CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Bait Allah yang Hidup, Alat yang Hidup

Yesus berbicara mengenai dua bait Allah:  TubuhNya sendiri yang akan dihancurkan dan dibangkitkan kembali (Yoh. 2:19-21); dan Bait Allah Herodes yang akan dibinasakan dengan sempurna (Mt. 24).  Mengenai tempat ibadah yang baru, Dia berkata,

Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. . . . Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:21,23).

Ibadah tidak berada “di dalam” Bait Allah yang dibuat manusia.  Ibadah dilaksanakan “di dalam” roh dan “di dalam” kebenaran.  Ingat mengenai cara dewasa untuk menyembah.  “Aku akan menyanyi dengan rohku . . . dengan akal budiku” (1 Kor. 14:15).  Paulus berkata, aku melayani “dengan segenap hatiku” (Rom. 1:9).  Secara harfiah kata-kata bahasa Yunani dibaca, “Aku melayani di dalam rohku.”  Di sini, di dalam, adalah tempat pelayanan dan ibadah. Mengenai struktur jasmani, itu bukan dibuat manusia, melainkan dibuat Allah:  Tubuh manusia.  “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (1 Kor. 6:19).

Apakah penyembah-penyembah Bait Allah di dalam Perjanjian Lama tidak pernah mempergunakan tubuh dan hati mereka?  Tentu mereka mempergunakannya.  Nabi-nabi sering menekankan ibadah rohani (Ul. 10; Yes. 1; Yer. 4).  Jadi, apakah mutu baru yang ditekankan Yesus di dalam Yohanes 4?  Kebaharuan itu berkaitan dengan menguliti Bait Allah jasmani dan barang-barangnya.  Wujud-wujud rohani tetap ada, memenuhi ibadah baru dengan mutu hidup.  Bait Allah yang lama dibuat dari batu-batu yang tidak hidup; yang baru dibuat dari “batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Pet. 2:5).  Korban-korban lama itu adalah binatang-binatang yang mati; korban-korban baru adalah “persembahan rohani” (1 Pet. 2:5).  Kamu harus “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati [bahasa Yunani: rohani]” (Rom. 12:1).  Imam-imam yang lama terus-menerus mempersembahkan binatang-binatang yang mati.  Imam-imam baru terus-menerus “mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya” (Ibr. 13:15).

Tempat manakah alat-alat musik ini — yang disebut “barang-barang yang tak berjiwa atau hidup” — mempunyai di dalam ibadah ini yang, secara harfiah, hidup?  Jika tubuh orang Kristen adalah Bait Allah yang baru, dan ibadah yang baru ada di dalam roh, apakah alat yang baru?  Lagi Kitab Suci tidak berdiam pada hal itu.  Kitab Suci sangat jelas:

Serta berkata-kata di antara sama sendirimu dengan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani sambil menyanyi dan bunyikan puji-pujian dengan hatimu kepada Tuhan” (Ef. 5:19, Terjemahan Lama; terjemahan bahasa Yunani, “dan membuat musik dengan hatimu kepada Tuhan

Tubuh hidup “berkata-kata” dan “menyanyi.”  Hati hidup “bunyikan puji-pujian” atau “membuat musik.”  Di sini adalah musik yang sebenarnya menyenangkan pendengaran rohani dari Allah yang hidup.  Konteks di dalam Efesus 5 adalah perbedaan antara pesta pora orang kafir dan ibadah orang Kristen.  Orang-orang kafir minum mabuk dengan anggur.  Sebaliknya, orang-orang Kristen dipenuhi dengan Roh Kudus dan perkataan Kristus (Ef. 5:18; Kol. 3:16).  Pesta pora itu kacau dan memuaskan hawa nafsu dan kehidupan tak bermoral.  Sebaliknya orang-orang Kristen bernyanyi dan mengajar perkataan Kristus yang membangun.  Dari pada alat-alat musik jasmani, alat-alat musik orang Kristen adalah hati yang ditinggikan kepada Allah dengan pengucapan syukur (Ef. 5:19-20; Kol. 3:16).(Bersambung)