Baptisan Kembali

Hampir semua gereja mempraktekkan baptisan dalam salah satu macam.  Hampir semua orang yang menyebut dirinya orang Kristen pernah dibaptis.  Jadi dari orang di luar jemaat Kristus timbul pertanyaan, “Kenapa saya harus dibaptis kembali?”  Ada beberapa jawaban tergantung latar belakang orang tersebut.

Kalau dia dibaptis waktu masih bayi atau anak kecil, maka dia harus menyadari bahwa baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab. Yesus berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” dan Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis” dan Paulus berkata, “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Mk. 16:16; Kis. 2:38; Rom. 10:10 bd. Kis. 8:36,37).  Bisakah seorang bayi (yang belum tahu berbicara) percaya, mengaku dan bertobat?  Apakah bayi itu meminta untuk dibaptis, atau apakah itulah keputusan orang tuanya saja?

Alkitab menunjukkan bahwa baptisan adalah untuk orang remaja atau dewasa yang sudah mengerti Injil dan bisa mengambil keputusan sendiri untuk menjadi murid Kristus melalui baptisan.  Jadi baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab dan tidak diterima oleh Allah.  Orang yang pernah dibaptis sebagai bayi atau anak kecil harus dibaptis kembali sesuai dengan kebenaran firman Allah untuk diselamatkan.

Kalau orang pernah dipercik sebagai baptisan, maka dia harus menyadari bahwa percikan sebenarnya bukan baptisan.  Baptisan berasal dari kata bahasa Yunani baptizo yang berarti, “membenamkan, mencelupkan, menenggelamkan.”  Rhantizo adalah kata bahasa Yunani yang berarti “memerciki,” jadi kalau Allah mau agar kita dipercik, pasti dalam Alkitab kita akan diperintahkan untuk dirhantis dan bukan di-baptis.  Bahwa baptisan berarti membenamkan jelas dari Roma 6:4 dan Kolose 2:12 di mana Paulus menguraikan baptisan sebagai suatu kuburan, “kamu dikuburkan dalam baptisan.”

Itulah kejahatan di mata Allah untuk merubah bentuk baptisan yang telah ditetapkanNya.  Siapakah gerangan kita sehingga kita bisa meniadakan firman Allah yang Mahakuasa untuk menegakkan peraturan kita sendiri dan kemudian menyuruh Allah untuk menerima peraturan kita sendiri dengan mengatakan, “Semuanya sama saja”?

Rektor Universitas mewajibkan semua mahasiswa untuk menulis skripsi untuk wisuda.  Ada satu mahasiswa yang menyerahkan satu halaman tulisan kepada Rektor sebagai “skripsinya.”  Rektor berkata, “Apa ini?  Ini bukan skripsi.”  Mahasiswa menjawab, “Waktu saya di SMA, kepala sekolah berkata untuk menulis skripsi cukup untuk membaca satu buku dan menulis satu halaman mengenai buku itu.  Kepala sekolah berkata bahwa itu juga skripsi dan harus diterima oleh Rektor, dan sebenarnya semuanya sama saja asal ada tulisan.”  Apakah Rektor akan menerimanya?  Apakah mahasiswa itu akan wisuda dan menerima ijazah?  Tentu tidak!

Jadi kita harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan.  Jadi semua orang yang pernah dipercik, sebenarnya belum dibaptis, mereka hanya di-rhantis.  Mereka harus dibenamkan di dalam air sebagai baptisan untuk diterima oleh Allah dan memperoleh keselamatan.

Bagaimanakah dengan orang yang sudah dibenamkan ke dalam air sebagai baptisan dalam nama Tuhan Yesus Kristus?  Kalau dia dibaptis untuk menjadi anggota jemaat Kristus yang asli dan tidak bergabung dengan gerejagereja denominasi yang didirikan oleh manusia, maka dia sudah diselamatkan. Tetapi kalau dia dibaptis untuk bergabung dengan gereja-gereja lain, maka sebenarnya dia telah menerima Injil yang palsu dan belum diselamatkan melainkan terkutuk (Gal. 1:6-9). Karena bagian dari Injil yang benar itu adalah bahwa orang yang bertobat dan dibaptis ditambahkan Tuhan kepada jemaatNya (Kis2:47).

Orang itu harus menyadari bahwa Yesus hanya mendirikan satu jemaat saja (Mt. 16:18). Lagi pula Alkitab mengaku adanya hanya satu jemaat (atau tubuh) saja (Ef. 1:23; 4:4; Rom. 12:4,5; 1 Kor. 12:12; Kol. 3:15).  Tambah pula, Alkitab mengutuk orang yang mengadakan perpecahan dan perselisihan dengan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 6:19-21). Lagi pula mereka yang mengadakan perpecahan dan mengikut manusia dari pada Kristus dan memakai nama-nama manusia juga dikutuk (1 Kor. 1:10-13).  Yesus berdoa supaya semua orang yang percaya kepadaNya menjadi satu sama seperti Dia dan BapaNya adalah satu (Yoh. 17:20-23)

Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga” dan “Mengapa kamu berseru kepadaKu: ‘Tuhan, Tuhan,’ padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Mt. 7:21; Lk. 6:46).  Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan bertobat dari segala dosanya akan melakukan kehendak Allah Bapa dan melakukan apa yang dikatakan Yesus.  Mereka akan mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaatNya yang asli.

