yang terbaik dengan minyak dan kemenyan, atau roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, atau hulu hasil bulir gandum yang dipanggang dengan minyak dan kemenyan — semuanya harus dibubuhi dengan garam.

Tujuan: Bagian ingat-ingatan sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan.

Nas: Imamat 2:1-16; 6:14-23.

Korban Keselamatan

Siapa: Siapa saja yang rela dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan atau betina, atau seekor kambing atau domba jantan atau betina yang tidak bercela.

Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur.

Tujuan: Sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan atau sebagai pengucapan syukur, karena bernazar atau sebagai persembahan sukarela.

Nas: Imamat 3:1-17; 7:11-21; 7:28-38; Bilangan 15:1-12.

(Bersambung)

Nuh

Setelah Nuh keluar dari bahtera firman Allah mengatakan bahwa dia mempersembahkan beberapa ekor binatang dan burung sebagai korban bakaran kepada Tuhan (Kej. 9:20, 21). Oleh karena persembahan Nuh itu, maka Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membinasakan seluruh bumi dengan air lagi. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dari zaman Habel sampai dengan zaman Nuh, orang-orang benar di hadapan Tuhan mempersembahkan korban kepadaNya. Tentu Nuh belajar mempersembahkan korban demikian kepada Tuhan dari orang tuanya atau nenek moyangnya. Selanjutnya bahwa Allah menerima korban Nuh menyatakan bahwa Nuh mempersembahkan korbannya itu menurut kehendak Allah.

Abraham

Walaupun hanya ada satu nas yang mengatakan secara langsung bahwa Abraham mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, ada nas-nas lain yang menyinggungnya. Dalam Kejadian 22, Allah menyuruh Abraham untuk mempersembahkan anaknya Ishak sebagai korban bakaran kepada Tuhan (Kej. 22:2). Jadi Abraham sudah tahu apa itu korban bakaran dan caranya untuk mempersembahkannya. Ini menyinggung bahwa Abraham sudah biasa melakukan demikian. Walaupun Malaikat Tuhan menghentikan Abraham sehingga dia tidak mempersembahkan anaknya, Tuhan menyediakan seekor domba sebagai ganti anaknya itu. Abraham mempersembahkan domba itu sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Beberapa kali di dalam Kejadian dikatakan bahwa Abraham mendirikan sebuah mezbah (Kej. 12:7; 13:4, 18). Tujuan dari pendirian mezbah itu biasanya adalah untuk mempersembahkan korban kepada Allah (Kej. 22:9). Jadi walaupun dalam Kejadian 12:7; 13:4, 18 tidak mengatakan bahwa Abraham mempersembahkan korban kepada Allah, kita bisa menganggap bahwa selama Abraham tinggal dekat mezbah itu, dia biasanya mempersembahkan korban kepada Allah secara teratur sesuai dengan kehendak Tuhan.Sebutan pertama di dalam Alkitab mengenai perpuluhan adalah cerita Abram dengan Melkisedek dalam Kejadian 14:17-20. Setelah Abram pergi dan mengalahkan perserikatan raja-raja di Timur yang menyerang Sodom, Abram bertemu dengan Melkisedek. Melkisedek adalah seorang imam Allah yang Mahatinggi. Waktu Abram bertemu dengan Melkisedek, Abram memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari jarahan yang diperolehnya (Ibr. 7:4). Perhatikanlah bahwa menurut Ibrani 7:4 Abram tidak memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari segala miliknya, melainkan sepersepuluh dari semua rampasan yang diperolehnya dalam perang itu. Kenapa Abram memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang diperolehnya? Alkitab sendiri tidak mengatakannya. Apakah itu karena suatu penyataan dari Allah yang menyuruh Abram melakukan demikian? Apakah karena Abram sendiri ingin mengucap syukur kepada Allah karena berhasil dalam perang itu sehingga atas kerelaannya sendiri dia memberikan sepersepuluh? Apakah karena alasan lain? Alkitab tidak mengatakannya. Jadi kita tidak bisa tahu dengan pasti. Dan juga tidak dikatakan di tempat lain bahwa Abram pernah memberikan perpuluhan sebelum atau sesudah peristiwa ini. Akan tetapi hal perpuluhan pertama kali disebut di sini di dalam Alkitab dan di kemudian hari di dalam Hukum Taurat, Allah membuatnya menjadi hukum.

