Orang Benar dan Orang Jahat

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, Dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, Dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, Yang menghasilkan buahnya pada musimnya, Dan yang tidak layu daunnya; menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,

Apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, Begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, Tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1)

Dosa Mempunyai Jalan Menurun (ay. 1)

Perjalanan yang diuraikan di dalam mazmur ini termasuk kelanjutan dari kepercayaan, tingkah laku, dan keanggotaan. Ayat ini adalah suatu kesejajaran memang, tetapi itu adalah kesejajaran yang berkelanjutan dari pada kesejajaran yang searti.  Perhatikanlah baik-baik perjalanan yang diuraikan. Kita memandang dosa.  “Apakah salahnya untuk melihat saja?” seorang berkata. Sebentar lagi “melihat” itu menjadi mendengar karena dia memperhatikan kedayatarikan dari dosa.  “Saya perlu tahu kedua belah sisi dari kehidupan,” adalah argumen yang kadang-kadang dikemukakan. “Ini hanya latihan akademik,” orang lain mungkin katakan. Mendengar akhirnya membawa kepada belajar jalan-jalan dosa.  Orang menjadi berpengalaman.  Dengan cepat dia menjadi seorang ahli dalam kejahatan, berpengetahuan mengenai bermacammacam dosa, kedayatarikannya, dan pengalamannya. Kemudian, kecelakaan dari segala kecelakaan, dia bertumbuh untuk mencintainya.  Dia tidak bisa hidup tanpanya.  Dengan kekuatan seperti kabelkabel besi, dosa melilitkan alat penangkapnya keliling hatinya. Akhirnya, dalam pegangan maut, dia duduk dalam perkumpulan orang jahat dan hidup kehidupan dosa.

Hidup dalam Firman Allah (ay. 2)

Seorang pernah berkata bahwa seorang benar lahir dari Firman, dipimpin oleh Firman dan diberi makan oleh Firman. Kita lahir dalam Kristus oleh Firman. Kita mulai dengan Firman, karena itu membawa kelahiran baru bagi kita (2 Ptr. 1:23).  Kita diperanakkan oleh Firman kepada pengharapan baru. Kita dipimpin oleh Firman dalam kehidupan kita bagi Kristus.  Kita tidak bisa

mengetahui kehendak Allah kecuali melalui FirmanNya.  Dia tidak menuntun kita melalui campur tangan gaib, melainkan melalui pendidikan Alkitabiah. Kita dibesarkan dalam Kristus dengan memakan Firman.  Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang bertumbuh di dalam firman (2 Ptr. 3:18).  Sama seperti seorang bayi tanpa susu akan mati, seorang Kristen tanpa Firman makin memburuk. Oleh karena itu, seorang yang tidak “hidup di dalam Firman” tidak bisa mengenal kehidupan Allah.

“Seperti Pohon” (ay. 3)

Satu cara yang paling baik untuk menkomunikasikan kebenaran dan keindahan adalah memakai perbandingan. Bagaimana seorang benar seperti sebuah pohon? Untuk mulai, dia mempunyai stabilitas. Dia telah ditanam di tepi aliran air.  Angin, ombak, dan situasi keras dalam kehidupan tidak bisa mencabut akarnya atau menggoyangkannya dari kehidupannya di dalam Allah. Lagi pula, dia mempunyai makanan. Semua sumber daya yang akan diperlukannya sudah tersedia baginya. Dalam Kristus dia lengkap, memiliki semua berkat rohani.  Dia tidak memerlukan lebih banyak berkat; dia cuma memerlukan hikmat untuk mempergunakan berkat-berkat yang telah dimilikinya. Akhirnya, dia mempunyai sukses (keberhasilan).  Dia menghasilkan buah pada musimnya.  Daunnya tidak layu.  Dia akan berhasil dalam apa saja yang dilakukannya. Apakah lebihnya bisa seorang inginkan? Siapa ingin menjadi lain dari pada “sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air?”

Nilai Orang Jahat (ay. 4-6)

Bagaimanakah keadaan kehidupan orang jahat?  Bagaimanakah kehidupannya dinilai oleh mazmur ini? Dia dianggap tidak bernilai sedikitpun. Dia seperti sekam (kulit padi).  Dia tanpa hidup, tanpa nilai, dan tanpa tujuan.  Dia akan dibakar atau ditiupkan angin kondisi dan penghakiman — dalam waktu dan kekekalan.  Dia tidak mempunyai arti sedikitpun untuk Allah dan pada akhirnya tidak mempunyai arti sedikitpun untuk manusia. Secara jelas dia tidak berguna.  Dia menyadari bahwa dia tidak bisa berdiri di bawah tuntutan-tuntutan hidup; dan setelah kehidupan habis dihidupi, dia akan jatuh dibawah penghakiman Allah.  Dia merupakan kulit kosong yang dipamerkan sebagai seorang manusia.  Kehidupannya adalah kehidupan yang disia-siakan. Dia ditakdirkan untuk kebinasaan.  Dia tidak mempunyai masa depan.  Satu kepastian kehidupan ini adalah bahwa orang jahat akan binasa.  Pelanggar hidup di Jalan Malapetaka di kota “Ditakdirkan untuk Kebinasaan” entah nasibnya nyata kepadanya atau tidak.

 

Pelajaran ini diambil dari Truth for Today [Kebenaran untuk Hari Ini], surat dari Eddie Cloer tertanggal June 1, 2003 dengan judul asli, “The Righteous & the Wicked.” Diterjemahkan oleh David Buskirk.