Injil Matius 5-7: Khotbah Agung dari Sang Raja

Inilah khotbah Yesus yang paling terkenal. Biasanya khotbah ini disebut Khotbah di Bukit oleh karena Yesus duduk di atas bukit waktu itu. Di dalam khotbah ini Yesus menguraikan cara kehidupan seorang Kristen di dalam Kerajaan Sorga.

sermon_on_the_mounteKehidupan di dalam Kerajaan Sorga jauh berbeda dari pada kehidupan di dalam dunia. Kehidupan di dalam Kerajaan Sorga bertentangan dengan kehidupan di dalam dunia. Kehidupan seorang Kristen harus jauh berbeda dari pada kehidupan orang dunia seperti warna putih jauh berbeda dari pada warna hitam atau terang jauh berbeda dari pada gelap. Perbuatan orang Kristen harus lebih dari pada perbuatan orang dunia. Apa yang dipandang baik di mata orang dunia tidak selalu baik di mata Tuhan. Seringkali orang Kristen harus berbuat lebih dari apa yang dipandang baik di mata orang dunia untuk hidup berkenan kepada Allah. Misalnya, di mata orang dunia, itu baik untuk seseorang membenci musuhnya, tetapi orang Kristen harus berbuat lebih dari itu; orang Kristen harus mengasihi musuhnya (Mt. 5:43,44).

Dalam khotbah di bukit ini, Yesus menunjukkan kepada pengikut-pengikutNya bagaimana mereka harus hidup di dalam Kerajaan Sorga, bagaimana perbuatannya harus lebih dari pada orang dunia. Semua orang yang mau mengikut Kristus dan masuk ke dalam kerajaanNya, harus berusaha hidup sesuai dengan khotbah ini.

Memang ini kehidupan ideal. Susah sekali untuk hidup menurut khotbah ini dengan sempurna. Walaupun begitu, itu tidak berarti, kita bisa menyerah dan tidak berusaha. Kita harus sungguh-sungguh berusaha dan Yesus juga akan memberikan kepada kita kuasa untuk hidup sesuai dengan dengan firmanNya.

Yesus tidak mau agar pengikut-pengikutNya hidup menurut peraturan-peraturan saja, seperti orang Yahudi hidup menurut perintah-perintah Hukum Taurat, tetapi hatinya jauh dari Allah. Yesus ingin mempunyai hati kita. Yesus mau agar hati pengikutNya dirubah dan berusaha menjadi sama seperti Kristus dan Allah karena kerelaan hati, bukan karena paksaan. Manusia bisa berupa seperti orang saleh dan orang beribadah, tetapi hatinya jahat. Allah mau agar kita menjadi orang saleh dalam hati kita juga.

Orang yang Sungguh-Sungguh Bahagia (5:1-16)
Inilah orang yang sungguh-sungguh bahagia (5:1-12). Menurut ukuran manusia, itulah orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh, orang berhasil baik, orang puas, orang yang membenarkan diri, orang terkenal, orang berhikmat, orang terpandang, orang licik, orang berkuasa yang bahagia. Tetapi itulah ukuran manusia. Mungkin orang itu bahagia, tetapi orang yang lebih bahagia adalah orang yang mengaku dosanya, orang yang tahu bahwa dia perlu bantuan Allah, orang yang lemah lembut, murah hati, rendah hati, suci hati, orang berdamai, orang yang mencari Allah dan kebenaranNya.

Orang ini adalah garam dunia (5:13). Seperti garam menjadikan makanan lebih enak, oleh karena orang begini, kehidupan dalam dunia ini lebih enak. Dan seperti garam memelihara makanan, seperti ikan asin, oleh karena ada banyak orang begini, dunia terpelihara dari hukuman berat.

Orang ini juga adalah terang dunia (5:14-16). Mereka yang menunjukkan orang duniawi kehidupan yang benar.

Hukum Taurat Dibanding Hukum Kristus (5:17-48)
Yesus tidak datang untuk membatalkan Hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (5:17). Hukum Taurat itu baik tetapi ia hanya berkaitan dengan kelakuan dan perbuatan tetapi hukum Kristus berkaitan dengan hati dan maksud. Hukum Taurat memerintahkan, “Jangan membunuh,” tetapi Yesus berkata tentang hati, “Jangan marah atau membenci” (5:21,22). Kemarahan dan kebencian adalah akar pembunuhan. Biasanya, kalau seorang tidak membenci orang lain, dia tidak akan membunuhnya.