Yakub

Waktu Yakub melarikan diri dari kakaknya Esau, dia mempunyai tujuan untuk pergi ke Padan Aram di mana pamannya tinggal. Dalam perjalanan ke sana, dia singgah di Betel untuk bermalam (Kej. 28). Setelah memperoleh mimpi atau penyataan yang luar biasa, Yakub bersumpah yang demikian kepada Allah, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu” (Kej. 28:20-22). Apakah Yakub memenuhi sumpahnya ini, Alkitab tidak mengatakannya, tetapi saya percaya bahwa Yakub memang memenuhi sumpahnya ini. Dari manakah Yakub memperoleh ide untuk memberikan sepersepuluh, lagi kita tidak tahu. Mungkin kakeknya Abraham menceritakan kepadanya waktu dia bertemu dengan Melkisedek. Mungkin bapanya Ishak mengajarkan demikian kepada Yakub. Mungkin dari penyataan Allah sendiri. Lagi kita tidak bisa memastikan, tetapi di sini adalah contoh lain di mana bapa-bapa leluhur mempersembahkan sepersepuluh kepada Allah. Jadi kita melihat dari awalnya, sejak manusia berada di atas bumi, Allah menuntut persembahan. Dari Habel sampai Yakub, mereka semua yang setia kepada Allah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah dari hasil ternak mereka sendiri. Selain dari pada itu, Abram pernah memberikan sepersepuluh dari rampasan yang diperolehnya di dalam perang, dan Yakub pernah berjanji untuk memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang diperolehnya.(Bersambung)

Persembahan Mula-Mula

Adam dan Hawa Waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan mereka di taman Eden, semua dalam keadaan yang paling baik. Dosa belum masuk ke dalam dunia. Adam dan Hawa mempunyai persekutuan penuh dengan Allah secara langsung. Tetapi Iblis datang dan menipu Hawa untuk makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, pohon itu yang mereka dilarang Allah untuk makan dari padanya, dan mereka jatuh ke dalam dosa. Bisa membaca peristiwa itu dalam Kejadian 3. Oleh karena mereka makan dari buah terlarang itu, maka mereka menyadari bahwa mereka telanjang dan mereka menjadi malu. Jadi Allah membunuh seekor binatang (Alkitab tidak menyatakan binatang yang mana) untuk membuat pakaian dari kulit binatang itu untuk Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Dengan demikian Allah mengajarkan bahwa harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22).

Kain dan Habel Catatan pertama mengenai manusia yang mempersembahkan korban persembahan kepada Allah adalah dalam Kejadian 4, dalam peristiwa Kain dan Habel. Walaupun Alkitab tidak mengatakannya, sudah nyata bahwa Allah telah memberitahukan Adam dan Hawa bagaimana caranya mereka dan anak-anak mereka harus menyembah kepadaNya. Dikatakan dalam Kejadian 4:3, 4 bahwa “Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan” sedangkan “Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.” Ini disebabkan Kain adalah seorang petani sedangkan Habel adalah seorang gembala. Selanjutnya ayat 4b dan 5a mengatakan bahwa “Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya.” Kenapa Allah tidak menerima korban Kain? Ada dua tafsiran yang memungkinkan. Ada yang berkata oleh karena Kain tidak mempersembahkan korban binatang, melainkan korban dari hasil tanahnya, maka Allah tidak mau menerimanya. Katanya bahwa apa yang Allah tuntut pada zaman itu adalah korban binatang oleh karena harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22). Jadi rupanya bahwa oleh karena Kain bukan seorang gembala dan tidak mempunyai binatang, dia tidak mau menjual atau menukar hasil tanahnya dengan Habel untuk memperoleh seekor binatang. Dia tidak mau harus bersandar pada Habel untuk memperoleh binatang sebagai korban persembahan kepada Allah. Jadi dia mengambil keputusan untuk mempersembahkan hasil tanahnya kepada Allah walaupun itu bukan kehendak Allah. Dan oleh karena dia mempersembahkan hasil tanahnya dari pada binatang kepada Allah, maka Allah tidak menerima korbannya itu.

