Hal Pertama Yang Dilakukannya Adalah Menemukan Saudaranya

Injil Yohanes menceritakan tentang Yohanes Pembaptis yang berkata kepada murid-muridnya waktu Yesus lewat, “Lihatlah, Anak domba Allah!” Dua di antaranya dengan segera mengikuti Yesus. Sebenarnya mereka meluangkan satu hari bersama Dia. Terus Yohanes merekam, “Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: ‘Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)’” (Yoh. 1:35-41).

Yesus tidak mengakatakan, “Pergilah dan bertemu dengan saudaramu dan membawanya kepadaKu.” Andreas yang mengambil inisiatif. Dia yakin bahwa dia telah menemukan Mesias dan dia mengasihi saudaranya, Simon Petrus, dan ingin agar dia mengikut Yesus.

Kesadaran ini tentang apa yang bisa dilakukan Yesus untuk keluarga manusia membuat kita untuk membawa jiwa-jiwa kepadaNya. Jikalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dunia dan bahwa semua orang hilang tanpa Dia, maka kita akan membawa jiwa kepadaNya. Sebenarnya, kita harus memasuki satu hal lain di sini. Andreas mengasihi saudaranya, dan waktu dia sendiri telah menemukan Sang Juruselamat, dengan segera dia berpikir mengenai saudaranya sendiri. Kasih menyeberangi semua perbatasan. Kasih tidak takut atau malu. Kasih melakukan yang mustahil. Kita memperoleh keberanian untuk berbicara dengan orang lain mengenai jiwa mereka. Kesadaran bahwa semua orang hilang tanpa Sang Juruselamat mendorong kita untuk melakukan apa yang mungkin kita tidak akan melakukan dalam situasi yang biasa.

Sangat menarik bahwa Andreas tidak meminta kepada Yesus agar Dia pergi dan berbicara dengan saudaranya. Saya ingin tahu jikalau Andreas berpikir, bahwa Petrus yang paling mengenalnya dan akan mempercayai apa yang dibicarakannya. Saya ingin tahu jikalau Andreas berpikir bahwa Petrus akan menolak untuk mendengar seorang yang tidak dikenalnya, bahkan kalau orang itu adalah Yesus sendiri. Jadi dia tidak mau mengambil risiko bahwa Petrus akan menolak Yesus. Andreas melakukan tugas itu sendiri. Kasih bekerja begitu.

Kebanyakan dari umat Tuhan hari ini tidak pernah membawa seorangpun kepada Kristus. Kita menghibur diri kita sendiri dengan berkata, “Saya tidak mempunyai karunia untuk itu!” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan!” Kita takut ditolak, atau kita takut bahwa kita akan menyinggung seorang teman. Tetapi seharusnya kita memikirkan apa yang ditaruhkannya. Jikalau Yesus adalah Juruselamat dunia, dan kalau manusia hilang tanpa Dia, maka mereka yang tidak dibawa kepada Yesus akan hilang untuk selama-lamanya. Tidakkah layak untuk mengambil risiko terhadap kehilangan seorang teman untuk melakukan hal yang paling besar bagi dia? Memang layak untuk mengambil risiko terhadap kehilangan teman dalam pandangan kekekalan dan tugas Tuhan kepada kita semua, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu.”

Beberapa pemenang jiwa yang terbesar yang pernah saya kenal tidak mempunyai pendidikan yang luar biasa, tidak pernah mengajar kelas Alkitab, tidak pernah memakai tata bahasa yang baik, tidak mampu menjawab semua pertanyaan Alkitab yang diajukan orang lain, tetapi mereka mengasihi Yesus dan teman-teman mereka yang hilang dan mereka berusaha sebaik mungkin agar keduanya dapat bersekutu.

Berapa banyak yang diketahui Andreas setelah dia bersama Yesus hanya beberapa jam saja? Dia dahulu adalah murid Yohanes dan tiba-tiba dia berubah dan mengikut seorang yang tidak dikenalnya. Bisa saja Petrus mengajukan banyak pertanyaan yang tidak mungkin Andreas dapat menjawab. Mungkin Petrus melakukannya! Tetapi satu-satunya hal yang kita ketahui ialah Andreas berpikir pertama mengenai saudaranya dan dengan segera pergi untuk membawa dia kepada Yesus. Kita tahu bahwa dia mengasihi Petrus. Kita tahu bahwa dia percaya kepada Yesus, bahkan setelah beberapa jam saja. (Beberapa di antara kita sudah bertahun-tahun, bahkan seumur hidup kita berada di dalam jemaat dan tidak pernah berusaha untuk membawa satu jiwapun kepadaNya.)

Jemaat mula-mula memperoleh ide dari memenangkan jiwa kepada Kristus. Semua orang di Yerusalem tahu mengenai Yesus dan jemaat. Mereka dianiaya oleh penguasa- penguasa, tetapi mereka terus melakukan kegiatan mereka. Lukas menulis, “Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis. 5:42).

Betapa hebatnya Juruselamat itu! Betapa hebatnya Injil! Betapa hebatnya tantangan itu!

Tulisan ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Volume 2, dengan judul asli: “The First Thing He Did Was to Find His Brother.” Halaman 90-91. Diterjemahkan oleh David Buskirk.