MENJADI PELAKU FIRMAN

Landung Darmo —  December 8, 2016 — Leave a comment

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”  (Yakobus 1:22).

Kita orang Kristen yang percaya kepada Yesus dan telah bertobat dari dosa harus menjadi pelaku firman.  Pada saat kita bertobat dari dosa, kita berjanji kepada Allah bahwa kita tidak akan hidup di dalam dosa lagi melainkan kita akan hidup menurut firmanNya.  Bagaimanakah kehidupan kita? Apakah kita sudah menjadi pelaku firman atau apakah kita pendengar saja?

Kalau kita mempunyai anak, kita tahu bahwa anak-anak yang tidak melakukan apa yang kita minta memang membuat kita kecewa dan menyesal, bahkan marah.  Anak-anak itu mendengar permintaan kita tetapi mereka tidak melakukannya.  Kita frustrasi, kita kecewa, dan kalau mereka membuat begitu terus, kita menjadi marah!

Apa lagi Allah!  Kita adalah anak-anak Allah dan Allah sudah memberikan kepada kita banyak pesan,  apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Apakah kita mendengar dan taat?  Atau apakah kita mendengar dan tidak memperhatikannya seperti anak-anak kecil yang tidak kedengaran?  Kalau kita tidak mentaati Allah dalam apa yang Dia pesankan kepada kita, maka itu juga membuat Allah marah.  Kita juga akan menerima hukuman karena kelalaian dan keacuh-tak-acuhan kita.

Seringkali kita mengikut ibadah dan mendengar khotbah.  Tetapi khotbah masuk satu telinga dan keluar telinga sebelah.  Firman Allah itu tidak menetap di dalam otak kita sehingga kita merenungkannya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan kita. Kalau kita membaca firman atau mendengar firman disampaikan, kita harus merenungkan atas firman itu dan bagaimana firman itu berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, bagaimana kita bisa mempraktekkan firman itu dalam kehidupan kita.

Ingat bahwa firman itu bukan untuk orang lain.  Seringkali kita cepat menghakimi orang lain dan berpikir, itu bagus kalau Anu hadir dalam kebaktian hari ini, dia yang perlu mendengar khotbah ini.  Kita harus menyelidiki hati kita dahulu.  Mungkin kita juga memerlukan khotbah itu sama dengan dia.

Kalau kita bisa belajar untuk mempraktekkan firman itu di dalam kehidupan kita sehari-hari maka kita akan berbahagia di dalam kehidupan kita dan dalam apa saja yang kita laksanakan.  Marilah kita menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja.

(David Buskirk)

Allah ingin agar semua orang bertobat, oleh karena semua orang telah berbuat dosa (Roma 3:23), dan semua orang yang telah berbuat dosa akan binasa jika mereka tidak bertobat.  Firman Allah mengatakan hal ini kepada kita dalam 2 Petrus 3:9: “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya,tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”  Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui apa maksudnya untuk bertobat.

Pertobatan bukan dukacita karena dosa, tetapi dukacita yang betul menyebabkan seorang untuk bertobat, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” (2 Korintus 7:10).  Jika seorang menyesal karena dia berbuat dosa hanya karena dia menderita karenanya, itulah dukacita yangdari dunia.  Tetapi kalau dia mempunyai dukacita menurut kehendak Allah, dia menyesal karena dia membenci dosa dan mengasihi Allah.

Pertobatan bukan perubahan dalam tingkah laku, tetapi pertobatan menyebabkan perubahan dalam tingkah laku.  Yesus berkata, “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini? Seorang mempunyai dua anak laki-laki.  Ia pergi kepada anak yang kedua dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.  Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau.

Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga” (Matius 21:28-29).  Dia bertobat dahulu, kemudian pergi.

Jadi kita melihat bahwa pertobatan adalah perubahan dalam hati yang disebabkan dukacita menurut kehendak Allah.  Hati menguasai tingkah laku, jadi perubahan di dalam hati mengakibatkan perubahan di dalam tingkah laku.

BEBERAPA UJIAN PERTOBATAN

Mengetahui maksud Alkitabiah tentang pertobatan, kita bisa mengaplikasikan beberapa ujian untuk melihat jika kita sudah bertobat di hadapan Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita membenci dosa — semua dosa.  Kita membencinya karena itu jahat di mata Allah.  Kita membenci apa yang dibenci Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita mengasihi kebenaran karena itu berkenan kepada Allah.  Kita mengasihi apa yang dikasihi Allah.

< JIKA kita sudah bertobat, kita akan berdukacita dengan segera pada saat kita menyadari bahwa kita telah melanggar kehendak Allah dalam sesuatu apapun.

< JIKA kita sudah bertobat, semua yang perlu untuk menyebabkan kita untuk menolak melakukan sesuatu adalah tahu bahwa hal itu tidak berkenan kepada Allah yang mengasihi kita.

< JIKA kita sudah bertobat, semua yang perlu untuk menyebabkan kita melakukan sesuatu adalah untuk mengetahui bahwa itulah kehendak Allah agar kita melakukannya

. < JIKA kita sudah bertobat, kita “lapar dan haus akan kebenaran” (Matius 5:6).  Kita mengasihi kebenaran Allah.  Firman Allah adalah kebenaran.  Yesus berdoa untuk murid-muridNya, “Kuduskanlah mereka di dalam kebenaran: Firmanmu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17).  Itulah satusatunya tempat di mana kita menemukan kebenaran Allah — di dalam FirmanNya, dan kita mempunyai FirmanNya di dalam Alkitab.  Selidikilah di situ untuk kebenaranNya, dan mengikutinya.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], volume 3 dengan judul asli “How Can We Know We Have Repented?” halaman 32-33.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Seringkali di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen kita mengalami banyak tantangan dan kesusahan.  Seringkali kita kecewa dan iman kita menjadi lemah. Walaupun kita berusaha hidup sesuai dengan firman Allah sebaik mungkin, kita tidak minum mabuk, tidak berbuat zinah, tidak mencuri, rajin ikut ibadah, berbuat baik kepada orang lain, dan sebagainya  namun rupanya kita tidak mendapat berkat apa-apa dari Tuhan.  Sedangkan kita melihat orang lain yang sering menipu, minum mabuk, berbuat zinah, jarang ikut ibadah, namun rupanya dia sering berhasil di dalam kehidupannya dan memperoleh banyak berkat.