Tafsiran ini besar memungkinkan. Memang kalau Allah hanya menuntut korban persembahan untuk pengampunan dosa, maka persembahan dari hasil tanah tidak bisa diterima kecuali orangnya sangat miskin (Im. 5:11-13). Akan tetapi tidak ada apa-apa di dalam konteks Kejadian 4 untuk menyinggung bahwa apa yang mereka persembahkan adalah korban penghapus dosa, atau bahwa Allah hanya menuntut korban binatang. Tafsiran lain adalah oleh karena Kain tidak mempersembahkan hasil tanah yang pertama, maka itulah sebabnya Allah tidak mau menerimanya. Menurut Kejadian 4:3 Kain mempersembahkan “sebagian dari hasil tanahnya.” Di sini dikatakan “sebagian” bukan hasil yang pertama. Jadi rupanya bahwa Kain hanya mempersembahkan korban sembarangan. Tetapi tentang korban Habel, ayat 4 mengatakan bahwa dia mempersembahkan “anak sulung kambing dombanya.” Jadi Habel mempersembahkan anak pertama yang keluar dari kandungan. Imamat 2:12 dan berikut berkata bahwa orang harus mempersembahkan hasil pertama dari panennya (lihat juga Im. 23:10; Ul. 18:4).

Tafsiran ini juga memungkinkan kalau kita menganggap bahwa apa yang mereka persembahkan bukan korban penghapus dosa. Tetapi juga katanya oleh karena tidak ada sebutan persembahan dari hasil tanah sebelum zaman Musa, maka pada zaman sebelumnya (yaitu pada zaman Kejadian) Allah tidak memberikan petunjuk tentang persembahan hasil tanah, dan oleh karena itu, korban Kain tidak diterimaNya.

Sebenarnya kita tidak tahu kenapa sebenarnya Allah tidak menerima korban Kain oleh karena Alkitab tidak memberitahukan kepada kita secara jelas. Yang kita tahu adalah bahwa Allah sudah memberitahukan kepada mereka sejenis korban yang harus mereka persembahkan dan caranya mereka harus mempersembahkannya. Kain tidak mengikut petunjuk dari Allah dan oleh karena itu korbannya tidak diterimaNya.

Tetapi kita melihat dari cerita ini bahwa pada awalnya manusia sudah mempersembahkan sebagian dari hasil kerjanya kepada Allah. Mereka mengembalikan kepada Allah sebagian dari berkat yang mereka terima dari Allah. Dari awalnya Allah menuntut begitu. Dan sampai sekarang dalam zaman Kristen, Allah tetap menuntut agar kita mengembalikan kepadaNya sebagian dari berkat yang kita terima dari Dia.(Bersambung)

Pelajaran 2: Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Mengutamakan Harta Jasmani

Cinta Uang

Ada banyak masalah dengan keuangan dan banyak alasan Allah tidak memberkati orang Kristen, anakNya.  Ada orang Kristen yang juga mencintai uang.  Satu Timotius 6:10 berkata bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan.  “Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”  Lagi, kalau kita mengutamakan uang di dalam kehidupan kita dari pada Allah, kita tidak akan banyak diberkati oleh Allah.

Cinta uang menghasilkan banyak kejahatan.  Orang iri hati terhadap yang lain yang mempunyai harta jasmani yang lebih banyak.  Orang berkelahi gara-gara tanah, gara-gara pinjaman yang tidak dikembalikan, dan hal-hal lain.  Orang menipu untuk memperoleh sesuatuOrang menjatuhkan orang lain supaya bisa naik pangkat dan mempunyai gaji yang lebih tinggi. Orang dengan sengaja merusakkan barang orang lain yang menuntut ganti rugi.  Orang yang memalsukan nota atau kwitansi.  Orang yang tidak setia atau bertanggung jawab atas uang orang lain.  Bendahara jemaat salah gunakan uang jemaat untuk dirinya sendiri. Orang naik taksi, ojek, atau perahu dan tidak mau membayar ongkosnya. Orang memberi persembahan sedikit, tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Dan ada banyak masalah dan kejahatan yang lain yang timbul karena cinta uang.

