Persembahan di dalam Perjanjian Baru

Korban yang Dipersembahkan Allah

Yang utama, menurut saya, yang harus kita renungkan dan pertimbangkan adalah apa yang dilakukan Allah bagi kita. Kita sudah melihat semua korban persembahan yang harus dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Musa. Memang sangat merepotkan. Tetapi kita juga belajar bahwa di dalam Perjanjian Baru, kita tidak wajib lagi memberikan persembahan-persembahan itu. Ibrani 10:1-9 mengajarkan kepada kita bahwa darah lembu dan domba jantan tidak bisa menghapus dosa, melainkan mengingatkan orang Israel mengenai adanya dosa. Darah binatang tidak sempurna. Oleh karena itu Allah menghapus korban persembahan binatang untuk menegakkan yang kedua, yaitu korban AnakNya sendiri, Yesus Kristus.

Baiklah kita mempertimbangkan dan merenungkan hal ini baik-baik, saudarasaudara. Itulah Allah yang mempersiapkan korban penghapus dosa bagi kita. Di bawah Perjanjian Lama, orang Israel sendiri yang harus mempersiapkan korban penghapus dosa. Tetapi di bawah Perjanjian Baru, itulah Allah sendiri yang sudah menyediakan korban penghapus dosa bagi kita sehingga tidak ada apa-apa yang harus kita persembahkan untuk menghapus dosa kita. Luar biasa baiknya Allah terhadap kita, bukan? Kenyataan itu seharusnya membuat kita mengucap syukur kepada Tuhan.

Seperti kita melihat dalam pelajaran kedua, “Kenapa Allah tidak memberkati saya?” adalah pertanyaan yang salah, dan memang begitu. Berpikirlah! Kalau Allah memberikan kepada kita satu trilyun rupiah, atau membuat kita presiden Republik Indonesia, atau memberi kesempatan kepada kita untuk berjalan keliling dunia, atau memberikan kepada kita anak-anak yang banyak, atau sesuatu hal yang lain yang kita inginkan secara jasmani, apakah gunanya semuanya itu? Apakah itu bisa menyelamatkan kita? Apakah itu bisa menghapuskan dosa kita?

Allah sudah mengorbankan AnakNya sendiri, AnakNya yang tunggal, bagi kita supaya kita bisa memperoleh hidup yang kekal. Yesus berkata dalam Matius 16:26, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Apakah yang bisa diberikan Allah kepada kita yang melebihi AnakNya sendiri? Apakah yang dapat diberikan Allah kepada kita yang melebihi hidup yang kekal dan satu tempat bersama dengan Dia di sorga untuk selama-lamanya yang dimungkinkan karena korban AnakNya? Tidak ada, saudarasaudara!!

Renungkanlah ini baik-baik. Allah sudah memberkati kita dengan luar biasa! Atas dasar apakah kita mempunyai hak untuk mengeluh dan bersungut-sungut bahwa Allah tidak memberkati kita? Allah mungkin berkata, “Saya sudah mengorbankan Anak Saya supaya kau bisa menerima pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Saya sudah menyediakan harta di sorga bagi kau. Kenapa kau mengeluh dan bersungut-sungut karena Saya tidak memberikan (_____________________ isi permintaanmu sendiri di sini) kepada kau?” Kita harus sungguh-sungguh mengucap syukur kepada Allah atas karuniaNya dalam mengorbankan AnakNya bagi kita. Kalau Allah tidak rela mengorbankan AnakNya bagi kita, tidak ada di antara kita manusia yang masuk ke dalam sorga.

Tuntutan Allah kepada Kita

Jadi, kalau Allah mengorbankan AnakNya Yesus Kristus bagi kita, dan oleh karena Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka layak bagi Allah untuk menuntut dari orang yang mau mempunyai pengampunan dosa dan hidup yang kekal itu harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaNya. Kalau Yesus Kristus mengorbankan diriNya bagi kita, maka kita juga wajib mengorbankan diri kita bagi Yesus. Itu layak dan adil.

Yesus berkata demikian di dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Maksud Yesus adalah bahwa orang yang mau menjadi muridNya harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Menyangkal diri berarti bahwa seseorang tidak lagi melakukan apa yang diinginkannya, melainkan apa yang diinginkan Allah. Orang yang memikul salib adalah orang yang rela menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Sama seperti Yesus menyerahkan diriNya sepenuhNya di atas kayu salib bagi kita umat manusia, kita juga harus rela menderita bahkan mati bagi Yesus. Kita harus rela menyerahkan segala sesuatu kepadaNya.

Dalam Roma 12:1, 2, Paulus berkata bahwa kita harus mempersembahkan kehidupan kita sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Ini menyinggung kembali kepada korban persembahan yang dipersembahkan orang Israel di bawah hukum Taurat. Kita tidak lagi mempersembahkan korban binatang, tetapi kita mempersembahkan tubuh kita, kehidupan kita sepenuhnya kepada Allah, sebagai persembahan yang hidup. Maksudnya, bukan lagi kita yang hidup untuk diri kita sendiri, tetapi kita harus hidup bagi Allah pada segala saat di mana saja. Kehidupan kita dikorbankan dan dipersembahkan kepada Allah dan kerajaanNya.

Yesus juga berkata di dalam Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” Kalau seseorang tidak mau melepaskan dirinya dari segala miliknya, dia tidak bisa menjadi murid Yesus. Kita harus rela mengorbankan segala milik kita bagi Yesus dan kerajaanNya kalau kita mau menjadi muridNya. Kalau kita tidak mau mengorbankan segala harta milik kita kepada Yesus, maka kita tidak bisa menjadi muridNya. Titik. Lagi, ingat bahwa segala milik kita asalnya dari Tuhan dan sebenarnya adalah Tuhan punya. Allah hanya memberikannya kepada kita untuk sementara waktu sesuai dengan kehendakNya.

Jadi kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang adalah milikNya, apa yang telah dipercayakanNya kepada kita. Kita harus merubah pikiran kita dari “ini milik saya” kepada “ini adalah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk sementara waktu saja,” atau “inilah milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk dipergunakan untuk kemuliaan namaNya dan perkembangan kerajaanNya.” Tentu, Allah juga memberikan kepada kita segala sesuatu untuk kita nikmati (1 Tim. 6:17b). Tetapi kita harus selalu ingat bahwa itulah karunia dari Allah.(Bersambung)