Pelajaran 3 Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan di dalam Hukum Taurat

Pendahuluan

Banyak orang berpikir bahwa Hukum Taurat hanya mewajibkan orang Israel untuk memberikan sepersepuluh kepada Tuhan. Pikiran itu salah. Memang semua orang Israel wajib memberikan sepersepuluh dari pendapatan mereka kepada Tuhan, tetapi mereka memberikan jauh lebih banyak dari itu. Mereka mempunyai banyak persembahan lain yang harus mereka persembahkan. Jadi sepersepuluh adalah dasar atau minim persembahan mereka. Marilah kita meninjau bermacam-macam persembahan yang wajib mereka persembahkan. Uraian korban-korban berikut adalah peninjauan saja untuk memberikan kepada saudara pandangan umum mengenai macam-macam korban yang harus dipersembahkan. Keterangan di bawah ini tidak dalam atau lengkap. Untuk keterangan yang lebih dalam dan lengkap bisa membaca nas-nas di dalam Alkitab atau buku-buku lain mengenai korban-korban dalam Hukum Taurat. Jangan cepat-cepat membaca bagian ini. Membaca dengan penuh perhatian dan renungkanlah betapa banyak orang Israel persembahkan.

Korban Bakaran

Siapa:Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan, atau seekor kambing jantan, atau seekor domba jantan yang tidak bercela, atau burung tekukur atau anak burung merpati. Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu jantan, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur. Tujuan: Mengadakan pendamaian dengan Allah atau sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan Tuhan. Nas: Imamat 1:1-17; 6:8-13; Bilangan 15:1-12.

Korban Sajian

Siapa: Siapa saja yang rela, dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Tepung yang terbaik dengan minyak dan kemenyan, atau roti bundar yang tidak beragi yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi yang diolesi dengan minyak, atau hulu hasil bulir gandum yang dipanggang dengan minyak dan kemenyan — semuanya harus dibubuhi dengan garam.

Tujuan: Bagian ingat-ingatan sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi Tuhan.

Nas: Imamat 2:1-16; 6:14-23.

Korban Keselamatan

Siapa: Siapa saja yang rela dan juga untuk hal-hal lain yang tertentu.

Jenis: Seekor lembu jantan atau betina, atau seekor kambing atau domba jantan atau betina yang tidak bercela.

Jikalau korban itu adalah:

1. Seekor lembu, maka juga harus mempersembahkan:

a. Tiga persepuluh efa (kurang lebih 6 liter) tepung yang terbaik diolah dengan setengah hin (kurang lebih 2 liter) minyak.

b. Setengah hin (kurang lebih 2 liter) anggur.

2. Seekor domba jantan:

a. Dua persepuluh efa (kurang lebih 4 liter) tepung yang terbaik diolah dengan sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) minyak.

b. Sepertiga hin (kurang lebih 1 liter seperempat) anggur.

3. Seekor anak domba:

a. Sepersepuluh (kurang lebih 2 liter) tepung yang terbaik diolah dengan seperempat hin (kurang lebih 1 liter) minyak.

b. Seperempat hin (kurang lebih 1 liter) anggur.

Tujuan: Sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan atau sebagai pengucapan syukur, karena bernazar atau sebagai persembahan sukarela.

Nas: Imamat 3:1-17; 7:11-21; 7:28-38; Bilangan 15:1-12.

(Bersambung)

Pelajaran 3 Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Nuh

Setelah Nuh keluar dari bahtera firman Allah mengatakan bahwa dia mempersembahkan beberapa ekor binatang dan burung sebagai korban bakaran kepada Tuhan (Kej. 9:20, 21). Oleh karena persembahan Nuh itu, maka Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membinasakan seluruh bumi dengan air lagi. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dari zaman Habel sampai dengan zaman Nuh, orang-orang benar di hadapan Tuhan mempersembahkan korban kepadaNya. Tentu Nuh belajar mempersembahkan korban demikian kepada Tuhan dari orang tuanya atau nenek moyangnya. Selanjutnya bahwa Allah menerima korban Nuh menyatakan bahwa Nuh mempersembahkan korbannya itu menurut kehendak Allah.

Abraham

Walaupun hanya ada satu nas yang mengatakan secara langsung bahwa Abraham mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan, ada nas-nas lain yang menyinggungnya. Dalam Kejadian 22, Allah menyuruh Abraham untuk mempersembahkan anaknya Ishak sebagai korban bakaran kepada Tuhan (Kej. 22:2). Jadi Abraham sudah tahu apa itu korban bakaran dan caranya untuk mempersembahkannya. Ini menyinggung bahwa Abraham sudah biasa melakukan demikian. Walaupun Malaikat Tuhan menghentikan Abraham sehingga dia tidak mempersembahkan anaknya, Tuhan menyediakan seekor domba sebagai ganti anaknya itu. Abraham mempersembahkan domba itu sebagai korban bakaran kepada Tuhan. Beberapa kali di dalam Kejadian dikatakan bahwa Abraham mendirikan sebuah mezbah (Kej. 12:7; 13:4, 18). Tujuan dari pendirian mezbah itu biasanya adalah untuk mempersembahkan korban kepada Allah (Kej. 22:9). Jadi walaupun dalam Kejadian 12:7; 13:4, 18 tidak mengatakan bahwa Abraham mempersembahkan korban kepada Allah, kita bisa menganggap bahwa selama Abraham tinggal dekat mezbah itu, dia biasanya mempersembahkan korban kepada Allah secara teratur sesuai dengan kehendak Tuhan.Sebutan pertama di dalam Alkitab mengenai perpuluhan adalah cerita Abram dengan Melkisedek dalam Kejadian 14:17-20. Setelah Abram pergi dan mengalahkan perserikatan raja-raja di Timur yang menyerang Sodom, Abram bertemu dengan Melkisedek. Melkisedek adalah seorang imam Allah yang Mahatinggi. Waktu Abram bertemu dengan Melkisedek, Abram memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari jarahan yang diperolehnya (Ibr. 7:4). Perhatikanlah bahwa menurut Ibrani 7:4 Abram tidak memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari segala miliknya, melainkan sepersepuluh dari semua rampasan yang diperolehnya dalam perang itu. Kenapa Abram memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang diperolehnya? Alkitab sendiri tidak mengatakannya. Apakah itu karena suatu penyataan dari Allah yang menyuruh Abram melakukan demikian? Apakah karena Abram sendiri ingin mengucap syukur kepada Allah karena berhasil dalam perang itu sehingga atas kerelaannya sendiri dia memberikan sepersepuluh? Apakah karena alasan lain? Alkitab tidak mengatakannya. Jadi kita tidak bisa tahu dengan pasti. Dan juga tidak dikatakan di tempat lain bahwa Abram pernah memberikan perpuluhan sebelum atau sesudah peristiwa ini. Akan tetapi hal perpuluhan pertama kali disebut di sini di dalam Alkitab dan di kemudian hari di dalam Hukum Taurat, Allah membuatnya menjadi hukum.

