Jadilah Seperti Barnabas

Injil Lukas

Dalam kitab Kisah Para Rasul kita membaca banyak mengenai Paulus dan Petrus, tetapi tidak begitu banyak mengenai Barnabas.  Namanya sebenarnya adalah Yusuf, tetapi rasul-rasul menyebutnya Barnabas yang berarti, “Anak Penghiburan” (Kis. 4:36).  Waktu jemaat baru di Yerusalem dalam kesulitan uang, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan uangnya kepada rasul-rasul (Kis. 4:37).

Waktu murid-murid di Yerusalem menolak Paulus oleh karena semua yang telah mereka dengar mengenai masa lalunya, itulah Barnabas yang memberitahukan mereka mengenai bagaimana Paulus menjadi seorang Kristen dan bagaimana dia menaruhkan nyawanya untuk memberitakan Injil di Damsyik (Kis. 9:26-30).

Waktu orang-orang Kristen di Antiokhia memerlukan pertolongan dengan pelayanan, jemaat di Yerusalem mengutus Barnabas (Kis. 11:22).  Itulah Barnabas yang tidak takut untuk meminta Paulus untuk membantu dengan pelayanan pada saat orang-orang lain tidak mau bantuannya oleh karena dia dahulu menganiaya orang Kristen (Kis. 11:25,26).

Itulah Barnabas yang berjalan dengan Paulus dalam perjalanan misi yang pertama (Kis. 13:2).  Waktu mereka berbicara mengenai perjalanan misi yang kedua, Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, tetapi Paulus tidak mau oleh karena Yohanes Markus meninggalkan mereka pada perjalanan yang pertama.  Jadi Paulus dan Silas mengambil satu jalan dan Barnabas dan Yohanes Markus mengambil jalan yang lain, tetapi Paulus dan Barnabas tetap bersahabat (Kis. 15:35-41).

Itulah Barnabas yang mendorong Yohanes Markus walaupun dia pernah gagal. Di kemudian hari, Paulus meminta Timotius untuk membawa Markus oleh karena “pelayanannya penting bagiku” (Kol. 4:11). Kemudian Yohanes Markus menulis Injil Markus.

Pelajaran ini diambil dari The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional] Vol. 30, dengan judul asli “Be a Barnabas,” halaman 97. Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Catatan-Catatan Mengenai Kedua Perjanjian

PENDAHULUAN

 

Kalau anda membaca Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan, maka anda akan memperhatikan bahwa Allah sering bermohon kepada pancaindera manusia:  barang-barang untuk diraba dan dilihat, barang-barang untuk didengar, dicium dan dikecap.  Barang-barang yang diwajibkan dibuat dari mutu yang tertinggi, dibuat dengan ketrampilan yang paling baik.  Semua barang ini dibuat sangat tepat sesuai dengan rancangan Allah.  Keluaran 25:9 memulai banyak petunjuk yang rinci dengan perintah Allah, “menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.”

 

Mengapa Allah Menuntut Kemegahan Demikian

Kita tahu bahwa pada dasarnya Allah tidak melihat pada kemegahan, atau apa yang dilihat manusia dengan matanya.

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati  (1 Sam. 16:7).

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Kor. 4:18).

Apakah Allah memerlukan barang-barang mewah dari bumi ini?  Apakah Dia mempunyai sejenis kelaparan yang dipuaskan oleh korban binatang?  Apakah Dia bisa dimuat ke dalam Bait Allah yang dibuat oleh batu?  Bahkan penulis-penulis Perjanjian Lama menyinggung jawaban.  Sementara meresmikan Bait Allah yang megah itu, Raja Salomo mengaku,Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini (1 Raj. 8:27; lihat juga Yes. 66:1-2; Kis. 7:48-50).

Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya.  Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? (Mzm. 50:12-13).Paulus memberitahukan orang-orang Atena hal yang sama:

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis. 17:24-25).

 

Sudah nyata, bahwa Allah tidak mempunyai keinginan atau keperluan yang khusus untuk barang-barang jasmani yang Dia wajibkan di dalam Perjanjian Lama.  Kalau begitu, mengapakah Dia mewajibkan barang-barang begitu? Oleh karena manusia memerlukan barang-barang itu untuk mempersiapkan mereka untuk Mesias yang akan datang.

Manusia duniawi memerlukan gambaran-gambaran duniawi untuk belajar kebenaran-kebenaran rohani dari Allah. Alkitab menyebut gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama “gambaran” atau “bayangan” atau “lambang” [atau “tipe” bahasa Inggris] (Kol. 2:17; Ibr. 8:5; 9:23; 10:1).  Peraturan-peraturan Perjanjian Lama sama seperti sejenis Sekolah Dasar, pendidikan dasar (Kol. 2:16-23).  Umat Allah sekarang telah meninggalkan penuntunnya dari masa mudanya dan telah bertumbuh besar menjadi dewasa di dalam Kristus (Gal. 3:23-25).

 

PAKAIAN IMAM

 

Kemajuan kepada kedewasaan bisa dilihat dalam hal pakaian.  Harun dan keturunannya wajib memakai pakaian istimewa apabila melayani di dalam Bait Allah.

Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan. Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli . . . membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku (Kel. 28:2-3 lihat juga Kel. 28:40-43; 39:1-43). Lagi, ada petunjuk-petunjuk yang rinci dan lengkap.  Pakaian-pakaian itu termasuk tutup dada, baju efod (pakaian rompi luar), gamis, kemeja, serban, ikat pinggang, dan celana dalam.  Bahkan giring-giring (seperti lonceng kecil) yang dipakai oleh imam besar diwajibkan.  Kalau tidak memakai giring-giring itu nanti imam besar mati (Kel. 28:33-35). Sama seperti bahan-bahan mewah lain dari Bait Allah, bahan-bahan ini menunjukkan, bahwa Allah berhak menerima yang paling baik.  Tentu seperti gambaran, mereka hanya memberikan pandangan sekilas dari kemuliaanNya.  Yesus mengingatkan kita bagaimana pakaian-pakaian mewah dari Salomo kelihatannya miskin dibanding sebuah bunga sederhana dari ciptaan Allah (Mt. 6:29).  Kemuliaan Yesus sendiri tidak berkaitan dengan pakaian istimewa apalagi pakaian imam resmi.  KemuliaanNya adalah kasih karunia, kebenaran dan kuasa (Yoh. 1:14-18; 2:11)

 

Berdiam dalam Pokok Itu?

 

Tidak ada ayat Alkitab yang memberitahukan kepada kita secara persis, bahwa pakaian imam tidak termasuk pada Perjanjian Kristus yang Baru.  Ada orang yang mungkin memakai kenyataan ini untuk mendukung kemauannya untuk memakai pakaian imam (atau sebuah seragam sejenisnya).  Tentu Allah tidak harus membuat daftar panjang dari segala perubahan.  Dari pada itu, Dia menjelaskan secara terus terang, bahwa Perjanjian Kristus yang Baru telah mengganti Perjanjian Lama (Ibr. 8; Gal. 4).  Ini berarti semua peraturan-peraturan itu telah berakhir, karena Musa berkata, bahwa semuanya termasuk di dalam Perjanjian itu (“Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini” lihat Kel. 24:8).  Lagi pula imamat Kristus telah mengganti imamat yang lama (Ibr. 7, 10).  Jikalau tidak ada lagi imam-imam atau orang-orang Lewi dari peraturan lama itu, maka peraturanperaturan dan ketetapan-ketetapan istimewa dari imamat itu juga tidak ada lagi, termasuk pakaian mereka yang istimewa.

