Mengapa Orang Jahat Berhasil?

Seringkali di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen kita mengalami banyak tantangan dan kesusahan.  Seringkali kita kecewa dan iman kita menjadi lemah. Walaupun kita berusaha hidup sesuai dengan firman Allah sebaik mungkin, kita tidak minum mabuk, tidak berbuat zinah, tidak mencuri, rajin ikut ibadah, berbuat baik kepada orang lain, dan sebagainya  namun rupanya kita tidak mendapat berkat apa-apa dari Tuhan.  Sedangkan kita melihat orang lain yang sering menipu, minum mabuk, berbuat zinah, jarang ikut ibadah, namun rupanya dia sering berhasil di dalam kehidupannya dan memperoleh banyak berkat.

Mungkin ada orang yang pernah berkata kepada saudara, “Saya bukan anggota jemaat Kristus, saya jarang ikut ibadah, namun Allah banyak memberkati saya.”  Dan saudara melihat bahwa memang mereka memperoleh banyak berkat dari Allah.  Kehidupan mereka berjalan dengan baik.  Dan saudara melihat kehidupanmu sendiri yang penuh dengan kesusahan, penderitaan, dan kekurangan. Mungkin saudara mengalami banyak musibah penyakit dan kerugian walaupun saudara rajin berbuat baik, rajin ikut sembahyang dan rajin hidup sesuai dengan firman Allah.  Terus saudara berpikir, “Apa gunanya saya rajin melayani Tuhan kalau tidak pernah ada berkat dari Tuhan.  Kalau orang lain di luar Kristus memperoleh banyak berkat, untuk apakah saya setia kepada Allah kalau Allah tidak pernah memberkati saya?”  Dan imanmu mulai goyang.

Terus terang, ini suatu soal yang cukup rumit dan saya mengaku bahwa saya tidak mempunyai semua jawaban.  Pada saat-saat itu imanmu sedang dicobai, apakah saudara sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu atau apakah saudara mengasihi dunia ini saja?  Kita harus percaya kepada Allah bahwa pada akhirnya, Allah akan memberkati kita dengan luar biasa asal kita tetap setia.

Marilah kita membaca kitab Ayub fasal 1 dan 2.  Kita melihat bahwa Ayub orang yang paling kaya di sebelah Timur.  Dia juga mempunyai sepuluh anak.  Tetapi di dalam satu hari dia kehilangan semua kekayaannya dan anak-anaknya semua mati pada hari itu juga.  Betapa hebat kecelakaannya!  Namun Ayub tidak mau mengutuk Allah.  Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.  Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21).

Terus sedikit waktu lagi dia ditimpa dengan bisul yang menutupi seluruh badannya dari telapak kakinya sampai batu kepalanya. Itulah penyakit yang sangat mengerikan. Akhirnya isteri Ayub membujuk dia untuk mengutuk Allah dan mati, tetapi apakah jawaban Ayub?  “Engkau berbicara seperti perempuan gila!  Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).

Ayub fasal 1 dan 2 menunjukkan bahwa ini semua merupakan pencobaan dari Iblis untuk mencobai iman Ayub apakah dia melayani Allah dengan hati nurani sejati atau hanya karena Allah memberkati dia.  Ayub akhirnya lulus pencobaan itu dan Allah memberkati dia dengan jauh lebih banyak (Ayub 42:10-17).

Tetapi di dalam Alkitab banyak orang benar bergumul dengan masalah ini: Kenapa kelihatannya orang jahat berhasil dalam kehidupannya sedangkan orang benar tidak? Raja Salomo juga memperhatikan “Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini:  ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya….Ada suatu kesiasiaan yang terjadi di atas bumi: ada orangorang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar.  Aku berkata: ‘Inipun sia-sia!’” (Pengkhotbah 7:15; 8:14).

Asaf juga bergumul dengan masalah ini. Boleh membaca seluruh Mazmur 73 untuk mengerti lebih baik pergumulannya yang mungkin mirip pergumulan saudara mengenai masalah ini.  Misalnya Asaf berkata, “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain” (Mzm. 73:3-5); “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka bertambah harta benda dan senang selamanya!” (ay. 12).  Jadi Asaf juga bergumul dengan masalah ini.  Ini bukan masalah yang baru tetapi masalah yang ada sejak dahulu.  Asaf begitu kecewa melihat keberhasilan orang fasik sehingga dia berkata, “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi” (Mzm. 73:13-14).  Asaf rajin melayani Allah dan hidup sesuai dengan firmanNya namun dia mengalami banyak kesulitan dan penderitaan. Dia menganggap itu semua sia-sia saja. Tetapi apakah jawaban Asaf untuk masalah ini?  Asaf berkata, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka… Kaujatuhkan mereka sehingga hancur, betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan” (Mzm. 73:1619).  Jawabannya adalah di situ.  Walaupun orang jahat berhasil dalam kehidupan ini, pada akhirnya mereka akan dibinasakan di dalam api neraka kalau mereka tidak bertobat, sedangkan orang benar akan masuk ke dalam sorga.  Itulah yang harus menjadi pegangan kita.

Nabi Yeremia juga bergumul dengan soal ini.  Bisa membaca Yeremia 12:1-13.  Yeremia bertanya dalam ayat 1, “Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia?  Engkau membuat mereka tumbuh dan merekapun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga.”  Yeremia bertanya mengapa Allah memberkati orang jahat itu dan membuat mereka berhasil?  Allah menjawab dalam ayat 7-13 bahwa Dia akan menjatuhkan hukuman atas semua orang jahat itu.

Raja Daud juga mempunyai solusi untuk masalah ini dalam Mazmur 37:1-40.  Daud berkata, “Jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.  Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.  Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Mzm. 37:7,8).  Daud juga berkata, “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik” (ay. 16).

Yesus juga mengajar agar kita mengumpulkan harta di sorga (Mt. 6:19-21). Mungkin orang jahat bertambah kaya, tetapi kekayaannya hanya sementara saja.  Kekayaan duniawi akan hancur lenyap satu hari kelak. Tetapi kalau kita mengumpulkan harta di sorga dengan rajin melayani Allah, maka harta itu tetap ada untuk selama-lamanya.

Kenapa orang jahat diberkati?  KarenaAllah itu murah hati yang memberkati semua orang termasuk orang jahat juga.  Yesus berkata dalam Matius 5:45, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”  Yesus juga berkata dalam Lukas 6:35b, “dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orangorang jahat.”

Mungkin kita bisa memandang masalah ini dari pandangan berikut: Orang jahat menikmati kesenangan dalam kekayaan untuk sementara waktu tetapi akan disiksa selamalamanya di dalam api neraka.  Orang benar mengalami banyak kekurangan dan kesulitan sementara di bumi ini tetapi akan menikmati kesenangan kekal di sorga kelak.  Jadi kita mempunyai pilihan: Apakah kita mau bersenang-senang sementara di bumi dan disiksa selama-lamanya dalam neraka?  Atau apakah kita mau menderita sementara di bumi saja dan bersenang-senang selama-lamanya di sorga?

(Ditulis oleh David Buskirk)