Yakub

Waktu Yakub melarikan diri dari kakaknya Esau, dia mempunyai tujuan untuk pergi ke Padan Aram di mana pamannya tinggal. Dalam perjalanan ke sana, dia singgah di Betel untuk bermalam (Kej. 28). Setelah memperoleh mimpi atau penyataan yang luar biasa, Yakub bersumpah yang demikian kepada Allah, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu” (Kej. 28:20-22). Apakah Yakub memenuhi sumpahnya ini, Alkitab tidak mengatakannya, tetapi saya percaya bahwa Yakub memang memenuhi sumpahnya ini. Dari manakah Yakub memperoleh ide untuk memberikan sepersepuluh, lagi kita tidak tahu. Mungkin kakeknya Abraham menceritakan kepadanya waktu dia bertemu dengan Melkisedek. Mungkin bapanya Ishak mengajarkan demikian kepada Yakub. Mungkin dari penyataan Allah sendiri. Lagi kita tidak bisa memastikan, tetapi di sini adalah contoh lain di mana bapa-bapa leluhur mempersembahkan sepersepuluh kepada Allah. Jadi kita melihat dari awalnya, sejak manusia berada di atas bumi, Allah menuntut persembahan. Dari Habel sampai Yakub, mereka semua yang setia kepada Allah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah dari hasil ternak mereka sendiri. Selain dari pada itu, Abram pernah memberikan sepersepuluh dari rampasan yang diperolehnya di dalam perang, dan Yakub pernah berjanji untuk memberikan sepersepuluh dari segala sesuatu yang diperolehnya.(Bersambung)

Pelajaran 3 Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan Mula-Mula

Adam dan Hawa Waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan mereka di taman Eden, semua dalam keadaan yang paling baik. Dosa belum masuk ke dalam dunia. Adam dan Hawa mempunyai persekutuan penuh dengan Allah secara langsung. Tetapi Iblis datang dan menipu Hawa untuk makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, pohon itu yang mereka dilarang Allah untuk makan dari padanya, dan mereka jatuh ke dalam dosa. Bisa membaca peristiwa itu dalam Kejadian 3. Oleh karena mereka makan dari buah terlarang itu, maka mereka menyadari bahwa mereka telanjang dan mereka menjadi malu. Jadi Allah membunuh seekor binatang (Alkitab tidak menyatakan binatang yang mana) untuk membuat pakaian dari kulit binatang itu untuk Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Dengan demikian Allah mengajarkan bahwa harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22).

Kain dan Habel Catatan pertama mengenai manusia yang mempersembahkan korban persembahan kepada Allah adalah dalam Kejadian 4, dalam peristiwa Kain dan Habel. Walaupun Alkitab tidak mengatakannya, sudah nyata bahwa Allah telah memberitahukan Adam dan Hawa bagaimana caranya mereka dan anak-anak mereka harus menyembah kepadaNya. Dikatakan dalam Kejadian 4:3, 4 bahwa “Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan” sedangkan “Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.” Ini disebabkan Kain adalah seorang petani sedangkan Habel adalah seorang gembala. Selanjutnya ayat 4b dan 5a mengatakan bahwa “Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya.” Kenapa Allah tidak menerima korban Kain? Ada dua tafsiran yang memungkinkan. Ada yang berkata oleh karena Kain tidak mempersembahkan korban binatang, melainkan korban dari hasil tanahnya, maka Allah tidak mau menerimanya. Katanya bahwa apa yang Allah tuntut pada zaman itu adalah korban binatang oleh karena harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22). Jadi rupanya bahwa oleh karena Kain bukan seorang gembala dan tidak mempunyai binatang, dia tidak mau menjual atau menukar hasil tanahnya dengan Habel untuk memperoleh seekor binatang. Dia tidak mau harus bersandar pada Habel untuk memperoleh binatang sebagai korban persembahan kepada Allah. Jadi dia mengambil keputusan untuk mempersembahkan hasil tanahnya kepada Allah walaupun itu bukan kehendak Allah. Dan oleh karena dia mempersembahkan hasil tanahnya dari pada binatang kepada Allah, maka Allah tidak menerima korbannya itu.

Tafsiran ini besar memungkinkan. Memang kalau Allah hanya menuntut korban persembahan untuk pengampunan dosa, maka persembahan dari hasil tanah tidak bisa diterima kecuali orangnya sangat miskin (Im. 5:11-13). Akan tetapi tidak ada apa-apa di dalam konteks Kejadian 4 untuk menyinggung bahwa apa yang mereka persembahkan adalah korban penghapus dosa, atau bahwa Allah hanya menuntut korban binatang. Tafsiran lain adalah oleh karena Kain tidak mempersembahkan hasil tanah yang pertama, maka itulah sebabnya Allah tidak mau menerimanya. Menurut Kejadian 4:3 Kain mempersembahkan “sebagian dari hasil tanahnya.” Di sini dikatakan “sebagian” bukan hasil yang pertama. Jadi rupanya bahwa Kain hanya mempersembahkan korban sembarangan. Tetapi tentang korban Habel, ayat 4 mengatakan bahwa dia mempersembahkan “anak sulung kambing dombanya.” Jadi Habel mempersembahkan anak pertama yang keluar dari kandungan. Imamat 2:12 dan berikut berkata bahwa orang harus mempersembahkan hasil pertama dari panennya (lihat juga Im. 23:10; Ul. 18:4).

Tafsiran ini juga memungkinkan kalau kita menganggap bahwa apa yang mereka persembahkan bukan korban penghapus dosa. Tetapi juga katanya oleh karena tidak ada sebutan persembahan dari hasil tanah sebelum zaman Musa, maka pada zaman sebelumnya (yaitu pada zaman Kejadian) Allah tidak memberikan petunjuk tentang persembahan hasil tanah, dan oleh karena itu, korban Kain tidak diterimaNya.

Sebenarnya kita tidak tahu kenapa sebenarnya Allah tidak menerima korban Kain oleh karena Alkitab tidak memberitahukan kepada kita secara jelas. Yang kita tahu adalah bahwa Allah sudah memberitahukan kepada mereka sejenis korban yang harus mereka persembahkan dan caranya mereka harus mempersembahkannya. Kain tidak mengikut petunjuk dari Allah dan oleh karena itu korbannya tidak diterimaNya.

Tetapi kita melihat dari cerita ini bahwa pada awalnya manusia sudah mempersembahkan sebagian dari hasil kerjanya kepada Allah. Mereka mengembalikan kepada Allah sebagian dari berkat yang mereka terima dari Allah. Dari awalnya Allah menuntut begitu. Dan sampai sekarang dalam zaman Kristen, Allah tetap menuntut agar kita mengembalikan kepadaNya sebagian dari berkat yang kita terima dari Dia.(Bersambung)

Orang Kristen dan Keuangan

Pelajaran 2: Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Mengutamakan Harta Jasmani

Cinta Uang

Ada banyak masalah dengan keuangan dan banyak alasan Allah tidak memberkati orang Kristen, anakNya.  Ada orang Kristen yang juga mencintai uang.  Satu Timotius 6:10 berkata bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan.  “Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”  Lagi, kalau kita mengutamakan uang di dalam kehidupan kita dari pada Allah, kita tidak akan banyak diberkati oleh Allah.