Kalau kita lebih mencintai uang dari pada Allah, kita tidak berkenan kepada Allah dan Allah tidak akan memberkati kita.  Kita harus memburu Allah, bukan uang.  Kita harus mencintai Allah dan kebenaran dari pada uang.  Ada banyak hal yang lebih penting dari pada uang yang harus kita pertimbangkan dahulu, terutama hal-hal rohani.  Pergi sembahyang lebih penting dari pada mencari uang.  Meluangkan waktu dengan Allah lebih penting dari pada uang.  Mengatakan yang benar lebih penting dari pada menipu untuk mendapat uang, bahkan kalau berarti kita akan rugi.  Rela mengorbankan diri lebih penting dari pada mengorbankan orang lain untuk mendapat uang.  Mencari keuntungan orang lain lebih baik dari pada mencari keuntungan diri kita sendiri (1 Kor. 10:24).  Yesus berkata, “Adalah lebih berbahagia untuk memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

Keserakahan dan Ketamakan

Kejahatan lain yang berkaitan dengan uang adalah keserakahan dan ketamakan. Orang yang serakah adalah orang yang selalu ingin mempunyai lebih dari apa yang dimiliki.  Dia tidak senang dengan apa yang ada padanya.  Dia selalu harus mempunyai lebih banyak lagi.  Orang tamak adalah orang yang ingin mempunyai sebanyakbanyaknya untuk dirinya sendiri.  Dia tidak suka membagi-bagi apa yang ada padanya dengan orang lain.  Dia mau semuanya untuk dirinya sendiri saja.  Keduanya hampir sama.  Keserakahan dan ketamakan adalah dosa menurut Alkitab (Ef. 5:3-5; Lk. 12:15).

Efesus 5:5 berkata bahwa keserakahan sama dengan penyembahan berhala.  Orang yang mencintai uang adalah orang yang menyembah uang.  Ya, mungkin dia tidak sujud di hadapan uang, tetapi maksudnya, dia mengutamakan uang di dalam kehidupannya dari pada Allah.  Apa saja yang kita utamakan dalam kehidupan kita dari pada Allah menjadi berhala bagi kita.  Kita tidak boleh menjadi orang yang serakah atau tamak.  Alkitab mendorong kita supaya kita puas dengan apa yang ada pada kita (Flp. 4:11; 1 Tim. 6:8; Ibr. 13:5; Lk. 3:14).

Korupsi

Masalah lain yang sangat besar di Indonesia adalah masalah korupsi.  Cinta uang, keserakahan dan ketamakan adalah di belakang korupsi.  Dan korupsi adalah nama lain untuk pemerasan.  Kalau kita menjadi pegawai negeri atau mempunyai pekerjaan atau jabatan lain di mana kita dalam posisi untuk menerima uang dari orang lain untuk melakukan sesuatu, janganlah kita menerima uang tersebut.  Saudara sudah dibayar gaji untuk melakukan tugas itu.  Itu tidak jujur dan adalah dosa untuk memakai jabatan itu untuk memperkaya diri.  Kalau harus menagih biaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, itu boleh, tetapi uang itu dimasukkan dalam kas kantor untuk dipakai untuk biaya-biaya kantor.  Tidak boleh ditaruh dalam sak celana atau dipakai untuk menambah gaji.  Korupsi merugikan masyarakat.  Korupsi hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri.  Itulah dosa di hadapan Tuhan (1 Kor. 10:24).  Kalau orang mendesak untuk memberikan uang, harus lebih mendesak untuk tetap menolak dan berkata, saya tidak bisa menerimanya.  Janganlah kita sebagai anggota jemaat Kristus terlibat di dalam korupsi sedikitpun.

Penutup

Ada banyak sekali masalah dengan uang.  Kita harus menyadarinya semuanya.  Kita harus menyadari sikap dan pikiran kita juga terhadap uang.  Kalau kita mempunyai sikap dan pikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita harus berubah.  Jadi pertanyaan “Kenapa Allah tidak memberkati saya?” adalah pertanyaan yang salah.  Pertanyaan yang tepat adalah, “Bagaimanakah Allah bisa lebih memberkati saya?” atau “Apakah yang harus saya lakukan supaya Allah lebih memberkati saya?” Itulah yang akan kita bahas di dalam buku pelajaran ini.  Tetapi yang terutama kita harus mengetahui ialah kita harus mengutamakan Allah di dalam kehidupan kita kalau kita mau Allah memberkati kita.

