Jejak-Jejak Sejarah mengenai Kerajaan Yang Tidak Akan Binasa

Dari bermacam catatan sejarah yang ada, kesimpulan yang berikut bisa dibuat mengenai keadaan dan kepercayaan umat Tuhan di Eropa pada tahun 1200-an dan seterusnya.

Old Church

Mereka percaya, bahwa baptisan adalah penyelaman di dalam air bagi orang-orang percaya untuk pengampunan dosa, dan dengan demikian orang tersebut

ditambahkan kepada jemaat Kristus (satu- satunya jemaat yang benar). Mereka mengajarkan, bahwa anak-anak kecil adalah murni, mereka menolak ajaran dosa keturunan dan mereka memberitakan kehendak bebas. Mereka menolak pemakaian gedung-gedung istimewa, mezbah-mezbah dan barang-barang lain. Mereka menolak ajaran kepastoran/kependetaan dan mengajar, bahwa semua orang percaya termasuk keimamat umum orang-orang percaya.

Setiap jemaat berdiri sendiri, dan di mana keadaan memungkinkan, mempunyai penatua-penatua dan diaken-diaken. Perjamuan Tuhan dilaksanakan setiap hari Minggu. Mereka menolak hari-hari raya yang istimewa. Mereka mengajarkan Allah Tritunggal. Orang-orang percaya ini disebarkan di seluruh Eropa termasuk Inggris, dan juga ada di sebela timur. Mereka memakai Kitab Suci dalam bahasa sehari-hari mereka masing-masing dan mereka rajin menginjil dan memberitakan iman yang benar. Mereka menyebut dirinya orang Kristen saja dan anggota-anggota jemaat yang benar, meskipun orang-orang luar menyebut mereka dengan nama-nama lain.

Mereka ditangkap dan dianiaya oleh karena perlawanan mereka terhadap Gereja Katolik. Seruan mereka adalah agar orang kembali kepada Alkitab dan mereka membela dirinya dengan memakai Kitab Suci. Hal ini memalukan Gereja Katolik yang pada tahun 1229 melarang kaum awam untuk memiliki Alkitab. Alkitab dimasukkan pada daftar buku-buku terlarang oleh Dewan Toulouse! Keputusan itu membuat orang-orang biasa yang tanpa izin memiliki atau mempelajari Alkitab melanggar hukum.

Harus diingat, bahwa pada zaman itu ibadah Gereja Katolik dilaksanakan dalam bahasa Latin, sebuah bahasa yang dimengerti hanya oleh orang yang berpendidikan. Waktu Dewan Toulouse melarang orang biasa membaca Kitab Suci atau memiliki Alkitab, tujuannya adalah untuk memastikan, agar orang-orang biasa tetap tanpa pengetahuan mengenai hukum- hukum dan pelajaran-pelarajan Allah.

Oleh karena Alkitab adalah buku terlarang pada waktu itu, salinan-salinan

Kitab Suci diingini di mana-mana. Sebuah terjemahan baru diperlukan di Inggris dalam bahasa sehari-sehari pada zaman itu.

Tugas itu jatuh pada pengawasan John Wycliffe, seorang ahli teologi di Oxford (wafat 1384). Terjemahan itu pertama-tama muncul pada tahun 1380 dan pada mulanya dikarang dengan jelek karena diterjemahkan dari beberapa versi Vulgate (terjemahan bahasa Latin) oleh teman-teman sekerjanya Nicholas dari Hereford (Perjanjian Lama) dan John Purvey (yang pada waktu kemudian merevisi Perjanjian Baru Wycliffe pada tahun 1388 kepada standar yang lebih tinggi).

Gereja Katolik mencari-cari Alkitab Wycliffe setengah mati untuk membakar semua salinan. Setiap Alkitab disalin dengan tangan karena percetakannya mendahulu ciptaan mesin cetak. Alkitab itu sangat terkenal dan semua orang ingin memilikinya oleh karena pada pertama kali sebuah Alkitab ditulis di dalam bahasa Inggris sehari-hari. Alkitab Vulgate dalam bahasa Latin jarang dipakai dan banyak pastor Katolik tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun mengenai Alkitab.

