Alat-Alat Yang Sadar Dari Seorang Ahli Pembongkar

Ibu dengan senyuman manis memberikan kedua anaknya yang kecil pelukan besar, mencium mereka masing-masing di pipi dengan kasih, dan membaringkan mereka dalam tempat tidur untuk malam itu. Dia memadamkan lampu dan berjalan kaki kembali ke depan rumah dengan sukacita karena perasaan gembira dan kepuasan yang dibagikannya dengan suaminya. Dia sangat mengasihi keluarganya. Dalam dua minggu suaminya dan kedua anaknya sudah mati. Dia tidak tahu bahwa berhubungannya dengan mereka merupakan kematian mereka. Dia seorang pembawa wabah. Dengan tidak diketahui, dia menimpai orang yang dikasihinya dengan wabah.

funeral

Betapa sedihnya! Dan betapa menyedihkan ibu itu menjadi pada saat mengetahui bagiannya dalam kehancuran keluarganya. Dia tetap sakit secara emosional seumur hidupnya. Namun demikian tanggung jawabnya untuk kematian keluarganya tidak bisa dianggap sebagai pertanggungjawabannya bagaimanapun juga hati nuraninya yang hancur. Tidak ada dosa yang dilakukannya.

Sayang karena hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk beberapa orang di dalam jemaat hari ini. Banyak saudara-saudara seiman, oleh karena pilihan yang diambil mereka dalam ucapan dan tindakan, bukan saja bertanggung jawab untuk banyak kematian dan kehancuran, tetapi juga harus bertanggung jawab kepada Tuhan untuk kejahatan mereka. Mereka bisa saja tidak menyadari bagian mereka dalam proses pembongkaran — jarang mereka menyadarinya — tetapi mereka masih membawa kehancuran rohani kepada banyak orang. Mereka tanpa sadar bekerja untuk usaha yang jahat yang tidak mereka ketahui.

Iblis selalu mencari jalan-jalan untuk membinasakan orang-orang beriman (1 Petrus 5:8). Dia senang dalam bantuan yang diberikan kepadanya untuk maksud itu oleh umat Tuhan sendiri. Alkitab sering memperingati kita untuk menjaga diri supaya jangan kita membinasakan orang-orang sekeliling kita. Paulus menulis, “Janganlah kita memegahkan diri, sehingga kita menyakiti hati sama sendiri, dan berdengki-dengkian sama sendiri” (Gal. 5:26 TL). Kata “menyakiti hati” dalam ayat ini berarti “menimbulkan apa yang jahat dalam orang lain.” Allah memberitahukan kita bahwa Dia secara harfiah membenci orang yang “menimbulkan pertengkaran saudara” (Amsal 6:16,19). Salomo menulis “Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 16:28). Uraian dari seorang pembawa wabah sangat jelas: “Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran. Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan. Seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati. Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat.” (Amsal 26:20-23).

Kegiatan-kegiatan orang-orang Kristen adalah untuk mendukung keinginan Allah. Dia mengucapkan berkat besar di atas orang yang membawa damai (Matius 5:9). Tuhan memanggil kita untuk “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibrani 10:24). Keperhatian untuk keamanan orang lain adalah tujuan kita. “Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1 Korintus 10:23,24).

Kita harus menyelidiki diri kita sendiri dengan seksama. Bagaimanakah kita berbicara dan bertindak? Apakah kita menghormati Allah dengan membangun orang lain di dalam iman? Atau apakah kita menjadi alat-alat yang tidak sadar dari seorang ahli pembongkar?

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Vol. 2, dengan judul asli: “Unwitting Tools of a Demolition Expert.” Halaman 71-72 Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Photo Credit: http://1.bp.blogspot.com/-izibinGCaSI/UIMAsndSPRI/AAAAAAAAAIg/70ORIEnQVvc/s1600/grannys+funeral+055.jpg