Mungkin ada orang yang pernah berkata kepada saudara, “Saya bukan anggota jemaat Kristus, saya jarang ikut ibadah, namun Allah banyak memberkati saya.”  Dan saudara melihat bahwa memang mereka memperoleh banyak berkat dari Allah.  Kehidupan mereka berjalan dengan baik.  Dan saudara melihat kehidupanmu sendiri yang penuh dengan kesusahan, penderitaan, dan kekurangan. Mungkin saudara mengalami banyak musibah penyakit dan kerugian walaupun saudara rajin berbuat baik, rajin ikut sembahyang dan rajin hidup sesuai dengan firman Allah.  Terus saudara berpikir, “Apa gunanya saya rajin melayani Tuhan kalau tidak pernah ada berkat dari Tuhan.  Kalau orang lain di luar Kristus memperoleh banyak berkat, untuk apakah saya setia kepada Allah kalau Allah tidak pernah memberkati saya?”  Dan imanmu mulai goyang.

Terus terang, ini suatu soal yang cukup rumit dan saya mengaku bahwa saya tidak mempunyai semua jawaban.  Pada saat-saat itu imanmu sedang dicobai, apakah saudara sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu atau apakah saudara mengasihi dunia ini saja?  Kita harus percaya kepada Allah bahwa pada akhirnya, Allah akan memberkati kita dengan luar biasa asal kita tetap setia.

Marilah kita membaca kitab Ayub fasal 1 dan 2.  Kita melihat bahwa Ayub orang yang paling kaya di sebelah Timur.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Tetapi di dalam satu hari dia kehilangan semua kekayaannya dan anak-anaknya semua mati pada hari itu juga.  Betapa hebat kecelakaannya!  Namun Ayub tidak mau mengutuk Allah.  Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21).

Terus sedikit waktu lagi dia ditimpa dengan bisul yang menutupi seluruh badannya dari telapak kakinya sampai batu kepalanya. Itulah penyakit yang sangat mengerikan. Akhirnya isteri Ayub membujuk dia untuk mengutuk Allah dan mati, tetapi apakah jawaban Ayub?  “Engkau berbicara seperti perempuan gila!  Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).

Ayub fasal 1 dan 2 menunjukkan bahwa ini semua merupakan pencobaan dari Iblis untuk mencobai iman Ayub apakah dia melayani Allah dengan hati nurani sejati atau hanya karena Allah memberkati dia.  Ayub akhirnya lulus pencobaan itu dan Allah memberkati dia dengan jauh lebih banyak (Ayub 42:10-17).

Tetapi di dalam Alkitab banyak orang benar bergumul dengan masalah ini: Kenapa kelihatannya orang jahat berhasil dalam kehidupannya sedangkan orang benar tidak? Raja Salomo juga memperhatikan “Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini:  ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya….Ada suatu kesiasiaan yang terjadi di atas bumi: ada orangorang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.  Aku berkata: ‘Inipun sia-sia!’” (Pengkhotbah 7:15; 8:14).

Asaf juga bergumul dengan masalah ini. Boleh membaca seluruh Mazmur 73 untuk mengerti lebih baik pergumulannya yang mungkin mirip pergumulan saudara mengenai masalah ini.  Misalnya Asaf berkata, “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain” (Mzm. 73:3-5); “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka bertambah harta benda dan senang selamanya!” (ay. 12).  Jadi Asaf juga bergumul dengan masalah ini.  Ini bukan masalah yang baru tetapi masalah yang ada sejak dahulu.  Asaf begitu kecewa melihat keberhasilan orang fasik sehingga dia berkata, “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi” (Mzm. 73:13-14).  Asaf rajin melayani Allah dan hidup sesuai dengan firmanNya namun dia mengalami banyak kesulitan dan penderitaan. Dia menganggap itu semua sia-sia saja. Tetapi apakah jawaban Asaf untuk masalah ini?  Asaf berkata, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka… Kaujatuhkan mereka sehingga hancur, betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan” (Mzm. 73:1619).  Jawabannya adalah di situ.  Walaupun orang jahat berhasil dalam kehidupan ini, pada akhirnya mereka akan dibinasakan di dalam api neraka kalau mereka tidak bertobat, sedangkan orang benar akan masuk ke dalam sorga.  Itulah yang harus menjadi pegangan kita.

Nabi Yeremia juga bergumul dengan soal ini.  Bisa membaca Yeremia 12:1-13.  Yeremia bertanya dalam ayat 1, “Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia?  Engkau membuat mereka tumbuh dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga.”  Yeremia bertanya mengapa Allah memberkati orang jahat itu dan membuat mereka berhasil?  Allah menjawab dalam ayat 7-13 bahwa Dia akan menjatuhkan hukuman atas semua orang jahat itu.

Raja Daud juga mempunyai solusi untuk masalah ini dalam Mazmur 37:1-40.  Daud berkata, “Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.  Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.  Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Mzm. 37:7,8).  Daud juga berkata, “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik” (ay. 16).

Yesus juga mengajar agar kita mengumpulkan harta di sorga (Mt. 6:19-21). Mungkin orang jahat bertambah kaya, tetapi kekayaannya hanya sementara saja.  Kekayaan duniawi akan hancur lenyap satu hari kelak. Tetapi kalau kita mengumpulkan harta di sorga dengan rajin melayani Allah, maka harta itu tetap ada untuk selama-lamanya.