Hukum Taurat memerintahkan: “Jangan berzinah,” tetapi Yesus berkata tentang hati: Jangan mengingini perempuan (5:27). Keinginan itu adalah akar perzinahan. Jikalau orang tidak mengingini perempuan, dia tidak akan berzinah dengan dia.

Yesus berkata tidak usah bersumpah. Jika kita bilang: “Ya,” seharusnya kita melakukannya. Kalau kita tidak mau, lebih baik bilang: “Tidak.” Jangan menipu! (5:33-37).

Hukum Taurat memberi kesempatan untuk membalas kejahatan, tetapi Yesus berkata jangan melawan orang yang berbuat jahat melainkan lakukanlah bagi dia lebih dari pada dipaksanya dan biarlah Allah menuntut pembalasan (Mt. 5:38-42 bd. Roma 12:19).

Dan dasar semua adalah kasih. Pengikut Kristus harus mengasihi semua orang, baik sesama manusia maupun musuh. Kita harus berbuat baik kepada semua orang (5:43-48). Kehidupan seorang Kristen harus lebih dari pada orang dunia. Kita harus melakukan jauh lebih banyak dari apa yang diharapkan atau dituntut oleh orang dunia. Orang yang memaksa kita berjalan satu kilometer, kita harus rela berjalan dua kilometer. Orang yang memaksa kita untuk mencuci dasar, baiklah kita mencuci jendela juga.

Akar dosa ada di dalam hati. Kita harus mencabut akar itu dari hati kita. Menurut Yesus, itu baik jika kita tidak berbuat dosa, tetapi yang lebih baik lagi ialah bahwa tidak ada akar dosa di dalam hati kita sama sekali. Itu yang lebih penting dan yang harus kita perhatikan.

Hukum Kristus lebih tinggi dari Hukum Musa.

Kelakuan Kewajiban Agama Secara Umum Dibanding yang Tersembunyi (6:1-18)
Kita sebagai manusia ingin dihormati semua orang. Kita tidak mau dipermalukan. Kalau kita berbuat baik atau melayani seseorang, kita ingin agar orang lain tahu. “Perhatikanlah saya, perhatikanlah apa yang saya perbuat.” “Lihat, itu saya yang bikin ini.” Kita ingin agar orang lain melihat bahwa kita orang saleh, orang beribadah, orang yang melayani Allah dan bekerja dalam Kerajaan Sorga.

Tetapi apakah tujuan kita dalam semuanya itu? Supaya kita dihormati dan dipuji orang lain? Kalau itulah tujuan kita, maka kita sudah mendapat upah kita. Tetapi kalau kita berbuat baik, melayani dan melakukan kewajiban agama kita agar Allah dipermuliakan dan tidak penting jika orang lain tahu atau tidak, maka Allah akan memberkati kita.

Pengikut Kristus tidak memusingkan diri tentang apakah manusia memperhatikan perbuatan baik yang dilakukannya. Pengikut Kristus tidak mencari hormat dari manusia. Kalau Sang Raja sudah melihat perbuatan baik yang dilakukannya dan bagaimana dia melayani, itu sudah cukup.

Yesus mau agar kita melayani Allah dari kerelaan hati untuk dilihat Allah sendiri, agar Allah yang dihormati dan dipermuliakan bukan kita sendiri.

Hamba Uang Dibanding Hamba Allah (6:19-34)
Manusia biasanya ingin menjadi kaya. Orang miskin berpikir, “Kalau saya mempunyai banyak uang, pasti saya lebih senang; orang kaya yang paling senang.” Tetapi itulah dongeng saja. Orang yang mau menjadi kaya dan orang yang mengejar uang tidak bisa dipuaskan. Dia selalu ingin mempunyai uang yang lebih banyak. Juga orang yang mengejar uang tidak hidup berkenan kepada Allah (lihat 1 Tim. 6:6-10). Hatinya tidak tenang karena dia selalu memusingkan diri tentang uang dan kekayaan jasmani.