Bolehkah kita mengambil kesimpulan, bahwa uraian-uraian para imam di dalam Perjanjian Lama tidak mempunyai arti bagi kita hari ini?  Segala firman dari Alkitab berguna.  Bahkan gambaran-gambaran ini yang suram mempunyai arti penting:  Hanya imam-imam yang benar yang berpakaian dengan pantas boleh menghadap Allah.  Setiap anggota keluarga Allah hari ini adalah seorang imam (1 Petrus 2:5,9).  Apakah yang seharusnya kita pakai?  Memang, ada petunjuk-petunjuk mengenai pakaian yang pantas (pada umumnya mengenai tidak berpandanan terlalu kaya! 1 Tim. 2:9,10; 1 Pet. 3:3-5).  Ada peringatan yang keras mengenai menarik perhatian dengan memakai pakaian-pakaian rohani yang istimewa dan gelar-gelar (Mt. 23:5-10).  Namun demikian kita seharusnya mempertimbangkan lebih dari pada barang-barang jasmani, karena “bayangan-bayangan” Hukum Taurat biasanya menunjuk lebih tinggi kepada sesuatu penggenapan rohani.  Mencari pakaian Perjanjian Baru yang demikian, kita dengan cepat belajar, bahwa kita hanya boleh menghadap Allah jikalau kita ditutupi dengan pantas.

Kita ingat perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mt. 22:1-14) di mana ada seorang laki-laki yang dilemparkan keluar karena pakaiannya tidak pantas.  Mencari lebih lanjut, kita melihat, bahwa pakaian yang diperlukan bersifat rohani.  “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal. 3:27).  Karena kita telah menjadi umatNya secara imam, kita terus-menerus “menanggalkan” dosa dan “mengenakan” Kristus (Kol. 3:5-14).

Ya, ada sejenis kediaman:  tidak ada perintah tertentu yang melarang pakaian-pakaian imam.  Lagi pula tidak ada perintah bagi kita untuk memakai pakaian kuno itu.  Tetapi ini bukan kediaman yang kosong.  Mereka bersuara keras karena konteksnya.  Pakaian yang lama itu berkaitan dengan perjanjian yang lama dan imamat yang lama.  Tulisan para rasul menjelaskan dengan terus terang, bahwa kita hidup di dalam konteks perubahan dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru.  Jadi “kediaman-kediaman” ini mengatakan banyak sekali, teristimewa kalau Perjanjian Baru tidak berdiam tentang pakaian kita yang baru.  Kita diperintahkan dengan jelas untuk mengenakan pakaian yang paling kudus dari semua pakaian:  “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus!” (Rom. 13:14).  Oleh karena yang baru jauh lebih baik, maka tidak ada lagi perlu untuk sejenis seragam imam yang jasmani.

 

UKUPAN

 

Pada saat Allah memberikan perjanjian yang pertama, Dia bisa saja menolak pembakaran ukupan sebagai kegiatan penyembahan berhala oleh orang-orang kafir.  Tulisan-tulisan kuno menunjukkan, bahwa pembakaran ukupan itu mempunyai pergunaan yang lama oleh orang Arab, orang Asiria, orang Babilon, orang Kanaan, dan orang Mesir (banding Kej. 37:25; 1 Raj. 11:8 dan 2 Taw. 30:14).  Akan tetapi Allah mempunyai maksudNya sendiri, jadi Allah membawa ukupan istimewa ke dalam perjanjian yang diberikanNya kepada Musa.  Kenyataan-kenyataan Perjanjian Baru membuktikan, bahwa pembakaran ukupan adalah sebagian dari penyembahan kepada Allah di dalam Bait Allahitu.  (Itu tidak pernah diuraikan sebagai sebuah pembantu untuk membuat suasana lebih baik untuk menyembah atau membuat tempat itu berwangi.)

Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.  Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun (Kel. 30:7-8).

Bahkan kalau ukupan dicampurkan dengan persembahan-persembahan lain, itu tetap, “bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 2:2).  Dalam hal ini pembakaran ukupan mempunyai maksud yang seimbang dengan korban binatang yang adalah “korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 1:9).

Tetapi, pada saat Kristus memperkenalkan PerjanjianNya yang Baru, ukupan hampir-hampir tidak disebutkan.  Yesus tidak melakukan sesuatu secara kebetulan.  SistemNya rohani yang baru tidak mempunyai tempat untuk sejenis sembahyang jasmani begitu.  Ukupan itu hanya boleh dipersembahkan oleh para imam Lewi (Bil. 16:1-40; 2 Taw. 26:16-21).  Orang-orang lain dilarang keras meniru atau menggunakan resepnya yang khusus (Kel. 30:34-38). Tempat benar untuk mempersembahkannya adalah di Kemah Suci atau Bait Allah di atas mezbahnya sendiri (Kel. 30:1-10; Lk. 1:9-10).  Juga ukupan itu digunakan sekali setahun di dalam tempat maha kudus (Im. 16:12-13). Tempat-tempat lain dikutuk (1 Raj. 22:43 banding Ul. 12:1-11).  Jadi pada saat Bait Allah yang lama, mezbah, dan imamat berakhir, maka ukupan yang berkaitan dengan mereka berakhir juga.(Bersambung)

 

© 1998 World Bible School, P.O. Box 9346, Austin, TX 78766 USA Diterjemahkan  oleh David Buskirk dengan izin

 

Baptisan Kembali

Hampir semua gereja mempraktekkan baptisan dalam salah satu macam.  Hampir semua orang yang menyebut dirinya orang Kristen pernah dibaptis.  Jadi dari orang di luar jemaat Kristus timbul pertanyaan, “Kenapa saya harus dibaptis kembali?”  Ada beberapa jawaban tergantung latar belakang orang tersebut.

Kalau dia dibaptis waktu masih bayi atau anak kecil, maka dia harus menyadari bahwa baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab. Yesus berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” dan Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis” dan Paulus berkata, “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Mk. 16:16; Kis. 2:38; Rom. 10:10 bd. Kis. 8:36,37).  Bisakah seorang bayi (yang belum tahu berbicara) percaya, mengaku dan bertobat?  Apakah bayi itu meminta untuk dibaptis, atau apakah itulah keputusan orang tuanya saja?

Alkitab menunjukkan bahwa baptisan adalah untuk orang remaja atau dewasa yang sudah mengerti Injil dan bisa mengambil keputusan sendiri untuk menjadi murid Kristus melalui baptisan.  Jadi baptisan bayi tidak dibenarkan oleh Alkitab dan tidak diterima oleh Allah.  Orang yang pernah dibaptis sebagai bayi atau anak kecil harus dibaptis kembali sesuai dengan kebenaran firman Allah untuk diselamatkan.

Kalau orang pernah dipercik sebagai baptisan, maka dia harus menyadari bahwa percikan sebenarnya bukan baptisan.  Baptisan berasal dari kata bahasa Yunani baptizo yang berarti, “membenamkan, mencelupkan, menenggelamkan.”  Rhantizo adalah kata bahasa Yunani yang berarti “memerciki,” jadi kalau Allah mau agar kita dipercik, pasti dalam Alkitab kita akan diperintahkan untuk dirhantis dan bukan di-baptis.  Bahwa baptisan berarti membenamkan jelas dari Roma 6:4 dan Kolose 2:12 di mana Paulus menguraikan baptisan sebagai suatu kuburan, “kamu dikuburkan dalam baptisan.”