Kenapa orang jahat diberkati?  KarenaAllah itu murah hati yang memberkati semua orang termasuk orang jahat juga.  Yesus berkata dalam Matius 5:45, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”  Yesus juga berkata dalam Lukas 6:35b, “dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orangorang jahat.”

Mungkin kita bisa memandang masalah ini dari pandangan berikut: Orang jahat menikmati kesenangan dalam kekayaan untuk sementara waktu tetapi akan disiksa selamalamanya di dalam api neraka.  Orang benar mengalami banyak kekurangan dan kesulitan sementara di bumi ini tetapi akan menikmati kesenangan kekal di sorga kelak.  Jadi kita mempunyai pilihan: Apakah kita mau bersenang-senang sementara di bumi dan disiksa selama-lamanya dalam neraka?  Atau apakah kita mau menderita sementara di bumi saja dan bersenang-senang selama-lamanya di sorga?

(Ditulis oleh David Buskirk)

 

Jemaat yang dibangun Kristus itu satu di dalam jenis, sekalipun terdiri dari banyak jemaat.  Kristus satu-satunya kepala (Efesus 1:22-23), setiap jemaat itu “merdeka dalam pemerintahan; memerintah dirinya sendiri; juga tanpa kontrol dari luar.”  Inilah definisi Webster mengenai “Otonomi.”  Dalam Perjanjian Baru, satu-satunya organisasi yang melalui itu orang Kristen melayani adalah jemaat lokal atau setempat.  Tidak ada organisasi yang mengikat satu jemaat kepada jemaat lain.  Tidak ada konferensi, sinode, atau persekutuan jemaat-jemaat dalam struktur organisasi.

Kecuali “jemaat umum,” keanggotaan orang kudus dalam abad pertama itu tidak ada yang lebih besar dari jemaat lokal.  Sesuatu yang lebih kecil dari semua keluarga Allah, dan sesuatu yang lebih besar dari jemaat lokal, bukanlah “jemaat” seperti yang terdapat dalam Alkitab!  Dalam hal universal, jemaat tidak mempunyai organisasi duniawi, tidak ada “kepala” duniawi.  Hanya Kristuslah “kepalanya” maka pusat satu-satunya adalah di sorga.  Dalam kedudukan “jemaat” dalam Alkitab ada di bawah Kristus, diperintah oleh “penatua” yang dinamakan juga “bishop” (penyelidik), dan pastor (atau gembala) dan itu dilayani “diaken.”  Setiap penatua itu tunduk kepada kepenatuaan, sama seperti setiap diaken, pengkhotbah, guru, dan setiap anggota tunduk kepada kepenatuaan.

Jemaat yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru mempunyai kejamakan “penatua pada setiap jemaat” (Kis. 14:23).  Tiga kata Yunani perlu dicatat dalam hubungan ini: PRESBUTEROS, EPISKOPOS, dan POIMEN. Ketiga kata ini ditujukan kepada orang yang sama di dalam jemaat Tuhan.  “Penatua” (PRESBUTEROS) dari Efesus (Kis. 20:17) dinamakan “pengawas” [atau “penilik” (TB)]. (EPISKOPOS) dalam ayat 28 dikatakan “bishops” dan pekerjaan yang ditugaskan kepada orang ini adalah “memelihara” atau “menjamu” [atau “menggembalakan” (TB)]. (POIMEN) domba Allah atau sebagai “pastor” atau “gembala” domba Allah.  Di dalam Perjanjian Baru ketiga istilah ini (penatua, pastor [gembala], dan bishop [penilik]) adalah nama yang berbeda yang ditujukan kepada orang yang sama.  Rasul Petrus juga menunjukkan ketiga istilah itu kepada orang yang sama.  Dia menulis, “PENATUA (PRESBUTEROS) yang ada di antara kamu saya mendorong . . . GEMBALAKAN . . .” (POIMEN: menjadi pastor atau “gembala” untuk): “MENGGEMBALAKAN umat Allah yang ada di tengah-tengahmu, adakan PENGAWASAN

(EPISKOPOS) (1 Petrus 5:1-2).  Lagi adalah jelas bahwa pada abad pertama itu orang yang sama juga dinamakan “penatua,” “bishop,” dan “pastor.”

Hanya “penatua dan diaken” (Filipi 1:1) sebagai jabatan dalam Jemaat Perjanjian Baru. Untuk setiap jemaat selalu lebih dari satu, yang syaratnya terdapat dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1.  Tidak ada bishop (penatua) yang mempunyai kuasa untuk jemaat jemaat lain kecuali untuk jemaat yang dia dipilih dan diangkat.  Pengkhotbah dan semua Kristen juga, perlu mencatat bahwa pemilihan itu satu proses, dan pengangkatan prosedur lain. JEMAAT Yerusalem dikatakan memilih orang, “pilihlah di antara kamu tujuh orang . . .” tetapi pengangkatan itu oleh rasul atau pengkhotbah (Kis. 6:1-6; catat juga Titus 1:5).

 

DENOMINASI

 

Hal yang sama juga benar dengan gereja denominasi moderen di sekitar kita.  Tidak ada ciri-ciri jemaat seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Baru.  Dalam beberapa hal ada kesamaan tetapi tidak mempunyai CIRI KHAS. Dalam banyak pokok identitasnya sangat kabur.  Nyatanya gereja denominasi berbeda satu sama lain dalam hal iman, nama, ajaran, dan praktek, membuktikan semuanya tidak identik dengan jemaat Perjanjian Baru, karena adalah hal yang dasar dan penting “satu tubuh,” sedangkan denominasi ada banyak tubuh atau badan.

Sidang Jemaat Kristus sekarang ini SERUPA dengan jemaat Perjanjian Baru dalam organisasi, nama, ajaran, dan ibadah.  Jemaat sekarang (seperti pada abad pertama) merdeka, dan otonom, mempunyai “bishop dan diaken” dalam setiap jemaat yang sudah diorganiser.