Kita menjadi hamba Allah ataupun kita menjadi hamba uang (6:19-24). Kita tidak bisa menjadi hamba kedua-duanya. Kalau kita menjadi hamba uang, maka kita bukan hamba Allah. Kalau kita adalah hamba Allah, maka kita tidak boleh mengejar kekayaan jasmani. Allah adalah Bapa kita. Sama seperti bapa-bapa duniawi memelihara anak-anaknya, dan memberikan kepada mereka makanan sehari-hari, pakaian dan lain-lain, demikianlah Bapa kita di sorga akan memelihara kita dan memberikan kepada kita makanan sehari-hari, pakaian dan hal-hal lain yang kita perlukan (6:25,34). Yang sangat penting adalah bahwa kita percaya kepada Allah. Allah yang menciptakan dunia ini serta segala isinya adalah Allah yang Mahakuasa. Dia mempunyai segala sesuatu di dalam dunia ini dan di sorga. Dia sanggup memelihara kita. Jika kita sudah menjadi anakNya, kita tidak boleh kuatir lagi karena Allah adalah Bapa kita dan Dia mengasihi kita.

Kita harus mengejar dan mencari Allah, kerajaanNya dan kebenaranNya lebih utama dan Allah akan memelihara kita dan memberikan kepada kita apa yang kita perlukan (6:33). Kekayaan jasmani tidak ada gunanya.

Nasehat dan Peringatan (7:1-29)
Ada beberapa nasehat dan peringatan dalam fasal ini. Yang pertama ialah jangan menghakimi (7:1-5). Maksudnya, kita tidak boleh menghakimi dengan ukuran manusia atau dengan ketidakadilan: “Saya orang Kristen lebih baik dari pada kamu. Kamu orang bodoh. Saya lebih setia, saya bekerja lebih keras bagi jemaat. Kamu orang pemabuk. Saudara itu orang pendusta, tidak bisa mempercayai dia. Saudara yang itu orang penipu, tetapi saya adalah orang jujur,” dan seterusnya begitu. Sikap kesombongan itu tidak baik. Kita tidak boleh membenarkan diri dan merendahkan orang lain.

Kita juga tidak tahu apa yang ada di dalam hati orang. Mungkin ada orang yang mempunyai kelemahan dengan minuman keras. Walaupun dia tidak mau minum mabuk, namun karena kelemahan, kadang-kadang dia dicobai, jatuh, dan minum mabuk. Tetapi dia bertobat. Dan mungkin dia sungguh-sungguh bertobat. Kita tidak boleh menghakimi dia sebagai orang penjahat, yang main-main saja. Dia mabuk kemudian bertobat, mabuk, bertobat terus begitu. Kadang-kadang ada yang berpikir bahwa dia main-main dan tidak bertobat dengan segenap hati. Padahal, kita tidak boleh menghakimi hati orang lain. Kalau dia sudah bertobat dengan segenap hati, Allah sudah mengampuni dia. Kita juga harus menerima dia dan mendorong dan membantu dia untuk bermenang atas pencobaan itu. Jangan menolak dia. Kita semua mempunyai kelemahan dan berbuat dosa. Kita bisa menghakimi menurut ukuran Alkitab, dengan sifat kerendahan hati, kelemahlembutan, mengakui bahwa kita semua orang berdosa. Mari kita saling mendorong dan saling menasihati untuk hidup sesuai dengan firman Allah.

Yang kedua, kita harus berdoa terus dan Allah, Bapa kita, akan mendengar dan mengabulkan doa kita (7:7-11). Itu tidak berarti bahwa Allah akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita minta dari Dia. Kita harus minta sesuai dengan kehendakNya (lihat Yak. 4:3; 1 Yoh. 5:14,15).

Yang ketiga adalah prinsip yang hebat sekali. Dalam ayat 7:12, Yesus mengatakan prinsip ini dalam bentuk positif. Perhatikanlah bahwa Yesus tidak berkata, “Segala sesuatu yang tidak kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, jangan perbuatlah demikian kepada mereka.” Perkataan itu juga benar dan bagus. Saya tidak mau agar orang memukul saya, oleh karena itu, saya tidak akan memukul orang lain. Tetapi perkataan Yesus lebih baik lagi dan lebih tinggi. Bacanyalah lagi. Yesus berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka.” Saya senang jikalau orang melayani saya, misalnya mencuci pakaian saya. Oleh karena itu, saya akan mencuci pakaian orang lain. Kalau orang menangkap banyak ikan, saya senang kalau dia memberikan beberapa ekor kepada saya. Oleh karena itu, jikalau saya menangkap banyak ikan, saya juga akan memberikan beberapa ekor kepada orang lain. Saya senang kalau orang berkata baik tentang saya. Oleh karena itu, saya akan selalu berkata baik tentang orang lain. Itulah maksud Yesus. Kita harus melayani dan berbuat baik kepada semua orang biar mereka berbuat baik kepada kita atau tidak.