Itulah kejahatan di mata Allah untuk merubah bentuk baptisan yang telah ditetapkanNya.  Siapakah gerangan kita sehingga kita bisa meniadakan firman Allah yang Mahakuasa untuk menegakkan peraturan kita sendiri dan kemudian menyuruh Allah untuk menerima peraturan kita sendiri dengan mengatakan, “Semuanya sama saja”?

Rektor Universitas mewajibkan semua mahasiswa untuk menulis skripsi untuk wisuda.  Ada satu mahasiswa yang menyerahkan satu halaman tulisan kepada Rektor sebagai “skripsinya.”  Rektor berkata, “Apa ini?  Ini bukan skripsi.”  Mahasiswa menjawab, “Waktu saya di SMA, kepala sekolah berkata untuk menulis skripsi cukup untuk membaca satu buku dan menulis satu halaman mengenai buku itu.  Kepala sekolah berkata bahwa itu juga skripsi dan harus diterima oleh Rektor, dan sebenarnya semuanya sama saja asal ada tulisan.”  Apakah Rektor akan menerimanya?  Apakah mahasiswa itu akan wisuda dan menerima ijazah?  Tentu tidak!

Jadi kita harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan.  Jadi semua orang yang pernah dipercik, sebenarnya belum dibaptis, mereka hanya di-rhantis.  Mereka harus dibenamkan di dalam air sebagai baptisan untuk diterima oleh Allah dan memperoleh keselamatan.

Bagaimanakah dengan orang yang sudah dibenamkan ke dalam air sebagai baptisan dalam nama Tuhan Yesus Kristus?  Kalau dia dibaptis untuk menjadi anggota jemaat Kristus yang asli dan tidak bergabung dengan gerejagereja denominasi yang didirikan oleh manusia, maka dia sudah diselamatkan. Tetapi kalau dia dibaptis untuk bergabung dengan gereja-gereja lain, maka sebenarnya dia telah menerima Injil yang palsu dan belum diselamatkan melainkan terkutuk (Gal. 1:6-9). Karena bagian dari Injil yang benar itu adalah bahwa orang yang bertobat dan dibaptis ditambahkan Tuhan kepada jemaatNya (Kis2:47).

Orang itu harus menyadari bahwa Yesus hanya mendirikan satu jemaat saja (Mt. 16:18). Lagi pula Alkitab mengaku adanya hanya satu jemaat (atau tubuh) saja (Ef. 1:23; 4:4; Rom. 12:4,5; 1 Kor. 12:12; Kol. 3:15).  Tambah pula, Alkitab mengutuk orang yang mengadakan perpecahan dan perselisihan dengan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 6:19-21). Lagi pula mereka yang mengadakan perpecahan dan mengikut manusia dari pada Kristus dan memakai nama-nama manusia juga dikutuk (1 Kor. 1:10-13).  Yesus berdoa supaya semua orang yang percaya kepadaNya menjadi satu sama seperti Dia dan BapaNya adalah satu (Yoh. 17:20-23)

Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga” dan “Mengapa kamu berseru kepadaKu: ‘Tuhan, Tuhan,’ padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Mt. 7:21; Lk. 6:46).  Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan bertobat dari segala dosanya akan melakukan kehendak Allah Bapa dan melakukan apa yang dikatakan Yesus.  Mereka akan mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaatNya yang asli.

Apakah pemerintah Indonesia akan menerima pengangkatan seorang anggota gerakan pengacau keamanan sebagai gubernur, sekalipun dia memenuhi semua syarat dan bersumpah untuk menegakkan seluruh undang-undang dasar negara, sedangkan dia masih terlibat di dalam gerakan tersebut?  Tentu tidak!

Jadi mereka yang “bertobat” dan dibaptis, sekalipun dalam nama Yesus, untuk bergabung dengan gereja-gereja lain tidak diselamatkan.  Sebenarnya mereka bergabung dengan kelompok pemberontak yang melawan Allah dengan mempertahankan nama dan ajaran gereja mereka sendiri yang tidak sesuai dengan firman Allah, dan mempertahankan perpecahan dan perselisihan antara umat Kristen yang tidak sesuai dengan perkataan Yesus Kristus ataupun kehendak Allah. Mereka itu menolak untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan jemaat Kristus yang satu itu.  Tentu Allah tidak akan menerima pertobatan atau baptisan mereka itu.

Lagi pula dalam 1 Korintus 12:13, Paulus berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua…telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Walaupun mungkin gereja Pentakosta, Advent, Baptis, GIDI, dan gereja-gereja lain mempraktekkan baptisan selam, namun kami di dalam jemaat Kristus menolak bahwa gereja itu semua merupakan satu tubuh.   Kalau orang yang sudah dibaptis di dalam gereja Pentakosta, misalnya, kami terima sebagai anggota jemaat Kristus tanpa dibaptis lagi, maka itu sama dengan kami menyetujui bahwa gereja Pentakosta sama dengan jemaat Kristus.  Dan itu tidak benar.  Keduanya gereja yang lain dan sangat beda dalam ajaran.  Jadi walaupun seorang sudah dibaptis selam di dalam gereja lain, maka dia harus dibaptis lagi menjadi anggota satu tubuh yang benar itu, yaitu jemaat Kristus yang asli.

Ada banyak orang yang mempunyai bermacam-macam keberatan.  Ada yang berkata bahwa baptisan hanya merupakan lambang saja, jadi tidaklah terlalu penting. Memang baptisan adalah lambang tetapi sangat penting.  Itu melambangkan kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus yang hanya bisa dilambangkan oleh pertobatan dan pembenaman di dalam air.  Percikan tidak melambangkan apa-apa.  Sang Merah Putih adalah lambang Republik Indonesia.  Seorang tidak bisa merubahnya menjadi Sang Kuning Hijau dan berkata bahwa sebenarnya sama saja, tidaklah begitu penting.

Ada yang berkata bahwa baptisan adalah meterai keselamatan jadi kalau orang dibaptis ulang maka itu merusakkan meterai itu. Tetapi kalau orang memasang meterai palsu atas surat berharga, maka surat itu tidak sah karena meterainya tidak benar.  Surat itu harus dibuat lagi dengan meterai yang asli barulah surat itu bisa dinyatakan sah. Demikian juga orang yang menerima baptisan palsu, yang tidak sesuai dengan firman Allah, maka baptisan itu tidak sah dan tidak merupakan jaminan keselamatan.  Orang itu harus menerima baptisan yang benar yang sesuai dengan firman Allah baru bisa dinyatakan sah dan merupakan jaminan keselamatan.

Ada yang berkata bahwa orang berbuat dosa kalau dibaptis ulang.  Dosa adalah pelanggaran firman Allah (1 Yoh. 3:4).  Jadi sebenarnya itulah dosa untuk menerima baptisan yang tidak sesuai dengan firman Allah.  Orang itu harus bertobat dari semua dosanya, termasuk baptisan yang tidak benar itu, dan dibaptis dengan baptisan yang benar.

Yang terakhir ada satu contoh di dalam Alkitab di mana orang dibaptis ulang.  Bacalah Kisah 19:1-7.  Orang-orang ini di Efesus menerima baptisan Yohanes.  Nah, baptisan Yohanes adalah baptisan yang ditetapkan Allah pada saat Yohanes Pembaptis muncul di padang gurun.  Tetapi setelah Yesus mati di kayu salib, maka baptisan Yohanes itu bukanlah baptisan yang sah lagi.  Orang sekarang harus dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa.  Jadi waktu mereka ini mendengar hal itu maka mereka dibaptis ulang.