Cinta uang menghasilkan banyak kejahatan.  Orang iri hati terhadap yang lain yang mempunyai harta jasmani yang lebih banyak.  Orang berkelahi gara-gara tanah, gara-gara pinjaman yang tidak dikembalikan, dan hal-hal lain.  Orang menipu untuk memperoleh sesuatuOrang menjatuhkan orang lain supaya bisa naik pangkat dan mempunyai gaji yang lebih tinggi. Orang dengan sengaja merusakkan barang orang lain yang menuntut ganti rugi.  Orang yang memalsukan nota atau kwitansi.  Orang yang tidak setia atau bertanggung jawab atas uang orang lain.  Bendahara jemaat salah gunakan uang jemaat untuk dirinya sendiri. Orang naik taksi, ojek, atau perahu dan tidak mau membayar ongkosnya. Orang memberi persembahan sedikit, tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Dan ada banyak masalah dan kejahatan yang lain yang timbul karena cinta uang.

Kalau kita lebih mencintai uang dari pada Allah, kita tidak berkenan kepada Allah dan Allah tidak akan memberkati kita.  Kita harus memburu Allah, bukan uang.  Kita harus mencintai Allah dan kebenaran dari pada uang.  Ada banyak hal yang lebih penting dari pada uang yang harus kita pertimbangkan dahulu, terutama hal-hal rohani.  Pergi sembahyang lebih penting dari pada mencari uang.  Meluangkan waktu dengan Allah lebih penting dari pada uang.  Mengatakan yang benar lebih penting dari pada menipu untuk mendapat uang, bahkan kalau berarti kita akan rugi.  Rela mengorbankan diri lebih penting dari pada mengorbankan orang lain untuk mendapat uang.  Mencari keuntungan orang lain lebih baik dari pada mencari keuntungan diri kita sendiri (1 Kor. 10:24).  Yesus berkata, “Adalah lebih berbahagia untuk memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

Keserakahan dan Ketamakan

Kejahatan lain yang berkaitan dengan uang adalah keserakahan dan ketamakan. Orang yang serakah adalah orang yang selalu ingin mempunyai lebih dari apa yang dimiliki.  Dia tidak senang dengan apa yang ada padanya.  Dia selalu harus mempunyai lebih banyak lagi.  Orang tamak adalah orang yang ingin mempunyai sebanyakbanyaknya untuk dirinya sendiri.  Dia tidak suka membagi-bagi apa yang ada padanya dengan orang lain.  Dia mau semuanya untuk dirinya sendiri saja.  Keduanya hampir sama.  Keserakahan dan ketamakan adalah dosa menurut Alkitab (Ef. 5:3-5; Lk. 12:15).

Efesus 5:5 berkata bahwa keserakahan sama dengan penyembahan berhala.  Orang yang mencintai uang adalah orang yang menyembah uang.  Ya, mungkin dia tidak sujud di hadapan uang, tetapi maksudnya, dia mengutamakan uang di dalam kehidupannya dari pada Allah.  Apa saja yang kita utamakan dalam kehidupan kita dari pada Allah menjadi berhala bagi kita.  Kita tidak boleh menjadi orang yang serakah atau tamak.  Alkitab mendorong kita supaya kita puas dengan apa yang ada pada kita (Flp. 4:11; 1 Tim. 6:8; Ibr. 13:5; Lk. 3:14).

Korupsi

Masalah lain yang sangat besar di Indonesia adalah masalah korupsi.  Cinta uang, keserakahan dan ketamakan adalah di belakang korupsi.  Dan korupsi adalah nama lain untuk pemerasan.  Kalau kita menjadi pegawai negeri atau mempunyai pekerjaan atau jabatan lain di mana kita dalam posisi untuk menerima uang dari orang lain untuk melakukan sesuatu, janganlah kita menerima uang tersebut.  Saudara sudah dibayar gaji untuk melakukan tugas itu.  Itu tidak jujur dan adalah dosa untuk memakai jabatan itu untuk memperkaya diri.  Kalau harus menagih biaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, itu boleh, tetapi uang itu dimasukkan dalam kas kantor untuk dipakai untuk biaya-biaya kantor.  Tidak boleh ditaruh dalam sak celana atau dipakai untuk menambah gaji.  Korupsi merugikan masyarakat.  Korupsi hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri.  Itulah dosa di hadapan Tuhan (1 Kor. 10:24).  Kalau orang mendesak untuk memberikan uang, harus lebih mendesak untuk tetap menolak dan berkata, saya tidak bisa menerimanya.  Janganlah kita sebagai anggota jemaat Kristus terlibat di dalam korupsi sedikitpun.

Penutup

Ada banyak sekali masalah dengan uang.  Kita harus menyadarinya semuanya.  Kita harus menyadari sikap dan pikiran kita juga terhadap uang.  Kalau kita mempunyai sikap dan pikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita harus berubah.  Jadi pertanyaan “Kenapa Allah tidak memberkati saya?” adalah pertanyaan yang salah.  Pertanyaan yang tepat adalah, “Bagaimanakah Allah bisa lebih memberkati saya?” atau “Apakah yang harus saya lakukan supaya Allah lebih memberkati saya?” Itulah yang akan kita bahas di dalam buku pelajaran ini.  Tetapi yang terutama kita harus mengetahui ialah kita harus mengutamakan Allah di dalam kehidupan kita kalau kita mau Allah memberkati kita.

Lagi, mengutamakan Allah di dalam kehidupan kita termasuk meluangkan waktu dengan Allah di dalam doa dan mempelajari firmanNya, mengikut sembahyang, menginjil, terlibat di dalam pelayanan, menjadi orang yang murah hati yang rela membantu orang lain dan yang memberikan persembahan sesuai dengan kehendak Allah, lebih mencintai Allah dari pada uang, kehidupan yang di dalam kebenaran yang sesuai dengan kehendak Allah, menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan dan lain sebagainya.  Kalau kehidupan kita dikorbankan bagi Allah dan kerajaanNya, dan diarahkan kepada Allah untuk mencerminkan watak Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari, Allah akan memberkati kita dengan luar biasa.  Kita harus bergiat bagi Allah dan bukan bagi dunia.  Kita harus memikirkan perkara-perkara rohani dari pada perkaraperkara duniawi.  Semakin kita bergiat bagi Allah, mengutamakan Allah dalam kehidupan kita dan mengorbankan diri kita bagi Allah, semakin Allah akan memberkati kita. Dalam sisa pelajaran ini, saya mau kita lebih banyak mempelajari tentang bagaimana Allah bisa lebih memberkati kita.  Tetapi kita harus belajar jauh lebih banyak mengenai persembahan di dalam Perjanjian Lama dan bagaimana itu berkaitan dengan kita hari ini.  Masih banyak hal yang kita belum mengerti mengenai persembahan dan kaitannya dengan kita orang Kristen hari ini.  Saya memohon kepada saudara-saudara supaya mempelajari semua buku ini dengan seksama dan membaca semua nas yang saya tulis. Tolong membaca dan mempelajari baik-baik sistem persembahan di dalam Perjanjian Lama karena ada banyak prinsip di situ yang berlaku bagi kita sebagai orang Kristen. Mempelajari sistem persembahan di dalam Perjanjian Lama sangat penting untuk mengerti kehendak Allah bagi kita orang Kristen mengenai persembahan hari ini.