Lagi, mengutamakan Allah di dalam kehidupan kita termasuk meluangkan waktu dengan Allah di dalam doa dan mempelajari firmanNya, mengikut sembahyang, menginjil, terlibat di dalam pelayanan, menjadi orang yang murah hati yang rela membantu orang lain dan yang memberikan persembahan sesuai dengan kehendak Allah, lebih mencintai Allah dari pada uang, kehidupan yang di dalam kebenaran yang sesuai dengan kehendak Allah, menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan dan lain sebagainya.  Kalau kehidupan kita dikorbankan bagi Allah dan kerajaanNya, dan diarahkan kepada Allah untuk mencerminkan watak Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari, Allah akan memberkati kita dengan luar biasa.  Kita harus bergiat bagi Allah dan bukan bagi dunia.  Kita harus memikirkan perkara-perkara rohani dari pada perkaraperkara duniawi.  Semakin kita bergiat bagi Allah, mengutamakan Allah dalam kehidupan kita dan mengorbankan diri kita bagi Allah, semakin Allah akan memberkati kita. Dalam sisa pelajaran ini, saya mau kita lebih banyak mempelajari tentang bagaimana Allah bisa lebih memberkati kita.  Tetapi kita harus belajar jauh lebih banyak mengenai persembahan di dalam Perjanjian Lama dan bagaimana itu berkaitan dengan kita hari ini.  Masih banyak hal yang kita belum mengerti mengenai persembahan dan kaitannya dengan kita orang Kristen hari ini.  Saya memohon kepada saudara-saudara supaya mempelajari semua buku ini dengan seksama dan membaca semua nas yang saya tulis. Tolong membaca dan mempelajari baik-baik sistem persembahan di dalam Perjanjian Lama karena ada banyak prinsip di situ yang berlaku bagi kita sebagai orang Kristen. Mempelajari sistem persembahan di dalam Perjanjian Lama sangat penting untuk mengerti kehendak Allah bagi kita orang Kristen mengenai persembahan hari ini.

Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Sikap Bersungut-Sungut

Yang kedua adalah sikap bersungut-sungut.  Di belakang pertanyaan itu juga adalah sikap sungut-sungut, “Kenapa sampai Allah tidak memberkati saya seperti Dia memberkati orang itu?”  Kita pikir.  Kita juga harus menyadari bahwa sungut adalah dosa di hadapan Tuhan.  Allah tidak senang untuk mendengar kita bersungut-sungut. Itulah sebabnya Allah tidak senang dengan orang Israel yang keluar dari Mesir.  Mereka bersungut-sungut terus terhadap Allah.  Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:10, “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”  Bacalah konteksnya dari 1 Korintus 10:6.  Di antara sungut juga ada termasuk penyembah berhala dan percabulan.  Kitab Bilangan penuh dengan contoh-contoh orang Israel yang bersungut-sungut melawan Tuhan.  Bacalah Bilangan 14:27-29 dan 17:5, 10 untuk contoh.

Orang Israel bersungut-sungut karena banyak hal.  Mereka tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan.  Itulah sebabnya Tuhan marah mereka.  Kalau kita hanya bersungut-sungut dengan tidak mengucapkan syukur, Allah tidak senang dengan kita.  Perjanjian Baru penuh dengan tegoran supaya kita mengucap syukur dalam segala hal (Efesus 5:20; Kol. 3:16, 17; 1 Tes. 5:18).  Kalau kita mengucap syukur, maka kita tidak akan bersungut-sungut.  Sebaliknya, orang yang bersungut-sungut tidak mengucap syukur.

Kita bisa mengucapkan keluhan-keluhan kita dengan pengucapan syukur sehingga Allah memberkati kita.  Misalnya orang Israel bersungut-sungut karena tidak ada air (Bil. 20:2-13).  Mereka bisa berkata, “Kami mengucap syukur kepadaMu, ya Tuhan, karena Engkau telah membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir.  Kami mengucap syukur karena Engkau menuntun kami di dalam padang gurun ini.  Kami mengucap syukur atas penyertaanMu.  Namun kita sudah lama berjalan-jalan dan tidak ketemu sumber air. Kami haus.  Kami mau minta supaya Engkau memberikan kepada kami air untuk diminum.  Kami mengucap syukur karena Engkau mendengarkan doa kami.”  Pasti Allah akan senang dengan doa macam begitu.

Ya, kadang-kadang kita begitu kecewa, frustrasi, dan putus asa sehingga kita mengeluarkan banyak keluhan kepada Tuhan.

