Catatan-Catatan Mengenai Kedua Perjanjian

PENDAHULUAN

 

Kalau anda membaca Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan, maka anda akan memperhatikan bahwa Allah sering bermohon kepada pancaindera manusia:  barang-barang untuk diraba dan dilihat, barang-barang untuk didengar, dicium dan dikecap.  Barang-barang yang diwajibkan dibuat dari mutu yang tertinggi, dibuat dengan ketrampilan yang paling baik.  Semua barang ini dibuat sangat tepat sesuai dengan rancangan Allah.  Keluaran 25:9 memulai banyak petunjuk yang rinci dengan perintah Allah, “menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.”

 

Mengapa Allah Menuntut Kemegahan Demikian

Kita tahu bahwa pada dasarnya Allah tidak melihat pada kemegahan, atau apa yang dilihat manusia dengan matanya.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati  (1 Sam. 16:7).

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18).

Apakah Allah memerlukan barang-barang mewah dari bumi ini?  Apakah Dia mempunyai sejenis kelaparan yang dipuaskan oleh korban binatang?  Apakah Dia bisa dimuat ke dalam Bait Allah yang dibuat oleh batu?  Bahkan penulis-penulis Perjanjian Lama menyinggung jawaban.  Sementara meresmikan Bait Allah yang megah itu, Raja Salomo mengaku,Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini (1 Raj. 8:27; lihat juga Yes. 66:1-2; Kis. 7:48-50).

Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya.  Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? (Mzm. 50:12-13).Paulus memberitahukan orang-orang Atena hal yang sama:

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis. 17:24-25).

 

Sudah nyata, bahwa Allah tidak mempunyai keinginan atau keperluan yang khusus untuk barang-barang jasmani yang Dia wajibkan di dalam Perjanjian Lama.  Kalau begitu, mengapakah Dia mewajibkan barang-barang begitu? Oleh karena manusia memerlukan barang-barang itu untuk mempersiapkan mereka untuk Mesias yang akan datang.

Manusia duniawi memerlukan gambaran-gambaran duniawi untuk belajar kebenaran-kebenaran rohani dari Allah. Alkitab menyebut gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama “gambaran” atau “bayangan” atau “lambang” [atau “tipe” bahasa Inggris] (Kol. 2:17; Ibr. 8:5; 9:23; 10:1).  Peraturan-peraturan Perjanjian Lama sama seperti sejenis Sekolah Dasar, pendidikan dasar (Kol. 2:16-23).  Umat Allah sekarang telah meninggalkan penuntunnya dari masa mudanya dan telah bertumbuh besar menjadi dewasa di dalam Kristus (Gal. 3:23-25).

 

PAKAIAN IMAM

 

Kemajuan kepada kedewasaan bisa dilihat dalam hal pakaian.  Harun dan keturunannya wajib memakai pakaian istimewa apabila melayani di dalam Bait Allah.

Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli . . . membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku (Kel. 28:2-3 lihat juga Kel. 28:40-43; 39:1-43). Lagi, ada petunjuk-petunjuk yang rinci dan lengkap.  Pakaian-pakaian itu termasuk tutup dada, baju efod (pakaian rompi luar), gamis, kemeja, serban, ikat pinggang, dan celana dalam.  Bahkan giring-giring (seperti lonceng kecil) yang dipakai oleh imam besar diwajibkan.  Kalau tidak memakai giring-giring itu nanti imam besar mati (Kel. 28:33-35). Sama seperti bahan-bahan mewah lain dari Bait Allah, bahan-bahan ini menunjukkan, bahwa Allah berhak menerima yang paling baik.  Tentu seperti gambaran, mereka hanya memberikan pandangan sekilas dari kemuliaanNya.  Yesus mengingatkan kita bagaimana pakaian-pakaian mewah dari Salomo kelihatannya miskin dibanding sebuah bunga sederhana dari ciptaan Allah (Mt. 6:29).  Kemuliaan Yesus sendiri tidak berkaitan dengan pakaian istimewa apalagi pakaian imam resmi.  KemuliaanNya adalah kasih karunia, kebenaran dan kuasa (Yoh. 1:14-18; 2:11)

 

Berdiam dalam Pokok Itu?

 

Tidak ada ayat Alkitab yang memberitahukan kepada kita secara persis, bahwa pakaian imam tidak termasuk pada Perjanjian Kristus yang Baru.  Ada orang yang mungkin memakai kenyataan ini untuk mendukung kemauannya untuk memakai pakaian imam (atau sebuah seragam sejenisnya).  Tentu Allah tidak harus membuat daftar panjang dari segala perubahan.  Dari pada itu, Dia menjelaskan secara terus terang, bahwa Perjanjian Kristus yang Baru telah mengganti Perjanjian Lama (Ibr. 8; Gal. 4).  Ini berarti semua peraturan-peraturan itu telah berakhir, karena Musa berkata, bahwa semuanya termasuk di dalam Perjanjian itu (“Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini” lihat Kel. 24:8).  Lagi pula imamat Kristus telah mengganti imamat yang lama (Ibr. 7, 10).  Jikalau tidak ada lagi imam-imam atau orang-orang Lewi dari peraturan lama itu, maka peraturanperaturan dan ketetapan-ketetapan istimewa dari imamat itu juga tidak ada lagi, termasuk pakaian mereka yang istimewa.

