NAMA JEMAAT

Kita dalam jemaat Kristus mengatakan bahwa kita berpendirian pada Alkitab saja termasuk nama untuk jemaat yang didirikan Yesus.  Memang itulah Yesus yang mendirikan jemaat itu, Dia yang punya, dan oleh karena itu Dia juga mempunyai hak untuk memberi nama kepada jemaatNya tersebut.

Sebenarnya Yesus tidak memberikan satu nama tertentu bagi jemaatNya.  Kalau kita melihat di dalam Alkitab ada banyak sebutan yang berbeda-beda untuk jemaat pada abad pertama.  Misalnya:  “JemaatKu” (Mt. 16:18); atau “jemaat” saja (Kis. 8:1); “Jalan Tuhan” (Kis. 9:2); “jemaat Allah” (1 Kor. 1:2); “jemaat Kristus” (Rom. 16:16); “tubuh Kristus” (Ef. 4:12); “jemaat dari Allah yang hidup” (1 Tim. 3:15); dan “jemaat anakanak sulung” (Ibr. 12:23).  Semua sebutan ini menguraikan jemaat yang didirikan oleh Yesus Kristus itu.

Semua nama ini Alkitabiah dan bisa digunakan.  Misalnya kalau kita mau memasang papan nama yang tertulis, “Tubuh Kristus di Urei Faisei” atau “Jemaat dari Allah yang Hidup di Kota Raja” atau “Jalan Tuhan di Serui” tidak ada masalah.  Itu semua bisa dibenarkan oleh Alkitab.

Tetapi pada umumnya hampir kita semua dalam jemaat yang didirikan oleh Yesus memakai nama “Jemaat Kristus” dari Roma 16:16 supaya konsisten, untuk menunjukkan persatuan dan kesatuan, untuk membedakan kita dari gereja-gereja lain, dan supaya kalau ada saudara seiman yang bepergian ke tempat lain dia mudah menemukan jemaat Kristus setempat. Tetapi kita tidak boleh memakai nama lain yang tidak ada di dalam Alkitab. Misalnya kita tidak boleh memakai nama seperti “Jemaat Kristus Internasional” atau “Jemaat Kristus Raja” oleh karena namanama itu tidak ada di dalam Alkitab dan merupakan nama yang dibuat manusia. Kalau iman kita memang berdasarkan firman Tuhan maka kita akan memakai nama untuk jemaat yang berdasarkan firman juga.

Di belakang nama “jemaat Kristus” kita bisa menambah nama tempatnya entah itu nama kota, lurah, desa, atau nama jalan. Misalnya kita bisa memakai nama “Jemaat Kristus di Santosa” atau “Jemaat Kristus di Sorong” atau “Jemaat Kristus di Jalan Sumatera” oleh karena “di Santosa,” “di Sorong” dan “di Jalan Sumatera” merupakan nama tempat dan itu juga sesuai dengan Alkitab.  Misalnya “Jemaat Allah di Korintus” (1 Kor. 1:2), “jemaat-jemaat di Galatia” (Gal. 1:2) atau “jemaat-jemaat di Makedonia” (2 Kor. 8:1).  Tetapi kita tidak boleh memakai nama yang bukan nama untuk tempat itu. Misalnya kita tidak boleh memakai “Jemaat Betania” atau “Jemaat Betel” atau “Jemaat Smirna” kecuali daerah atau jalan di mana jemaat itu berada memang mempunyai nama demikian.

Jadi timbul pertanyaan: “Kenapa kita memakai ‘Sidang Jemaat Kristus’?”  Nama “Sidang Jemaat Kristus” tidak ada di dalam Alkitab.  Jadi kalau kita tidak boleh memakai nama yang tidak terdapat di dalam Alkitab, kenapa sampai kita memakai nama itu?

Yang kebanyakan orang tidak tahu adalah bahwa nama “Sidang Jemaat Kristus” adalah sebutan di dalam Alkitab Terjemahan Lama.  Dalam Terjemahan Lama, Roma 16:16b berkata, “Salam sekalian sidang jemaat Kristus kepada kamu.”  Jadi waktu jemaat Kristus baru masuk ke Indonesia pada awal 60-an, maka mereka memakai nama untuk jemaat yang ada di dalam Roma 16:16 seperti di semua daerah lain di dunia.  Pada waktu itu Terjemahan Baru tidak ada.

Rupanya bahwa pada saat Terjemahan Lama diterjemahkan salah satu arti untuk kata “sidang” adalah “jemaat.”  Misalnya dalam Terjemahan Lama Matius 16:18 berkata, “Aku akan membangunkansidangKu.”  Di sini “sidang” saja yang dipakai dari pada “jemaat.”  Efesus 5:26, “supaya Ia menguduskan sidang itu,” dan 1 Timotius 3:15, “sidang Allah yang hidup.”

Seringkali juga “sidang jemaat” dipakai seperti dalam Filipi 3:6, “tentang hal usaha, aku menganiayakan sidang jemaat” atau 1 Korintus 11:22, “Atau kamu hinakankah sidang jemaat Allah?”

Di dalam Terjemahan Baru kata “jemaat” dipakai 124 di dalam Perjanjian Baru.  Di setiap ayat dalam Terjemahan Baru di mana ada kata “jemaat,” Terjemahan Lama memakai kata “sidang” saja atau “sidang jemaat” tetapi tidak ada tempat di dalam Terjemahan Lama yang memakai hanya “jemaat” saja.  Jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa pada zaman Terjemahan Lama diterbitkan maka sudah lazim memakai istilah “sidang jemaat” atau “sidang” saja untuk jemaat.  Itulah sebabnya saudara-saudara seiman yang pertama di Indonesia memakai nama “Sidang Jemaat Kristus.” Tetapi di kemudian hari oleh karena bahasa berubah sedikit demi sedikit, maka istilah “sidang jemaat” dipersingkatkan ke “jemaat” saja dan “sidang” tidak lagi dipakai dalam arti “jemaat.” “Jemaat Kristus” dalam bahasa Yunani adalah ekklesia Khristou.

Namun demikiankata ekklesia bukan istilah gerejawi dalam bahasa Yunani melainkan merupakan kata umum saja yang bisa diterjemahkan sebagai “kumpulan,” “sidang,” atau “jemaat.” Misalnya di dalam Kisah 19:32 (Terjemahan Baru) kata “kumpulan” dalam ayat itu adalah ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Juga dalam ayat 39, kata “sidang rakyat” adalah kata ekklesia, dan juga ayat 40, “kumpulan rakyat” adalah kata ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Kalau membaca fasal 19 itu sudah jelas bahwa ekklesia itu bukan jemaat orangorang kudus melainkan suatu kumpulan umum dari masyarakat.  Jadi untuk kata ekklesia diterjemahkan sebagai “sidang” atau “sidang jemaat” bisa dibenarkan. Namun demikian oleh karena di dalam Terjemahan Baru hanya memakai kata “jemaat” saja misalnya dalam Roma 16:16 diterjemahkan sebagai “jemaat Kristus” mungkin lebih baik kalau kita mengusulkan kepada para pengurus agar nama “Gereja Sidang Jemaat Kristus di Indonesia” dirubah dalam catatan pemerintah RI menjadi “Gereja Jemaat Kristus di Indonesia” supaya lebih sesuai dengan Terjemahan Baru yang kita memakai hari ini pada umumnya dan tidak ada lagi kebingungan yang terjadi antara kita atau antara orang di luar