 

( Diterjemahkan David Buskirk, Pelajaran ini diambil dari Alkitab Mengajar, Vol. IV No. 3, Maret 1992, halaman 12-15.)

Di antara contoh-contoh Alkitabiah dari kesetiaan, Daud berdiri dekat permulaan daftar.  Begitu demikian bahwa Daud diuraikan sebagai, “seorang yang berkenan di hati Allah” (1 Sam. 13:14).  Bagaimanakah Daud menerima pujian sedemikian dari Tuhan?  Selanjutnya, apakah yang bisa kita belajar dari Daud yang akan menyebabkan kita masing-masing untuk menghidupi kehidupan yang lebih setia dan berkenan di hadapan Tuhan?

Suasana umum dari kehidupan Daud menunjukkan alasan Allah mengatakan hal ini mengenai Daud.  Daud tidak sempurna sebagaimana nyata dalam peristiwa dengan Batsyeba, tetapi dia selalu mencari nasehat Allah dalam kerendahan hati dan iman.  Contoh yang unggul dari hal ini adalah waktu Daud melarikan diri dari Saul.  Saul bermaksud untuk membunuh Daud dengan alasan hampa dan sebagai akibatnya Daud terpaksa menghidupi kehidupan sebagai pelarian, berdiam di dalam gua-gua dan gunung-gunung dan hutan-hutan dan padang gurun (1 Sam. 23:1415).  Daud juga terpaksa hidup di dalam negeri-negeri musuhnya orang Moab dan orang Filistin.  Pada waktu-waktu kesusahan inilah Daud menulis kebanyakan mazmurnya. Sepanjang waktu ini, Daud tidak putus asa atau kehilangan imannya dalam Allah. Sebaliknya, sepanjang waktu pencobaan ini, iman Daud dikuatkan.  Tambah pula, walaupun dia mempunyai dua kesempatan, Daud tidak membunuh Saul, yang diurapi Allah (1 Sam. 24 dan 26).

Jadi, sepanjang masa ini, apa yang membuat Daud sebagai seorang yang berkenan di hati Allah?  Pertimbangkanlah daftar yang berikut dan pertimbangkanlah jugabagaimanakah kita bisa mempraktekkan sikap-sikap di dalam kehidupan kita sendiri.  Daud:

  1. Mempercayai Allah sepenuhnya.
  2. Menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Allah.
  3. Melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.
  4. Menantikan Allah dalam masa pencobaan.
  5. Menghargai yang diurapi oleh Allah.
  6. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
  7. Hidup benar di tengah-tengah musuh-
  8. Adalah orang yang murah hati.
  9. Tidak bangga atas kejatuhan Saul.

Semua sikap ini dan lebih banyak lagi membuat Daud “seorang yang berkenan di hati Allah.”  Marilah kita berusaha untuk membuat sikap-sikap Kristus ini sebagian lebih besar dari kehidupan kita juga.

 

Pelajaran ini diambil dari Newsletter Hazel Park Church of Christ, Vol. 37 No. 35, Sunday August 31, 2003, dengan judul asli “A Man After God’s Own Heart.”  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Bisakah kita mempunyai iman sama dengan rasul-rasul dan orang-orang Kristen pada abad pertama?  Bisakah kita mempunyai persatuan antara orang-orang percaya hari ini seperti mereka mempunyainya dalam jemaat awal sebelum perkembangan doktrin-doktrin manusia dan denominasisme?  Bisakah kita menjadi orang Kristen saja dan anggota jemaat sama yang didirikan oleh Kristus 2.000 tahun lalu?  Apakah Allah telah mengambil tindakan untuk memelihara jemaatNya melalui abad-abad yang lalu?  Kalau ya, bagaimana?

Allah, dalam ciptaanNya yang luar biasa, telah menentukan prinsip benih sebagai alat perkembangan segala sesuatu yang hidup. Menurut Kejadian 1:11, “Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.  Dan jadilah demikian” Makhluk dan tanaman yang hidup

bergantung pada hukum benih ini dari Sang Pencipta.  Di mana benih itu ditanam, hidup baru akan muncul “menurut jenisnya.”

Hukum benih benar juga dalam dunia rohani.  Firman Allah digambarkan dalam Alkitab sebagai benih yang bertumbuh. “Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya” (Yakobus 1:18).  Firman Allah perlu sekali dalam proses kelahiran rohani.

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.  Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Petrus1:22,23).  Firman Allah dengan jelas diuraikan sebagai “benih” yang melaluinya kita dilahirkan kembali secara rohani.

Yesus, dalam menjelaskan perumpamaan tentang seorang penabur, berkata, “Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah” (Lukas 8:11).  Sudah jelas bahwa Firman Allah adalah alat perkembangan kerajaan atau jemaat (Matius 16:18,19).

Kadang-kadang orang bertanya, “Bisakah Anda mengusut jemaat Kristus, melalui garis yang tak putus, hingga abad pertama?” Dalam arti garis yang tak putus, tidak bisa, tidak ada catatan yang disimpan.  Tetapi dalam arti bahwa selalu ada orang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan melakukannya yang mewakili Allah di dalam dunia, ya, jemaat Kristus terus berada melalui abad-abad ini.

Bagaimanakah kita tahu?  Karena Kristus sendiri berjanji bahwa kerajaanNya tidak akan binasa, bahkan pintu-pintu alam maut tidak bisa menguasainya (Matius 16:18).  Terusmenerus dalam pernyataan-pernyataan nabi dalam Perjanjian Lama, jemaat atau kerajaan telah dijanjikan dengan catatan bahwa “kerajaan itu akan tetap untuk selamalamanya” (Daniel 2:44; Yoel 2:28; Yesaya 2:2,3).