Allah sudah tahu apa yang ada di dalam hati kita dan kita tidak harus sembunyi-sembunyi perasaan kita.  Kitab Mazmur juga penuh dengan mazmur yang ditulis orang yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi kita harus menyadari bahwa walaupun kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan, bahwa kita harus mengaku dosa dan kelemahan kita dan kita harus tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan Tuhan akan mendengarkan dan memberkati kita.

Lagi sikap bersungut-sungut dan perasaan kecewa atau jengkel di dalam hati kita terhadap Tuhan oleh karena Dia tidak memberkati kita sebagaimana mestinya (menurut pikiran kita) adalah sifat kesombongan dan sungut yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dan seorang Kristen yang bersikap begitu tidak akan banyak diberkati oleh Tuhan.

Sifat Kepentingan Diri Sendiri dan Iri Hati

Hal lain di belakang pertanyaan tersebut adalah sifat kepentingan diri sendiri dan iri hati.  Kita iri hati terhadap orang lain yang lebih diberkati dari pada kita.  Selanjutnya, kita mempunyai pikiran bahwa saya mau diberkati.  “Di mana berkat untuk saya?”  Kita hanya memikirkan “saya sendiri” dan “keuntungan untuk saya sendiri” dan “apa yang penting bagi saya.”  Saya mau menerima berkat.  Saya mau Allah memberkati saya.  Saya mencari keuntungan untuk saya.  Saya menjaga apa yang penting bagi saya dan itu penting bagi saya agar saya menerima berkat dari Allah.  Saya, saya, saya.  Orang itu mempunyai penyakit “saya.”

Apakah kita pernah memikirkan apa yang diinginkan Allah?  Apakah kehendak Allah? Apa yang penting bagi Allah?  Ingat waktu “saya” dibaptis, “saya” sudah mati. Dengarkanlah apa yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 2:19, 20, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Paulus berkata bahwa dia sudah mati.  Dia sudah disalibkan dengan Kristus. Sekarang itulah Kristus yang hidup di dalamnya.  Ingat, kalau kita sudah dibaptis, kita sudah mati.  Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita hidup untuk Allah. Allah itu yang penting di dalam kehidupan kita ini.  Kita harus mencari apa yang penting bagi Allah.  Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi baiklah kita duduk dan merenungkan, “Apa yang dikehendaki oleh Allah?  Apa yang diinginkan oleh Allah?  Apakah yang penting bagi Allah?  Apa yang Allah mau dari saya?”  Dan baiklah kita melakukannya.  Kalau kita mencari kepentingan Allah, nanti Allah juga akan memperhatikan kepentingan kita dan memberkati kita dengan lebih banyak lagi.  Tetapi kalau kita hanya mencari kepentingan diri kita sendiri dan tidak mencari kepentingan dari Allah, janganlah kita mengharapkan banyak berkat dari Allah.

Memuaskan Hawa Nafsu

Alasan lain Allah tidak memberkati kita adalah karena apa yang Allah berikan kepada kita, kita pergunakan untuk memuaskan hawa nafsu saja (Yak. 4:3).  Apakah kita memakai uang kita untuk membeli minuman keras, rokok, pinang, main judi, atau melakukan dosa-dosa lain?  Atau, apakah kita memberi derma sedikit saja supaya kita bisa menyimpan uang banyak untuk membeli televisi, parabola, atau alat VCD, supaya kita bisa duduk-duduk nonton-nonton daripada berdoa, mempelajari firman, atau melakukan kegiatan rohani lain?

Nah, saya tidak bermaksud bahwa membeli televisi atau parabola adalah dosa.  Kalau kita memberi kepada Allah sebagaimana Dia memberkati kita, itu bukan dosa.  Tetapi kalau kita hanya memberi sedikit saja kepada Allah pada hari Minggu, karena kita tidak punya uang, sedangkan kita menyimpan uang untuk beli hal-hal duniawi yang mewah, itu berarti kita menganggap hal-hal duniawi lebih penting.  Kita hanya mau memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita dari pada keinginan Allah.(Bersambung)

Pelajaran 1

Dunia dan Segala Isinya Milik Allah

Allah yang Menciptakan Segala Sesuatu Kejadian 1:1 berkata bahwa Allah menciptakan langit dan bumi.  Jika tidak ada Allah maka tidak ada langit dan bumi juga.  Dalam enam hari Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.  Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah Allah punya.  Tiga nas di dalam Mazmur menyatakan demikian:  “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1); “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya” (Mzm. 50:12); “PunyaMulah langit, punyaMulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya” (Mzm. 89:12).

