Kristus Teladan Kita Dalam Doa

Kristus tetap dalam doa. Hubungan dengan Bapa-Nya dijaga dengan baik-baik dan dipelihara dan diteruskan dalam doa. Ia banyak mengajar tentang doa, tetapi lebih dari itu, Ia senantiasa mempraktikkan doa. Sekalipun Ia adalah oknum ilahi, didunia ini kehidupan-Nya bersandar kepada doa. Ia dikuatkan dan hati-Nya ditenangkan melalui doa. Dalam khotbah di bukit, Yesus memberikan syarat-syarat dan ciri-ciri doa yang berkenan kepada Allah (Matius 6:5-15). Apakah petunjuk-petunjuk yang diuraikan tentang doa?

Pray Like Jesus

Ciri-Ciri Doa

Janganlah munafik.

“Dan apabila kamu berdoa,janganlah berdoa seperti orang munafik” ( Matius 6:5).

Orang itu menyerupai orang yang saleh. Mereka mau dilihat manusia sebagai orang yang sangat saleh supaya dikagumi dan dipuji. Tujuan dan kelakuan mereka menghambarkan doa yang mereka panjatkan. Kesenangan diri dan tanggapan orang lain harus disingkirkan apabila kita berdoa. Doa seharusnya tertuju kepada Allah bukannya manusia. Tak mungkin manusia mengabulkan doa kita atau memberi berkat rohani. Apabila kita mencari perhatian manusia dalam doa, doa itu sudah batal. Paulus berkata, “Jadi, bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” ( Galatia 1:10).

Doa yang panjang dan penuh dengan kata-kata muluk untuk melagak kepada orang ditolak oleh Allah. (Matius 6:7). Orang yang berdoa tetapi tidak berjalan sesuai dengan prinsip dan petunjuk dalam firman Tuhan tidak akan didengar oleh Allah. Allah pernah melarang nabi Yeremia berdoa demi bangsa-Nya karena mereka bersikeras dalam dosa.

“Adapun engkau, janganlah naikkan permohonan dan doa untuk mereka, sebab Aku tidak akan mendengarkan pada waktu mereka berseru kepada-Ku karena malapetaka mereka“ (Yeremia 11:14).

Janganlah kita mengharapkan berkat Tuhan dicurahkan dalam hidup kita seraya kita berjalan bertentangan dengan kebenaran-Nya.

Berdoa Secara Pribadi (Matius 6:6)

Doa umum didepan perhimpunan jemaat boleh dipimpin oleh orang lelaki, tetapi tekanan Yesus dalam ayat ini adalah tentang doa pribadi. Kita wajib meluangkan waktu untuk berdoa dengan keluarga dan untuk berdoa sendirian. Banyak orang terlampau sibuk untuk berdoa, maka mereka mengabaikannya dan lupa akan Tuhan. Jikalau kita terlampau sibut untuk berdoa sekarang, jangan heran nanti jika Kristus terlampau sibuk untuk mendengar dan menerima kita!

Yesus tetap dalam doa dan sering memisahkan diri dari murid-murid-Nya untuk doa khusus. Sebelum Ia memilih kedua belas rasul itu, Ia berdoa sepanjang malam. (Lukas 6:12). Ia menyuruh kita masuk dalam kamar dan berdoa di tempat tersembunyi. Allah akan  mengabulkan dan membalas doa seperti itu yang berkenan kepada-Nya.

Yakobus menguraikan bahwa doa kita jangan dipusatkan kepada kemauan memuaskan diri. Tidak salah bahwa kita menyampaikan permintaan diri kepada Allah, tetapi janganlah tujuan doa hanya untuk memuaskan diri sendiri.

“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:2b, 3).

Kristus mengajarkan lagi bahwa doa kita terhalang jika kita tidak rela memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu..” (Markus 11:25).

Kita wajib memeriksa diri sebelum kita berdoa. Apakah ada perasaan dendam, benci, iri hati, atau pertengkaran yang terpendam dalam hati? Semua perkara itu harus dibereskan terlebih dahulu supaya kita layak menaikkan permintaan kita dalam doa. Dosa yang tersimpan dalam hati ataupun yang berjalan dalam hidup kita akan mencegah doa kita sampai kepada Bapa sorgawi.

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:1,2).

Tentu seorangpun tidak mungkin hidup sempurna tanpa dosa, tetapi janganlah kita dengan sengaja berbuat dosa, atau dengan sadar akan dosa belum mau bertobat atau minta ampun. Isi hati yang tidak senonoh dan perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Allah merupakan penghalang doa. Solusinya bukanlah melupakan doa, melainkan bertobat dan membenahi prilaku yang bertentangan dengan kebenaran.

“Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku memalingkan muka-Ku,bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah” (Yesaya 1:15).

Beberapa ciri doa ditunjukkan dalam perumpamaan Yesus tentang seorang janda ( Lukas 18:1-8). Dalam nas ini kita melihat bahwa kita perlu tetap dalam doa.“ ..mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” ( ayat 1).

Bukan bahwa kita setiap detik terus-menerus berdoa, melainkan bahwa kita harus tetap secara rutin dalam doa, bahwa kita sering meluangkan waktu untuk berdoa. Meskipun nabi Daniel seorang pejabat dalam pemerintah Babil, ia selalu mengambil waktu untuk berdoa.

“Demi didengar Daniel,bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalam; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” ( Daniel 6:11).

Daniel yakin dan percaya akan kepentingan doa dan sekalipun  diancam oleh orang lain ia tidak melalaikannya. Begitupun si pemazmur menyatakan praktiknya dalam doa, “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku” ( Mazmur 55:17).

Lagi, “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil” ( Mazmur 119:164).

Kita tidak perlu menunggu seorang penginjil atau pelayan jemaat untuk berdoa. Kita tidak perlu seorang manusia sebagai pengantara – kita boleh langsung mendekati Allah melalui Yesus Kristus.

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim.2:5).

Orang janda itu dalam perumpamaan Yesus berketetapan mambawa kasusnya kepada hakim yang tidak adil. Ia tidak jemu-jemu mendekati si hakim itu karena kasusnya dianggap sangat genting. Pada mulanya hakim itu tidak perduli akan permintaan orang janda yang datang kepadanya, tetapi karena si janda terus-terusan datang membuka kasusnya, ia akhirnya mengabulkan permintaannya. Andaikata janda itu datang sekali, atu sekali sebulan, ataupun dua kali setahun, tentu ia tidak berhasil. Kalau ia kurang bersemangat karena tidak ada pengantar atau seorang teman yang menyertai dia, ia tidak berhasil. Kalau ia berpikir bahwa si hakim tidak akan memperhatikan seorang miskin atau seorang biasa, ia tidak berani membawa kasusnya kepadanya. Tidak ada orang yang mendorong atau menolong dia, tetapi ia terus datang dan minta. Bagaimanapun halangan dan rintangan yang muncul tiap hari, orang janda itu tetap dalam usahanya menyampaikan permintaan kepada si hakim. Allah mengharapkan bahwa anak-anak-Nya bersifat demikian sehingga mereka rajin dan tetap dalam doa. Soalnya, apakah kita cukup beriman untuk melaksanakan yang diharapkan Allah?

“Akan tetapi, jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapat iman di bumi?” (Lukas 18:8).

Yesus Mengajar Tentang Kuasa dan Berkat Yang Tercantum Dalam Doa.

Doa adalah satu-satunya kuasa manusia yang dapat mempengaruhi Allah. Allah membuka telinga-Nya kepada mereka yang berjalan dalam kebenaran dan mencurahkan isi hati mereka kepada-Nya dalam doa.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan  mendapat ; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang disorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:7-11).

Petrus menambah,“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat” (1 Petrus 3:12).

Orang Kristen menetapkan hubungan dengan Allah melalui doa supaya saluran berkat-Nya terus terbuka baginya. Allah menghendaki anak-anak-Nya senantiasa mendekati Dia dengan permohonan dan ucapan syukur. Kalau kita tidak mau berkomunikasi dengan Bapa kita di sorga, bagaimanakah tanggapan-Nya terhadap kita? Jika seorang anak di dunia ini tidak mau berkomunikasi dengan orang tuanya, bagaimanakah perasaan mereka?

Tuhan berjanji bahwa pertolongan akan diberikan kepada anak-anak-Nya yang meminta.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia akan memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Ketika pencobaan menimpa kita, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk berdoa.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan : roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Lagi, “..dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus” (Efesus 6:18).

Sekali lagi kita kembali menelaah Lukas 18, dimana Yesus berkata, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum  menolong mereka? Aku berkata kepadamu : Ia akan segera membenarkan mereka” (Lukas 18:7,8a).

Kuasa dan kesempatan doa tetap terbuka bagi setiap anak Allah. Meskipun demikian, kita tidak boleh berdoa sembarangan saja, melainkan harus menuruti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan Tuhan dalam firman-Nya. Yakobus berkata, “Doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Yesus telah memberikan kepada pengikut-pengikut-Nya suatu teladan sempurna dalam hal berdoa, yang layak kita mencontoh. Janganlah kita melewati doa. Janganlah kita melewati berkat-berkat Tuhan yang Ia curahkan dalam doa. Marilah kita senantiasa berdoa! “Tetaplah  Berdoa” ( 1 Tess. 5:17).

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.