Di lain pihak, oleh karena Allah telah memelihara Benih — FirmanNya — kita bisa yakin bahwa di mana saja dan kapan saja Firman itu ditanam dalam hati yang jujur, ia akan menumbuhkan buah yang sama yang dihasilkannya pada abad pertama.  Selama dua elemen itu terus berada di dalam dunia — Benih Firman Allah dan hati-hati manusia yang jujur — jemaat selalu akan tetap ada.

Bisakah kita mempunyai iman sama hari ini seperti dipunyai rasul-rasul dan orangorang Kristen yang pertama?  Bisakah kita menjadi orang-orang Kristen saja dan anggotaanggota jemaat sama yang didirikan oleh Kristus 2.000 tahu lalu?

Tentu bisa! Dengan Firman Allah sebagai benih yang sama, kita bisa mempunyai jemaat sama dan rencana keselamatan yang sama, ibadah yang sama, dan pengharapan yang sama dari sorga sama seperti mereka punya pada abad pertama.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 21, dengan judul asli: “God’s Word — The Seed of the Kingdom.” Halaman 90-91.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Injil Yohanes menceritakan tentang Yohanes Pembaptis yang berkata kepada murid-muridnya waktu Yesus lewat, “Lihatlah, Anak domba Allah!”  Dua di antaranya dengan segera mengikuti Yesus.  Sebenarnya mereka meluangkan satu hari bersama Dia.  Terus Yohanes merekam, “Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.  Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: ‘Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)’” (Yoh. 1:35-41). Yesus tidak mengakatakan, “Pergilah dan bertemu dengan saudaramu dan membawanya kepadaKu.”  Andreas yang mengambil inisiatif. Dia yakin bahwa dia telah menemukan Mesias dan dia mengasihi saudaranya, Simon Petrus, dan ingin agar dia mengikut Yesus. Kesadaran ini tentang apa yang bisa dilakukan Yesus untuk keluarga manusia membuat kita untuk membawa jiwa-jiwa kepadaNya.  Jikalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dunia dan bahwa semua orang hilang tanpa Dia, maka kita akan membawa jiwa kepadaNya. Sebenarnya, kita harus memasuki satu hal lain di sini.  Andreas mengasihi saudaranya, dan waktu dia sendiri telah menemukan Sang Juruselamat, dengan segera dia berpikir mengenai saudaranya sendiri.  Kasih menyeberangi semua perbatasan.  Kasih tidak takut atau malu.  Kasih melakukan yang mustahil.  Kita memperoleh keberanian untuk berbicara dengan orang lain mengenai jiwa mereka.  Kesadaran bahwa semua orang hilang tanpa Sang Juruselamat mendorong kita untuk melakukan apa yang mungkin kita tidak akan melakukan dalam situasi yang biasa.

Sangat menarik bahwa Andreas tidak meminta kepada Yesus agar Dia pergi dan berbicara dengan saudaranya.  Saya ingin tahu jikalau Andreas berpikir, bahwa Petrus yang paling mengenalnya dan akan mempercayai apa yang dibicarakannya.  Saya ingin tahu jikalau Andreas berpikir bahwa Petrus akan menolak untuk mendengar seorang yang tidak dikenalnya, bahkan kalau orang itu adalah Yesus sendiri.  Jadi dia tidak mau mengambil risiko bahwa Petrus akan menolak Yesus. Andreas melakukan tugas itu sendiri.

Yesus adalah Juruselamat dunia, dan kalau manusia hilang tanpa Dia, maka mereka yang tidak dibawa kepada Yesus akan hilang untuk selama-lamanya.  Tidakkah layak untuk mengambil risiko terhadap kehilangan seorang teman untuk melakukan hal yang paling besar bagi dia?  Memang layak untuk mengambil risiko terhadap kehilangan teman dalam pandangan kekekalan dan tugas Tuhan kepada kita semua, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu.” Beberapa pemenang jiwa yang terbesar yang pernah saya kenal tidak mempunyai pendidikan yang luar biasa, tidak pernah mengajar kelas Alkitab, tidak pernah memakai tata bahasa yang baik, tidak mampu menjawab semua pertanyaan Alkitab yang diajukan orang lain, tetapi mereka mengasihi Yesus dan teman-teman mereka yang hilang dan mereka berusaha sebaik mungkin agar keduanya dapat bersekutu.  Berapa banyak yang diketahui Andreas setelah dia bersama Yesus hanya beberapa jam saja?  Dia dahulu adalah murid Yohanes dan tiba-tiba dia berubah dan mengikut seorang yang tidak dikenalnya.  Bisa saja Petrus mengajukan banyak pertanyaan yang tidak mungkin Andreas dapat menjawab.  Mungkin Petrus melakukannya!  Tetapi satu-satunya hal yang kita ketahui ialah Andreas berpikir pertama mengenai saudaranya dan dengan segera pergi untuk membawa dia kepada Yesus.  Kita tahu bahwa dia mengasihi Petrus. Kita tahu bahwa dia percaya kepada Yesus, bahkan setelah beberapa jam saja.  (Beberapa di antara kita sudah bertahun-tahun, bahkan seumur hidup kita berada di dalam jemaat dan tidak pernah berusaha untuk membawa satu

jiwapun kepadaNya.) Jemaat mula-mula memperoleh ide dari memenangkan jiwa kepada Kristus.  Semua orang di Yerusalem tahu mengenai Yesus dan jemaat.  Mereka dianiaya oleh penguasapenguasa, tetapi mereka terus melakukan kegiatan mereka.  Lukas menulis, “Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis. 5:42). Betapa hebatnya Juruselamat itu!  Betapa hebatnya Injil!  Betapa hebatnya tantangan itu!

