Kristus Teladan Kita Dalam Kasih

Kristus memperlihatkan kepada manusia segala sifat yang baik, termasuk kasih-Nya yang tidak terbandingkan.

“ ..sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan..” (Efesus 3:17-19).

Bagaimanakah kasih-Nya yang begitu hebat menjadi teladan bagi kita?

Kasih Yesus

Kasih Kristus Tidak Bersyarat-syarat

Janji-janji Kristus bersyarat-syarat,tetapi tidak demikian dengan kasih-Nya. Kristus tidak menetapkan prasyarat agar kita dikasihi oleh-Nya. Ia tidak berkata, “Berbuat baik terlebih dahulu, baru Aku tunjukkan kasih kepadamu.” Paulus menerangkan kasih Allah dan Kristus dalam Roma fasal 5 :

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati – akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (ayat 6-8).

Ia telah berusaha menarik orang berdosa kepada-Nya oleh kasih yang begitu besar. Ia tidak mengancam bahwa kasih-Nya akan ditarik kecuali kita berjalan hati-hati, atau atas pelanggaran apa saja kasih-Nya mogok. Manusia tidak diwajibkan terlebih dahulu mengasihi Allah supaya Ia rela membuktikan kasih-Nya kepada kita.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”(1 Yohanes 4:19), dan “ Inilah kasih itu : bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10).

Allah mengambil inisiatif untuk memanggil manusia kepada-Nya dengan rencana penebusan. Oleh karena pelanggaran akan firman-Nya, manusia tersesat dalam dosanya tanpa jalan keluar.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23).

Syukurlah bahwa Allah membuat suatu rencana demi keselamatan isi dunia! Yang menggerakkan hati-Nya adalah kasih sayang yang abadi.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Kasih Kristus akan semua manusia tidak dapat disangkal.

“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya “(Yohanes 13:1).

Tercatat lagi dalam Efesus 5:2, “ ..dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

Kasih Kristus Tidak Terbatas

Kasih-Nya tidak terbatas oleh kesukaan diri atau tingkat status sosial seseorang. Dia tidak membatasi kasih-Nya hanya kepada orang yang dekat kepada famili, atau orang dengan minat dan kemauan yang sama, ataupun yang ikut bersama-sama dengan Dia. Sebaliknya Ia mengajarkan dan mempraktikkan kasih kepada musuh-musuh-Nya.

“Kamu telah mendengar firman : Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43,44).

Oleh karena Yesus sungguh-sungguh mengasihi semua orang, Ia tidak  membalas dendam kepada orang yang mengejek, mencaci-maki, dan menganiaya Dia. Bahkan _Ia berdoa demi  mereka yang menyalikbkan-Nya,

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).

Kita perlu mencontoh kasih Kristus itu sambil menjadi anak Bapa sorgawi dalam sifat dan praktik.

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi oang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga  berbuat demikian” (Matius 5:45,46).

Kasih Kristus tetap kepada kita kemana saja jalan yang kita menempuh. Kasih-Nya tidak digoyahkan oleh waktu, jarak, jaman, keadaan, ataupun emosi. Kasih-Nya tidak berkurang apabila kasih orang lain berkurang terhadap Dia, melainkan terus berjalan dan dinyatakan dimana-mana dalam dunia ini. “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis:

“Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:35-37).

Kasih Kristus Tidak Berobah-obah

Ketika Ia mengalami kesusahan atau penganiayaan, kasih-Nya tetap. Dalam hal menghadapi siksaan dan maut di kayu salib, kasih-Nya tetap dan tidak berobah. Murid-murid-Nya lari meninggalkan Yesus sewaktu Ia ditangkap dan diadili dihadapan Pilatus, tetapi kasih-Nya tidak bergoyang-goyang. Jikalau kasih-Nya tidak tetap Ia tentu saja tidak rela disalibkan, bahkan menolaknya, dan penebusan manusia gagal. Pada waktu yang lain, banyak murid-Nya berpaling dan tidak terus mengikut karena ajaran-Nya dianggap terlampau berat.

“Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “ Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”… Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yohanes 6:60,66).

Tercatat bahwa jemaat Tuhan di Efesus memiliki kasih yang hangat pada mulanya tetapi tidak lama kemudian menjadi dingin karena mereka meninggalkan kasih semula. Yesus menegor mereka:

“Namum demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasih yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Wahyu 2:4,5).