Orang Kristen dan Keuangan

Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Sikap Bersungut-Sungut

Yang kedua adalah sikap bersungut-sungut.  Di belakang pertanyaan itu juga adalah sikap sungut-sungut, “Kenapa sampai Allah tidak memberkati saya seperti Dia memberkati orang itu?”  Kita pikir.  Kita juga harus menyadari bahwa sungut adalah dosa di hadapan Tuhan.  Allah tidak senang untuk mendengar kita bersungut-sungut. Itulah sebabnya Allah tidak senang dengan orang Israel yang keluar dari Mesir.  Mereka bersungut-sungut terus terhadap Allah.  Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:10, “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”  Bacalah konteksnya dari 1 Korintus 10:6.  Di antara sungut juga ada termasuk penyembah berhala dan percabulan.  Kitab Bilangan penuh dengan contoh-contoh orang Israel yang bersungut-sungut melawan Tuhan.  Bacalah Bilangan 14:27-29 dan 17:5, 10 untuk contoh.

Orang Israel bersungut-sungut karena banyak hal.  Mereka tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan.  Itulah sebabnya Tuhan marah mereka.  Kalau kita hanya bersungut-sungut dengan tidak mengucapkan syukur, Allah tidak senang dengan kita.  Perjanjian Baru penuh dengan tegoran supaya kita mengucap syukur dalam segala hal (Efesus 5:20; Kol. 3:16, 17; 1 Tes. 5:18).  Kalau kita mengucap syukur, maka kita tidak akan bersungut-sungut.  Sebaliknya, orang yang bersungut-sungut tidak mengucap syukur.

Kita bisa mengucapkan keluhan-keluhan kita dengan pengucapan syukur sehingga Allah memberkati kita.  Misalnya orang Israel bersungut-sungut karena tidak ada air (Bil. 20:2-13).  Mereka bisa berkata, “Kami mengucap syukur kepadaMu, ya Tuhan, karena Engkau telah membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir.  Kami mengucap syukur karena Engkau menuntun kami di dalam padang gurun ini.  Kami mengucap syukur atas penyertaanMu.  Namun kita sudah lama berjalan-jalan dan tidak ketemu sumber air. Kami haus.  Kami mau minta supaya Engkau memberikan kepada kami air untuk diminum.  Kami mengucap syukur karena Engkau mendengarkan doa kami.”  Pasti Allah akan senang dengan doa macam begitu.

Ya, kadang-kadang kita begitu kecewa, frustrasi, dan putus asa sehingga kita mengeluarkan banyak keluhan kepada Tuhan.

Allah sudah tahu apa yang ada di dalam hati kita dan kita tidak harus sembunyi-sembunyi perasaan kita.  Kitab Mazmur juga penuh dengan mazmur yang ditulis orang yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi kita harus menyadari bahwa walaupun kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan, bahwa kita harus mengaku dosa dan kelemahan kita dan kita harus tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan Tuhan akan mendengarkan dan memberkati kita.

Lagi sikap bersungut-sungut dan perasaan kecewa atau jengkel di dalam hati kita terhadap Tuhan oleh karena Dia tidak memberkati kita sebagaimana mestinya (menurut pikiran kita) adalah sifat kesombongan dan sungut yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dan seorang Kristen yang bersikap begitu tidak akan banyak diberkati oleh Tuhan.

Sifat Kepentingan Diri Sendiri dan Iri Hati

Hal lain di belakang pertanyaan tersebut adalah sifat kepentingan diri sendiri dan iri hati.  Kita iri hati terhadap orang lain yang lebih diberkati dari pada kita.  Selanjutnya, kita mempunyai pikiran bahwa saya mau diberkati.  “Di mana berkat untuk saya?”  Kita hanya memikirkan “saya sendiri” dan “keuntungan untuk saya sendiri” dan “apa yang penting bagi saya.”  Saya mau menerima berkat.  Saya mau Allah memberkati saya.  Saya mencari keuntungan untuk saya.  Saya menjaga apa yang penting bagi saya dan itu penting bagi saya agar saya menerima berkat dari Allah.  Saya, saya, saya.  Orang itu mempunyai penyakit “saya.”

Apakah kita pernah memikirkan apa yang diinginkan Allah?  Apakah kehendak Allah? Apa yang penting bagi Allah?  Ingat waktu “saya” dibaptis, “saya” sudah mati. Dengarkanlah apa yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 2:19, 20, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Paulus berkata bahwa dia sudah mati.  Dia sudah disalibkan dengan Kristus. Sekarang itulah Kristus yang hidup di dalamnya.  Ingat, kalau kita sudah dibaptis, kita sudah mati.  Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita hidup untuk Allah. Allah itu yang penting di dalam kehidupan kita ini.  Kita harus mencari apa yang penting bagi Allah.  Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi baiklah kita duduk dan merenungkan, “Apa yang dikehendaki oleh Allah?  Apa yang diinginkan oleh Allah?  Apakah yang penting bagi Allah?  Apa yang Allah mau dari saya?”  Dan baiklah kita melakukannya.  Kalau kita mencari kepentingan Allah, nanti Allah juga akan memperhatikan kepentingan kita dan memberkati kita dengan lebih banyak lagi.  Tetapi kalau kita hanya mencari kepentingan diri kita sendiri dan tidak mencari kepentingan dari Allah, janganlah kita mengharapkan banyak berkat dari Allah.

Memuaskan Hawa Nafsu

Alasan lain Allah tidak memberkati kita adalah karena apa yang Allah berikan kepada kita, kita pergunakan untuk memuaskan hawa nafsu saja (Yak. 4:3).  Apakah kita memakai uang kita untuk membeli minuman keras, rokok, pinang, main judi, atau melakukan dosa-dosa lain?  Atau, apakah kita memberi derma sedikit saja supaya kita bisa menyimpan uang banyak untuk membeli televisi, parabola, atau alat VCD, supaya kita bisa duduk-duduk nonton-nonton daripada berdoa, mempelajari firman, atau melakukan kegiatan rohani lain?

Nah, saya tidak bermaksud bahwa membeli televisi atau parabola adalah dosa.  Kalau kita memberi kepada Allah sebagaimana Dia memberkati kita, itu bukan dosa.  Tetapi kalau kita hanya memberi sedikit saja kepada Allah pada hari Minggu, karena kita tidak punya uang, sedangkan kita menyimpan uang untuk beli hal-hal duniawi yang mewah, itu berarti kita menganggap hal-hal duniawi lebih penting.  Kita hanya mau memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita dari pada keinginan Allah.(Bersambung)

Orang Kristen dan Keuangan

Pelajaran 1

Dunia dan Segala Isinya Milik Allah

Allah yang Menciptakan Segala Sesuatu Kejadian 1:1 berkata bahwa Allah menciptakan langit dan bumi.  Jika tidak ada Allah maka tidak ada langit dan bumi juga.  Dalam enam hari Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.  Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah Allah punya.  Tiga nas di dalam Mazmur menyatakan demikian:  “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1); “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya” (Mzm. 50:12); “PunyaMulah langit, punyaMulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya” (Mzm. 89:12).