Untuk pertama kali dalam waktu lama, Kitab-Kitab Suci disediakan untuk orang- orang biasa dan seruan untuk kembali kepada agama Kristen Perjanjian Baru sedang dilaksanakan.

John Huss seorang Bohemia (wafat 1415), yang adalah murid dari Wycliffe, menulis sebuah buku De Ecclesia yang memerankan bagian penting dalam pemutusan Martin Luter dengan Gereja Katolik. Pada satu saat Luter mengaku, “Kita semua adalah orang Huss sekarang.”

Bukan Wycliffe ataupun Huss yang menarik kesimpulan yang sama yang Luter punya mengenai “Pembenaran oleh iman saja.” Luter menganggap, bahwa baptisan tidak perlu untuk keselamatan. Sepucuk surat yang sangat menarik ditulis kepada

Erasmus (wafat 1536) dari Bohemia oleh Johannes Sechta Costelecius, tertanggal 10 Oktober 1519, menunjuk kepada beberapa pengikut Wycliffe di Bohemia yang dikenal sebagai orang Huss. Surat ini menunjuk kepada zaman Huss (sekitar tahun 1410) dan berkata bahwa pengikut-pengikutnya menyebut dirinya saudara-saudara, bahwa mereka tidak mempunyai kuasa lain selain Alkitab, melawan baptisan bayi dan baptisan anak, mengajar bahwa baptisan adalah untuk orang-orang percaya, dan baptisan itu adalah penyelaman di dalam air, dan mereka menetapkan pemimpin-pemimpin jemaat kaum awam.

Lorenzo Valla (wafat 1457) membuktikan pada tahun 1440 oleh analisis bahasa, bahwa “Donation of Constantine” sebuah dokumen yang dipakai Gereja Katolik Roma untuk membuktikan kuasa pemerintahannya di bumi sebenarnya adalah dokumen pemalsuan dari abad kesembilan. Valla pada tahun 1444 melakukan perbandingan kritis dengan Perjanjian Baru Vulgate dan Perjanjian Baru Bahasa Yunani. Dia menunjukkan, bahwa kata Bahasa Yunani “metanoia” yang diterjemahkan oleh Vulgate sebagai “menjalankan penebusan dosa” sebenarnya berarti “pertobatan.”

Erasmus memasuki perubahan ini dalam edisinya Perjanjian Baru Bahasa Yunani pada tahun 1516. Terus, Luter menemukan pembacaan baru ini dan membuatnya sebagai dasar protesnya terhadap Gereja Katolik itu pada tahun 1517.

Pembakaran Orang-Orang Bidat

Pada tahun 1401, De Comburendo Haeretico, undang-undang yang terkenal untuk membakar orang-orang bidat, disetujui oleh raja tetapi bukan oleh dewan perwakilan rakyat! Walaupun Majelis Perwakilan Rendah dan beberapa orang bangsawan tidak setuju dengan undang- undang itu — sebenarnya Majelis Perwakilan Rendah menolak undang-undang itu sama seklai — undang-undang itu disetujui oleh para uskup dan kepala-kepala biara laki-laki (yang mengusulkannya kepada raja). Syahid (martir) yang pertama, Sir William Sawtre, dikatakan adalah orang percaya yang dibaptis, dibakar pada tanggal 2 Maret 1401. Undang-undang ini akhirnya dicabut pada tahun 1732. Dalam buku “de Caena Domini” Uskup Ridley (wafat 1555) berkata, bahwa pada dua tahun pertama dari pemerintahan Ratu Mary, lebih dari delapan ratus orang mati karena kepercayaan agama mereka.

Keith Sisman adalah anggota jemaat Kristus di Inggris dan diizinkan menyelidiki perpustakaan kuno di Universitas Cambridge untuk menyusun sejarah jemaat Kristus di Inggris pada zaman gelap.

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Vol. 24, dengan judul asli: “Historical Traces of the Kingdom that Would Never Be Destroyed.” Halaman 55-57. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Photo Credit: http://1.bp.blogspot.com/-9Bu6qJIWKWQ/Tl3te8AZJcI/AAAAAAAAS8w/1P-wum6xKWU/s1600/Payerbach-Reichenau+007.jpg