Hal itu merupakan bahaya bagi kita semua. Kita harus berjaga-jaga supaya kasih kita kepada Tuhan dan kepada manusia tetap bernyala. Yesus berkata,

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan ; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41).

Paulus mengingatkan kita tentang tujuan yang semestinya dikejar orang Kristen.

“Tujuan nasehat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas” (1 Timotius 1:5).

Seseorang boleh secara pura-pura menyatakan kasih, sedangkan hatinya tidak sungguh-sungguh. Dia berbicara dan mengakui kasihnya yang besar tetapi buktinya tidak terlihat. Rasul Yohanes berkata,

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Kasih kepada Allah dan kepada manusia terbukti dalam perbuatan dan pelayanan. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya,

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15),

dan,

“Dengan demikian semua orang tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

Menurut nas ini kasih yang benar diperlihatkan apabila kita berbuat sesuatu, yaitu mentaati perintah Kristus dan mempraktikkan kasih kepada saudara-saudara seiman. Sekiranya kita tidak melakukan dua hal ini, sudah jelas kasih kita tidak tulus ikhlas dan kita hanya menipu diri. Apakah Anda taat kepada perintah Tuhan? Jikalau tidak, jangan  mengaku diri mengasihi Tuhan karena perbuatan Anda menghambarkan pengakuan itu. Apakah Anda memperlakukan orang lain dengan kasih yang sungguh-sungguh yang dibuktikan dalam perbuatan?

Kasih Kristus Tidak Mementingkan Diri, Melainkan Mementingkan Orang Lain, Dan Bersedia Memberi

Paulus berkata bahwa Kristus begitu mengasihi dia, dan termasuk semua orang, sehingga Ia mengorbankan diri-Nya bagi kita.

“Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

Hanyalah kasih yang tidak ternilai boleh menggerakkan seseorang untuk menyerahkan dirinya bagi oang lain, terlebih lagi kalau mereka tidak berminat membalas kasihnya. Itulah kasih Kristus menurut rasul Paulus.

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (Roma 5:6).

Tertulis pula dalam Efesus 5:25,

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”

Kepada murid-murid-Nya Kristus berkata,

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34).

Tercatat dalam 1 Korintus 13 suatu penguraian kasih dalam ciri-cirinya. Termasuk dalam sifat kasih yang benar adalah,

“..Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri” (ayat 4,5).

Orang yang tidak mau memberi, ternyata tidak memiliki kasih yang abadi. Orang yang memegahkan diri sambil menganggap yang lain rendah, ternyata tidak memiliki kasih sejati. Jemaat di Makedonia meminta Paulus menerima dana mereka untuk orang miskin di Yerusalem walaupun mereka sendiri dalam keadaan sangat minus. Perbuatan mereka adalah tanda kasih yang sungguh-sungguh dan sangat luas.(1 Kor.8:1-5). Karena mereka melupakan keperluan diri dan benar-benar mempedulikan keadaan saudara-saudara seiman, mereka memberi supaya keperluan orang miskin di Yerusalem dicukupi.

Jikalau kita tidak mengerti kasih yang benar menurut Alkitab dan tidak mengikuti kasih Kristus dalam hidup sehari-hari, banyak persoalan akan timbul yang sulit kita hadapi. Kita perlu mempraktikkan kasih dalam rumah tangga supaya semua anggota keluarga mengenal kasih abadi dan mengalami berkatnya. Kasih akan memperlancar hubungan anggota rumah tangga dan membereskan banyak persoalan yang muncul dari waktu ke waktu. Kasih akan menyelesaikan persoalan-persoalan yang melanda jemaat dan sering menghancurkan hubungan saudara-saudara seiman. Hampir semua persoalan itu dapat dipecahkan dan diatasi dengan mempraktikkan kasih persaudaraan.

Apakah Anda sedang mencontoh kasih Kristus? Apakah Anda mengasihi Allah dan kebenaran-Nya? Apakah Anda mengasihi jiwa diri dan ingin diselamatkan? Marilah kita mengikuti jejak Kristus dalam kasih yang abadi dan sempurna.

Ditulis oleh Colin McKee. Hubungi dia melalui email.