Tulisan ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 2, dengan judul asli: “The First Thing He Did Was to Find His Brother.” Halaman 90-91.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Penulis

Penulis Injil Lukas adalah Lukas sendiri. Lukas juga menulis Kisah Para Rasul dan penerima Injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah Teofilus (Lk. 1:3; Kis. 1:1). Di dalam Kisah Para Rasul, kadang-kadang penulis memakai kata kami yang berarti bahwa penulis itu bersama-sama dengan Paulus (lihat Kis. 16:10-17; 20:5-15; 21:1-18; 27:1-28:16). Pada saat lain dia selalu memakai kata dia atau mereka berarti bahwa penulis tidak ada bersama-sama dengan Paulus. Kalau kita menyelidiki semua nas, itu sudah jelas bahwa itulah Lukas yang penulisnya. Nama Lukas disebut tiga kali di dalam Perjanjian Baru, yaitu Kolose 4:14; 2 Timotius 4:11; dan Filemon 1:24. Kolose 4:14, berkata bahwa Lukas adalah seorang tabib atau dokter.

Tahun Ditulis

Kemungkinan besar Injil Lukas ini ditulis sekitar tahun 59 atau 63. Lukas berkata bahwa dia menyelidiki segala sesuatu dengan seksama untuk menulis
Injil ini. Jadi dia seharusnya berada di tanah Israel untuk mengadakan penyelidikan itu. Kita tahu dari Kisah Para Rasul bahwa Lukas berada di Israel sekitar tahun-tahun begitu. Terus dia berlayar dengan Paulus ke Roma waktu Paulus naik banding kepada Kaisar (Kis. 27:1). Oleh karena Injil Lukas ditulis sebelum Kisah Para Rasul (Kis. 1:1), dan oleh karena Kisah Para Rasul ditulis sekitar tahun 63, maka Injil Lukas ini seharusnya ditulis sebelum tahun itu.

Penerima dan Tujuan

Lukas sendiri menujukan Injilnya kepada Teofilus. Siapakah Teofilus ini tidak kita ketahui. Dia adalah seorang Kristen dan kemungkinan besar seorang yang kaya yang mempunyai kedudukan karena Lukas menyebut dia “yang mulia.” Kemungkinan besar juga bahwa dialah yang menanggung ongkos penulisan Injil ini dengan Kisah Para Rasul. Walaupun Injil ini ditujukan kepada Teofilus, itulah bersifat umum dan sebenarnya ditujukan kepada semua orang Kristen supaya kita bisa tahu bahwa hal-hal yang telah diajarkan kepada kita tentang injil Yesus Kristus memang benar. Lukas menulis Injil ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia.

Ciri-Ciri

Lukas menekankan beberapa hal yang tidak begitu ditekankan di dalam Injil-Injil lain. Di antaranya:

  1. Baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi dalam rencana Allah;
  2. Menekankan doa;
  3. Menekankan perempuan;
  4. Menekankan orang miskin dan orang berdosa;
  5. Menekankan Roh Kudus;
  6. Menekankan keselamatan.

 Garis Besar

  1. Persediaan untuk Penyampaian Kabar Keselamatan (1:1-4:13).
  2. Sang Juruselamat Menunjuk Jalan Keselamatan (4:14-13:21).
  3. Peringatan dan Dorongan (13:22-19:27).
  4. Jalan Keselamatan Telah Dibuka (19:28-24:53).

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi sekarang mencari jalan untuk membunuh Yesus. Memang, Yesus harus dibunuh, maksudnya, disalibkan untuk mencurahkan darahNya supaya dosa dunia bisa diampuni. Itu semua di dalam rencana Allah. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib dan mencurahkan darahNya, maka manusia tetap tanpa harapan. Tetapi Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah di dalam kematianNya karena hal-hal aneh yang terjadi waktu Dia mati. Dan Dia juga dinyatakan sebagai Anak Allah di dalam kebangkitanNya, oleh karena kalau Dia bukan Anak Allah, tidak mungkin Dia dibangkitkan. Sebelum Dia naik ke sorga, Dia meninggalkan perintah agung kepada rasul-rasulNya agar mereka memberitakan kabar baik ke seluruh dunia, yaitu bahwa di dalam Yesus ada pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Seorang Perempuan Mengurapi Yesus (14:1-11)

Pemimpin agama Yahudi bersepakat menangkap dan membunuh Yesus.

Yesus ada di Betania di rumah Simon. Ada perempuan namanya Maria (Yoh. 12:3) yang mengurapi kepala Yesus dengan minyak yang sangat mahal. Minyak itu berharga 300 dinar atau gaji 10 bulan. Orang-orang bersungut-sungut karena minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin.

Yesus membela dia. Dia melakukan itu bagi Yesus untuk mempersiapkan tubuhNya untuk penguburan. Yesus tidak bermaksud bahwa Dia tidak memperhatikan orang miskin, hanya kalau Maria mau menghormatiNya dan menunjuk kemurahan hati kepadaNya, biarkanlah dia. Kita bisa berbuat baik kepada orang lain dan memberi hadiah yang mahal kepada orang lain juga.

Setelah ini, Yudas pergi ke imam-imam kepala dan setuju untuk menyerahkan Yesus kepada mereka untuk tiga puluh uang perak.

Perjamuan Tuhan (14:12-26)

Yesus menyuruh dua muridNya untuk pergi ke kota Yerusalem dan mempersiapkan tempat supaya mereka bisa makan Paskah.

Dalam perjamuan itu, Yesus menetapkan perjamuan Tuhan, suatu perjamuan yang Yesus ingini semua pengikutNya mengadakan untuk memperingati kematianNya di kayu salib.

Petrus Akan Menyangkal Yesus (14:27-31)

Petrus bersama-sama murid-murid lain yakin bahwa mereka tidak akan menyangkal Yesus, bahkan kalau mereka harus mati dengan Yesus. Mereka belum mengerti tujuan Yesus. Mereka masih berpikir bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam perang melawan orang Roma. Mereka sudah siap untuk mati dalam perang itu. Mereka tidak tahu bahwa Yesus akan ditangkap sebagai orang penjahat. Dan pada saat mereka melihat Yesus tidak mau melawan dan berjuang, mereka akan melarikan diri, karena mereka juga tidak mau ditangkap tanpa perjuangan.