Apakah pemerintah Indonesia akan menerima pengangkatan seorang anggota gerakan pengacau keamanan sebagai gubernur, sekalipun dia memenuhi semua syarat dan bersumpah untuk menegakkan seluruh undang-undang dasar negara, sedangkan dia masih terlibat di dalam gerakan tersebut?  Tentu tidak!

Jadi mereka yang “bertobat” dan dibaptis, sekalipun dalam nama Yesus, untuk bergabung dengan gereja-gereja lain tidak diselamatkan.  Sebenarnya mereka bergabung dengan kelompok pemberontak yang melawan Allah dengan mempertahankan nama dan ajaran gereja mereka sendiri yang tidak sesuai dengan firman Allah, dan mempertahankan perpecahan dan perselisihan antara umat Kristen yang tidak sesuai dengan perkataan Yesus Kristus ataupun kehendak Allah. Mereka itu menolak untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaat Kristus yang satu itu.  Tentu Allah tidak akan menerima pertobatan atau baptisan mereka itu.

Lagi pula dalam 1 Korintus 12:13, Paulus berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua…telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Walaupun mungkin gereja Pentakosta, Advent, Baptis, GIDI, dan gereja-gereja lain mempraktekkan baptisan selam, namun kami di dalam jemaat Kristus menolak bahwa gereja itu semua merupakan satu tubuh.   Kalau orang yang sudah dibaptis di dalam gereja Pentakosta, misalnya, kami terima sebagai anggota jemaat Kristus tanpa dibaptis lagi, maka itu sama dengan kami menyetujui bahwa gereja Pentakosta sama dengan jemaat Kristus.  Dan itu tidak benar.  Keduanya gereja yang lain dan sangat beda dalam ajaran.  Jadi walaupun seorang sudah dibaptis selam di dalam gereja lain, maka dia harus dibaptis lagi menjadi anggota satu tubuh yang benar itu, yaitu jemaat Kristus yang asli.

Ada banyak orang yang mempunyai bermacam-macam keberatan.  Ada yang berkata bahwa baptisan hanya merupakan lambang saja, jadi tidaklah terlalu penting. Memang baptisan adalah lambang tetapi sangat penting.  Itu melambangkan kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus yang hanya bisa dilambangkan oleh pertobatan dan pembenaman di dalam air.  Percikan tidak melambangkan apa-apa.  Sang Merah Putih adalah lambang Republik Indonesia.  Seorang tidak bisa merubahnya menjadi Sang Kuning Hijau dan berkata bahwa sebenarnya sama saja, tidaklah begitu penting.

Ada yang berkata bahwa baptisan adalah meterai keselamatan jadi kalau orang dibaptis ulang maka itu merusakkan meterai itu. Tetapi kalau orang memasang meterai palsu atas surat berharga, maka surat itu tidak sah karena meterainya tidak benar.  Surat itu harus dibuat lagi dengan meterai yang asli barulah surat itu bisa dinyatakan sah. Demikian juga orang yang menerima baptisan palsu, yang tidak sesuai dengan firman Allah, maka baptisan itu tidak sah dan tidak merupakan jaminan keselamatan.  Orang itu harus menerima baptisan yang benar yang sesuai dengan firman Allah baru bisa dinyatakan sah dan merupakan jaminan keselamatan.

Ada yang berkata bahwa orang berbuat dosa kalau dibaptis ulang.  Dosa adalah pelanggaran firman Allah (1 Yoh. 3:4).  Jadi sebenarnya itulah dosa untuk menerima baptisan yang tidak sesuai dengan firman Allah.  Orang itu harus bertobat dari semua dosanya, termasuk baptisan yang tidak benar itu, dan dibaptis dengan baptisan yang benar.

Yang terakhir ada satu contoh di dalam Alkitab di mana orang dibaptis ulang.  Bacalah Kisah 19:1-7.  Orang-orang ini di Efesus menerima baptisan Yohanes.  Nah, baptisan Yohanes adalah baptisan yang ditetapkan Allah pada saat Yohanes Pembaptis muncul di padang gurun.  Tetapi setelah Yesus mati di kayu salib, maka baptisan Yohanes itu bukanlah baptisan yang sah lagi.  Orang sekarang harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa.  Jadi waktu mereka ini mendengar hal itu maka mereka dibaptis ulang.

Kalau Allah tidak lagi menerima baptisan Yohanes, baptisan yang ditetapkan oleh Allah sendiri, melainkan menyuruh mereka untuk dibaptis lagi, apakah Allah akan menerima baptisan yang ditetapkan oleh manusia lain? Semua orang di zaman Kristen ini yang tidak dibaptis menurut kebenaran firman Allah, wajib dibaptis lagi sesuai dengan firman Allah untuk memperoleh keselamatan