Yang keempat, Yesus menasihati kita untuk masuk melalui pintu yang sesak (7:13,14). Kehidupan orang Kristen susah karena bertentangan dengan kehidupan orang duniawi dan adat- istiadat. Sejumlah banyak orang ingin hidup sama seperti semua orang lain. Mereka tidak mau hidup berbeda. Mereka tidak mau mendapat tantangan. Merekalah yang akan menuju kepada kebinasaan. Tidak ada banyak orang yang mau hidup berbeda dari semua orang lain, melawan adat-istiadat, dosa dan kejahatan masyarakat. Tidak ada banyak orang yang mau hidup menurut firman Allah. Ingatlah, kalau kita mau mengikut orang banyak berbuat dosa, kita juga akan ikut orang banyak kepada kebinasaan. Tetapi kalau kita mau berdiri sendiri dan melawan kejahatan itu, maka kita akan memperoleh hidup yang kekal. Gampang untuk mengikut orang banyak, tetapi akibatnya keras. Lebih susah untuk melawan orang banyak dan berbuat baik, tetapi upahnya sangat besar.

Yang kelima, Yesus memperingatkan pengikutNya tentang nabi-nabi palsu. Kita bisa mengenal mereka dari buahnya (7:15-23). Ada nabi-nabi palsu pada abad pertama, dan ada nabi- nabi palsu hari ini juga. Seorang nabi palsu adalah orang yang mengajar ajaran yang bertentangan dengan firman Allah atau yang tidak hidup sesuai dengan firman Allah. Juga ajaran, agama, atau gereja yang membangkitkan amarah, kebencian, ancaman, ketakutan, kekerasan, dosa, dan pembunuhan dan perbuatan-perbuatan jahat lain tidak berasal dari Allah dan adalah ajaran, agama atau gereja palsu.

Orang-orang Farisi mengancam masyarakat Yahudi bahwa setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan sehingga mereka takut (Yoh. 9:22). Itu agama palsu. Hari ini ada gereja-gereja yang melarang anggotanya dengan keras untuk menjadi anggota gereja lain, dan orang yang menjadi anggota gereja lain dipukul. Sedangkan pemimpin-pemimpinnya minum mabuk, berbuat zinah, mencuri dan berbuat banyak dosa lain tanpa pertobatan. Gereja itu bukan berasal dari Allah dan kita harus berwaspada terhadap orang-orang, gereja-gereja, dan agama-agama seperti itu.

Dan Yesus berkata bahwa hanya orang yang melakukan kehendak Allah yang akan pergi ke sorga. Banyak orang menyebut dirinya orang Kristen dan mungkin menyangka bahwa mereka akan pergi ke sorga. Tetapi oleh karena mereka disesatkan, atau karena mereka tidak bertobat dari segala dosa, atau karena mereka tidak berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Allah, maka mereka tidak sempat masuk. Kalau kita mau pergi ke sorga, maka kita harus selalu hidup sesuai dengan firman Allah.

Kesimpulan
Inilah standar kehidupan semua orang yang mau masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kita tidak akan hidup sesuai dengan standar ini dengan sempurna, tetapi kita harus berusaha. Kalau kita menganggap ini terlalu susah sehingga kita tidak berusaha dan menolaknya, maka kita tidak mungkin masuk ke dalamnya. Hanya orang yang melakukan kehendak Allah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (7:21). Dan hanya ada sedikit orang yang rela hidup begitu (7:13,14). Tidak banyak. Orang yang bijaksana akan hidup sesuai dengan firman Allah dan oleh karena itu dia akan menyelamatkan nyawanya. Orang yang bodoh, yang menganggap kehidupan ini terlalu susah dan tidak mau menderita untuk kebenaran, akan menderita kebinasaan kekal di dalam api neraka.