Kalau Allah tidak lagi menerima baptisan Yohanes, baptisan yang ditetapkan oleh Allah sendiri, melainkan menyuruh mereka untuk dibaptis lagi, apakah Allah akan menerima baptisan yang ditetapkan oleh manusia lain? Semua orang di zaman Kristen ini yang tidak dibaptis menurut kebenaran firman Allah, wajib dibaptis lagi sesuai dengan firman Allah untuk memperoleh keselamatan

NAMA JEMAAT

Kita dalam jemaat Kristus mengatakan bahwa kita berpendirian pada Alkitab saja termasuk nama untuk jemaat yang didirikan Yesus.  Memang itulah Yesus yang mendirikan jemaat itu, Dia yang punya, dan oleh karena itu Dia juga mempunyai hak untuk memberi nama kepada jemaatNya tersebut.

Sebenarnya Yesus tidak memberikan satu nama tertentu bagi jemaatNya.  Kalau kita melihat di dalam Alkitab ada banyak sebutan yang berbeda-beda untuk jemaat pada abad pertama.  Misalnya:  “JemaatKu” (Mt. 16:18); atau “jemaat” saja (Kis. 8:1); “Jalan Tuhan” (Kis. 9:2); “jemaat Allah” (1 Kor. 1:2); “jemaat Kristus” (Rom. 16:16); “tubuh Kristus” (Ef. 4:12); “jemaat dari Allah yang hidup” (1 Tim. 3:15); dan “jemaat anakanak sulung” (Ibr. 12:23).  Semua sebutan ini menguraikan jemaat yang didirikan oleh Yesus Kristus itu.

Semua nama ini Alkitabiah dan bisa digunakan.  Misalnya kalau kita mau memasang papan nama yang tertulis, “Tubuh Kristus di Urei Faisei” atau “Jemaat dari Allah yang Hidup di Kota Raja” atau “Jalan Tuhan di Serui” tidak ada masalah.  Itu semua bisa dibenarkan oleh Alkitab.

Tetapi pada umumnya hampir kita semua dalam jemaat yang didirikan oleh Yesus memakai nama “Jemaat Kristus” dari Roma 16:16 supaya konsisten, untuk menunjukkan persatuan dan kesatuan, untuk membedakan kita dari gereja-gereja lain, dan supaya kalau ada saudara seiman yang bepergian ke tempat lain dia mudah menemukan jemaat Kristus setempat. Tetapi kita tidak boleh memakai nama lain yang tidak ada di dalam Alkitab. Misalnya kita tidak boleh memakai nama seperti “Jemaat Kristus Internasional” atau “Jemaat Kristus Raja” oleh karena namanama itu tidak ada di dalam Alkitab dan merupakan nama yang dibuat manusia. Kalau iman kita memang berdasarkan firman Tuhan maka kita akan memakai nama untuk jemaat yang berdasarkan firman juga.

Di belakang nama “jemaat Kristus” kita bisa menambah nama tempatnya entah itu nama kota, lurah, desa, atau nama jalan. Misalnya kita bisa memakai nama “Jemaat Kristus di Santosa” atau “Jemaat Kristus di Sorong” atau “Jemaat Kristus di Jalan Sumatera” oleh karena “di Santosa,” “di Sorong” dan “di Jalan Sumatera” merupakan nama tempat dan itu juga sesuai dengan Alkitab.  Misalnya “Jemaat Allah di Korintus” (1 Kor. 1:2), “jemaat-jemaat di Galatia” (Gal. 1:2) atau “jemaat-jemaat di Makedonia” (2 Kor. 8:1).  Tetapi kita tidak boleh memakai nama yang bukan nama untuk tempat itu. Misalnya kita tidak boleh memakai “Jemaat Betania” atau “Jemaat Betel” atau “Jemaat Smirna” kecuali daerah atau jalan di mana jemaat itu berada memang mempunyai nama demikian.

Jadi timbul pertanyaan: “Kenapa kita memakai ‘Sidang Jemaat Kristus’?”  Nama “Sidang Jemaat Kristus” tidak ada di dalam Alkitab.  Jadi kalau kita tidak boleh memakai nama yang tidak terdapat di dalam Alkitab, kenapa sampai kita memakai nama itu?

Yang kebanyakan orang tidak tahu adalah bahwa nama “Sidang Jemaat Kristus” adalah sebutan di dalam Alkitab Terjemahan Lama.  Dalam Terjemahan Lama, Roma 16:16b berkata, “Salam sekalian sidang jemaat Kristus kepada kamu.”  Jadi waktu jemaat Kristus baru masuk ke Indonesia pada awal 60-an, maka mereka memakai nama untuk jemaat yang ada di dalam Roma 16:16 seperti di semua daerah lain di dunia.  Pada waktu itu Terjemahan Baru tidak ada.

Rupanya bahwa pada saat Terjemahan Lama diterjemahkan salah satu arti untuk kata “sidang” adalah “jemaat.”  Misalnya dalam Terjemahan Lama Matius 16:18 berkata, “Aku akan membangunkansidangKu.”  Di sini “sidang” saja yang dipakai dari pada “jemaat.”  Efesus 5:26, “supaya Ia menguduskan sidang itu,” dan 1 Timotius 3:15, “sidang Allah yang hidup.”

Seringkali juga “sidang jemaat” dipakai seperti dalam Filipi 3:6, “tentang hal usaha, aku menganiayakan sidang jemaat” atau 1 Korintus 11:22, “Atau kamu hinakankah sidang jemaat Allah?”

Di dalam Terjemahan Baru kata “jemaat” dipakai 124 di dalam Perjanjian Baru.  Di setiap ayat dalam Terjemahan Baru di mana ada kata “jemaat,” Terjemahan Lama memakai kata “sidang” saja atau “sidang jemaat” tetapi tidak ada tempat di dalam Terjemahan Lama yang memakai hanya “jemaat” saja.  Jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa pada zaman Terjemahan Lama diterbitkan maka sudah lazim memakai istilah “sidang jemaat” atau “sidang” saja untuk jemaat.  Itulah sebabnya saudara-saudara seiman yang pertama di Indonesia memakai nama “Sidang Jemaat Kristus.” Tetapi di kemudian hari oleh karena bahasa berubah sedikit demi sedikit, maka istilah “sidang jemaat” dipersingkatkan ke “jemaat” saja dan “sidang” tidak lagi dipakai dalam arti “jemaat.” “Jemaat Kristus” dalam bahasa Yunani adalah ekklesia Khristou.

Namun demikiankata ekklesia bukan istilah gerejawi dalam bahasa Yunani melainkan merupakan kata umum saja yang bisa diterjemahkan sebagai “kumpulan,” “sidang,” atau “jemaat.” Misalnya di dalam Kisah 19:32 (Terjemahan Baru) kata “kumpulan” dalam ayat itu adalah ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Juga dalam ayat 39, kata “sidang rakyat” adalah kata ekklesia, dan juga ayat 40, “kumpulan rakyat” adalah kata ekklesia di dalam bahasa Yunani.  Kalau membaca fasal 19 itu sudah jelas bahwa ekklesia itu bukan jemaat orangorang kudus melainkan suatu kumpulan umum dari masyarakat.  Jadi untuk kata ekklesia diterjemahkan sebagai “sidang” atau “sidang jemaat” bisa dibenarkan. Namun demikian oleh karena di dalam Terjemahan Baru hanya memakai kata “jemaat” saja misalnya dalam Roma 16:16 diterjemahkan sebagai “jemaat Kristus” mungkin lebih baik kalau kita mengusulkan kepada para pengurus agar nama “Gereja Sidang Jemaat Kristus di Indonesia” dirubah dalam catatan pemerintah RI menjadi “Gereja Jemaat Kristus di Indonesia” supaya lebih sesuai dengan Terjemahan Baru yang kita memakai hari ini pada umumnya dan tidak ada lagi kebingungan yang terjadi antara kita atau antara orang di luar

