CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Ditegakkan oleh Sejarah

Orang-orang Kristen yang mula-mula mengaku alat-alat musik Perjanjian Baru — orang yang ditebus dan hatinya yang mengucap syukur!  Mereka sering menulis tentang pertemuan-pertemuan mereka.  Mereka sering menyebut dan mendiskusikan bernyanyi.  Mereka tidak pernah menyebut alat-alat musik yang digunakan di dalam ibadah orang Kristen.  Waktu mereka menyebut alat-alat musik, mereka memakai alat-alat itu sebagai ilustrasi dan kiasan, atau mereka mencela alat-alat itu sebagai asing untuk agama Kristen.

Sangat membantu untuk undur sedikit dari zaman kita dan meninjau sejarah.  Kenyataan-kenyataan sejarah mengenai alat-alat musik dalam ibadah banyak terbukti kebenarannya.  Seorang pembaca siapapun bisa memeriksa kenyataan-kenyataan ini di dalam ensiklopedi-ensiklopedi, dan dalam karya-karya tulis oleh ahli-ahli sejarah baik gerejawi maupun sekuler.  Tinjauan-tinjauan sejarah menghasilkan kesimpulan berikut :

  1. Semua agama kafir, dari sejarah yang paling awal sampai sekarang, memakai alat-alat musik dalam ibadah.
  2.  Tidak ada agama yang mengaku asal usul Alkitabiah (Yudaisme sinagoge, Kristen, Islam) yang memakai alat-alat musik dalam ibadah gabungan dalam beberapa abad pertama dari awalnya.
  3. Tidak ada dari bapa-bapa Yunani yang awal dari jemaat yang memandang kepada alat-alat musik .
  4. Gereja-gereja Timur (Ortodoks Yunani, Ortodoks Rusia, Koptik, Nestorian, dan Armenian) tidak pernah memakai alat-alat musik.  Mereka berkata, bahwa dari kekristenan yang mula-mula, dan tetap dalam imitasi dari tradisitradisi yang awal, tidak pernah ada tempat untuk alat-alat musik .
  5. Waktu alat-alat musik akhirnya diperkenalkan ke dalam ibadah jemaat, itu mulai dalam agama Kristen cabang Barat.  Kenyataan sejarah pasti yang paling awal mengenai pemakaian alat musik dalam ibadah “Kristen” adalah sebuah orgel yang ditempatkan oleh Raja Pepin dalam jemaat St. Corneille (Compeigne, Perancis, 757 M.).
  6. Kekecualian ini membawa yang lain, tetapi peraturan umum disebutkan oleh Cowell di dalam Collier’s Encyclopedia (Ensiklopedi Collier):  “Musik gereja sebelum abad keenam belas hampir semua tanpa alat musik.” Istilah a capella (akapela) memberi bukti bahwa musik gereja adalah paduan suara saja.  A capella [adalah kata bahasa Latin yang berarti] secara harfiah “menurut kapel” [kapel=gedung ibadah kecil].  Menurut sejarah, kapelkapel hanya memakai paduan suara, jadi memberi istilah a kapela, arti sekarang adalah “bernyanyi tanpa diiringi alat musik” .
  7. Dalam abad-abad ini, sarjana-sarjana Barat menentang pemasukan alat-alat musik.  Akhirnya mereka ditolak waktu pada abad ketujuh belas, Paus mengizinkan pemakaian alat-alat musik pada umumnya. Namun demikian posisi resmi dari Gereja Katolik Roma tetap, bahwa alat-alat musik tidak pantas untuk ibadah, tetapi bisa “dibiarkan” untuk menyenangkan umat.  Bahkan posisi ini mempunyai banyak pengkritik Katolik .  Bahkan  sampai hari ini, kapel yang Paus punya sendiri tidak mempunyai alat-alat musik (Encyclopedia Brittanica; Catholic Encyclopedia [Ensiklopedi Britannica; Ensiklopedi Katolik] ).Kebenaran yang Merupakan Suatu Tantangan