Allah Memiliki Segala Sesuatu Jadi sudah jelas bahwa Allah memiliki segala sesuatu.  Kita harus mengerti hal itu baik-baik.  Dari satu segi, segala sesuatu yang kita punya adalah Allah punya.  Allah memberikannya kepada kita.  Ayub sendiri mengakui hal itu.  Menurut Ayub 1:3, dia orang yang paling kaya di sebelah timur.  Ayub mempunyai ribuan ekor kambing domba, unta, lembu, dan keledai.  Dia mempunyai banyak budak laki-laki dan perempuan.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Dalam satu hari dia kehilangan semua harta miliknya dan semua anaknya meninggal.  Bisa membaca kecelakaan yang ditimpa Ayub di dalam Ayub 1.  Tetapi bagaimanakah tanggapan Ayub setelah semua peristiwa itu?  Dia berkata dalam Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  Ayub mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan kepada Ayub segala miliknya.  Dan oleh karena itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu, maka Tuhan juga mempunyai hak untuk mengambil segala sesuatu dari padanya.

Milik Kita Adalah Milik Allah

Bagaimana saudara?  Apakah saudara mengaku bahwa segala milikmu adalah milik Allah?  Apakah saudara mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu kepada saudara?  Ya, mungkin saudara bekerja keras untuk memperoleh uang untuk membeli sepeda motor.  Jadi mungkin saudara berpikir, “Itulah saya yang bekerja keras, saya yang memperoleh uang dari hasil kerja saya, itulah saya yang membeli sepeda motor ini, jadi inilah sepeda motor yang saya punya.”

Tetapi bagaimanakah saudara menghasilkan uang?  Dari hasil kebun? Bagaimanakah kalau tanaman kena hama, atau menjadi kering karena tidak ada hujan, atau hancur dalam banjir?  Itu semua dalam kekuasaan Allah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari hasil laut.  Tetapi siapa yang memberi penangkapan ikan?  Ingat Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tidak menangkap apa-apa walaupun memancing ikan sepanjang malam.  Yesus datang dan dalam waktu singkat mereka menangkap ikan dalam jumlah besar sekali (Lk. 5:1-11).  Itulah Allah yang memberi penangkapan ikan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan kayu.  Tetapi siapa yang membuat pohon-pohon itu bertumbuh?

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan tanah.  Tetapi itulah Allah yang menciptakan tanah itu, jadi tanah itu sebenarnya Allah punya.  Banyak orang di dunia ini tidak mempunyai tanah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari bekerja di perusahaan, toko, atau kantor. Tetapi siapa yang memberi saudara kepintaran atau kesempatan untuk bekerja di situ? Banyak orang tidak mempunyai pekerjaan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari berusaha.  Tetapi lagi, siapa yang memberi saudara kepintaran untuk berusaha, dan hasil usaha itu?  Banyak orang tidak bisa berusaha, dan banyak orang yang berusaha menjadi bangkrut

Pendeknya, bagaimanapun juga caranya kita menghasilkan uang, itu semua asalnya dari Tuhan, semuanya adalah berkat dari Tuhan.  Dan itulah yang harus kita akui, yaitu bahwa segala harta milik kita adalah milik Allah karena asalnya dari Allah.  Dalam 1 Timotius 6:17b dikatakan, “. . . Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”  Segala sesuatu yang kita nikmati asalnya dari Tuhan.

Salomo berkata dalam Pengkhotbah 5:19, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya — juga itupun karunia Allah.” Salomo adalah orang yang paling kaya di dunia yang pernah hidup.  Dan dia mengaku bahwa segala harta miliknya asalnya dari Tuhan.

Raja Daud juga mengaku hal yang sama.  Dalam 1 Tawarikh 29:12-16 setelah bangsa Israel selesai memberi persembahan untuk pembangunan Bait Allah, Daud berkata kepada Tuhan Allah, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. . . . Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini?  Sebab dari padaMulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu. . . . Ya Tuhan, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagiMu rumah bagi namaMu yang kudus adalah dari tanganMu sendiri dan punyaMulah segala-galanya.”  Daud mengaku bahwa mereka hanya memberikan kembali kepada Allah apa yang Allah sudah memberikan kepada mereka.(Bersambung)