Injil Matius: Pendahuluan

Dari Survei Perjanjian Baru

Penulis
Penulis Injil ini adalah rasul Matius, yang juga disebut Lewi. Sebelum Matius dipanggil Yesus untuk menjadi muridNya, dialah seorang pemungut cukai.

Pemungut cukai adalah orang yang mengumpulkan pajak dari masyarakat untuk membayar kepada pemerintah Roma. Biasanya mereka merampas masyarakat dengan menuntut pajak yang tinggi. Pemungut cukai membayar jumlah yang wajib kepada pemerintah dan yang sisa adalah miliknya sebagai keuntungan. Jadi gampang untuk seorang pemungut cukai untuk menjadi orang yang kaya. Orang-orang Yahudi membenci orang Yahudi lain yang menjadi pemungut cukai, bukan hanya karena mereka tidak jujur dan merampas masyarakat, tetapi juga karena mereka bekerja untuk musuh mereka, orang-orang Roma.

Waktu Yesus memanggil Matius untuk mengikutNya, Matius meninggalkan tugasnya dan segera mengikut Yesus (Mt. 9:9-13; Mk. 2:14-17). Kita tidak mempunyai informasi lain dari Alkitab tentang Matius.

Tahun Ditulis
Ada banyak pendapat tentang tahun berapa Injil Matius ini ditulis. Kita tidak tahu dengan pasti, tetapi mungkin antara tahun 58 dan 62.

Penerima dan Tujuan
Matius menulis Injil ini kepada orang Yahudi untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Walaupun banyak orang Yahudi menerima Yesus sebagai Mesias dan dibaptis ke dalam jemaat, ada banyak sekali yang menolak Yesus sebagai Mesias. Pada waktu itu, kebanyakan orang Yahudi berpikir bahwa seorang Mesias akan segera nampak dan memimpin orang-orang Yahudi dalam perang melawan orang Roma dan mendirikan kerajaan Israel kembali seperti dalam zaman Raja Daud dan Salomo. Yesus tidak memulai pemberontakan. Malah Dia disalibkan sebagai seorang penjahat, diserahkan oleh pemimpin- pemimpin agama Yahudi sendiri. Jadi Dia berada di bawah kutuk Allah oleh karena Alkitab berkata, “Seorang yang digantung [pada sebuah tiang] terkutuk oleh Allah” (Ul. 21:23). Matius ingin membuktikan dan menunjukkan bahwa Yesus memang Mesias, dan bahwa Dia menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Hanya orang-orang Yahudi salah menafsirkan Alkitab. Mereka tidak mengerti betul-betul tentang Allah atau kerajaanNya yang telah didirikanNya di bumi ini.

Matius memakai perkataan seperti, “Ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi…” atau “Demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi…” (lihat Mt. 1:22; 2:5,15,17,23; 3:3; 4:15; 8:17; 11:10; 12:17; 13:14,35; 21:4,42; 26:31,54,56; 27:9) untuk menguatkan tesisnya, bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Selain dari itu, ada juga banyak referensi lain dari Perjanjian Lama.

Matius juga memakai gelar-gelar Mesias dari Perjanjian Lama yang orang lain memakai sebagai sebutan bagi Yesus, lagi untuk menunjukkan bahwa ada orang lain juga yang menganggap Yesus sebagai Mesias. Ada lima gelar:

1. “Raja orang Yahudi.” (Mt. 2:2,6; 21:5; 25:34; 27:11,29,37). Sebutan ini tidak ada dalam Perjanjian Lama, tetapi oleh karena orang-orang Yahudi menunggu seorang Mesias untuk memerdekakan mereka dari penjajahan Roma, dan mendirikan kerajaan Israel kembali dengan dia sebagai raja, maka Mesias itu sering disebutkan Raja orang Yahudi. Pada saat itu, orang-orang Yahudi tidak mempunyai seorang raja sendiri, hanya raja yang ditetapkan oleh pemerintah Roma.