Doa Yesus di Taman Getsemani (14:32-42)

Mereka tiba di taman Getsemani di mana Yesus sangat gentar, takut dan sedih hati. Dia mau berdoa kepada BapaNya, supaya dikuatkan. Dia tahu bahwa Dia akan sangat menderita dan memikul semua dosa dari semua orang dalam tubuhNya di kayu salib. Allah Bapa akan meninggalkan Dia, Yesus akan dicemarkan oleh dosa manusia. Sebenarnya, secara jasmani, Yesus tidak mau. Tetapi tidak ada jalan lain supaya umat manusia bisa diselamatkan. Yesus tidak akan melakukan kehendakNya sendiri, melainkan kehendak Allah. Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes sertaNya dan minta supaya mereka berjaga-jaga. Tetapi sudah tengah malam dan mereka capai sekali dan mengantuk.

Yesus Ditangkap (14:43-52)

Yudas muncul dengan serombongan orang yang diutus oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Yudas mencium Yesus sebagai tanda bahwa Dialah Yesus dan mereka menangkapNya. Mereka tidak menangkap Yesus dengan paksa. Kalau Yesus mau melawan, Dia bisa. Yesus menyerahkan diriNya kepada mereka. Waktu murid-muridNya melihat bahwa Yesus tidak mau melawan, mereka semua meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama (14:53-65)

Yesus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Pemimpin-pemimpin berusaha mendapat saksi terhadap Yesus tetapi tidak ada. Akhirnya Imam Besar langsung bertanya kepada Yesus jikalau Dia adalah Mesias, Anak Allah. Yesus menjawab bahwa memang Dialah Mesias, Anak Allah. Tetapi mereka sudah menolak Yesus. Mereka tidak percaya bahwa itu memang benar dan menjatuhkan hukuman mati atasNya karena hujat terhadap Allah. Terus mereka mengejek, memukul dan meludahi Yesus.

Petrus Menyangkal Yesus Tiga Kali (14:66-72)

Petrus mengikut dari jauh. Dia heran bahwa Yesus ditangkap. Dia takut tetapi juga ingin melihat apa yang akan terjadi. Ada orang yang bertanya, jikalau Petrus salah satu dari murid Yesus. Petrus takut. Petrus tidak berbuat salah. Dia tidak mau ditangkap seperti Yesus. Oleh karena itu, dia menyangkal. Dua orang lain bertanya hal yang sama dan Petrus dua kali lagi menyangkal, bahkan dengan sumpah, bahwa dia mengenal Yesus. Ayam berkokok dan Petrus mengingat perkataan Yesus dan keluar menangis.

Yesus di Hadapan Pilatus (15:1-15)

Orang Yahudi tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena itu, mereka membawa Yesus di hadapan Pilatus, wali negeri Yudea. Orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang pemberontak dan banyak hal lain.

Pilatus tahu bahwa Yesus tak bersalah dan ingin agar Yesus dilepaskan. Ada orang lain yang juga ditangkap dahulu namanya Barabas. Dia ditangkap karena pembunuhan dalam pemberontakan. Kebiasaan Pilatus itu adalah untuk melepaskan salah satu orang tawanan pada hari raya. Pemimpin agama Yahudi mendorong orang banyak supaya Barabas dilepaskan dan Yesus disalibkan. Pilatus menyerahkan Yesus kepada kemauan orang Yahudi dan menyuruh supaya Yesus disalibkan.

Yesus Disalibkan (15:16-32)

Tentara-tentara Roma membawa Yesus ke dalam istana untuk menyesahNya dan mengolok-olokkanNya.

Mereka memimpin Yesus ke luar untuk disalibkan. Banyak orang yang melewati dan mengolok Dia. Pemimpin agama Yahudi juga mengolok Dia. Memang Yesus menderita banyak supaya dosa kita bisa dihapuskan. Kita harus sangat bersyukur kepada Yesus karena apa yang dialamiNya untuk kepentingan kita.

Yesus Mati (15:33-41)

Yesus mati cepat sekali. Biasanya orang yang disalibkan berada di kayu salib beberapa hari sebelum mati. Pada hari siang, jam 12:00, hari menjadi gelap. Yesus memikul dosa seluruh dunia padaNya dan Dia terpisah dari Allah. Allah tidak bisa lagi melihat atau bersekutu dengan AnakNya karena Allah tidak bisa bersekutu dengan dosa dan kejahatan. Untuk pertama kali, Allah Bapa harus meninggalkan Yesus dan Yesus benar-benar sendirian. Yesus menderita semuanya ini untuk kita, oleh karena dosa dan kejahatan kita. Waktu Yesus mati ada banyak hal ajaib yang terjadi (Mt. 27:51-54). Waktu kepala pasukan melihat semuanya itu, dia mengaku bahwa Yesus ini sungguh-sungguh Anak Allah. Jadi Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah dalam kematianNya.

Yesus Dikuburkan (15:42-47)

Yusuf adalah salah satu orang dalam Mahkamah Agama yang percaya kepada Yesus dan menanti-nantikan Kerajaan Allah. Dia mengambil mayat Yesus, mengapaniNya dengan kain lenan dan menguburkanNya.

Yesus Bangkit (16)

Tiga perempuan pergi ke kubur pada hari pertama untuk meminyaki mayat Yesus. Mereka tidak mengingat atau tidak percaya bahwa Yesus akan dibangkitkan. Waktu mereka tiba di kubur, mereka melihat seorang malaikat yang memberitahukan kepada mereka bahwa Yesus sudah bangkit.