JAMINAN BESAR: TIDAK ADA LAGI HUKUMAN

Dengan memasuki Roma 8 seseorang dengan cepat menemukan pasal yang paling menghibur dalam buku Roma, barangkali dalam keseluruhan Alkitab!  Urutan berikutnya adalah Mazmur 23, Yohanes 14 dan 1 Korintus 15. Barangkali merupakan bagian kemuliaan yang sangat bertentangan dengan kepedihan dalam pasal tujuh.  “Wah, aku orang yang celaka ini!  Siapakah gerangan akan melepaskan aku keluar dari dalam tubuh maut ini?” (Roma 7:24).  Roma 7:14-25 nampaknya menggambarkan peperangan yang tidak berpengharapan seperti “tabiat duniawi berlawanan dengan Roh” (Galatia 5:17).  Tetapi dalam Galatia 5:16 Paulus baru berkata, “Berjalanlah kamu dengan Roh, niscaya kehendak tabiat duniawi tiada akan kamu genapkan.”  Roma 8:1-7 adalah penjelasan ilahi untuk ayat tersebut.

Kemerdekaan yang ditekankan dalam Roma adalah: Kemerdekaan dari murka Allah oleh kasih Allah (5:1-11); kemerdekaan dari dosa melalui baptisan (6:1-14); kemerdekaan dari Taurat melalui kematian Kristus (7:1-6); dan kemerdekaan dari maut melalui Roh (8:1-11).  Sungguh, “barang di mana ada roh Tuhan, di situlah kebebasan” (2 Korintus 3:17). Kita telah dipanggil kepada kebebasan (Galatia 5:13).

Perkataan “Roh” tidak terdapat di dalam Roma 7 tetapi dalam pasal 8 banyak terdapat. Demikian juga kalau kita mencoba berperang melawan daging tanpa Roh, kita akan kalah dalam peperangan.  Jika kita memperlengkapi diri kita dengan Roh sebagai “hukum kehidupan” kita akan menjadi “lebih dari penakluk.”  Berkat besar tersedia dan diberikan dalam Roma 8; saya menghitung 21 tetapi masih lebih dari itu.  Pertama kali dikatakan, “tidak ada hukuman,” dan selanjutnya dikatakan dengan hidup, damai, dihidupkan kembali, hak menjadi anak, saksi, pewaris, pengharapan kemuliaan yang akan datang, semuanya bekerja untuk kebaikan kita, dan Tuhan untuk kita.  Apa lagi yang dapat saudara temukan?

Hukum Lama dikutuk dengan menyatakan dosa dan penghakiman di dalam Kristus semuanya itu tidak ada lagi!  Kepada kita ditunjukkan bahwa sekarang kita di dalam “tubuh yang mati itu” (7:24).  Ingatlah bahwa Hukum membuat manusia melihat keberdosaannya dan ketidakberpengharapannya.  “Tidak ada lagi hukuman” tidak berarti bahwa kita sama sekali melarikan diri dari Hari Penghakiman tetapi tidak lagi mendapat hukuman pada Hari Penghakiman.

Di dalam Kristus kita harus hidup sebagai orang yang diampuni karena memang demikian!  Ingatlah, Roma 6:3 menyatakan bahwa kita “dibaptiskan ke dalam Kristus.”  Sekarang kita di dalam “kesatuan iman” dengan Kristus, mati bersama dia, dikuburkan bersama Dia dan dibangkitkan bersama Dia (6:4).

Sekarang kita banyak persamaan dengan Kristus.  Sama seperti Paulus dengan mudah dapat merobah pribadinya dengan menerima Kristus. dibandingkan lagi dengan Kristus yang berada di sebelah kanan Allah dan semua umatNya yang menerima kehidupan Kristus “tidak ada lagi hukuman.” “Di dalam Kristus” adalah menjadi anggota jemaat.  Itu bukan hanya pencatatan namanya dalam buku anggota, tetapi menjadi suatu alat tubuhNya.  Dengan demikian hidup kita bergantung kepadaNya dan Dia bergantung kepada saudara agar kehendaknya terlaksana di dunia ini.

“Tidak ada lagi hukuman” sering disalahartikan dengan “saya tidak akan dihukum; karena itu keselamatan saya tidak akan hilang lagi.”  Maksud sebenarnya bukanlah demikian. Paulus baru menunjukkan apa yang saudara miliki kalau saudara di dalam Kristus. Seseorang bisa berlari masuk ke gua untuk menyelamatkan diri sewaktu angin ribut datang, tetapi dia tidak ada jaminan tidak kena malapetaka pada hari yang akan datang. Dengan kebebasan yang kita miliki tidak berarti kita tidak bertanggung jawab atas tindakan kita pada waktu yang akan datang. Dengan berbuat dosa tetap mengancam apakah dia Kristen atau orang berdosa.  Tetapi di dalam Kristus hukuman selalu dapat dihindarkan.

Pernyataan dalam pasal 7 dirangkum dalam 8:2,3.  Banyak orang menginginkan sesuatu yang misterius dalam “roh” tetapi hal itu tidak diperlukan.  Roh itu memberi hidup, dan itu dilakukan melalui firman (Yohanes 6:63).  Yang memberi hidup adalah yang menyelamatkan; yaitu Injil (Roma 1:16).

Hanya “hukum Roh yang mengaruniakan hidup” yang membebaskan dari “hukuman dosa dan maut” (8:2).  Tetapi apakah “hukum dosa dan maut”?  Itu tidak mungkin hukum Musa.  Jika demikian, Paulus berkata, “Hukum Musa tidak bisa membebaskan aku dari hukum Musa.”  Malah itu adalah prinsip yang bekerja melalui daging seperti yang terdapat dalam 7:23,24 (hukum yang berbeda).  Hukum Musa tidak dapat membebaskan kita dari peperangan di dalam daging yang membuat kita mati secara rohani melalui dosa. Taurat tidak dapat bekerja karena itu lemah melalui daging kita (8:3).  Itu adalah kelemahan manusia yang merangsang dosa di dalam hidup saudara.  Hidup “menurut daging” (8:5) adalah hidup di bawah perintah keinginan sifat alami manusia.  Tetapi di dalam Kristus seseorang dapat hidup dengan suatu hidup di bawah perintah kasih Allah.  Adalah karena keinginan daging yang sering menimbulkan dosa sehingga “daging” dinamakan “penuh dosa”.  “Dosa keinginan daging” tidak hanya dos seks, di antaranya terdapat juga kemarahan, iri hati dan pembunuhan (Galatia 5:19-21).

Beberapa orang beranggapan Kristus memberi kita kekuatan untuk melakukan kebenaran dengan melakukan Hukum Taurat. Ini berarti sekarang kita mempunyai kekuatan yang luar biasa hidup di atas dosa.  Pengertian seperti itu sangat bertentangan dengan keterangan Paulus.  Keselamatan kita adalah karena perbuatan Yesus, dan bukan karena perbuatan kita sekarang.

Kekudusan orang Kristen artinya bahwa kita mempunyai roh yang baru (2 Kor. 5:17). Hukum Taurat tidak berkuasa memberi hidup baru karena ketidakcukupan diri manusia dihasilkan oleh kuasa pengampunan dari kematian Yesus.  Itu bukanlah karena kita dapat melakukan demikian tetapi karena Yesus melakukannya untuk kita.