Bolehkah kita mengambil kesimpulan, bahwa uraian-uraian para imam di dalam Perjanjian Lama tidak mempunyai arti bagi kita hari ini?  Segala firman dari Alkitab berguna.  Bahkan gambaran-gambaran ini yang suram mempunyai arti penting:  Hanya imam-imam yang benar yang berpakaian dengan pantas boleh menghadap Allah.  Setiap anggota keluarga Allah hari ini adalah seorang imam (1 Petrus 2:5,9).  Apakah yang seharusnya kita pakai?  Memang, ada petunjuk-petunjuk mengenai pakaian yang pantas (pada umumnya mengenai tidak berpandanan terlalu kaya! 1 Tim. 2:9,10; 1 Pet. 3:3-5).  Ada peringatan yang keras mengenai menarik perhatian dengan memakai pakaian-pakaian rohani yang istimewa dan gelar-gelar (Mt. 23:5-10).  Namun demikian kita seharusnya mempertimbangkan lebih dari pada barang-barang jasmani, karena “bayangan-bayangan” Hukum Taurat biasanya menunjuk lebih tinggi kepada sesuatu penggenapan rohani.  Mencari pakaian Perjanjian Baru yang demikian, kita dengan cepat belajar, bahwa kita hanya boleh menghadap Allah jikalau kita ditutupi dengan pantas.

Kita ingat perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mt. 22:1-14) di mana ada seorang laki-laki yang dilemparkan keluar karena pakaiannya tidak pantas.  Mencari lebih lanjut, kita melihat, bahwa pakaian yang diperlukan bersifat rohani.  “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal. 3:27).  Karena kita telah menjadi umatNya secara imam, kita terus-menerus “menanggalkan” dosa dan “mengenakan” Kristus (Kol. 3:5-14).

Ya, ada sejenis kediaman:  tidak ada perintah tertentu yang melarang pakaian-pakaian imam.  Lagi pula tidak ada perintah bagi kita untuk memakai pakaian kuno itu.  Tetapi ini bukan kediaman yang kosong.  Mereka bersuara keras karena konteksnya.  Pakaian yang lama itu berkaitan dengan perjanjian yang lama dan imamat yang lama.  Tulisan para rasul menjelaskan dengan terus terang, bahwa kita hidup di dalam konteks perubahan dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru.  Jadi “kediaman-kediaman” ini mengatakan banyak sekali, teristimewa kalau Perjanjian Baru tidak berdiam tentang pakaian kita yang baru.  Kita diperintahkan dengan jelas untuk mengenakan pakaian yang paling kudus dari semua pakaian:  “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus!” (Rom. 13:14).  Oleh karena yang baru jauh lebih baik, maka tidak ada lagi perlu untuk sejenis seragam imam yang jasmani.

 

UKUPAN

 

Pada saat Allah memberikan perjanjian yang pertama, Dia bisa saja menolak pembakaran ukupan sebagai kegiatan penyembahan berhala oleh orang-orang kafir.  Tulisan-tulisan kuno menunjukkan, bahwa pembakaran ukupan itu mempunyai pergunaan yang lama oleh orang Arab, orang Asiria, orang Babilon, orang Kanaan, dan orang Mesir (banding Kej. 37:25; 1 Raj. 11:8 dan 2 Taw. 30:14).  Akan tetapi Allah mempunyai maksudNya sendiri, jadi Allah membawa ukupan istimewa ke dalam perjanjian yang diberikanNya kepada Musa.  Kenyataan-kenyataan Perjanjian Baru membuktikan, bahwa pembakaran ukupan adalah sebagian dari penyembahan kepada Allah di dalam Bait Allahitu.  (Itu tidak pernah diuraikan sebagai sebuah pembantu untuk membuat suasana lebih baik untuk menyembah atau membuat tempat itu berwangi.)

Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.  Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun (Kel. 30:7-8).

Bahkan kalau ukupan dicampurkan dengan persembahan-persembahan lain, itu tetap, “bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 2:2).  Dalam hal ini pembakaran ukupan mempunyai maksud yang seimbang dengan korban binatang yang adalah “korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 1:9).

Tetapi, pada saat Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, ukupan hampir-hampir tidak disebutkan.  Yesus tidak melakukan sesuatu secara kebetulan.  SistemNya rohani yang baru tidak mempunyai tempat untuk sejenis sembahyang jasmani begitu.  Ukupan itu hanya boleh dipersembahkan oleh para imam Lewi (Bil. 16:1-40; 2 Taw. 26:16-21).  Orang-orang lain dilarang keras meniru atau menggunakan resepnya yang khusus (Kel. 30:34-38). Tempat benar untuk mempersembahkannya adalah di Kemah Suci atau Bait Allah di atas mezbahnya sendiri (Kel. 30:1-10; Lk. 1:9-10).  Juga ukupan itu digunakan sekali setahun di dalam tempat maha kudus (Im. 16:12-13). Tempat-tempat lain dikutuk (1 Raj. 22:43 banding Ul. 12:1-11).  Jadi pada saat Bait Allah yang lama, mezbah, dan imamat berakhir, maka ukupan yang berkaitan dengan mereka berakhir juga.(Bersambung)

 

© 1998 World Bible School, P.O. Box 9346, Austin, TX 78766 USA Diterjemahkan  oleh David Buskirk dengan izin