Orang Kristen dan Keuangan

Kenapa Allah Tidak Memberkati Saya?

Sikap Bersungut-Sungut

Yang kedua adalah sikap bersungut-sungut.  Di belakang pertanyaan itu juga adalah sikap sungut-sungut, “Kenapa sampai Allah tidak memberkati saya seperti Dia memberkati orang itu?”  Kita pikir.  Kita juga harus menyadari bahwa sungut adalah dosa di hadapan Tuhan.  Allah tidak senang untuk mendengar kita bersungut-sungut. Itulah sebabnya Allah tidak senang dengan orang Israel yang keluar dari Mesir.  Mereka bersungut-sungut terus terhadap Allah.  Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:10, “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.”  Bacalah konteksnya dari 1 Korintus 10:6.  Di antara sungut juga ada termasuk penyembah berhala dan percabulan.  Kitab Bilangan penuh dengan contoh-contoh orang Israel yang bersungut-sungut melawan Tuhan.  Bacalah Bilangan 14:27-29 dan 17:5, 10 untuk contoh.

Orang Israel bersungut-sungut karena banyak hal.  Mereka tidak pernah mengucapkan syukur kepada Tuhan.  Itulah sebabnya Tuhan marah mereka.  Kalau kita hanya bersungut-sungut dengan tidak mengucapkan syukur, Allah tidak senang dengan kita.  Perjanjian Baru penuh dengan tegoran supaya kita mengucap syukur dalam segala hal (Efesus 5:20; Kol. 3:16, 17; 1 Tes. 5:18).  Kalau kita mengucap syukur, maka kita tidak akan bersungut-sungut.  Sebaliknya, orang yang bersungut-sungut tidak mengucap syukur.

Kita bisa mengucapkan keluhan-keluhan kita dengan pengucapan syukur sehingga Allah memberkati kita.  Misalnya orang Israel bersungut-sungut karena tidak ada air (Bil. 20:2-13).  Mereka bisa berkata, “Kami mengucap syukur kepadaMu, ya Tuhan, karena Engkau telah membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir.  Kami mengucap syukur karena Engkau menuntun kami di dalam padang gurun ini.  Kami mengucap syukur atas penyertaanMu.  Namun kita sudah lama berjalan-jalan dan tidak ketemu sumber air. Kami haus.  Kami mau minta supaya Engkau memberikan kepada kami air untuk diminum.  Kami mengucap syukur karena Engkau mendengarkan doa kami.”  Pasti Allah akan senang dengan doa macam begitu.

Ya, kadang-kadang kita begitu kecewa, frustrasi, dan putus asa sehingga kita mengeluarkan banyak keluhan kepada Tuhan.

Allah sudah tahu apa yang ada di dalam hati kita dan kita tidak harus sembunyi-sembunyi perasaan kita.  Kitab Mazmur juga penuh dengan mazmur yang ditulis orang yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi kita harus menyadari bahwa walaupun kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan, bahwa kita harus mengaku dosa dan kelemahan kita dan kita harus tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan Tuhan akan mendengarkan dan memberkati kita.

Lagi sikap bersungut-sungut dan perasaan kecewa atau jengkel di dalam hati kita terhadap Tuhan oleh karena Dia tidak memberkati kita sebagaimana mestinya (menurut pikiran kita) adalah sifat kesombongan dan sungut yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dan seorang Kristen yang bersikap begitu tidak akan banyak diberkati oleh Tuhan.

Sifat Kepentingan Diri Sendiri dan Iri Hati

Hal lain di belakang pertanyaan tersebut adalah sifat kepentingan diri sendiri dan iri hati.  Kita iri hati terhadap orang lain yang lebih diberkati dari pada kita.  Selanjutnya, kita mempunyai pikiran bahwa saya mau diberkati.  “Di mana berkat untuk saya?”  Kita hanya memikirkan “saya sendiri” dan “keuntungan untuk saya sendiri” dan “apa yang penting bagi saya.”  Saya mau menerima berkat.  Saya mau Allah memberkati saya.  Saya mencari keuntungan untuk saya.  Saya menjaga apa yang penting bagi saya dan itu penting bagi saya agar saya menerima berkat dari Allah.  Saya, saya, saya.  Orang itu mempunyai penyakit “saya.”

Apakah kita pernah memikirkan apa yang diinginkan Allah?  Apakah kehendak Allah? Apa yang penting bagi Allah?  Ingat waktu “saya” dibaptis, “saya” sudah mati. Dengarkanlah apa yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 2:19, 20, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Paulus berkata bahwa dia sudah mati.  Dia sudah disalibkan dengan Kristus. Sekarang itulah Kristus yang hidup di dalamnya.  Ingat, kalau kita sudah dibaptis, kita sudah mati.  Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita hidup untuk Allah. Allah itu yang penting di dalam kehidupan kita ini.  Kita harus mencari apa yang penting bagi Allah.  Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi baiklah kita duduk dan merenungkan, “Apa yang dikehendaki oleh Allah?  Apa yang diinginkan oleh Allah?  Apakah yang penting bagi Allah?  Apa yang Allah mau dari saya?”  Dan baiklah kita melakukannya.  Kalau kita mencari kepentingan Allah, nanti Allah juga akan memperhatikan kepentingan kita dan memberkati kita dengan lebih banyak lagi.  Tetapi kalau kita hanya mencari kepentingan diri kita sendiri dan tidak mencari kepentingan dari Allah, janganlah kita mengharapkan banyak berkat dari Allah.

Memuaskan Hawa Nafsu

Alasan lain Allah tidak memberkati kita adalah karena apa yang Allah berikan kepada kita, kita pergunakan untuk memuaskan hawa nafsu saja (Yak. 4:3).  Apakah kita memakai uang kita untuk membeli minuman keras, rokok, pinang, main judi, atau melakukan dosa-dosa lain?  Atau, apakah kita memberi derma sedikit saja supaya kita bisa menyimpan uang banyak untuk membeli televisi, parabola, atau alat VCD, supaya kita bisa duduk-duduk nonton-nonton daripada berdoa, mempelajari firman, atau melakukan kegiatan rohani lain?

Nah, saya tidak bermaksud bahwa membeli televisi atau parabola adalah dosa.  Kalau kita memberi kepada Allah sebagaimana Dia memberkati kita, itu bukan dosa.  Tetapi kalau kita hanya memberi sedikit saja kepada Allah pada hari Minggu, karena kita tidak punya uang, sedangkan kita menyimpan uang untuk beli hal-hal duniawi yang mewah, itu berarti kita menganggap hal-hal duniawi lebih penting.  Kita hanya mau memuaskan hawa nafsu dan keinginan kita dari pada keinginan Allah.(Bersambung)