Kita kudus bukanlah karena sekarang kita dapat melakukan 10.000 perintah.  Itu dapat terjadi dengan hati yang baru yang membuat “ciptaan baru” di dalam Kristus.  Dengan demikian, kita mempunyai kasih yang baru yang menghargai kasih Allah (1 Yohanes 4:19), dengan keadaan demikian akan menggenapi Taurat (Roma 13:9-10).

 

Pelajaran ini diambil dari Alkitab Mengajar Vol. 3 No. 1, Januari 1991, halaman 4-7.

MEMBUAT PERBEDAAN

Orang-orang Kristen beda.  Orang-orang di antara kita yang berada di dalam jemaat dan adalah milik Allah, yang telah dibeli oleh darah Kristus (Kisah 20:28) adalah beda.  Kita tidak sama dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Allah , kita adalah “bangsa yang terpilih” (1 Petrus 2:9); kita beda. Allah dan AnakNya keduanya menuntut agar kita berbeda dari dunia.

Oleh karena kita beda, seharusnya kita juga membuat perbedaan.  Jika hal itu benar, maka sangat penting agar kita tahu sejenis perbedaan apakah Tuhan menuntut agar kita buat. Kita harus mempertimbangkan bagaimanakah caranya kita harus membuat perbedaan ini yang wajib kita buat.

Kita seharusnya membuat perbedaan dalam mutu kehidupan dunia di mana kita tinggal dengan caranya kita hidup.  Oleh karena kita, seharusnya ada lebih banyak kasih yang ditunjukkan.  1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa, “Allah adalah kasih.”  Sebagai anakNya, kita harus menjadi seperti Dia; oleh karena itu, kita juga harus menunjukkan kasih.

Kita harus serius dengan membuat perbedaan dalam kesusilaan dunia.  Alkitab adalah standar Kristen, itulah penuntun kita seumur hidup.  Standar kesusilaan yang ditemukan di dalam Alkitab akan membuat perbedaan besar sekali dalam dunia kita jika dilaksanakan oleh sebagian besar dari orang dunia.  Tetapi jika hal itu pernah akan terwujud, maka orang Kristen harus pertama hidup menurut standar itu dan mengajar orang lain untuk melakukannya juga.  Jemaat, sebagai umat terpilih oleh Allah, bisa dan harus menunjukkan bahwa kita beda oleh karena standar tinggi kita dari kejujuran dan integritas.  Dunia bisa terpengaruh oleh kita kalau kita dikenal sebagai orang yang selalu mengatakan kebenaran dan dapat dipercayai dalam segala transaksi, hubungan, dan kegiatan kita.  Kita akan membuat perbedaan untuk beberapa orang jika kita menunjukkan kepada mereka bahwa kemurnian dan kesucian kehidupan bukan hal yang mustahil, dan bahwa kehidupan semacam begitu mempunyai upah bahkan dalam kehidupan ini.

Saudara dan saya, sebagai orang Kristen, harus menjadi teladan bagi dunia dalam menunjukkan belas kasihan kepada sesama kita manusia.  Yesus mengajarkan kepada kita dan menunjukkan kepada kita keperluan untuk menunjukkan belas kasihan dan berkat yang dari padanya.  Sekarang Yesus menuntut agar kita melakukan yang sama untuk sesama kita manusia yang lain.

Kemudian ada soal pengharapan.  Orang Kristen adalah satu-satunya orang dalam seluruh dunia yang bisa menyatakan satusatunya pengharapan yang benar untuk kekekalan.  Dengan kemampuan itu datang pertanggungjawaban – pertanggungjawaban untuk membuat perbedaan di dalam dunia ini dengan memberitakan pengharapan kita, Yesus Kristus, kepada orang yang tersesat. Banyak orang yang sekeliling kita bergumul terus dengan sedikit pengharapan dalam dunia ini, dan tentu dengan tidak ada harapan dalam dunia yang akan datang.  Saudara dan saya bisa membuat perbedaan dengan memberikan kepada mereka alasan untuk berharap sekarang, tetapi lebih penting lagi, alasan untuk berharap dalam pemandangan kekekalan.

Kalau kita sungguh-sungguh ingin membuat perbedaan, kita orang Kristen harus menjadi orang yang kuat pendiriannya.  Kita harus mempelajari Alkitab dengan rajin supaya kita tahu dan mengerti apa itu kehendak Allah.  Setelah belajar kehendak Allah melalui firmanNya, kita harus berjanji untuk hidup menurut ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip itu. Mereka yang di luar jemaat, walaupun mereka tidak setuju dengan kita, seharusnya menghormati kita oleh karena siapa kita dan kenyataan bahwa kita berdiri teguh untuk apa yang baik dan benar menurut pengetahuan kita.

Sebagai seorang Kristen, saya bisa membuat perbedaan, bukan saja dalam dunia, tetapi juga di dalam jemaat.  Saya bisa mendorong saudara seiman untuk hidup lebih setia dan semangat untuk Kristus.  Saya bisa mendorong mereka secara perinci dengan perkataan saya dari peringatan, tegoran, dan pujian.  Saya juga bisa menguatkan komitmen mereka kepada Tuhan dengan cara kehidupan saya.  Tetapi saya harus konsisten dalam cara saya hidup: Mereka tidak selalu memberitahukan saya apabila mereka mengamati saya.

Sangat benar bahwa kita orang Kristen tidak mempunyai karunia dan kemampuan yang sama.  Kita tidak bisa melayani Tuhan dalam cara yang sama.  Tetapi kalau kita akan merubah dunia atau jemaat supaya lebih baik, kita tidak akan berhasil dengan santai-santai saja.  Kita bisa dan akan membuat perbedaan hanya dengan rajin melayani Tuhan dengan kemampuan apa yang kita punya, dan bukan dengan filsafat, “Hidup dan biarkan hidup.” Tentu kita tidak bisa memaksa orang merubah cara kehidupan mereka atau keyakinan mereka, tetapi itu tidak berarti kita tidak boleh aktif, bahkan agresip sewaktu-waktu.  Jemaat bisa membuat perbedaan dengan bergiat, beragresip, dan dengan militan mempromosikan apa yang benar dan melawan apa yang salah.  Hanya tolong ingat bahwa semua perkataan kita dan kegiatan kita harus dihasilkan dari hati yang penuh kasih dan belas kasihan.

Jika kehidupan saya berakhir dengan tidak mempengaruhi orang lain untuk kebaikan, dengan tidak merobah dunia ini sehingga lebih baik, dengan tidak membantu jemaat menjadi lebih kuat, maka sebenarnya saya tidak membuat perbedaan.  Jika saya tidak membuat perbedaan, maka kehidupan saya menjadi sia-sia saja.