Allah Memiliki Segala Sesuatu Jadi sudah jelas bahwa Allah memiliki segala sesuatu.  Kita harus mengerti hal itu baik-baik.  Dari satu segi, segala sesuatu yang kita punya adalah Allah punya.  Allah memberikannya kepada kita.  Ayub sendiri mengakui hal itu.  Menurut Ayub 1:3, dia orang yang paling kaya di sebelah timur.  Ayub mempunyai ribuan ekor kambing domba, unta, lembu, dan keledai.  Dia mempunyai banyak budak laki-laki dan perempuan.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Dalam satu hari dia kehilangan semua harta miliknya dan semua anaknya meninggal.  Bisa membaca kecelakaan yang ditimpa Ayub di dalam Ayub 1.  Tetapi bagaimanakah tanggapan Ayub setelah semua peristiwa itu?  Dia berkata dalam Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  Ayub mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan kepada Ayub segala miliknya.  Dan oleh karena itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu, maka Tuhan juga mempunyai hak untuk mengambil segala sesuatu dari padanya.

Milik Kita Adalah Milik Allah

Bagaimana saudara?  Apakah saudara mengaku bahwa segala milikmu adalah milik Allah?  Apakah saudara mengaku bahwa itulah Tuhan yang memberikan segala sesuatu kepada saudara?  Ya, mungkin saudara bekerja keras untuk memperoleh uang untuk membeli sepeda motor.  Jadi mungkin saudara berpikir, “Itulah saya yang bekerja keras, saya yang memperoleh uang dari hasil kerja saya, itulah saya yang membeli sepeda motor ini, jadi inilah sepeda motor yang saya punya.”

Tetapi bagaimanakah saudara menghasilkan uang?  Dari hasil kebun? Bagaimanakah kalau tanaman kena hama, atau menjadi kering karena tidak ada hujan, atau hancur dalam banjir?  Itu semua dalam kekuasaan Allah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari hasil laut.  Tetapi siapa yang memberi penangkapan ikan?  Ingat Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tidak menangkap apa-apa walaupun memancing ikan sepanjang malam.  Yesus datang dan dalam waktu singkat mereka menangkap ikan dalam jumlah besar sekali (Lk. 5:1-11).  Itulah Allah yang memberi penangkapan ikan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan kayu.  Tetapi siapa yang membuat pohon-pohon itu bertumbuh?

Mungkin saudara menghasilkan uang dari penjualan tanah.  Tetapi itulah Allah yang menciptakan tanah itu, jadi tanah itu sebenarnya Allah punya.  Banyak orang di dunia ini tidak mempunyai tanah.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari bekerja di perusahaan, toko, atau kantor. Tetapi siapa yang memberi saudara kepintaran atau kesempatan untuk bekerja di situ? Banyak orang tidak mempunyai pekerjaan.

Mungkin saudara menghasilkan uang dari berusaha.  Tetapi lagi, siapa yang memberi saudara kepintaran untuk berusaha, dan hasil usaha itu?  Banyak orang tidak bisa berusaha, dan banyak orang yang berusaha menjadi bangkrut

Pendeknya, bagaimanapun juga caranya kita menghasilkan uang, itu semua asalnya dari Tuhan, semuanya adalah berkat dari Tuhan.  Dan itulah yang harus kita akui, yaitu bahwa segala harta milik kita adalah milik Allah karena asalnya dari Allah.  Dalam 1 Timotius 6:17b dikatakan, “. . . Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”  Segala sesuatu yang kita nikmati asalnya dari Tuhan.

Salomo berkata dalam Pengkhotbah 5:19, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya — juga itupun karunia Allah.” Salomo adalah orang yang paling kaya di dunia yang pernah hidup.  Dan dia mengaku bahwa segala harta miliknya asalnya dari Tuhan.

Raja Daud juga mengaku hal yang sama.  Dalam 1 Tawarikh 29:12-16 setelah bangsa Israel selesai memberi persembahan untuk pembangunan Bait Allah, Daud berkata kepada Tuhan Allah, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. . . . Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini?  Sebab dari padaMulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu. . . . Ya Tuhan, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagiMu rumah bagi namaMu yang kudus adalah dari tanganMu sendiri dan punyaMulah segala-galanya.”  Daud mengaku bahwa mereka hanya memberikan kembali kepada Allah apa yang Allah sudah memberikan kepada mereka.(Bersambung)

CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Ditegakkan oleh Sejarah

Orang-orang Kristen yang mula-mula mengaku alat-alat musik Perjanjian Baru — orang yang ditebus dan hatinya yang mengucap syukur!  Mereka sering menulis tentang pertemuan-pertemuan mereka.  Mereka sering menyebut dan mendiskusikan bernyanyi.  Mereka tidak pernah menyebut alat-alat musik yang digunakan di dalam ibadah orang Kristen.  Waktu mereka menyebut alat-alat musik, mereka memakai alat-alat itu sebagai ilustrasi dan kiasan, atau mereka mencela alat-alat itu sebagai asing untuk agama Kristen.

Sangat membantu untuk undur sedikit dari zaman kita dan meninjau sejarah.  Kenyataan-kenyataan sejarah mengenai alat-alat musik dalam ibadah banyak terbukti kebenarannya.  Seorang pembaca siapapun bisa memeriksa kenyataan-kenyataan ini di dalam ensiklopedi-ensiklopedi, dan dalam karya-karya tulis oleh ahli-ahli sejarah baik gerejawi maupun sekuler.  Tinjauan-tinjauan sejarah menghasilkan kesimpulan berikut :

