CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Jalan Kristus

Waktu Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, alat-alat musik hampir-hampir tidak disebutkan.  Apakah itu suatu kebetulan?  “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh. 1:17).  Perjanjian Musa penuh dengan perintah-perintah dan perincian-perinciannya jasmani, yang mencapai titiknya yang tertinggi di bawah Daud dan Salomo.  Apa yang diperkenalkan Kristus baru sekali!  Di mana di dalam Perjanjian Baru ada daftar-daftar panjang yang sama untuk pokok-pokok jasmani untuk Bait Allah atau Kemah Suci baru dari Kristus?  Di manakah hari-hari raya istimewa dan korban-korban yang banyak-banyak?  Di manakah imam-imam orang Lewi?  Di manakah bermacam-macam alat-alat musik yang diperintahkan oleh Allah sendiri?  Bukan seperti barang-barang ini tidak ada sama sekali.  Mereka dipergunakan di dalam kehidupan sehari-hari (Mt. 9:23; 11:17; Lk. 7:32; 15:25; 1 Kor. 13:1; 14:7; Why 18:22).

Kristus tidak pernah menyebut satu alat musik pun di dalam ibadah umatNya.  Ibadah Kristus sendiri dalam namun sederhana.

  1. Walaupun Yesus hidup di bawah Hukum Taurat, Yesus merayakan hari raya Paskah dan memilih untuk mengakhirinya dengan “menyanyikan nyanyian pujian” (Mt. 26:30; Mk. 14:26). (Dalam perjamuan Paskah itu, Yesus memberikan dua pokok jasmani sebagai peringatan resmi tentang kematianNya:  Roti dan hasil pokok anggur, Mt. 26:26-29.)
  2. Paulus dan Silas bernyanyi di dalam penjara (Kis. 16:25).
  3. Yakobus mendorong anggota-anggota yang bergembira untuk bernyanyi (Yak. 5:13).
  4. Paulus, dalam diskusi ibadah jemaat, berkata, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. . . . Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu:  yang seorang mazmur” (1 Kor. 14:15,26).

Di dalam konteks 1 Korintus 14, Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus yang belum dewasa sifat dasar ibadah dewasa.  Anggota-anggota lemah ingin mempergunakan bahasa-bahasa lidah yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang hadir.  Paulus berkata, bahwa walaupun ibadah itu dipersembahkan kepada Allah, kasih mewajibkan, bahwa ibadah itu harus mendorong dan menguatkan mereka yang hadir.  Jadi peraturan dasar dari ibadah jemaat adalah, “Hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat. . . . Semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (1 Kor. 14:12,26).  Bagaimanakah seseorang menguatkan yang lain?  Dengan berbicara dalam cara-cara yang bisa dimengerti mereka!

Paulus menceritakan mengenai alat-alat musik untukmenjelaskan maksudnya:

Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?  Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (1 Kor. 14:7-8).

Alat-alat musik juga bisa mengilustrasikan maksud Paulus oleh karena mereka juga membunyikan bunyi-bunyian dan tanda-tanda.  Namun perhatikanlah uraiannya mengenai alat-alat musik itu.  Mereka adalah “alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi.”  Sifat dasar hampa dari alat-alat musik memberikan suatu ilustrasi lain di dalam 1 Korintus 13:1.  Perkataan yang tidak mempunyai kasih begitu hampa, bahwa itu sama seperti “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”  Ini bukan suatu pujian:  Gong dan cenang melambangkan bunyi keras dengan sedikit arti atau arti yang hampa.  Jikalau alat-alat musik “tidak berjiwa,” dan bisa mengilustrasikan kehampaan, kenapa mereka termasuk di dalam ibadah Perjanjian Lama?  Mengetahui betapa jasmaniah adalah alatalat musik itu, bisa membantu kita untuk mengerti, bahwa mereka adalah “bayangan” jasmani yang menunjuk kepada kewujudan rohani yang lebih tinggi.  Sebelum kita meninggalkan 1 Korintus 14, perhatikanlah, bagaimana Paulus keluar dari ibadah jemaat untuk memperoleh ilustrasinya — nafiri perang.  Yang lebih penting, perhatikanlah, bahwa Paulus begitu tegas untuk melarang suara-suara yang hidup yang tidak memberi berita yang dapat dimengerti untuk mereka yang hadir.  Apakah mungkin dia katakan mengenai pergunaan kecapi yang tak berjiwa dan tambur atau tifa yang tak hidup, yang juga bisa membuat bunyi-bunyian tetapi tidak bisa mengucapkan berita yang dapat dimengerti?(Bersambung)