Kiranya Allah menolong baik saudara maupun saya untuk sungguh-sungguh membuat perbedaan.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], Volume 3, dengan judul asli “Making a Difference,” halaman 4-5.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

Orang Benar dan Orang Jahat

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, Dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, Dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, Yang menghasilkan buahnya pada musimnya, Dan yang tidak layu daunnya; menurut nasihat orang fasik, Yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,

Apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, Begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, Tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1)

Dosa Mempunyai Jalan Menurun (ay. 1)

Perjalanan yang diuraikan di dalam mazmur ini termasuk kelanjutan dari kepercayaan, tingkah laku, dan keanggotaan. Ayat ini adalah suatu kesejajaran memang, tetapi itu adalah kesejajaran yang berkelanjutan dari pada kesejajaran yang searti.  Perhatikanlah baik-baik perjalanan yang diuraikan. Kita memandang dosa.  “Apakah salahnya untuk melihat saja?” seorang berkata. Sebentar lagi “melihat” itu menjadi mendengar karena dia memperhatikan kedayatarikan dari dosa.  “Saya perlu tahu kedua belah sisi dari kehidupan,” adalah argumen yang kadang-kadang dikemukakan. “Ini hanya latihan akademik,” orang lain mungkin katakan. Mendengar akhirnya membawa kepada belajar jalan-jalan dosa.  Orang menjadi berpengalaman.  Dengan cepat dia menjadi seorang ahli dalam kejahatan, berpengetahuan mengenai bermacammacam dosa, kedayatarikannya, dan pengalamannya. Kemudian, kecelakaan dari segala kecelakaan, dia bertumbuh untuk mencintainya.  Dia tidak bisa hidup tanpanya.  Dengan kekuatan seperti kabelkabel besi, dosa melilitkan alat penangkapnya keliling hatinya. Akhirnya, dalam pegangan maut, dia duduk dalam perkumpulan orang jahat dan hidup kehidupan dosa.

Hidup dalam Firman Allah (ay. 2)

Seorang pernah berkata bahwa seorang benar lahir dari Firman, dipimpin oleh Firman dan diberi makan oleh Firman. Kita lahir dalam Kristus oleh Firman. Kita mulai dengan Firman, karena itu membawa kelahiran baru bagi kita (2 Ptr. 1:23).  Kita diperanakkan oleh Firman kepada pengharapan baru. Kita dipimpin oleh Firman dalam kehidupan kita bagi Kristus.  Kita tidak bisa

mengetahui kehendak Allah kecuali melalui FirmanNya.  Dia tidak menuntun kita melalui campur tangan gaib, melainkan melalui pendidikan Alkitabiah. Kita dibesarkan dalam Kristus dengan memakan Firman.  Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang bertumbuh di dalam firman (2 Ptr. 3:18).  Sama seperti seorang bayi tanpa susu akan mati, seorang Kristen tanpa Firman makin memburuk. Oleh karena itu, seorang yang tidak “hidup di dalam Firman” tidak bisa mengenal kehidupan Allah.

“Seperti Pohon” (ay. 3)

Satu cara yang paling baik untuk menkomunikasikan kebenaran dan keindahan adalah memakai perbandingan. Bagaimana seorang benar seperti sebuah pohon? Untuk mulai, dia mempunyai stabilitas. Dia telah ditanam di tepi aliran air.  Angin, ombak, dan situasi keras dalam kehidupan tidak bisa mencabut akarnya atau menggoyangkannya dari kehidupannya di dalam Allah. Lagi pula, dia mempunyai makanan. Semua sumber daya yang akan diperlukannya sudah tersedia baginya. Dalam Kristus dia lengkap, memiliki semua berkat rohani.  Dia tidak memerlukan lebih banyak berkat; dia cuma memerlukan hikmat untuk mempergunakan berkat-berkat yang telah dimilikinya. Akhirnya, dia mempunyai sukses (keberhasilan).  Dia menghasilkan buah pada musimnya.  Daunnya tidak layu.  Dia akan berhasil dalam apa saja yang dilakukannya. Apakah lebihnya bisa seorang inginkan? Siapa ingin menjadi lain dari pada “sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air?”

Nilai Orang Jahat (ay. 4-6)

Bagaimanakah keadaan kehidupan orang jahat?  Bagaimanakah kehidupannya dinilai oleh mazmur ini? Dia dianggap tidak bernilai sedikitpun. Dia seperti sekam (kulit padi).  Dia tanpa hidup, tanpa nilai, dan tanpa tujuan.  Dia akan dibakar atau ditiupkan angin kondisi dan penghakiman — dalam waktu dan kekekalan.  Dia tidak mempunyai arti sedikitpun untuk Allah dan pada akhirnya tidak mempunyai arti sedikitpun untuk manusia. Secara jelas dia tidak berguna.  Dia menyadari bahwa dia tidak bisa berdiri di bawah tuntutan-tuntutan hidup; dan setelah kehidupan habis dihidupi, dia akan jatuh dibawah penghakiman Allah.  Dia merupakan kulit kosong yang dipamerkan sebagai seorang manusia.  Kehidupannya adalah kehidupan yang disia-siakan. Dia ditakdirkan untuk kebinasaan.  Dia tidak mempunyai masa depan.  Satu kepastian kehidupan ini adalah bahwa orang jahat akan binasa.  Pelanggar hidup di Jalan Malapetaka di kota “Ditakdirkan untuk Kebinasaan” entah nasibnya nyata kepadanya atau tidak.

 

Pelajaran ini diambil dari Truth for Today [Kebenaran untuk Hari Ini], surat dari Eddie Cloer tertanggal June 1, 2003 dengan judul asli, “The Righteous & the Wicked.” Diterjemahkan oleh David Buskirk.

SUKACITA MERENUNGKAN ATAS FIRMAN ALLAH

Mazmur 1:1-3

Jikalau kita merenungkan atas firman Allah dan ingat semua kebaikanNya, maka sukacita adalah hasilnya. Merenungkan atas FirmanNya siang malam seperti diajarkan Firman akan membawa kesenangan yang sejati dan pemecahan masalah-masalah.

Allah memberi petunjuk dalam Ulangan 6 mengenai bagaimana TauratNya harus diajarkan, dipelajari dan ditaati. Dia tidak mau agar orang-orang Israel lupa perbuatanperbuatanNya. Mereka telah minum dari sumur-sumur yang tidak digali mereka dan makan dari kebun-kebun anggur dan pohonpohon zaitun yang tidak ditanam mereka.

Allah menghendaki agar orang-orang Israel merenungkan dan memikirkan kebaikanNya. Dia berkata, “Kalau kamu sudah makan sampai kenyang, awas agar jangan kamu melupakan Tuhan yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir dari rumah perbudakan (Ul. 6:11,12).

Tuhan memperingati Yosua, “Janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yos. 1:8).

Betapa cepat kita lupa berkat-berkat kita yang dahulu. Betapa cepatnya masalahmasalah membuat kita melupakan kebaikan Allah. Betapa cepatnya kita melupakan bagaimana Kristus menderita dan mati bagi kita dan sangat memberkati kita denganpengharapan hidup kekal.

Dalam merenungkan firman Allah dan kebaikanNya, kita teringat. Daud berkata, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan…Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaanMu dan merenungkan perbuatanperbuatanMu” (Mzm. 77:12,13)

Paulus menulis dalam Filipi 4:8 untuk memikirkan hal-hal yang baik. Setelah memberi petunjuk kepada pemuda Timotius untuk menjadi teladan seorang Kristen dalam Firman Allah, Paulus memperingatinya, “Renungkanlah semua ini, menyerahkan dirimu sepenuhnya kepada mereka supaya kemajuanmu nyata untuk semua” (1 Tim. 4:15).

Mazmur 1 menguraikan orang saleh sebagai orang yang menggemari Taurat Tuhan dan merenungkannya siang malam.  Orang saleh ini adalah orang yang diberkati dan bersenang — seperti pohon yang ditanam di tepi sungai, yang menghasilkan buah untuk kehidupan yang berkelimpahan.

Waktu pagi adalah waktu yang baik untuk merenungkan atas Firman Allah. Dalam Mazmur 63:2, Daud mencurahkan isi hatinya dan jiwanya kepada Allah.  Memberitakan imannya yang besar dalam Allah dia menulis, “Ya, Allah, Engkau Allahku, aku mencari Engkau.”