  1. Semua agama kafir, dari sejarah yang paling awal sampai sekarang, memakai alat-alat musik dalam ibadah.
  2.  Tidak ada agama yang mengaku asal usul Alkitabiah (Yudaisme sinagoge, Kristen, Islam) yang memakai alat-alat musik dalam ibadah gabungan dalam beberapa abad pertama dari awalnya.
  3. Tidak ada dari bapa-bapa Yunani yang awal dari jemaat yang memandang kepada alat-alat musik .
  4. Gereja-gereja Timur (Ortodoks Yunani, Ortodoks Rusia, Koptik, Nestorian, dan Armenian) tidak pernah memakai alat-alat musik.  Mereka berkata, bahwa dari kekristenan yang mula-mula, dan tetap dalam imitasi dari tradisitradisi yang awal, tidak pernah ada tempat untuk alat-alat musik .
  5. Waktu alat-alat musik akhirnya diperkenalkan ke dalam ibadah jemaat, itu mulai dalam agama Kristen cabang Barat.  Kenyataan sejarah pasti yang paling awal mengenai pemakaian alat musik dalam ibadah “Kristen” adalah sebuah orgel yang ditempatkan oleh Raja Pepin dalam jemaat St. Corneille (Compeigne, Perancis, 757 M.).
  6. Kekecualian ini membawa yang lain, tetapi peraturan umum disebutkan oleh Cowell di dalam Collier’s Encyclopedia (Ensiklopedi Collier):  “Musik gereja sebelum abad keenam belas hampir semua tanpa alat musik.” Istilah a capella (akapela) memberi bukti bahwa musik gereja adalah paduan suara saja.  A capella [adalah kata bahasa Latin yang berarti] secara harfiah “menurut kapel” [kapel=gedung ibadah kecil].  Menurut sejarah, kapelkapel hanya memakai paduan suara, jadi memberi istilah a kapela, arti sekarang adalah “bernyanyi tanpa diiringi alat musik” .
  7. Dalam abad-abad ini, sarjana-sarjana Barat menentang pemasukan alat-alat musik.  Akhirnya mereka ditolak waktu pada abad ketujuh belas, Paus mengizinkan pemakaian alat-alat musik pada umumnya. Namun demikian posisi resmi dari Gereja Katolik Roma tetap, bahwa alat-alat musik tidak pantas untuk ibadah, tetapi bisa “dibiarkan” untuk menyenangkan umat.  Bahkan posisi ini mempunyai banyak pengkritik Katolik .  Bahkan  sampai hari ini, kapel yang Paus punya sendiri tidak mempunyai alat-alat musik (Encyclopedia Brittanica; Catholic Encyclopedia [Ensiklopedi Britannica; Ensiklopedi Katolik] ).Kebenaran yang Merupakan Suatu Tantangan

    Banyak orang hari ini tidak sadar mengenai sejarah atau kecenderungannya.  Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa alat-alat musik baru saja ditambahkan kepada ibadah “Kristen.”  Tidak pernah masuk akal mereka, bahwa Kristus tidak mempunyai tempat dalam PerjanjianNya yang Baru untuk alat-alat musik.  Mereka sangat mencintai beribadah dengan orgel-orgel, piano-piano, gitar-gitar, tifa-tifa, gambus-gambus dan alat-alat musik lainnya.  Tradisi-tradisi yang dihargai mengenai musik dan kenikmatan musik sekarang membuat pokok ini sangat sulit.  Orang-orang berpikir, bahwa musik, yang begitu menyenangkan telinga kita, tidak mungkin dianggap hampa oleh Allah.  Tetapi marilah kita sekurang-kurangnya mengaku, bahwa lagu-lagu dan alat-alat musik bisa gagal dalam mengesankan Allah.Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka. . . . Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar (Amos 5:21-23; banding musik sekuler dalam Amos 6:1-5 dan Yes. 5:11-12).Allah yang menciptakan segala keindahan, termasuk lagu-lagu sorga yang paling tinggi, bisa saja tidak digerakkandengan nikmat oleh musik kita di bumi ini.  Dalam kasus bangsa Israel yang berontak, bahkan bentuk-bentuk “benar” menjijikkan Allah.  Dalam cara yang sama, jikalau bersifat berontak atau tanpa izin, musik kita yang paling hebat mungkin menjadi sejenis gemerencing dan dencing paling jelek dalam telinga Allah.

    Jikalau kita sama-sama bisa setuju dengan hal itu, maka ada lebih banyak untuk dipertimbangkan.

    Daud sudah menyadari kebenaran ini waktu dia memperbedakan korban-korban binatang dengan kehidupannya dan nyanyiannya sendiri. Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah (Mazmur 69:31-32).Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku — Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan (Ibr. 10:5-6 mengutip dari Mazmur 40). Jikalau Allah tidak begitu menyukai korban bakaran, kenapa Dia berkata, bahwa korban bakaran itu adalah bau harum yang menyenangkanNya?  (Lihat Kel. 29:18,25; Im. 1:9; 2:9).  Jawabannya adalah bahwa Allah mempergunakan korban-korban itu dan bahasa demikian, sebagai bagian dari gambaranNya atau “bayangan.”  Allah sedang memandang  atau mencium  ke masa depan kepada korban Kristus yang benar-benar akan menjadi berkenan kepada Allah dan menyenangkanNya!  “Kristus Yesus juga telah mengasihi kita dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2).  Secara demikian, pakaian-pakaian imam dari sendirinya tidak memberikan kemuliaan kepada mereka (Kel. 28).  Banyak imam yang berpakaian bagus tidak mulia! Baju-baju mewah itu menggambarkan pakaian rohani pada masa depan dari Kristus yang benar-benar mulia , Amin! Batu-batu Bait Allah indah di mata manusia (Lk. 21:5).  Namun di mata Allah itulah hanya batu-batu biasa saja. Nilainya hanya sebagai gambaran sementara, yang secara suram melambangkan kemuliaan-kemuliaan yang jauh lebih besar di sorga.  Hidung rohani Allah tidak menikmati bau harum dari ukupan sendiri apalagi daging binatang yang bernyala.  Ukupan menggambarkan suatu gambar dan memberikan kepada manusia suatu perasaan (secara harfiah) betapa menyenangkan doa-doa dalam Kristus pada masa depan.  Secara demikian alat-alat musik sendiri lonceng-lonceng yang gemerencing pada pakaian imam dan pemetikan tali-tali musik  tidak membawa nikmat istimewa kepada telinga sorgawi.  Apakah nilainya?  Itu menunjuk kepada musik rohani yang sebenarnya yang dimungkinkan di dalam Kristus, yaitu hati-hati yang ditinggikan dalam pujian pengucapan syukur!  Semua barang ini , Bait Allah, korban-korban, pakaian-pakaian imam, ukupan dan alat-alat musik , dari sifat jasmani yang sama. Semuanya dari Perjanjian Lama yang sama.  Sebagai bayangan-bayangan saja, mereka sudah berlaku waktu Perjanjian itu sudah berlaku.(Bersambung)

CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Bait Allah yang Hidup, Alat yang Hidup

Yesus berbicara mengenai dua bait Allah:  TubuhNya sendiri yang akan dihancurkan dan dibangkitkan kembali (Yoh. 2:19-21); dan Bait Allah Herodes yang akan dibinasakan dengan sempurna (Mt. 24).  Mengenai tempat ibadah yang baru, Dia berkata,

Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. . . . Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:21,23).

Ibadah tidak berada “di dalam” Bait Allah yang dibuat manusia.  Ibadah dilaksanakan “di dalam” roh dan “di dalam” kebenaran.  Ingat mengenai cara dewasa untuk menyembah.  “Aku akan menyanyi dengan rohku . . . dengan akal budiku” (1 Kor. 14:15).  Paulus berkata, aku melayani “dengan segenap hatiku” (Rom. 1:9).  Secara harfiah kata-kata bahasa Yunani dibaca, “Aku melayani di dalam rohku.”  Di sini, di dalam, adalah tempat pelayanan dan ibadah. Mengenai struktur jasmani, itu bukan dibuat manusia, melainkan dibuat Allah:  Tubuh manusia.  “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (1 Kor. 6:19).