Yesus menampakkan diri kepada banyak muridNya. Mereka semua heran bahwa Yesus telah bangkit. Banyak masih tidak percaya. Lalu Dia menyuruh murid-muridNya supaya pergi ke seluruh dunia dan memberitakan injil kepada segala makhluk. Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Yesus mati dan menumpahkan darahNya supaya umat manusia bisa diselamatkan. Yesus meninggalkan tugas itu kepada kita, supaya kita mencari dan menyelamatkan orang yang hilang, agar mereka bisa percaya kepada Yesus, bertobat dari dosa, memberi diri dibaptis dan memperoleh hidup yang kekal. Kemudian Yesus terangkat ke sorga dan murid-muridNya pergi dan memberitakan injil dan Yesus meneguhkan beritanya dengan mujizat-mujizat.

Ebook ad Large

Yesus masuk ke dalam Yerusalem kali yang terakhir. Dia diterima sebagai Raja oleh masyarakat. Tetapi pemimpin-pemimpin agama Yahudi merasa terancam oleh Yesus. Mereka telah menolak Yesus sebagai Mesias dan sebagai Anak Allah. Mereka berusaha untuk menjerat Dia supaya Yesus bisa dihukum mati atau kalau tidak, agar pengaruh Yesus di atas masyarakat dihancurkan.

Yesus Disambut Sebagai Mesias ke dalam Yerusalem (11:1-11)

Yesus masuk Yerusalem sebagai raja, tetapi Dia masuk dengan mengendarai seekor keledai yang melambangkan damai, bukan seekor kuda yang melambangkan peperangan. Yesus masuk sebagai Mesias dan diterima demikian oleh orang banyak. Tetapi beberapa hari kemudian masyarakat akan menolak Dia dan menuntut agar Yesus ini disalibkan.

Yesus Mengutuk Pohon Ara dan Menyucikan Bait Allah (11:12-26)

Keesokan harinya, Yesus berangkat kembali ke Yerusalem. Dia lapar dan melihat pohon ara. Walaupun pohon itu sudah berdaun, belum berbuah. Yesus mengutuk pohon itu.

Terus Dia masuk Yerusalem dan menyucikan Bait Allah karena mereka menjadikannya sarang penyamun. Mereka menjualbelikan di Bait Allah di tempat doa bagi orang-orang bukan Yahudi. Dan mereka mencuri dari masyarakat oleh perdagangan yang tidak jujur.

Pemimpin-pemimpin agama Yahudi takut terhadap Yesus dan mencari jalan untuk membunuh Dia. Mereka merasa terancam oleh Yesus dan tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias atau Anak Allah.

Waktu mereka kembali keesokan harinya, murid-muridNya memperhatikan bahwa pohon ara itu sudah kering. Markus mengajarkan hal penghakiman. Sama seperti pohon ara yang berdaun seharusnya mempunyai buah, pemimpin-pemimpin agama Yahudi, yang berupa benar dan saleh, seharusnya berbuah banyak hal yang baik bagi Allah. Tetapi mereka penuh dengan dosa dan kejahatan dan tidak mau menerima Yesus. Mereka menolak Yesus dan ingin membinasakannya. Jadi mereka juga terkutuk seperti pohon ara itu dan mereka sendiri yang akan dibinasakan.

Pertanyaan Tentang Asal Kuasa Yesus (11:27-33)

Pemimpin agama Yahudi datang ke Yesus dan bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” Mereka yang mempunyai kuasa atas masyarakat Yahudi dan agama Yahudi dan mereka tidak mengizinkan Yesus menyucikan Bait Allah secara demikian. Malah pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang mengizinkan perjualan itu. Bagaimanakah Yesus bisa melawan mereka? Mereka marah Yesus.

Memang Yesus dapat kuasaNya dan izin dari Allah. Itu cukup. Tetapi pemimpin agama Yahudi tidak mau mengakuinya. Mereka tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis. Mereka juga tidak percaya kepada Yesus. Jadi nanti hukuman atas mereka berat sekali.

Perumpamaan Tentang Penggarap-Penggarap Kebun Anggur (12:1-12) 55

Pelajaran dasar adalah pemimpin-pemimpin agama Yahudi akan menolak dan membunuh Yesus sama seperti semua nabi-nabi dahulu dan mereka akan menerima hukuman yang berat karena kelakuan mereka.

Yesus dan Pemimpin Agama Yahudi Saling Menanyai (12:13-40)

Pemimpin agama Yahudi marah. Mereka merasa terancam oleh Yesus. Yesus harus dibunuh. Sekarang mereka berusaha lagi mencobai Yesus supaya mereka bisa menuduhNya.

Mereka mengajukan tiga pertanyaan. Yesus menjawab semuanya dengan baik. Yesus tahu maksud mereka dan Dia tidak jatuh ke dalam jerat mereka.

Kemudian Yesus mengajukan pertanyaan kepada mereka. Mereka tidak bisa menjawab dan sesudah itu mereka diam. Yesus lebih berhikmat dari pada kelicikan mereka. Pasti mereka sial sekali.

Persembahan Seorang Janda Miskin (12:41-44)

Allah lebih senang kalau kita memberikan dari kekurangan kita. Kita harus memberikan sesuai dengan kemampuan kita dan lebih dari itu. Kita harus percaya bahwa Allah akan memberkati kita karena kemurahan hati kita.

Nubuat Yesus Tentang Kebinasaan Yerusalem dan Akhir Zaman (13)

Murid-murid Yesus melihat kekokohan dan kemegahan Bait Allah dan menunjuk itu kepada Yesus. Yesus menjawab bahwa Bait Allah akan dibinasakan. Terus Yesus bernubuat tentang peristiwa itu dan memberitahukan kepada murid-muridNya tanda-tanda yang mendahului kebinasaan Yerusalem. Itu terjadi pada tahun 70 M.

Yesus juga memberitahukan tentang akhir zaman. Kita harus selalu siap sedia karena kita tidak tahu kapan Yesus akan datang kembali. Orang yang menolak Yesus dan orang yang tidak siap akan dibinasakan. Tetapi orang yang menerima Yesus dan orang yang membuat persiapan akan diselamatkan.

Ebook ad Large