Daud juga memuliakan Allah dengan bibir yang bersukacita pada waktu malam. Waktu dia merenungkan pada waktu penjagaan malam dia bersukacita dalam pertolongan Tuhan.  Kiranya kita bisa berkata denganDaud, “Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepadaMu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam — sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku dan dalam naungan sayapMuaku bersorak-sorai” (Mzm. 63:6-8).

 

Pelajaran ini diambil dari Christian Woman [Wanita Kristen], Sep/Oct 1989 dengan judul asli, “The Joy of Meditating on God’s Word,” halaman 30.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

MALAPETAKA YANG PALING NGERI

Seandainya saudara murtad (yaitu meninggalkan jemaat dan kembali kepada kehidupanmu yang lama dan/atau agamamu yang lama — kembali kepada dosa dan ketidaktaatan), bagaimanakah keadaanmu? Sebagai pembelaan melawan tekanan dan pencobaan, saudara perlu mengetahui akibat ngeri dari kemurtadan. Ada banyak nas yang menguraikan akhirnya dari mereka yang murtad, tetapi nas-nas yang berikut cukup untuk menunjukkan kepada kita betapa ngerinya untuk meninggalkan Allah. Tolong membaca setiap nas dengan berhati-hati.

Yohanes 15:4-6. Inilah bagian dari satu ilustrasi yang dipergunakan Yesus. Sebagaimana carang harus tetap pada pokok anggur, demikianlah setiap orang Kristen harus tetap tinggal di dalam Kristus. Menghasilkan buah adalah bukti bahwa “carang” tersebut masih tetap tinggal di dalam “Pokok Anggur.”  Perhatikanlah akibat di dalam ayat 6.

Ibrani 10:26-31. Dosa yang sengaja dalam ayat 26 menunjuk kepada keputusan sengaja untuk meninggalkan Kristus dan jemaatNya. Apabila seorang melakukan hal ini, dia telah menolak satu-satunya korban untuk dosa dan dia tidak bisa lagi mempunyai pengharapan untuk diselamatkan (kecuali dia bertobat). Ayat 28-31 menunjukkan bahwa untuk hilang selama-lamanya lebih buruk (“lebih berat hukuman”) adanya dari pada dibunuh tanpa belas kasihan.

2 Petrus 2:20-22.  Kenyataan yang jelas adalah apabila seorang yang pernah menjadi seorang Kristen kemudian dia menolak Kristus, menolak jemaat Kristus, dan menolak kebenaran, dia menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih buruk dari pada seorang kafir yang tidak pernah mengenal Tuhan.  Ilustrasi tentang anjing dan babi itu dalam ayat 22 menekankan kejahatan dan keburukan dalam kembali kepada dosa.

Ada saudara yang pernah ditanya, “Seandainya saudara meninggalkan jemaat Kristus, ke manakah saudara akan pergi?”  Dia menjawab, “Ke neraka!”  Entah Alkitab benar, entah salah, Allah tidak berdusta.  Apa yang dikatakan Alkitab mengenai keperluan dari kesetiaan dalam jemaat Kristus, kesetiaan kepada kebenaran, dan kemurnian dari hati dan kehidupan adalah benar tanpa kekecualian.  Alasan-alasan, pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pertimbangan-pertimbangan yang membenarkan diri tidak bisa merubah kenyataan itu.  Kehendak Allah tidak berubah.  Apabila orang berbalik dari Allah, mereka akan dihadapkan dengan akibat yang sangat ngeri.

Apabila seorang anggota dari jemaat kembali kepada dosa yang disengaja dan berhenti setia, sisa dari jemaat harus mengucilkan dia dari jemaat.  Perhatikanlah petunjuk Paulus tentang hal ini di dalam 2 Tesalonika 3:6,14,15.  Baca juga 1 Korintus 5:113, di mana Paulus menghadapi seorang saudara yang hidup di dalam percabulan.

Apabila seorang tidak lagi bisa mempunyai persekutuan dengan umat Allah, dia tidak lagi mempunyai persekutuan dengan Allah.  Orang demikian tidak mempunyai pengharapan lagi sampai dia bertobat dan kembali kepada jalan yang benar.  Untuk mati sementara dalam keadaan murtad berarti hilang untuk selama-lamanya.

Mungkin saudara berpikir bahwa saudara tidak bisa sama sekali berbalik dari Kristus dan jemaatNya.  Tentu ini harus menjadi doa saudara dan tujuan saudara.  Tetapi ingatlah bahwa 1 Korintus 10:12 berkata, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Selalu menyadari bahwa kemungkinan itu ada. Oleh karena itu berjaga-jagalah terhadap pencobaan, terhadap kekecewaan, dan terhadap apa saja yang mungkin membuat kasihmu dan kesetiaanmu menjadi lemah. Jikalau ada pencobaan yang paling kecil untuk murtad, menghadapinya dengan segera. Sementara saudara berbicara dengan Allah, Iblis tidak akan “berbicara” kepadamu.

 

Pelajaran ini diambil dari majalah rohani The Voice of Truth International [Suara Kebenaran Internasional], Volume 13, dengan judul asli “The Ultimate Tragedy.” Halaman 60-61.  Diterjemahkan oleh David Buskirk.

 

MENJADI PELAKU FIRMAN

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”  (Yakobus 1:22).

Kita orang Kristen yang percaya kepada Yesus dan telah bertobat dari dosa harus menjadi pelaku firman.  Pada saat kita bertobat dari dosa, kita berjanji kepada Allah bahwa kita tidak akan hidup di dalam dosa lagi melainkan kita akan hidup menurut firmanNya.  Bagaimanakah kehidupan kita? Apakah kita sudah menjadi pelaku firman atau apakah kita pendengar saja?

Kalau kita mempunyai anak, kita tahu bahwa anak-anak yang tidak melakukan apa yang kita minta memang membuat kita kecewa dan menyesal, bahkan marah.  Anak-anak itu mendengar permintaan kita tetapi mereka tidak melakukannya.  Kita frustrasi, kita kecewa, dan kalau mereka membuat begitu terus, kita menjadi marah!

Apa lagi Allah!  Kita adalah anak-anak Allah dan Allah sudah memberikan kepada kita banyak pesan,  apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Apakah kita mendengar dan taat?  Atau apakah kita mendengar dan tidak memperhatikannya seperti anak-anak kecil yang tidak kedengaran?  Kalau kita tidak mentaati Allah dalam apa yang Dia pesankan kepada kita, maka itu juga membuat Allah marah.  Kita juga akan menerima hukuman karena kelalaian dan keacuh-tak-acuhan kita.

Seringkali kita mengikut ibadah dan mendengar khotbah.  Tetapi khotbah masuk satu telinga dan keluar telinga sebelah.  Firman Allah itu tidak menetap di dalam otak kita sehingga kita merenungkannya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan kita. Kalau kita membaca firman atau mendengar firman disampaikan, kita harus merenungkan atas firman itu dan bagaimana firman itu berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, bagaimana kita bisa mempraktekkan firman itu dalam kehidupan kita.

Ingat bahwa firman itu bukan untuk orang lain.  Seringkali kita cepat menghakimi orang lain dan berpikir, itu bagus kalau Anu hadir dalam kebaktian hari ini, dia yang perlu mendengar khotbah ini.  Kita harus menyelidiki hati kita dahulu.  Mungkin kita juga memerlukan khotbah itu sama dengan dia.

Kalau kita bisa belajar untuk mempraktekkan firman itu di dalam kehidupan kita sehari-hari maka kita akan berbahagia di dalam kehidupan kita dan dalam apa saja yang kita laksanakan.  Marilah kita menjadi pelaku firman dan bukan pendengar saja.

(David Buskirk)