Apakah penyembah-penyembah Bait Allah di dalam Perjanjian Lama tidak pernah mempergunakan tubuh dan hati mereka?  Tentu mereka mempergunakannya.  Nabi-nabi sering menekankan ibadah rohani (Ul. 10; Yes. 1; Yer. 4).  Jadi, apakah mutu baru yang ditekankan Yesus di dalam Yohanes 4?  Kebaharuan itu berkaitan dengan menguliti Bait Allah jasmani dan barang-barangnya.  Wujud-wujud rohani tetap ada, memenuhi ibadah baru dengan mutu hidup.  Bait Allah yang lama dibuat dari batu-batu yang tidak hidup; yang baru dibuat dari “batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Pet. 2:5).  Korban-korban lama itu adalah binatang-binatang yang mati; korban-korban baru adalah “persembahan rohani” (1 Pet. 2:5).  Kamu harus “mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati [bahasa Yunani: rohani]” (Rom. 12:1).  Imam-imam yang lama terus-menerus mempersembahkan binatang-binatang yang mati.  Imam-imam baru terus-menerus “mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya” (Ibr. 13:15).

Tempat manakah alat-alat musik ini — yang disebut “barang-barang yang tak berjiwa atau hidup” — mempunyai di dalam ibadah ini yang, secara harfiah, hidup?  Jika tubuh orang Kristen adalah Bait Allah yang baru, dan ibadah yang baru ada di dalam roh, apakah alat yang baru?  Lagi Kitab Suci tidak berdiam pada hal itu.  Kitab Suci sangat jelas:

Serta berkata-kata di antara sama sendirimu dengan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani sambil menyanyi dan bunyikan puji-pujian dengan hatimu kepada Tuhan” (Ef. 5:19, Terjemahan Lama; terjemahan bahasa Yunani, “dan membuat musik dengan hatimu kepada Tuhan

Tubuh hidup “berkata-kata” dan “menyanyi.”  Hati hidup “bunyikan puji-pujian” atau “membuat musik.”  Di sini adalah musik yang sebenarnya menyenangkan pendengaran rohani dari Allah yang hidup.  Konteks di dalam Efesus 5 adalah perbedaan antara pesta pora orang kafir dan ibadah orang Kristen.  Orang-orang kafir minum mabuk dengan anggur.  Sebaliknya, orang-orang Kristen dipenuhi dengan Roh Kudus dan perkataan Kristus (Ef. 5:18; Kol. 3:16).  Pesta pora itu kacau dan memuaskan hawa nafsu dan kehidupan tak bermoral.  Sebaliknya orang-orang Kristen bernyanyi dan mengajar perkataan Kristus yang membangun.  Dari pada alat-alat musik jasmani, alat-alat musik orang Kristen adalah hati yang ditinggikan kepada Allah dengan pengucapan syukur (Ef. 5:19-20; Kol. 3:16).(Bersambung)

CATATAN-CATATAN MENGENAI KEDUA PERJANJIAN

Jalan Kristus

Waktu Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, alat-alat musik hampir-hampir tidak disebutkan.  Apakah itu suatu kebetulan?  “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh. 1:17).  Perjanjian Musa penuh dengan perintah-perintah dan perincian-perinciannya jasmani, yang mencapai titiknya yang tertinggi di bawah Daud dan Salomo.  Apa yang diperkenalkan Kristus baru sekali!  Di mana di dalam Perjanjian Baru ada daftar-daftar panjang yang sama untuk pokok-pokok jasmani untuk Bait Allah atau Kemah Suci baru dari Kristus?  Di manakah hari-hari raya istimewa dan korban-korban yang banyak-banyak?  Di manakah imam-imam orang Lewi?  Di manakah bermacam-macam alat-alat musik yang diperintahkan oleh Allah sendiri?  Bukan seperti barang-barang ini tidak ada sama sekali.  Mereka dipergunakan di dalam kehidupan sehari-hari (Mt. 9:23; 11:17; Lk. 7:32; 15:25; 1 Kor. 13:1; 14:7; Why 18:22).

Kristus tidak pernah menyebut satu alat musik pun di dalam ibadah umatNya.  Ibadah Kristus sendiri dalam namun sederhana.

  1. Walaupun Yesus hidup di bawah Hukum Taurat, Yesus merayakan hari raya Paskah dan memilih untuk mengakhirinya dengan “menyanyikan nyanyian pujian” (Mt. 26:30; Mk. 14:26). (Dalam perjamuan Paskah itu, Yesus memberikan dua pokok jasmani sebagai peringatan resmi tentang kematianNya:  Roti dan hasil pokok anggur, Mt. 26:26-29.)
  2. Paulus dan Silas bernyanyi di dalam penjara (Kis. 16:25).
  3. Yakobus mendorong anggota-anggota yang bergembira untuk bernyanyi (Yak. 5:13).
  4. Paulus, dalam diskusi ibadah jemaat, berkata, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. . . . Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu:  yang seorang mazmur” (1 Kor. 14:15,26).

Di dalam konteks 1 Korintus 14, Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus yang belum dewasa sifat dasar ibadah dewasa.  Anggota-anggota lemah ingin mempergunakan bahasa-bahasa lidah yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang hadir.  Paulus berkata, bahwa walaupun ibadah itu dipersembahkan kepada Allah, kasih mewajibkan, bahwa ibadah itu harus mendorong dan menguatkan mereka yang hadir.  Jadi peraturan dasar dari ibadah jemaat adalah, “Hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat. . . . Semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (1 Kor. 14:12,26).  Bagaimanakah seseorang menguatkan yang lain?  Dengan berbicara dalam cara-cara yang bisa dimengerti mereka!

Paulus menceritakan mengenai alat-alat musik untukmenjelaskan maksudnya:

Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?  Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (1 Kor. 14:7-8).

Alat-alat musik juga bisa mengilustrasikan maksud Paulus oleh karena mereka juga membunyikan bunyi-bunyian dan tanda-tanda.  Namun perhatikanlah uraiannya mengenai alat-alat musik itu.  Mereka adalah “alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi.”  Sifat dasar hampa dari alat-alat musik memberikan suatu ilustrasi lain di dalam 1 Korintus 13:1.  Perkataan yang tidak mempunyai kasih begitu hampa, bahwa itu sama seperti “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”  Ini bukan suatu pujian:  Gong dan cenang melambangkan bunyi keras dengan sedikit arti atau arti yang hampa.  Jikalau alat-alat musik “tidak berjiwa,” dan bisa mengilustrasikan kehampaan, kenapa mereka termasuk di dalam ibadah Perjanjian Lama?  Mengetahui betapa jasmaniah adalah alatalat musik itu, bisa membantu kita untuk mengerti, bahwa mereka adalah “bayangan” jasmani yang menunjuk kepada kewujudan rohani yang lebih tinggi.  Sebelum kita meninggalkan 1 Korintus 14, perhatikanlah, bagaimana Paulus keluar dari ibadah jemaat untuk memperoleh ilustrasinya — nafiri perang.  Yang lebih penting, perhatikanlah, bahwa Paulus begitu tegas untuk melarang suara-suara yang hidup yang tidak memberi berita yang dapat dimengerti untuk mereka yang hadir.  Apakah mungkin dia katakan mengenai pergunaan kecapi yang tak berjiwa dan tambur atau tifa yang tak hidup, yang juga bisa membuat bunyi-bunyian tetapi tidak bisa mengucapkan berita yang dapat dimengerti?(Bersambung)

Catatan-catatan Mengenal Kedua Perjanjian

Apakah Ukupan Tidak Mempunyai Arti Hari Ini?

