Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Persembahan menurut Perjanjian Baru

Jadi apakah yang dikatakan Perjanjian Baru dalam hal persembahan? Tentu, kita tidak berada lagi di bawah Perjanjian Lama. Saya tidak mau membahas di sini mengenai perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita semua di dalam jemaat Kristus seharusnya sudah diajar perbedaannya itu. Kalau pelajaran itu belum jelas, bisa menanyakan orang lain untuk menjelaskannya.

Gereja-gereja lain mengajar bahwa kita orang Kristen wajib memberikan perpuluhan oleh karena Perjanjian Lama mengajarkan begitu. Tetapi apakah itu betul, bahwa Perjanjian Lama mengajarkan perpuluhan? Kita sudah melihat bahwa seorang petani wajib memberikan dua persepuluh dari hasil panen mereka setiap tahun, sedangkan setiap tiga tahun mereka wajib memberikan tiga persepuluh. Mengenai peternak, mereka wajib memberikan sepersepuluh tambah anak sulung jantan dan korban-korban lain yang wajib bagi mereka. Sebenarnya orang Yahudi memberikan jauh lebih banyak dari sepersepuluh. Jadi pada dasarnya, gereja-gereja yang mengajarkan perpuluhan berdasarkan Perjanjian Lama adalah salah. Seharusnya mereka mengajarkan dua persepuluh, bahkan tiga persepuluh! Itulah yang sesuai dengan Perjanjian Lama yang sebenarnya.

Tetapi kita tahu bahwa kita tidak lagi berada di bawah Perjanjian Lama. Perjanjian Lama tidak lagi berlaku bagi kita orang Kristen. Kita harus melihat apa yang dikatakan Perjanjian Baru tentang hal persembahan. Jadi apa yang sebenarnya dikatakan Perjanjian Baru mengenai persembahan? Perjanjian Baru tidak mengatakan banyak tentang hal itu. Seperti kita sudah melihat di atas, Allah sudah menghapuskan korbankorban binatang di dalam Perjanjian Baru. Kita tidak lagi wajib mempersembahkan korban bakaran berupa binatang oleh karena Yesus menjadi korban sempurna yang kita punya. Kita juga tidak lagi wajib mempersembahkan hasil panen kita kepada Tuhan sebagaimana diuraikan di dalam hukum Taurat. Persembahan-persembahan lain yang diuraikan di dalam hukum Taurat tidak lagi terikat pada kita, termasuk persembahan perpuluhan.

Perjanjian Baru tidak mengajarkan atau mewajibkan orang Kristen untuk memberikan perpuluhan. Sebenarnya Perjanjian Baru tidak menentukan berapa yang seharusnya kita berikan kepada Tuhan. Apakah yang dikatakannya? Marilah kita melihat di dalam 1 Korintus 16:1, 2. Ayat 2 berkata bahwa kita harus memberikan sesuai dengan apa yang kita peroleh. Itulah kewajiban kita dalam hal persembahan di bawah Perjanjian Baru. Kita wajib memberikan sesuai dengan apa yang kita peroleh.

Kesimpulan banyak orang anggota jemaat Kristus tarik dari ajaran singkat ini bahwa kita tidak lagi wajib memberikan perpuluhan adalah bahwa kita bisa memberikan kurang dari perpuluhan itu. Banyak anggota jemaat Kristus baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, dan saya kira di seluruh dunia, memberikan hanya tiga atau empat persen dari penghasilan mereka kepada Tuhan. Ada yang mungkin hanya memberikan satu atau dua persen. Apakah itu kesimpulan yang benar? Apakah itu benar bahwa Allah berkenan dengan orang yang hanya memberi beberapa persen dari penghasilannya kepadaNya? Apakah kesimpulan itu bisa dibenarkan? Menurut saya, tidak bisa.

Pikirlah baik-baik, saudara-saudara! Pertama, orang Israel petani dan peternak di bawah hukum Taurat mengorbankan lebih dari seperempat (25%) dari penghasilan mereka kepada Allah, bahkan ada yang wajib mempersembahkan lebih dari sepertiga (33%). Kedua, Allah tidak lagi mewajibkan kita untuk mempersembahkan korban binatang dan korban-korban lain di dalam hukum Taurat. Itu semua sudah dihapuskan bagi kita. Ketiga, Allah sendiri telah mengorbankan AnakNya, Yesus Kristus, sebagai korban penghapus dosa bagi kita. Maksudnya, bukan kita yang mengorbankan sesuatu untuk dosa kita, tetapi itulah Allah yang mengorbankan sesuatu untuk pengampunan dosa kita. Apakah yang bisa kita berikan kepada Allah ganti AnakNya itu? Yang keempat, Allah menyuruh kita untuk memberi sesuai dengan penghasilan kita, tetapi tidak menentukan jumlahnya.

Apakah kesimpulan yang bisa kita tarik dari nomor satu sampai empat di atas? Jikalau Allah mewajibkan orang Yahudi untuk memberikan lebih dari dua puluh persen dari penghasilan mereka, dan mewajibkan mereka untuk menyediakan korban penghapus dosa sendiri, tetapi Allah menghapus kewajiban itu dari kita, dan Allah sendiri menyediakan korban penghapus dosa bagi kita, maka seharusnya, sebagai kesimpulan, kita seharusnya memberikan jauh lebih dari sepuluh persen dari penghasilan kita kepada Tuhan sebagai tanda pengucapan syukur. Itu yang masuk akal!

Mungkin orang bertanya, kenapa Allah tidak menentukan jumlahnya yang harus kita berikan kepadaNya? Jawabannya adalah, karena Allah mau menguji iman dan kesetiaan kita. Kalau Allah menentukan bahwa kita semua harus memberikan sepuluh persen saja, maka kita semua akan memberikan sepuluh persen dan menganggap bahwa kita telah memenuhi kewajiban kita. Mungkin kita akan menganggap bahwa kita orang baik yang telah memenuhi kewajiban kita. Pasti juga banyak orang tidak akan mau memberikan lebih dari pada itu oleh karena Allah hanya mewajibkan sepersepuluh.

Menurut saya, Allah tidak menentukan jumlahnya karena Dia berharap bahwa atas kesadaran dan pemahaman kita mengenai hal ini, bahwa kita akan memberikan jauh lebih dari sepuluh persen kepadaNya dengan sukarela dan sukacita. Selain dari itu, setiap orang mempunyai tingkat ekonomi yang berbeda. Ada orang kaya yang mampu memberikan lebih (mungkin dua puluh atau tiga puluh persen lebih), ada orang miskin yang mampu memberi sedikit (mungkin hanya sepuluh persen saja). Allah mau supaya kita memberi sesuai dengan kemampuan kita, bahkan melebihi kemampuan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.