2. “Anak Allah.” (Mt. 4:3,6; 8:29; 11:27; 14:33; 16:16; 26:63,64; 27:40,43,54). Anak Allah berarti bahwa Yesus mempunyai hubungan yang istimewa dengan Allah. Sebutan ini juga tidak dipakai dalam Perjanjian Lama, tetapi menunjuk bahwa Yesus adalah utusan dari Allah dan bukan seorang nabi palsu.

3. “Anak Daud.” (Mt. 1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30,31; 21:9,15; bd. 22:42). Ini menjadi istilah untuk Mesias oleh karena janji Allah kepada Daud dalam 1 Taw. 17:10-14, bahwa Daud akan tetap mempunyai anak yang akan memerintah sebagai raja untuk selama-lamanya. Orang-orang Yahudi menafsirkan janji ini sebagai referensi kepada Mesias. Tetapi, lagi, mereka berpikir bahwa Mesias itu akan memerintah sebagai raja di atas bumi ini atas kerajaan Israel yang dipulihkan kembali. Matius menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan dari Daud dan bahwa banyak orang memakai istilah “Anak Daud” untuk Yesus.

4. “Mesias.” (Mt. 1:1,16,18; 2:4; 11:2; 16:16,20; 23:10; 26:63,64; 27:17,22). Mesias adalah kata Ibrani yang berarti “Yang diurapi.” Kristus adalah kata Yunani yang berarti hal yang sama. Jadi Mesias dan Kristus mempunyai arti sama. Raja-raja dalam Perjanjian Lama diurapi oleh seorang nabi. Dalam Daniel 9:25,26 ada nubuat bahwa akan ada seorang yang diurapi yang akan muncul. Kata di sini ada Mesias (yang diurapi). Dalam abad pertama ini menjadi istilah untuk orang yang akan diurapi Allah menjadi raja atas bangsa Israel.

5. “Yang akan datang.” (Mt. 11:3). Istilah ini hanya dipakai satu kali dalam Injil Matius. Inilah istilah untuk seorang nabi seperti Musa yang akan muncul sesuai dengan nubuat dalam Ulangan 18:15. Orang-orang Yahudi tidak mengerti bahwa itu juga seorang Mesias. Mereka berpikir bahwa itulah seorang nabi sedangkan Mesias itu seorang lain lagi (bandingkan Yoh. 1:20-25). Matius menunjukkan bahwa Nabi itu dan Mesias adalah orang yang sama dan orang itulah Yesus.

Matius juga menunjukkan bahwa memang Yesus datang untuk mendirikan suatu kerajaan di dunia ini, tetapi bukan suatu kerajaan jasmani, melainkan suatu kerajaan rohani. Matius menulis banyak tentang ajaran dari Yesus tentang kerajaan sorga atau kerajaan Allah yang akan didirikanNya (lihat Mt. 3:2; 4:17,23; 5:3,10,19,20; 6:10,13,33; 7:21; 8:11; 9:35; 10:7; 11:11,12; 12:28; 13:11-52; 16:19,28; 18:1-4,23; 19:12,14,23,24; 20:1,21; 21:31,43; 22:2; 23:13; 24:14; 25:1,34; 26:29).

Garis Besar

  1. Kedatangan Sang Raja (1-4)
  2. Khotbah Agung dari Sang Raja (5-7)
  3. Kemajuan Kerajaan Sang Raja (8-10)
  4. Pertentangan Terhadap Sang Raja (11:1-16:12)
  5. Persiapan Sang Raja untuk KematianNya (16:13-17:27)
  6. Kehidupan di dalam Kerajaan Sang Raja (18-20)
  7. Perhadapan Sang Raja dengan Penguasa-Penguasa Dunia (21-23)
  8. Nubuat dari Sang Raja (24-25)
  9. Kematian dan Kebangkitan Sang Raja (26-28)