    Banyak orang hari ini tidak sadar mengenai sejarah atau kecenderungannya.  Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa alat-alat musik baru saja ditambahkan kepada ibadah “Kristen.”  Tidak pernah masuk akal mereka, bahwa Kristus tidak mempunyai tempat dalam PerjanjianNya yang Baru untuk alat-alat musik.  Mereka sangat mencintai beribadah dengan orgel-orgel, piano-piano, gitar-gitar, tifa-tifa, gambus-gambus dan alat-alat musik lainnya.  Tradisi-tradisi yang dihargai mengenai musik dan kenikmatan musik sekarang membuat pokok ini sangat sulit.  Orang-orang berpikir, bahwa musik, yang begitu menyenangkan telinga kita, tidak mungkin dianggap hampa oleh Allah.  Tetapi marilah kita sekurang-kurangnya mengaku, bahwa lagu-lagu dan alat-alat musik bisa gagal dalam mengesankan Allah.Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka. . . . Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar (Amos 5:21-23; banding musik sekuler dalam Amos 6:1-5 dan Yes. 5:11-12).Allah yang menciptakan segala keindahan, termasuk lagu-lagu sorga yang paling tinggi, bisa saja tidak digerakkandengan nikmat oleh musik kita di bumi ini.  Dalam kasus bangsa Israel yang berontak, bahkan bentuk-bentuk “benar” menjijikkan Allah.  Dalam cara yang sama, jikalau bersifat berontak atau tanpa izin, musik kita yang paling hebat mungkin menjadi sejenis gemerencing dan dencing paling jelek dalam telinga Allah.

    Jikalau kita sama-sama bisa setuju dengan hal itu, maka ada lebih banyak untuk dipertimbangkan.

    Daud sudah menyadari kebenaran ini waktu dia memperbedakan korban-korban binatang dengan kehidupannya dan nyanyiannya sendiri. Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah (Mazmur 69:31-32).Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku — Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan (Ibr. 10:5-6 mengutip dari Mazmur 40). Jikalau Allah tidak begitu menyukai korban bakaran, kenapa Dia berkata, bahwa korban bakaran itu adalah bau harum yang menyenangkanNya?  (Lihat Kel. 29:18,25; Im. 1:9; 2:9).  Jawabannya adalah bahwa Allah mempergunakan korban-korban itu dan bahasa demikian, sebagai bagian dari gambaranNya atau “bayangan.”  Allah sedang memandang  atau mencium  ke masa depan kepada korban Kristus yang benar-benar akan menjadi berkenan kepada Allah dan menyenangkanNya!  “Kristus Yesus juga telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2).  Secara demikian, pakaian-pakaian imam dari sendirinya tidak memberikan kemuliaan kepada mereka (Kel. 28).  Banyak imam yang berpakaian bagus tidak mulia! Baju-baju mewah itu menggambarkan pakaian rohani pada masa depan dari Kristus yang benar-benar mulia , Amin! Batu-batu Bait Allah indah di mata manusia (Lk. 21:5).  Namun di mata Allah itulah hanya batu-batu biasa saja. Nilainya hanya sebagai gambaran sementara, yang secara suram melambangkan kemuliaan-kemuliaan yang jauh lebih besar di sorga.  Hidung rohani Allah tidak menikmati bau harum dari ukupan sendiri apalagi daging binatang yang bernyala.  Ukupan menggambarkan suatu gambar dan memberikan kepada manusia suatu perasaan (secara harfiah) betapa menyenangkan doa-doa dalam Kristus pada masa depan.  Secara demikian alat-alat musik sendiri lonceng-lonceng yang gemerencing pada pakaian imam dan pemetikan tali-tali musik  tidak membawa nikmat istimewa kepada telinga sorgawi.  Apakah nilainya?  Itu menunjuk kepada musik rohani yang sebenarnya yang dimungkinkan di dalam Kristus, yaitu hati-hati yang ditinggikan dalam pujian pengucapan syukur!  Semua barang ini , Bait Allah, korban-korban, pakaian-pakaian imam, ukupan dan alat-alat musik , dari sifat jasmani yang sama. Semuanya dari Perjanjian Lama yang sama.  Sebagai bayangan-bayangan saja, mereka sudah berlaku waktu Perjanjian itu sudah berlaku.(Bersambung)