Pelajaran 3 Persembahan di dalam Perjanjian Lama

Persembahan Mula-Mula

Adam dan Hawa Waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan mereka di taman Eden, semua dalam keadaan yang paling baik. Dosa belum masuk ke dalam dunia. Adam dan Hawa mempunyai persekutuan penuh dengan Allah secara langsung. Tetapi Iblis datang dan menipu Hawa untuk makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, pohon itu yang mereka dilarang Allah untuk makan dari padanya, dan mereka jatuh ke dalam dosa. Bisa membaca peristiwa itu dalam Kejadian 3. Oleh karena mereka makan dari buah terlarang itu, maka mereka menyadari bahwa mereka telanjang dan mereka menjadi malu. Jadi Allah membunuh seekor binatang (Alkitab tidak menyatakan binatang yang mana) untuk membuat pakaian dari kulit binatang itu untuk Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Dengan demikian Allah mengajarkan bahwa harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22).

Kain dan Habel Catatan pertama mengenai manusia yang mempersembahkan korban persembahan kepada Allah adalah dalam Kejadian 4, dalam peristiwa Kain dan Habel. Walaupun Alkitab tidak mengatakannya, sudah nyata bahwa Allah telah memberitahukan Adam dan Hawa bagaimana caranya mereka dan anak-anak mereka harus menyembah kepadaNya. Dikatakan dalam Kejadian 4:3, 4 bahwa “Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan sebagai korban persembahan” sedangkan “Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.” Ini disebabkan Kain adalah seorang petani sedangkan Habel adalah seorang gembala. Selanjutnya ayat 4b dan 5a mengatakan bahwa “Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkanNya.” Kenapa Allah tidak menerima korban Kain? Ada dua tafsiran yang memungkinkan. Ada yang berkata oleh karena Kain tidak mempersembahkan korban binatang, melainkan korban dari hasil tanahnya, maka Allah tidak mau menerimanya. Katanya bahwa apa yang Allah tuntut pada zaman itu adalah korban binatang oleh karena harus ada penumpahan darah untuk pengampunan dosa (Ibr. 9:22). Jadi rupanya bahwa oleh karena Kain bukan seorang gembala dan tidak mempunyai binatang, dia tidak mau menjual atau menukar hasil tanahnya dengan Habel untuk memperoleh seekor binatang. Dia tidak mau harus bersandar pada Habel untuk memperoleh binatang sebagai korban persembahan kepada Allah. Jadi dia mengambil keputusan untuk mempersembahkan hasil tanahnya kepada Allah walaupun itu bukan kehendak Allah. Dan oleh karena dia mempersembahkan hasil tanahnya dari pada binatang kepada Allah, maka Allah tidak menerima korbannya itu.

Tafsiran ini besar memungkinkan. Memang kalau Allah hanya menuntut korban persembahan untuk pengampunan dosa, maka persembahan dari hasil tanah tidak bisa diterima kecuali orangnya sangat miskin (Im. 5:11-13). Akan tetapi tidak ada apa-apa di dalam konteks Kejadian 4 untuk menyinggung bahwa apa yang mereka persembahkan adalah korban penghapus dosa, atau bahwa Allah hanya menuntut korban binatang. Tafsiran lain adalah oleh karena Kain tidak mempersembahkan hasil tanah yang pertama, maka itulah sebabnya Allah tidak mau menerimanya. Menurut Kejadian 4:3 Kain mempersembahkan “sebagian dari hasil tanahnya.” Di sini dikatakan “sebagian” bukan hasil yang pertama. Jadi rupanya bahwa Kain hanya mempersembahkan korban sembarangan. Tetapi tentang korban Habel, ayat 4 mengatakan bahwa dia mempersembahkan “anak sulung kambing dombanya.” Jadi Habel mempersembahkan anak pertama yang keluar dari kandungan. Imamat 2:12 dan berikut berkata bahwa orang harus mempersembahkan hasil pertama dari panennya (lihat juga Im. 23:10; Ul. 18:4).

Tafsiran ini juga memungkinkan kalau kita menganggap bahwa apa yang mereka persembahkan bukan korban penghapus dosa. Tetapi juga katanya oleh karena tidak ada sebutan persembahan dari hasil tanah sebelum zaman Musa, maka pada zaman sebelumnya (yaitu pada zaman Kejadian) Allah tidak memberikan petunjuk tentang persembahan hasil tanah, dan oleh karena itu, korban Kain tidak diterimaNya.

Sebenarnya kita tidak tahu kenapa sebenarnya Allah tidak menerima korban Kain oleh karena Alkitab tidak memberitahukan kepada kita secara jelas. Yang kita tahu adalah bahwa Allah sudah memberitahukan kepada mereka sejenis korban yang harus mereka persembahkan dan caranya mereka harus mempersembahkannya. Kain tidak mengikut petunjuk dari Allah dan oleh karena itu korbannya tidak diterimaNya.

Tetapi kita melihat dari cerita ini bahwa pada awalnya manusia sudah mempersembahkan sebagian dari hasil kerjanya kepada Allah. Mereka mengembalikan kepada Allah sebagian dari berkat yang mereka terima dari Allah. Dari awalnya Allah menuntut begitu. Dan sampai sekarang dalam zaman Kristen, Allah tetap menuntut agar kita mengembalikan kepadaNya sebagian dari berkat yang kita terima dari Dia.(Bersambung)