Ukupan mempunyai arti penting.  Bahkan Daud tahu, bahwa asap harum sama seperti doa yang naik untuk menyenangkan Allah (Mzm. 141:2).  Betapa benar hal ini di dalam Kristus!  Doa-doa kita, secara kiasan, berbau harum sangat baik kepada Bapa kita!  Kitab Wahyu membantu kita untuk melihat bagaimana gambaran lama itu digenapi.

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus (Why. 5:8).

Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.  Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah (Why. 8:3-4).

Yohanes memakai banyak simbol, kebanyakan dipinjamkan dari gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama. Pembaca-pembacanya diharapkan untuk mengerti artinya, jadi Yohanes jarang menafsirkan simbol-simbolnya.  Akan tetapi di sini, Yohanes menunjukkan kepada kita artinya.  Ukupan atau kemenyan adalah kiasan untuk doa orangorang kudus, atau, di dalam fasal delapan, yang membuat doa-doa berkenan kepada Allah.  Apakah yang membuat kita layak di dalam hadirat Allah?  Tidak ada hal lain selain korban Tuhan kita (Ibr. 10:19).  Jadi, bayangan lama itu, ukupan, memperoleh penggenapannya di dalam orang-orang yang dibuat berkenan oleh Kristus.

Allah . . . dengan perantaraan kami menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia [Kristus] di mana-mana.  Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa (2 Kor. 2:14-15 banding Flp. 4:18; Ef. 5:1-2).

Perhatikanlah, bahwa di dalam 2 Korintus, sama seperti di dalam Wahyu, bau harum itu bukan jasmani melainkan rohani.  Ukupan jasmani hanyalah bayangan saja.  Itu menggambarkan secara suram ukupan yang lebih baik — doadoa dan kehidupan-kehidupan di dalam Kristus — yang sebenarnya masuk ke dalam sorga.  Tulisan-tulisan dari ketiga abad setelah Kristus menegaskan, bahwa orang-orang Kristen tidak pernah membakar ukupan.  Pada kemudian hari waktu kaisar-kaisar Romawi berpaling kepada Kristus, mereka membuat undang-undang yang melarang pembakaran ukupan.  Mereka menganggap itu sebagai perbuatan kafir.  Jadi mereka menunjukkan bahwa ukupan itu jauh berbeda dari pada ibadah orang Kristen.  Kasus pertama yang jelas tentang pembakaran ukupan yang resmi di dalam ibadah “Kristen” adalah oleh Gregory Agung dalam akhir abad keenam sesudah Kristus.  Gereja Katolik Romawi dan Gereja Ortodoks Timur nanti menyebarluaskan pemakaian ukupan “Kristen” ke seluruh dunia.

Pertanyaan-Pertanyaan yang Akan Anda Hadapi

Kebetulan, bahwa kebanyakan gereja Protestan tidak mengangkat perbuatan itu.  Tetapi coba membayangkan jikalau pembakaran ukupan menjadi populer dan suatu kebiasaan di antara gereja-gereja Protestan juga.  Dalam situasi begitu, gereja-gereja yang tidak membakar ukupan akan dianggap sebagai gereja-gereja yang aneh.  Kebanyakan orang yang menyebut dirinya orang Kristen akan memakai ukupan di dalam ibadah.  Di dalam situasi begitu, kita akan menghadapi beberapa pertanyaan seperti berikut:

  1. Apakah kepopuleran ukupan membenarkan pemakaiannya di dalam ibadah kita? Apakah sitkon-sitkon moderen membuat ukupan diterima di dalam ibadah Perjanjian Baru?
  2. Andaikan, bahwa kebanyakan orang beragama mencintai ukupannya begitu besar, sehingga mereka menolak persekutuan-persekutuan yang tidak memakai ukupan. Apakah itu bisa menjadi alasan yang cukup baik bagi persekutuan-persekutuan Kristus untuk kembali kepada ukupan?
  3. Anggota-anggota baru yang masuk ke dalam jemaat sudah biasa memakai ukupan. Beberapa di antara mereka mungkin menganggap dirinya pintar di dalam ilmu membuat dan membakar ukupan. Kalau mereka dikecewakan di dalam hal ini, kemungkinan besar, mereka keluar dan bergabung dengan gereja lain.  Di dalam situasi itu, apakah anggota-anggota baru bisa diizinkan — mungkin didorong — untuk memakai kepintarannya untuk Tuhan?
  4. Pemakaian ukupan mungkin dipercepat dengan menganggap ukupan sebagai pembantu saja untuk membuat suasana baik untuk ibadah. Tetapi apakah itu jujur?
  5. Apakah itu benar sesuai dengan tujuan yang Allah tempatkan ukupan di dalam Alkitab?
  6. Pemakaian ukupan mungkin bisa dibantu dengan berkata, “Ukupan juga ada di sorga (Why. 5:8). Jikalau Allah menyetujui ukupan di dalam ibadah di dalam sorga, pasti kita tidak boleh menolaknya di bumi sini.” Apakah ukupan jasmani sungguh-sungguh di dalam sorga bersama dengan Allah yang adalah Roh?  Apakah Wahyu 5 juga membuktikan, bahwa ada “tunas” dari kayu, seekor “domba” jasmani, dan seekor “singa” yang wujud yang tinggal di sorga?  Bukankah Kitab Wahyu sendiri menunjukkan, bahwa itu memakai simbol-simbol (Why 1:1,20; 4:5)?  Bukankah Yohanes menjelaskan arti ukupan sebagai suatu simbol (Why. 5:8)?  Bukankah kejujuran kepada nas ini mewajibkan kita memakai singa-singa, tunas-tunas, kecapi-kecapi, domba-domba dan mahkota-mahkota emas di dalam ibadah kudus?
  7. Pemakaian ukupan mungkin dibantu dengan berkata, “Semua kehidupan adalah ibadah, jadi apa yang dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari juga bisa dilakukan di dalam ibadah jemaat.” Apakah itu benar? Bisakah anggota-anggota jemaat memakai apa saja yang menyenangkan mereka dan membuat itu sebagai bagian dari ibadah jemaat?  Apakah itu adil kepada perlakuan Alkitab terhadap ibadah Kristen?
  8. Andaikan ada beberapa orang yang berkata, bahwa hal ukupan adalah perkara kelenturan oleh karena ukupan tidak jatuh di dalam “inti Injil”. Apakah argumentasi itu benar? Jikalau “inti” bisadisimpulkan sebagai kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus (1 Kor. 15:1-4), apakah kitabebas untuk merubah segala sesuatu di luar inti itu?  Apakah ketuhanan Yesus tidakdiperluaskanuntuk menguasai daerah-daerah lain dari ajaran atau tingkah laku Kristen?(Bersambung)

© 1998 World Bible School, P.O. Box 9346, Austin, TX 78766 USA Diterjemahkan  oleh David Buskirk dengan izin