Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Tuntutan Allah kepada Kita

Jadi, kalau Allah mengorbankan AnakNya Yesus Kristus bagi kita, dan oleh karena Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka layak bagi Allah untuk menuntut dari orang yang mau mempunyai pengampunan dosa dan hidup yang kekal itu harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaNya. Kalau Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka kita juga wajib mengorbankan diri kita bagi Yesus. Itu layak dan adil.

Yesus berkata demikian di dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Maksud Yesus adalah bahwa orang yang mau menjadi muridNya harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Menyangkal diri berarti bahwa seseorang tidak lagi melakukan apa yang diinginkannya, melainkan apa yang diinginkan Allah. Orang yang memikul salib adalah orang yang rela menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Sama seperti Yesus menyerahkan diriNya sepenuhNya di atas kayu salib bagi kita umat manusia, kita juga harus rela menderita bahkan mati bagi Yesus. Kita harus rela menyerahkan segala sesuatu kepadaNya

Dalam Roma 12:1, 2, Paulus berkata bahwa kita harus mempersembahkan kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Ini menyinggung kembali kepada korban persembahan yang dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Taurat. Kita tidak lagi mempersembahkan korban binatang, tetapi kita mempersembahkan tubuh kita, kehidupan kita sepenuhnya kepada Allah, sebagai persembahan yang hidup. Maksudnya, bukan lagi kita yang hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita harus hidup bagi Allah pada segala saat di mana saja. Kehidupan kita dikorbankan dan dipersembahkan kepada Allah dan kerajaanNya.

Yesus juga berkata di dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” Kalau seseorang tidak mau melepaskan dirinya dari segala miliknya, dia tidak bisa menjadi murid Yesus. Kita harus rela mengorbankan segala milik kita bagi Yesus dan kerajaanNya kalau kita mau menjadi muridNya. Kalau kita tidak mau mengorbankan segala harta milik kita kepada Yesus, maka kita tidak bisa menjadi muridNya. Titik.

Lagi, ingat bahwa segala milik kita asalnya dari Tuhan dan sebenarnya adalah Tuhan punya. Allah hanya memberikannya kepada kita untuk sementara waktu sesuai dengan kehendakNya. Jadi kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang adalah milikNya, apa yang telah dipercayakanNya kepada kita. Kita harus merubah pikiran kita dari “ini milik saya” kepada “ini adalah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk sementara waktu saja,” atau “inilah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk dipergunakan untuk kemuliaan namaNya dan perkembangan kerajaanNya.” Tentu, Allah juga memberikan kepada kita segala sesuatu untuk kita nikmati (1 Tim. 6:17b). Tetapi kita harus selalu ingat bahwa itulah karunia dari Allah.

Apakah saudara sudah melepaskan dirimu dari segala milikmu untuk Yesus? Bagaimana tahu? Pikirkanlah barang milik saudara yang paling saudara sayangi. Mungkin itu suatu perhiasan atau peninggalan dari orang tua atau nenek moyang, atau sesuatu yang saudara beli setelah menyimpan uang lama-lama, mungkin sepeda motor atau komputer, atau sensor. Bagaimanakah kalau barang itu hilang atau dicuri? Apakah saudara nanti marah Allah? Bagaimanakah kalau jemaat memerlukan uang untuk pelayanan atau sesuatu yang tertentu, apakah rela menjual barang itu? Apakah mencintai barang itu lebih dari Tuhan? Apakah saudara lebih mengutamakan uang dan harta jasmani dari pada Allah dan hal-hal rohani? Inilah pertanyaan untuk menilai dirimu sendiri apakah sudah melepaskan dirimu dari segala milikmu untuk Yesus.

Dalam pelayananNya, Yesus menyuruh orang untuk meninggalkan segala miliknya dan ikut Yesus. Sebenarnya, perintah itu Yesus berikan kepada kita semua yang ingin menjadi pengikutNya. Marilah kita melihat.

Dalam Lukas 18:18-23 kita membaca mengenai seorang muda yang kaya. Dia ingin memperoleh hidup yang kekal tetapi ada satu hal yang menghalangi dia dari memperolehnya, yaitu harta miliknya. Yesus menyuruh dia untuk menjual segala harta miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Dia tidak mau karena dia lebih mencintai hartanya dari pada Allah, walaupun Yesus sudah berjanji kepada dia bahwa dia akan mempunyai harta banyak di sorga nanti.

Dalam ayat 28 Petrus berkata kepada Yesus bahwa mereka telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikut Yesus. Ingat waktu Yesus memanggil Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk mengikutNya, mereka meninggalkan penangkapan ikan yang besar serta perahu, jala dan keluarga mereka untuk mengikut Yesus (Lk. 5:1-11). Waktu Yesus memanggil Matius Lewi, dia juga meninggalkan tempat tugasnya untuk mengikut Yesus (Mt. 9:9). Kemungkinan besar waktu Yesus memanggil rasul-rasul yang lain untuk mengikutNya, mereka juga meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus.

Yesus juga berkata dalam Lukas 12:32-34, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Yesus berkata kepada kita semua bahwa kita harus menjual segala milik kita dan memberikan sedekah (maksudnya, memberikannya kepada orang miskin). Kemudian kita akan memperoleh banyak harta di sorga. Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus benar-benar menjual segala milik kita, tetapi seperti dikatakanNya di dalam Lukas 14:33, kita harus melepaskan diri kita dari segala milik kita yang berarti bahwa kita harus rela menjual milik kita atau mempergunakan milik kita untuk Allah dan perkembangan kerajaanNya.

Satu-satunya hal dari pelajaran ini yang harus kita pahami adalah bahwa segala milik kita adalah milik Allah dan kalau Allah memerlukannya, kita wajib memberikannya kembali kepada Allah dengan senang hati dan sukarela. Apakah itulah sikap kita terhadap milik kita dan persembahan kita kepada Allah?

Marilah kita melihat perumpamaan di dalam Lukas 16:1-9. Perumpamaan agak susah dimengerti. Kita memperhatikan bahwa tuan itu memuji bendaharanya bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kecerdikannya. Yesus tidak mengajar di sini bahwa itu baik untuk bertindak dengan tidak jujur, melainkan bahwa kita harus cerdik dalam mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menjamin masa depan kita. Orang dunia cerdik untuk mempergunakan apa yang ada pada mereka untuk menjamin masa depan mereka di bumi ini. Apalagi kita orang Kristen. Kita harus mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menjamin keselamatan kita di sorga di masa depan.

Allah telah mempercayakan harta milik kepada kita. Apakah yang akan kita lakukan dengannya? Apakah kita akan mempergunakannya untuk memuaskan hawa nafsu kita, kemauan kita, untuk kepentingan diri kita sendiri saja? Atau apakah kita akan mempergunakannya untuk kemuliaan Allah, untuk pemberitaan injil, untuk membantu orang dalam kesusahan, untuk keperluan jemaat dan saudara-saudara seiman yang lain? Kalau kita mempergunakan harta milik kita hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja, maka kita orang bodoh. Kita tidak akan masuk ke dalam sorga. Itu berarti kita lebih mencintai harta kita dari pada Allah. Harta milik jasmani tidak bisa menjamin keselamatan kita. Tetapi kalau kita mempergunakannya untuk kepentingan Allah, maka kita akan menjamin masa depan kita di sorga nanti.

Itulah maksud dari Lukas 16:9 yang adalah kesimpulan yang Yesus tarik dari perumpamaan ini. Mamon yang tidak jujur adalah harta jasmani oleh karena harta jasmani tidak bisa menjamin keselamatan seseorang. Keselamatan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Orang yang paling kaya tidak bisa menjual segala harta miliknya dengan harapan akan masuk ke dalam sorga. Kita harus mempergunakan Mamon yang tidak jujur itu (yaitu harta jasmani kita) dalam cara yang berkenan kepada Allah supaya setelah kita mati kita bisa diterima di dalam kemah abadi (yaitu sorga), karena setelah kita mati, Mamon itu tidak bisa membantu kita lagi. Tetapi kalau kita tidak memakai Mamon itu sesuai dengan kehendak Allah, maka kita tidak akan masuk ke dalam sorga. Baiklah kita memikirkan itu baik-baik. Banyak orang Kristen akan binasa oleh karena mereka tidak memakai harta milik mereka sesuai dengan kehendak Allah. Mereka memakainya hanya untuk kepentingan mereka sendiri saja.(Bersambung)